
Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Binar sudah tertidur pulas begitu pula kedua orang tuanya. Rumah tampak begitu sunyi sampai tiba-tiba suara tangis Binar memecah keheningan.
Binar bermimpi buruk, mimpi yang membuatnya begitu sakit hati. Melihat Albiru menikah dengan wanita lain dan meninggalkannya begitu saja.
Binar terbangun, mengedarkan pandangannya disekeliling kamar. Matanya mencari keberadaan sang suami yang tidak bisa dia temukan.
"Biru..Albiru!" Binar berteriak memanggil Albiru berharap suaminya itu segera datang.
Tak kunjung melihat kedatangan Albiru membuat Binar menangis. Merasa mimpi buruk itu begitu nyata, Binar menangis tersedu-sedu berteriak memanggil Albiru.
Bunda Ina dan Ayah Ibra yang mendengar suara tangis Binar segera bangun. Keduanya berlari ke kamar Binar memastikan keadaan putri mereka.
"Binar?" Bunda Ina memanggil mengetuka pintu kamar dan segera masuk.
"Bunda.." Binar menangis memanggil Bunda Ina yang segera mendekat.
"Ada apa nak?" Tanya Bunda Ina, memeluk Binar yang masih menangis tersedu-sedu.
Ayah Ibra mendekat, mengecek keadaan Binar yang tampak kacau.
"Biru, dimana Biru? Binar mau Biru, Bun." Binar menjawab masih dengan tangisnya yang menyayat hati.
Bunda Ina dan Ayah Ibra tampak bingung.
"Biru ada di rumah kalian, kan Binar lagi di rumah Bunda." Bunda Ina menjawab pelan.
Binar melepas pelukannya, menatap kedua orang tuanya bergantian.
"Binar mau sama Biru. Biru pergi ninggalin Binar, Bun. Binar nggak mau ditinggalin, Binar cuma mau sama Biru." Binar kembali menangis membuat Bunda Ina semakin bingung.
"Iya nak, Bunda telpon Biru dulu ya." Ucap Bunda Ina lembut seraya memberi kode Ayah Ibra untuk segera menghubungi Albiru.
Sambil menunggu kedatangan Albiru, Bunda Ina berusaha menenangkan Binar.
"Binar mimpi buruk, nak. Jangan dipikirin ya, sebentar lagi Biru datang." Bunda Ina berusah membujuk namun Binar tetap menangis.
Entah mengapa Binar merasa mimpi buruk itu seperti nyata. Binar begitu takut kehilangan Albiru, dia begitu mencintai suaminya itu.
Tidak lama Albiru datang dengan tergesa-gesa. Pria itu terlihat baru bangun tidur.
"Binar," panggilnya lembut.
Melihat kedatangan Albiru membuat Bunda Ina segera mundur, sengaja memberi waktu untuk pasangan suami istri itu.
__ADS_1
"Biru?" Binar menatap dengan mata berkaca-kaca. Wanita itu siap menangis lagi.
Albiru segera memeluk Binar, berusaha menenangkan sang istri agar tidak menangis lagi.
"Ada apa sayang? Mimpi buruk?" tanya Albiru lembut.
Binar menangguk dalam pelukan Albiru.
"Kamu.. kamu ninggalin aku Biru. Kamu milih wanita lain dan ninggalin aku sendirian." Binar berucap terbata, rasa sakit dari mimpi itu masih begitu terasa.
"Nggak sayang, aku nggak akan ninggalin kamu. Itu cuma mimpi buruk, lupakan ya."
Bunda Ina dan Ayah Ibra melihat keduanya dari depan pintu kamar. Sangat terlihat jelas kuatnya cinta mereka, sayangnya begitu banyak cobaan yang mereka hadapi.
"Aku takut Biru. Kamu jangan ninggalin aku ya." Binar berucap begitu pelan, tangisnya telah reda.
Albiru mengecup puncak kepala Binar dengan sayang. Membelai lembut surai sang istri seolah mengatakan bahwa hanya Binar yang dia cintai sepenuh hati.
"Aku nggak akan ninggalin kamu sayang. Sekarang tidur ya, sudah malam." Albiru berucap lembut, melepas pelukan serta menghapus jejak tangis dipipi Binar.
Binar menggeleng, "aku nggak mau tidur."
"Tidur sayang, ini sudah larut malam waktunya kamu istirahat." Bujuk Albiru pelan dan kembali dibalas gelengan Binar.
"Nanti kamu ninggalin aku lagi."
Binar tetap menggeleng, masih begitu takut Albiru akan meninggalkannya ketika dia tidur nanti.
Bunda Ina yang melihat hal itu segera mendekat, berusaha membantu Albiru.
"Binar tidur ya nak, Biru nggak akan kemana-mana." Bujuk Bunda Ina lembut.
Binar kembali menggeleng, mata kini kembali berkaca-kaca.
"Binar tidur ya, nanti Ayah sama Bunda yang jagain Biru biar nggak pergi. Tidur ya nak," kini Ayah Ibra yang berusaha membujuk.
"Iya, nanti Ayah sama Bunda yang jagain biar aku nggak bisa kemana-mana. Sekarang tidur ya sayang, kamu butuh istirahat." Albiru kembali membujuk, sedikit lega mertuanya ikut membantu.
Binar menatap Albiru, meski ragu namun akhirnya Binar memilih mengalah. Dengan ragu dia merebahkan dirinya dan segera diselimuti Albiru.
Melihat Binar ingin tidur Ayah Ibra dan Bunda Ina segera keluar kamar. Mereka juga butuh istirahat meski hati keduanya tidak tenang memikirkan keadaan Binar.
Albiru memeluk Binar erat, dia begitu merindukan istrinya. Dalam benaknya dia bertanya-tanya apa yang terjadi pada Binar. Albiru berdoa semoga saat bangun nanti Binar sudah lebih baik.
__ADS_1
...****************...
Paginya Albiru bangun lebih dulu, melihat Binar masih tertidur pulas membuat pria itu menarik napas lega.
Suara adzan subuh berkumandang, dengan hati-hati Albiru melepaskan pelukan Binar. Dia harus bersiap-siap untuk sholat subuh.
Sayangnya baru beberapa menit berada di kamar mandi, suara tangis Binar terdengar. Dengan tergesa-gesa Albiru menghampiri Binar.
"Biru, kamu ninggalin aku." Binar berucap sedih, begitu kecewa tidak mendapi Albiru disisinya.
"Sayang, aku ke kamar mandi mau siap-siap sholat subuh." Albiru mendekat, berusaha menenangkan Binar yang tampak begitu sedih.
"Sudah ya jangan nangis, ayo kita sholat subuh. Aku nggak akan kemana-mana." Ucap Albiru dengan sabar, dia masih tidak mengerti apa yang terjadi pada Binar.
Beruntung Binar segera mengangguk. Wanita itu segera menghentikan tangisnya dan bersiap-siap untuk sholat subuh.
Keanehan pada Binar tidak berhenti sampai disitu, usai sholat wanita itu mengikuti langkah kaki Albiru. Seolah tidak ingin berada jauh dari suaminya.
"Ada apa sayang?" tanya Albiru saat dia tengah bersiap untuk pergi ke kantor namun Binar masih mengikutinya.
"Kamu mau kemana?" tanya Binar balik.
Albiru mengernyit heran namun dia tetap menjawab, "aku mau kerja sayang."
"Jangan pergi," ujar Binar menarik pelan lengan Albiru.
"Aku cuma mau kerja sayang, kamu di rumah sama Bunda ya. Nanti pulang kerja aku ajak kamu jalan-jalan." Albiru berucap begitu lembut, memberi pengertian pada Binar dnegan hati-hati.
Binar menggeleng, menolak untuk melepaskan Albiru.
"Nanti kamu nggak balik lagi, kamu pasti mau ninggalin aku. Kamu mau ninggalin aku karna nggak bisa hamilkah?" Ucapan Binar membuat Albiru kaget, tidak menyangka Binar berpikir seperti itu.
"Kenapa kamu ngomong gitu?" tanya Albiru bingung.
"Ibu bilang kamu mau cari wanita yang bisa hamil, kamu pasti mau ninggalin aku. Kamu pasti cari wanita lain, kamu mau ninggalin aku." Binar menangis tersedu-sedu. Wanita itu tampak begitu sedih.
Albiru dibuat tak mengerti, pria itu tidak tahu apa yang terjadi pada Binar. Mengapa istrinya tampak begitu aneh? Dari semalam Binar bersikap tidak wajar, menangisi Albiru karena mimpi buruknya, lalu tadi subuh wanita itu kembali menangis tidak mendapati Albiru disisinya dan sekarang sikap aneh itu kembali Albiru dapati.
Binar begitu ketakutan, takut akan pemikiran buruknya sendiri. Apa yang sebenarnya terjadi pada Binar?
TBC
Nih yg author janjikan, siap² mau launching 😁
__ADS_1
Kira² alur ceritanya seperti apa ya 🤔😆