Rumah Tangga

Rumah Tangga
Bab 69 - Dua Keluarga -


__ADS_3

Nevan dan Nessa sudah diperbolehkan pulang, hal ini tentu saja disambut bahagia oleh kedua keluarga. Terutama Ayah Latif yang terlihat sangat antusias menyambut kedua cucunya.


Bahkan pria itu sudah menyiapkan banyak kado untuk si kembar. Albiru hanya mampu menghela napas lelah, baginya ini sudah berlebihan.


"Ayah seharusnya nggak perlu repot seperti ini." Ucap Albiru yang tidak tahan melihat Ayahnya membawa banyak kado.


"Kamu jangan protes Biru, ini buat cucu Ayah bukan buat kamu." Ayah Latif menjawab santai seolah tidak ada yang salah dengan tingkah lakunya.


Albiru sudah akan memprotes lagi, namun Binar segera mencegahnya.


"Nggak apa-apa, tapi lain kali Ayah nggak perlu kasih barang yang banyak lagi ya. Nevan sama Nessa sudah senang kalau Kakeknya datang berkunjung." Binar berkata menenangkan, dia tidak ingin Ayah Latif nantinya tersinggung.


"Sudah, dari pada berdebat mending kita makan siang. Nevan sama Nessa lagi tidur, jangan berisik." Bunda Ina datang dengan senyum hangatnya.


Mempersilahkan Ayah Latif untuk segera bergabung makan siang bersama. Hal yang sangat jarang bisa mereka lakukan.


"Sebenarnya ada yang mau saya sampaikan." Ucap Ayah Latif ragu.


Saat ini para orang tua sedang bersantai setelah selesai menikmati makan siang. Binar berada di kamar menyusui si kembar, sedangkan Albiru tentu saja membantu Binar yang masih sedikit kesulitan menangani bayi kembar.


"Sampaikan saja, Mas Latif." Sahut Ayah Ibra dengan sopan mempersilahkan besannya untuk berbicara.


"Sebenarnya ini berita memalukan. Tapi, saya rasa harus menyampaikan hal ini karena mungkin kalian bertanya-tanya dimana Ibunya Biru."


Bunda Ina dan Ayah Ibra saling memandang, sebenarnya mereka sudah betanya-tanya sedari awal. Bunda Ina pikir mungkin Ibu mertua putrinya itu masih menyimpan rasa tidak suka sehingga tidak datang mengunjungi cucunya.


"Kami sudah resmi bercerai, tepatnya dua bulan yang lalu." Ujar Ayah Latif memberitahu, rasanya sedikit memalukan.


Ayah Ibra tampak terkejut, begitu pula dengan Bunda Ina. Keduanya tidak menyangka akan mendengar kabar mengejutkan ini.


"Kami benar-benar tidak menyangka mas, Biru dan Binar tidak mengatakan apapun." Ayah Ibra berucap tidak enak.


"Saya yang melarang mereka. Saya masih malu untuk mengatakannya, umur sudah setua ini dan menyandang status duda." Ayah Latif berucap dengan nada bercanda.


"Terus mbak Siti dimana, Mas?" tanya Bunda Ina.


"Dia tinggal bersama Ella. Kata Fadli sebenarnya dia ingin datang mengunjungi cucunya, tapi masih malu karena sikap buruknya dulu."


"Pintu rumah kami selalu terbuka, kami menerima kedatangan mbak Siti asalkan tidak lagi menyakiti Binar." Ucap Bunda Ina penuh ketegasan.


"Benar Mas, kami selalu menerima siapapun yang ingin bersilaturahmi." Ayah Ibar berucap membenarkan perkataan sang istri.

__ADS_1


"Terima kasih, nanti akan saya sampaikan pada Fadli agar segera menghubungi Ibunya."


Bunda Ina dan Ayah Ibra tersenyum, mereka senang jika Ibu mertua putrinya itu mau bersilaturahmi. Bunda Ina berharap jika besannya itu benar-benar sudah berubah dan tidak akan menyakiti hati Binar lagi.


...****************...


Ibu Siti menatap sedih kearah Ella yang sedang duduk melamun di depan jendela kamarnya. Gadis itu terlihat begitu menyedihkan.


"Ella," panggil Ibu Siti lembut.


Ella menoleh, berusaha untuk tersenyum. Dia tidak ingin Ibunya khawatir akan keadaannya.


"Iya, Bu." Sahut Ella begitu pelan hingga nyaris tidak terdengar.


"Kenapa melamun?" tanya Ibu Siti begitu duduk di samping Ella.


Ella menggeleng pelan, terlihat kembali enggan untuk menjawab.


"Jujur sama Ibu, kamu tenang saja Ibu nggak akan mengatakan pada orang lain. Ibu cuma mau tahu apa yang sudah orang jahat itu lakukan padamu."


Ella terdiam sejenak, sejujurnya dia membutuhkan seseorang untuk membagi rasa ketakutannya.


Ella berhenti bercerita ketika sadar dia hampir menceritakan aibnya sendiri. Dia tidak ingin Ibu Siti mengetahui tentang foto-foto itu.


"Foto apa Ella?" tanya Ibu Siti penasaran.


Ella menggeleng lagi, tidak ingin menjawab pertanyaan Ibunya.


Ibu Siti sudah akan mendesak Ella untuk berkata jujur, tetapi dering ponsel mengurungkan niatnya. Tertera nama Fadli, entah mengapa Ibu Siti merasa akan ada kabar baik dari putra keduanya itu.


"Assalamu’alaikum, Fadli." Ucap Ibu Siti memberi salam, terdengar jelas suaranya begitu antusias.


"Waalaikumsalam, Bu. Ibu ada di rumah?"


"Iya, ada apa memangnya?"


"Fadli mau jemput Ibu, katanya Ibu mau jenguk cucu kembar Ibu."


"Ibu mau Fadli, tapi Ibu juga malu."


"Kenapa harus malu, Bu? Tadi Ayah telepon Fadli, katanya orang tua mbak Binar ngundang Ibu makan malam."

__ADS_1


Ibu Siti terdiam, tidak percaya dengan berita yang dia dengar.


"Ini beneran, nak?"


"Iya, Bu. Ibu siap-siap ya, nanti Fadli jemput habis sholat Magrib. Ibu harus dandan yang cantik biar cucu-cucu Ibu terpesona liat neneknya."


Ibu Siti tersenyum, tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Wanita itu bahkan melupakan permasalahan yang sedang dihadapi Ella.


Panggilan diakhiri setelah Fadli puas menggoda Ibunya. Ibu Siti masih tersenyum senang tidak memedulikan Ella yang kini menatapnya bingung.


"Ada apa, Bu?" tanya Ella membuat Ibu Siti segera tersadar.


"Maaf Ella, Ibu lupa memberitahu. Binar sudah melahirkan anak kembarnya. Nanti malam Ibu mau menjenguk, sekalian orang tua Binar mengajak makan malam bersama."


Informasi yang disampaikan Ibu Siti membuat Ella semakin terpuruk. Terlihat jelas gadis itu tidak suka dengan berita membahagiakan itu.


Dia tidak mau Binar bahagia sedangkan dirinya terus saja menderita. Rasanya dunia sangat tidak adil.


Binar sudah merebut cinta Albiru dan kini merebut perhatian Ibunya. Ditambah saat ini Binar sudah memiliki anak kembar.


Sedangkan Ella menderita sendirian. Diteror, disekap dan diserang secara mental. Semua Ella tanggung seorang diri, begitu menyedihkan.


TBC


**Terima kasih sudah mampir..


maaf ya baru bisa update..author lg atit 😁


jgn lupa dukungannya ya biar makin semangat update 😁😊**


sambil nunggu author update ada rekomendasi novel keren karya author Asire


yuk mampir dan jgn lupa dukungannya 😊


Judul :SANG RATU MALAM



Malam adalah dunianya. Ia akan aktif beraktifitas saat malam menjelang. Ia sangat suka mengikuti ajang balap liar. Sebab dengan mengikuti hal tersebut, ia dapat menghilangkan sejenak beban pikiran dan derita hidup yang dialaminya. Ia mempertaruhkan hidup dan matinya di atas jalanan. Selain hasil dari taruhan yang mengiurkan.


Ia berjuang hidup mengandalkan sepuluh jarinya sendiri dalam mempertahankan hidupnya di tengah kerasnya kehidupan ibu kota. Terkadang ada rasa iri menyelinap ke dalam relung hatinya yang paling dalam. Mengapa Tuhan tidak adil padanya. Hingga suatu saat ia bertemu dengan seseorang. Akankah seseorang itu dapat mengubah jalan takdir hidupnya ke arah yang lebih baik. Atau malah semakin menenggelamkan dirinya dalam hitam pekatnya malam.

__ADS_1


__ADS_2