Rumah Tangga

Rumah Tangga
Bab 22 - Pulangkan Aku -


__ADS_3

Jika saja Albiru bisa memilih mungkin dia tidak akan berada disituasi tidak mengenakan ini. Sejujurnya Albiru masih tidak percaya bahwa Ibunya bisa bersikap sejahat itu terhadap Binar, karena dari yang dia lihat selama ini perlakukan Ibunya selalu baik.


Sekarang Binar sedang  memulai perang dingin dengan Albiru. Wanita itu besikap acuh kepada suaminya sekalipun di hadapan Ibu Siti seolah menantang Ibu mertuanya itu. Dan Ibu Siti menyadari hal itu, dia sadar bahwa Binar sedang bertengkar dengan Albiru yang kemungkinan penyebab utamanya adalah dirinya sendiri.


“Istrimu kenapa?” tanya Ibu Siti ketika Binar sudah pamit untuk kembali ke kamar.


Albiru menggeleng, enggan memberi tahu Ibunya, “nggak kenapa-kenapa kok Bu.”


“Ibu bisa lihat kok istri kamu lagi marah. Dari sikapnya saja sudah terlihat, bahkan dia nggak mau dekat-dekat sama kamu.”


Albiru menghela napas, masih enggan untuk berterus terang. Tapi Ibu Siti jelas tidak akan berhenti begitu saja, dia harus tahu penyebab utamanya.


“Kamu itu kepala rumah tangga Biru, seharusnya kamu bisa lebih tegas sama istri kamu bukan malah sebaliknya. Istri itu selama berada dibawah suami, kamu harus mengerti itu.” Lanjut Ibu Siti dengan segala nasehat yang tidak masuk akalnya.


“Tugas suami itu melindungi dan membimbing Bu, kalau Ibu menganggap istri berada dibawah suami maaf Biru tidak setuju karena bagi Biru posisi suami dan istri itu sama.” Albiru menjawab dengan sopan sebelum berpamitan untuk menyusul istrinya.


Meninggalkan Ibu Siti yang tidak percaya bahwa Albiru baru saja menentangnya. Ternyata memang benar Albiru sudah dikendalikan Binar dan sangat sulit untuk merubah putranya itu kembali seperti dulu yang begitu menurutinya.


 


...****************...


Binar melamun, memikirkan sikap tetangganya yang semakin lama menunjukan rasa tidak sukanya. Sebenarnya Binar tidak ingin memikirkan hal in tapi melihat tatapan sinis mereka yang seolah menudingnya sebagai menantu durhaka yang tidak tahu diri.


Melihat orang-orang yang memusuhinya sunggu membuat Binar tidak nyaman. Dia tidak pernah diperlakukan seperti ini. Kedua orang tua serta keluarganya selalu memperlakukannya dengan lembut dan baik, mereka tidak pernah menghakimi Binar sekalipun membuat kesalahan. Sekarang Binar justru dihakimi atas perbuatan yang bahkan tidak dia lakukan, dan lebih menyakitkan lagi penyebab utamanya adalah Ibu mertuanya sendiri.

__ADS_1


Binar merindukan Ayah Ibra yang selalu memberinya nasehat menenangkan, merindukan Bunda Ina yang selalu memeluknya dengan penuh kasih. Mengingat kedua orang tuanya membuat Binar memikirkan suatu hal.


Mungkin ini pilihan terbaik saat ini, batin Binar.


Binar tersadar dari lamunannya saat mendengar pintu kamar dibuka. Ada Albiru yang baru masuk, suaminya itu terlihat lelah namun Binar belum bisa melunakan hatinya untuk saat ini. Untuk menghindari suaminya, Binar memilih untuk bersiap tidur.


“Mau sampai kapan kamu marah sama aku Bi?” Albiru bertanya begitu mendapati istrinya sudah bersiap tidur.


Binar diam tidak berniat menjawab, baginya Albiru itu lucu karena bertanya seolah dia tidak memiliki kesalahan.


“Bi?” Albiru kembali bersuara melihat Binar yang tidak menjawab pertanyaannya.


“Sampai kamu bisa tegas sama Ibu kamu.” Jawab Binar dingin bahkan wanita itu tidak mau menatap wajah suaminya.


“Apa maksud kamu Bi? Kalau masalah kemarin aku bahkan nggak tahu harus percaya atau nggak. Bukan maksud aku bilang kalau kamu yang bohong, tapi bisa saja kan Ibu-Ibu itu yang bohong.”


“Bi!” Tegur Albiru yang tidak suka dengan perkataan Binar.


“Kenapa? Kamu nggak suka aku bilang begitu? Memang kenyataan kalau aku sudah muak, kamu tahu kan aku akan berterus terang menunjukan ketidaksukaanku. Dan tolong kasih tahu sama Ibu kamu itu kalau memang dia nggak suka sama aku lebih baik jujur daripada menjelekanku dibelakang.”


Albiru terlihat frustasi tidak tahu harus bersikap seperti apa menghadapi Binar yang benar-benar marah dan kecewa.


“Kamu maunya apa Bi? Tolong kasih tahu aku, aku cuma ingin buat kamu nyaman dan bahagia.” Albiru berlutut disamping Binar, menggenggam kedua tangan istrinya menunjukan bahwa dia benar-benar frustasi.


“Mau aku kita tinggal di rumah kita sendiri atau kalau kamu masih keberatan tolong pulangkan aku ke rumah orang tuaku.”

__ADS_1


Dan Albiru tidak sanggup berkata-kata lagi. Dia seperti diberi pilihan antara hidup dan mati. Mungkin Albiru bisa mempertimbangkan untuk tinggal di rumah mereka sendiri tetapi memulangkan Binar pada orang tuanya tidak akan pernah Albiru lakukan.


Albiru segera menarik tangannya, menatap Binar dengat tatapan kecewa. Dia benar-benar kecewa dengan permintaan Binar.


“Aku nggak akan memulangkan kamu ke rumah orang tua kamu Bi.” Ucap Albiru yang segera berlalu dari hadapan Binar. Albiru menjauh untuk menenangkan hatinya, dia tidak ingin terpancing amarah dan malah membuat masalah semakin besar.


 


TBC


Rekomendasi novel bagus untuk kalian karya Eveliniq.


Judul : Cinta Online



Cantika gadis manis kuat, tegar tetapi rapuh dalam hidupnya sejak ia terlahir sudah bersahabat dengan airnata.


Tetapi ia punya keyakinan kelak ia akan menemukan cinta dan kebahagiaannya, walau penuh lika liku kehidupan.


Gavin cinta pertamanya, yang membuat hidupnya terasa indah, karena sesuatu hal harus berpisah dengan dirinya


Pada akhirnya ia menemukan kebahagiaan lain melalui Cinta Online.


Tetapi benarkah cinta online itu tulus, dan abadi atau semakin membuat hidup Cantika semakin kacau??

__ADS_1


Atau akankah cinta pertamanya adalah cinta sejatinya? dan akan kembali dalam hidupnya?


__ADS_2