Rumah Tangga

Rumah Tangga
Bab 56 - Terluka Lagi -


__ADS_3

Albiru dan Binar berencana memberi tahu Ayah dan Ibu Albiru tentang kehamilan Binar. Keduanya ingin mengabari karena sebentar lagi mereka akan mengadakan acara 4 bulanan.


Binar sendiri masih enggan bertemu dengan Ibu Siti. Bayang-bayang Ibu mertuanya yang berkata kejam membuat Binar enggan bertemu. Dia hanya tidak ingin merasa sakit hati lagi.


Jadilah Albiru seorang diri yang datang berkunjung sekalian memberi kabar bahagia ini.


"Assalamu’alaikum," ucap Albiru memberi salam.


"Waalaikumsalam, Biru. Masuk nak," Ayah Latif menjawab dengan semangat. Rasanya sudah lama dia tidak bertemu secara langsung dengan Albiru.


Albiru segera memeluk Ayahnya, sosok yang dia rindukan. Masalah yang datang silih berganti membuatnya begitu sibuk hingga tidak ada waktu untuk berkunjung.


"Ayah apa kabar?" tanya Albiru.


"Alhamdulillah baik, Biru sama Binar apa kabar? Oh iya, dimana Binar?" tanya Ayah Latif saat tidak melihat sosok menantunya.


Albiru terdiam, terlihat bingung untuk menjawab. Dia takut menyinggung perasaan ayahnya.


Ayah Latif segera mengerti, dia paham apa yang dirasakan Binar.


"Ayah mengerti, nak. Oh iya, kata Fadli ada yang mau kamu sampaikan."


Albiru segera tersenyum, "sebentar lagi Ayah jadi kakek."


Ayah Latif tersenyum bahagia mendengar berita ini. Hal yang dia nantikan, seperti mimpi indah setelah melewati begitu banyak kesedihan.


"Alhamdulillah nak, Ayah bahagia mendengarnya. Sampaikan sama Binar, Ayah benar-benar bahagia. Sehat-sehat terus untuk Binar dan calon anak kalian."


"Iya Yah, sampaikan berita ini sama Ibu juga. Tiga minggu lagi kami mau mengadakan acara empat bulanan. Mohon doanya, Yah."


"Iya Biru, Ayah akan selalu berdoa untuk keselamatan dan kebahagian untuk kamu dan Binar serta calon anak kalian."


Keduanya terus berbincang, membicarakan betapa bahagianya mereka. Keduanya tidak sadar ada Ibu Siti yang mendengar pembicaraan mereka. Ibu Siti tampak tidak suka mendengar berita itu. Entah apa yang ada pikiran wanita paruh baya itu.


...****************...


Ibu Siti dengan nekat mendatangi rumah besannya. Dia tahu Binar berada disana dan siang hari seperti ini tidak ada Albiru serta Ayah Binar.


Sedangkan untuk Bunda Ina, Ibu Siti tidak takut berhadapan dengan wanita itu. Karena itulah dia berada disini sekarang, rumah orang tua Binar.


"Binar!" Panggil Ibu Siti yang bahkan tidak mengucapkan salam.


Binar yang sedang bersantai seketika menoleh kaget. Ibu Siti dengan angkuhnya berdiri di depan pintu. Binar segera mendekat meski sebenarnya enggan untuk bertemu.


"Ada apa, Bu?" tanya Binar pelan.


Binar sedikit takut kerena dia hanya seorang diri. Bunda Ina sedang mengantar makan siang untuk Ayah Ibra.

__ADS_1


"Bahagia ya kamu!" Ibu Siti dengan marah menunjuk Binar, wanita itu bahkan meninggikan suaranya.


"Maksud Ibu?" tanya Binar bingung.


"Kamu bahagia tapi anak saya Ella menderita. Puas kamu?"


"Binar nggak ngerti maksud Ibu apa." Ucap Binar yang terlihat semakin bingung.


"Kamu hamilkan? Kamu bahagia sekarang, tapi lihat Ella. Dia menderita, apa belum puas kamu penjarakan dia dan sekarang dia harus menderita seorang diri diluar sana."


"Apa salah kalau Binar hamil? Salah kalau Binar bahagia?"


"Salah! Seharusnya kamu nggak usah hamil biar kamu sama menderitanya dengan Ella!" Ibu Siti berteriak marah.


Binar pusing, suara serta kata-kata Ibu Siti membuatnya pusing. Ketakutan bahwa bayinya akan diambil membuatnya gemetar ketakutan. Binar seorang diri, tidak ada yang menjaganya saat ini.


"Nggak, Binar nggak salah!" Binar tanpa sadar berteriak takut membuat Ibu Siti semakin marah.


"Berani kamu membentak saya!" Ibu Siti yang marah tanpa sadar mendorong Binar, beruntung ada Bunda Ina yang dengan cepat menahan tubuh Binar.


Bunda Ina segera mendudukan Binar di sofa. Kemudian wanita itu dengan marah mendatangi Ibu Siti dan menapar wajahnya dengan keras.


"Beraninya kamu menyentuh putriku!" Teriak Bunda Ina marah, tubuhnya bahkan bergetar karena amarah yang bergejolak.


"Kamu!" Ibu Siti terkejut mendapat tamparan itu. Egonya terluka, merasa dipermalukan oleh besannya sendiri.


"Putriku bukan kriminal!"


"Apa sebutan yang pantas untuk seseorang yang dengan sengaja menghilangkan nyawa bayi yang bahkan belum lahir ke dunia?"


"Kamu tidak berhak mengatakan putriku kriminal! Dan katakan pada putrimu itu bahwa dia tidak berhak bahagia karena putriku menderita seorang diri."


"Kamu gila! Putrimu menderita karena perbuatannya, dan kamu dengan mulut jahatmu itu malah menyalahkan Binar?"


"Kamu.." Ucapan Ibu Siti terpotong saat tiba-tiba Albiru datang dengan tergesa-gesa.


"Ada apa ini?" tanya Albiru.


Tadi dia ditelepon oleh Binar yang menangis. Beruntung dia selesai meeting di luar dan sedang berada di jalan menuju kantor.


Albiru tentu saja panik mendengar Binar menangis tersedu-sedu. Istrinya itu bahkan tidak menjawab pertanyaannya, hanya suara tangis yang Albiru dengar.


"Tanyakan itu pada Ibumu!" Bunda Ina berucap kasar, wanita itu segera masuk ke dalam rumah untuk menemui Binar.


Albiru menatap Ibunya, meminta penjelasan melalu tatapannya. Sedangkan Ibu Siti masih terlihat marah, namun dengan segera meredam amarahnya.


"Kenapa Ibu bisa berada disini?" Albiru mengganti pertanyaannya.

__ADS_1


"Hanya datang berkunjung." Jawab Ibu Siti singkat, terlihat enggan untuk berkata jujur.


"Ibu yang sudah buat Binar menangis?" tanya Albiru lagi yang terdengar seperti tuduhan.


"Istri kamu mengadu?" Ibu Siti balik bertanya dengan santai meski hatinya mulai takut.


"Apa lagi yang Ibu perbuat? Kali ini tentang Ella?" Tebak Albiru tepat sasaran.


"Iya, tentang putri Ibu yang menderita seorang diri."


"Terus Ibu menyalahkan Binar, begitu?"


"Istri kamu tidak pantas bahagia karena dia sudah membuat Ella menderita. Ella di penjara dan sekarang dia diteror. Kurang menderita apa lagi dia?"


"Ella pantas menerima itu semua! Seharusnya Ibu bersyukur Biru tidak mengambil tindakan lebih. Jika bukan karena Ayah Ibra, mungkin saat ini Ibu hanya bisa meratapi nasib Ella yang merenggang nyawa ditangan Biru."


"Albiru!"


"Sudah cukup Bu! Biru sudah benar-benar muak sama semua drama Ibu dan Ella. Jika Ibu tidak menyukai Binar silahkan pergi dan jangan mengusik kami. Biru tidak menerima siapapun yang membenci dan berani mengusik Binar, sekalipun orang itu Ibu!"


Ibu Siti tampak terkejut, tidak menyangka Albiru akan berbicara sekasar ini.


"Keterlaluan kamu Biru!" teriaknya marah.


"Sepertinya hanya Ayah yang bisa menghentikan langkah Ibu. Ibu terlalu jauh melangkah, hingga lupa jalan pulang."


Usai mengatakan itu Albiru segera menutup pintu rumah. Tidak peduli dengan teriakan Ibunya, mungkin Albiru adalah anak yang durhaka. Tapi Albiru hanya ingin menjaga keutuhan rumah tangganya, Albiru hanya ingin Binar bahagia tanpa terusik oleh siapapun.


"Binar," panggil Albiru lembut.


Binar menoleh, tatapannya begitu menyedihkan. Albiru merasa begitu gagal menjadi seorang suami, Binar belum sembuh namun luka kembali ditorehkan. Jika saja Albiru bisa memilih, dia memilih mengorbankan dirinya agar semua luka Binar dialah yang merasakan sehingga Binar bisa kembali bahagia.


TBC


Maaf baru update sekarang..


semoga makin suka sama cerita ini. untuk yg nanya kapan Ibu dpt karma..sabar ya semua ada waktunya 😁


nah sambil menunggu author update yuk mampir ke novel menarik karya kak Nurma Azalia Mifta Poenya


mampir dan jangan lupa dukungannya ya 😊


Judul " RAHASIA ISTRI CULUNKU



Perjuangan Seorang wanita bernama Aracelia Daneen Gunawan untuk meluluhkan hati seorang karyawan di kantor ayahnya. Hingga Ia mengubah penampilan demi menutupi identitas sebenarnya, bahwa ia pernah ada dalam kejadian masa kelam pria itu. Ali Danish Mahendra, nama pria yang terpaksa menikahi gadis culun. Putri sang bos tempatnya bekerja. Lalu bagaimana perjuangan Ara untuk meluluhkan hati Danish??

__ADS_1


__ADS_2