Rumah Tangga

Rumah Tangga
Bab 28 - Cemburu -


__ADS_3

Albiru tidak bisa menyembunyikan raut wajah tidak sukanya ketika Rio dengan tidak tahu diri datang mengganggu acara makan siangnya bersama Binar.


“Lo nggak punya kerjaan ya?” tanya Albiru kesal.


Rio hanya tersenyum polos tidak merasa ada yang salah, “kerjaan gue banyak, tapi kan lo tau ini jam makan siang.”


Albiru mendengus kesal membuat Binar mencubit pinggangnya memberi peringatan. “Restoran banyak, nggak harus disini.” Albiru mejawab kesal tidak memedulikan peringatan Binar.


“Lo kenapa sih sensi banget? Gue kebetulan ada disekitar sini jadi mau makan siang ya mampir kesini dan kebetulan juga liat kalian berdua.” Rio berucap santai seolah apa yang dia katakan benar adanya.


“Nggak apa-apa kok Rio, Biru emang lagi sensi. Kamu nggak perlu nanggepin dia,” Binar segera menyela agar Albiru tidak mengeluarkan protesan lagi.


Albiru mengalah, ketiganya makan siang bersama sambil sesekali mengenang masa-masa sekolah mereka. Lebih tepatnya hanya Binar dan Rio yang mengenang karena Albiru tidak memiliki kenangan bagus dengan Rio karena setiap bertemu mereka selalu berkelahi.


Binar dan Rio memang sepupu dekat, usia mereka hanya terpaut satu tahun karena itulah mereka sering menghabiskan waktu bersama. Kedatangan Albiru lah yang membuat mereka sedikit renggang karena Binar mulai menaruh rasa pada Albiru. Rio yang menyadari hal itu segera menjauh karena sadar mereka tidak mungkin bisa bersama. Meski begitu dalam diam Rio selalu mengawasi Binar dari jauh karena baginya cukup Binar bahagia maka diapun akan bahagia.


 


...****************...


Mulai hari ini Albiru berencana menginap di rumah orang tua Binar, tentu saja alasan utamanya adalah mengawasi Rio. Meski Rio terus berkata sudah merelakan Binar namun Albiru tidak akan percaya begitu saja.


Binar kesal tapi tidak bisa berbuat banyak. Albiru bertingkah seperti anak kecil yang mengikuti setiap langkah kaki Ibunya. Bayangkan saja setelah seharian diteror oleh telepon dari Albiru sekarang suaminya itu terus mengikuti kemanapun dia pergi, beruntung tidak sampai ikut ke kamar mandi.


Dan sekarang disinilah Albiru berada, di kamar Binar dengan senyum bahagia tepatri diwajahnya meski sang istri memang wajah kesal.


“Aku belum maafin kamu Biru, kenapa kamu malah mau tinggal disini? Sana kembali ke rumah orang tua kamu.” Binar dengan kejam mengusir Albiru yang langsung memasang wajah memelasnya.

__ADS_1


“Aku kangen kamu Bi dan sebenarnya aku juga mau ngawasin Rio,” Albiru menjawab pelan.


“Ngapain kamu ngawasin Rio? Kamu nggak ada kerjaan Bi? Atau semenjak nggak tinggal sama aku kamu malah berpaling ke Rio?” Tuduh Binar dengan kejam membuat Albiru melotot kaget.


“Astaghfirullah Bi, mulut kamu itu sadis banget.” Albiru mengelus dada, tidak percaya Binar bisa menuduhnya ‘belok’.


“Ya terus ngapain kamu ngawasi Rio?”


Albiru menggeleng enggan menjawab dengan jujur, “aku cuma nggak mau kamu direpotin terus sama Rio.”


Binar menghela napas, memilih mengalah karena memang sejak dulu Albiru sangat sensitif terhadap Rio, tetapi setiap ditanya alasannya Albiru tidak pernah menjawab dengan jelas.


Kali ini Binar membiarkan Albiru berbuat sesuka hatinya, tapi Binar masih belum bisa berdamai dengan rasa kecewanya. Ya, Binar belum mengetahui bahwa Albiru sudah pergi dari rumah orang tuanya. Pria itu masih menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan apa yang telah terjadi belakangan ini. Termasuk nasehat dari Ayah Ibra yang sudah memberinya jalan keluar.


...****************...


Bayangan pria yang mengancamnya itu terus menghantui. Ella jelas takut karena tidak ada yang bisa melindunginya saat ini karena Albiru telah memutuskan kontak dengannya sedangkan Fadli jelas tidak akan mau membelanya.


"Jadi firasat lo benar kalau ada yang ngawasin lo. Terus apa ancamannya?" tanya Intan penasaran.


"Dia bilang gue nggak boleh nyentuh atau ngusik Binar kalau nggak dia bakal bertindak."


"Mbak Binar? Apa hubungan cowok itu sama kakak ipar lo?"


Ella menggeleng pelan, "nggak tahu."


"Apa mungkin dia suruhan mbak Binar buat nakutin lo. Bisa jadi mbak Binar masih punya dendam sama dan dia bayar orang buat ancam lo." Intan menebak asal, masih tidak percaya jika ada yang mengagumi Binar hingga tidak ingin wanita itu diusik.

__ADS_1


Ella tampak berpikir, mencerna dugaan Intan yang terdengar masuk akal.


"Lo benar juga, kenapa gue nggak kepikiran ya. Jadi, buat apa gue takut. Seharusnya gue lawan balik biar istri kesayangan mas Biru itu sadar diri."


Intan tersenyum, sedikit lega jika Ella belum menyerah. Dia masih sangat membutuhkan Ella untuk bisa merebut Albiru karena hanya gadis itu yang mendukung keinginannya.


"Oh iya, gue dengar mas Biru tinggal sendiri di rumah barunya sedangkan mbak Binar tinggal di rumah orang tuanya. Mereka lagi berantem ya?" Intan segera mengalihkan pembicaraan, sengaja ingin mengingatkan kembali tujuan utama mereka berdua.


"Benar, dan gue rasa ini kesempatan bagus buat lo. Gue rasa mas Biru lagi galau dan lo bisa masuk buat isi harinya, setelah itu lo bisa ambil hatinya mas Biru." Usul Ella terdengar gila mendukung sahabat sendiri menjadi pelakor dalam rumah tangga kakaknya.


"Caranya?" tanya Intan tidak sabar.


"Biar gue yang atur. Tapi lo harus hati-hati, karena mas Fadli lagi ngawasin kita terutama gue. Jangan sampai mas Fadli tahu atau dia bakal marah besar."


Dan seperti itulah kedua gadis itu merencanakan hal buruk. Keduanya tidak sadar bahwa ada sesuatu yang sedang mengancam mereka.


Fadli jelas tidak main-main saat mengatakan akan mengawasi kedua gadis itu dan pria kemarin juga tidak main-main dengan ancamannya. Kedua gadis itu sedang menggali kuburan untuk mereka sendiri.


TBC


Terima kasih sudah mampir dan jangan lupa dukungannya biar author tambah semangat update 😊


Sambil menunggu novel ini update, ada rekomendasi novel bagus untuk kalian karya Anisyah S


Judul : Kisah Cinta CEO dan Dokter Cantik


__ADS_1


__ADS_2