
Air mata yang paling tulus ada air mata kerinduan seorang Ibu terhadap anaknya.
“Kamu bilang apa Bi?” tanya Binar pada suaminya yang kini menatap penuh penyesalan.
“Maaf Bi, kita tinggal disini lebih lama lagi. Ibu tadi nangis, belum siap pisah dari aku Bi. Aku nggak tega kalau maksa kehendakku sendiri Bi.”Albiru berujar pelan tidak tega melihat wajah lesu istrinya.
“Gimana sama aku Bi? Aku capek, kita sudah enam bulan nikah seharusnya kita sudah bisa hidup mandiri.” Binar menatap kecewa pada Albiru yang tidak bisa menepati janjinya.
“Aku mohon ngertiin aku Bi, tolong bersabar.”
Binar tersenyum miris, “kamu selalu minta aku ngertiin kamu dan bersabar tapi kamu sendiri nggak pernah bisa ngerti apa yan aku mau.”
Albiru terdiam, tidak bisa menyangkal hal itu. Binar benar dia terlalu egois, meminta Binar mengerti keadaan dirinya padahal dia sendiri menutup mata atas apa yang Binar inginkan.
“Gimana kalau kita balik Bi, Bunda yang nggak mau tinggal jauh dari aku. Apa yang kamu lakuin?” Binar melanjutkan, menatap seolah menantang Albiru untuk menjawab.
Namun suaminya hanya berdiam diri. Sungguh Binar kecewa, tapi dia tidak bisa berbuat banyak. Dengan menelan kekecewaannya sendiri Binar berbaring membelakangi suaminya, tidak ingin melanjutkan pembicaraan yang justru berakhir membuatnya kecewa sendir.
...****************...
Binar sakit. Sejak bangun tadi subuh wanita itu sudah merasa tubuhnya tidak baik-baik saja. Namun dia tetap memutuskan untuk pergi kerja. Binar hanya ingin mengalihkan sakitnya dengan mengerjakan perkerjaan kantor yang menumpuk.
“Mending lo izin pulang deh Bi, muka lo pucet banget, badan lo panas.” Fay meninggalkan pekerjaannya demi memerikasa suhu tubuh Binar. Gadis itu tampak begitu khawatir melihat wajah Binar semakin pucat.
Binar menggeleng pelan, “gue nggak mau pulang Fay.”
__ADS_1
“Gue takut lo pingsan Bi, gue telpon Biru ya.” Fay kembali membujuk, sungguh dia khawatir dengan sahabatnya ini.
“Gue nggak mau pulang Fay, kalau di rumah mertua gue yang ada malah makin sakit gue.”
Fay menghela napas, merasa kasihan dengan Binar yang semenjak menikah sering terlihat murung. Fay sudah merasa curiga ada yang tidak beres dengan rumah tangga sahabatnya itu tapi dia tidak bisa berbuat banyak karena dia hanya orang luar yang tidak berhak untuk ikut campur.
“Kalo gitu gue minta izin sama Biru nganterin lo ke rumah Bunda ya.” Sekali lagi Fay membujuk hanya ini senjata yang dia punya, rumah Bunda Binar. Dia tahu saat sakit seperti ini Binar pasti merindukan Bundanya.
Binar terdiam tampak menimbang-nimbang sebelum akhirnya menganggukan kepala. Benar dia membutuhkan Bundanya, jika dipikir-pikir terakhir Binar bertemu Bunda dan Ayahnya 6 bulan yang lalu, saat dia baru menikah dan setelah tinggal di rumah orang tua Albiru dia tidak pernah mengunjungi orang tuanya.
Binar menangis mengingatnya, betapa dia merasa sangat durhaka tidak pernah mengunjungi orang tuanya setelah menikah. Yang Binar lakukan hanya memikirkan masalah yang datang bertubi-tubi. Fay yang melihat Binar menangis semakin khawatir saja, dia segera meminta izin atasan dan tak lupa menelpon Albiru.
"Bi, please jangan nangis. Kamu bikin aku tambah khawatir, atau aku telpon Biru buat jemput kamu?" Fay mengambil ponselnya bersiap menghubungi Albiru, namun Binar segera menarik lengan sahabatnya itu.
Binar menggeleng pelan, "nggak usah Fay, bilang aja aku izin ke rumah Ayah. Kamu bisakan antar aku ke rumah orang tuaku?"
Fay mengangguk menyetujui permintaan Binar. Yang terpenting sekarang izin dari Albiru dan Fay akan langsung mengantar Binar pulang ke rumah orang tuanya.
...****************...
Binar sudah sampai di rumah orang tuanya sejam yang lalu. Wanita itu sudah tertidur lelap setelah lelah menangis dipelukan Bundanya. Mencurahkan semua rasa rindu dan rasa sesalnya karena terlalu sibuk. Sedangkan Fay memutuskan pulang setelah mengantar Binar karena ingin memberi banyak waktu untuk Binar dan Bunda Ina.
Bunda Ina duduk disamping Binar yang tertidur lelap, wanita paruh baya itu dengan lembut mengelus surai milik putrinya itu. Betapa dia merindukan sosok Binar, namun tak dapat berbuat banyak karena putri sudah memiliki kehidupannya sendiri.
“Bunda kangen kamu nak, kenapa kamu pulang dalam keadaan sakit seperti ini sih?” Air mata Bunda Ina akhirnya tumpah juga setelah sekian lama berusaha menahannya. Beruntung Ayah Ibra masih di kantor jadi dia bisa berpuas hati menumpahkan air matanya.
Binar yang merasa Bunda Ina menangis segera membuka matanya, “Binar juga kangen banget sama Bunda.” Dan benar saja, Bundanya kini menumpahkan air matanya tanpa bisa dicegah.
__ADS_1
Sedari tadi Bunda Ina berusaha menjadi Ibu yang tegar, menenangkan Binar yang tak berhenti menangis. Namun kini dia kalah oleh rasa sesak didadanya memaksa untuk menangis.
“Nak..” Bunda Ina tidak bisa meneruskan kalimatnya karena rasa sesak didada.
Keduanya berpelukan dengan tangis penuh kerinduaan. Binar menyesal tidak datang lebih cepat kepelukan Bundanya. Dia tidak perlu bercerita semua masalahnya, tidak perlu berkeluh kesah karena hanya dengan pelukan hangat Bunda Ina mampu mengangkat semua beban dipundaknya.
“Binar?” Sebuah suara menginterupsi keduanya. Di depan pintu ada Ayah Ibra yang terkejut melihat kehadiran putrinya. Sosok yang begitu dia rindukan.
“Ayah,” Binar berdiri menyambut sang Ayah kedalam pelukan. Sosok tegas dan bijak yang sangat dia rindukan.
Bunda Ina bergabung memeluk keduanya dengan perasaan bahagia. Mereka bertiga tanpa sadar telah lama memendam rasa rindu ini, namun keadaan memaksa mereka untuk memendam perasaan ini sendirian.
“Binar kangen banget sama Ayah dan Bunda.” Binar berucap penuh haru. Melepas pelukan mereka demi melihat wajah-wajah yang sangat dia rindukan.
Sebagai anak tunggal yang dimanja tentu saja Binar tidak pernah bisa jauh dari orang tuanya, tetapi setelah menikah dia belajar untuk menguatkan hatinya untuk tidak bersikap egois.
"Ayah sama Bunda juga kangen sama kamu nak. Maafin kami nggak bisa mengunjungi kamu." Dengan penuh kehangatan Ayah Ibra mengecup kening Binar. Putri kecilnya yang sudah tumbuh dewasa.
Binar menggeleng, "nggak Ayah Bunda, seharusnya Binar yang minta maaf nggak bisa berkunjung. Maafin Binar ya, Binar jahat banget nggak ngertiin keadaan Ayah sama Bunda."
Bunda Ina kembali memeluk Binar, tidak ingin melanjutkan kalimat penuh kesedihan itu. Yang terpenting sekarang mereka bisa berkumpul lagi dan bisa saling melepas rasa rindu.
"Ngomong-ngomong, dimana suami kamu?" tanya Ayah Ibra.
Binar terdiam tidak tahu harus menjawab apa. Dia tidak melarikan diri hanya, dia hanya ingin memiliki waktu bersama orang tuanya dan melupakan segala kegelisahan hati
TBC
Terima kasih sudah mampir dan mendukung karya author. Sambil menunggu novel ini up aku punya rekomendasi cerita menarik karya Muda Anna.
Judul : Apa Salahku Tuan?
__ADS_1
Ningtiyas Paramitha adalah gadis 18 tahun baru lulus SMK jurusan tata busana. Dia harus menerima takdir dinikahkan siri dengan paksa oleh ayahnya dengan lelaki dewasa berumur 30 tahun dan telah memiliki istri bernama Alfarizi Zulkarnain. Kontrak nikah selama lima bulan tetapi Neng selalu mengalami kekerasan baik lahir maupun batin. perlakuan suami sirinya yang selalu melampiaskan kekesalannya akibat kesalahan istri sahnya. Setelah empat bulan berlalu Al meninggalkan Neng begitu saja, tanpa disadari Al meninggalakan benih janin di kandungan Neng. Akhirnya Neng meninggalkan desanya yang selama ini menjadi kebanggaannya. Pergi ke Jakarta untuk merubah nasib dan menyongsong masa depan yang lebih baik bersama janin yang dalam kandungan. Sayangnya takdir pertemukan mereka kembali setelah delapan tahun berlalu. Dengan situasi yang berbeda, apakah mereka akan bersatu kembali setelah Al mengetahui memiliki keturunan. Apakah Neng menerima cinta Al?