
Binar sedang berjalan-jalan disekitar taman sambil menunggu Albiru pulang dari kantor. Setelah sekian lama Binar akhirnya bisa menikmati waktu sendiri tanpa beban dipundaknya.
Binar baru saja duduk dibangku taman saat suara seseorang yang lama tidak dia temui menyapa.
"Mbak Binar," sapa seseorang membuat Binar menoleh kaget.
"Mbak Dinda?" Binar menoleh kaget mendapati Dinda tetangga orang tua Albiru.
"Apa kabar Mbak?" Dinda mendekat, tersenyum hangat pada Binar yang telah lama tidak dia temui.
"Alhamdulillah Mbak, Mbak Dinda sendiri apa kabar?" Binar tersenyum menatap putri Dinda yang juga menatapnya dengan malu-malu.
"Alhamdulillah baik Mbak, malah sekarang jauh lebih baik." Dinda menjawab dengan senyum bahagianya.
"Mbak kok bisa ada di daerah sini? Keluarga Mbak tinggal disini?"
Dinda kembali tersenyum kemudian dengan nada ceria dia menjawab, "saya tinggal di daerah sini Mbak."
Binar tampak terkejut, "Mbak Dinda pindah rumah? Wah saya baru tahu, habis nggak pernah liat Mbak."
"Mungkin Mbak Binar belum tahu ya, saya sudah resmi cerai Mbak." Bisik Dinda yang nadanya terdengar bahagia.
Binar kembali dibuat terkejut atas informasi itu. "Maaf, saya nggak tahu Mbak," ucapnya penuh sesal.
Dinda tertawa kecil, "nggak apa-apa Mbak. Saya sekarang malah jauh lebih bahagia."
Binar menatap Dinda bingung, menang benar Dinda terlihat lebih bahagia dari terakhir kali Binar melihatnya.
"Saya merasa beban yang selama ini saya pikul terangkat begitu saja. Yang saya sesali hanya satu Mbak, mengapa tidak dari dulu saya mengambil keputusan ini." Dinda bercerita dengan suka rela, membagi kisah pahit kehidupannya.
"Beberapa bulan yang lalu saya sudah dititik terendah saya Mbak. Saya capek dan muak dengan keluarga mantan suami saya. Akhirnya saya meminta mantan suami saya untuk memilih, saya atau Ibunya. Mbak Binar tahukan bagaimana jahatnya mantan mertua saya selama ini?"
"Iya Mbak, terus apa yang terjadi?" Tanya Binar prihatin sekaligus penasaran.
"Dia memilih Ibunya, dengan alasan Ibunya adalah wanita paling hebat dan selalu ada disampingnya sedangkan saya hanya wanita biasa yang sering menyusahkan. Karena itu saya memilih pisah Mbak, saya nggak mau melihat putri saya tumbuh di lingkungan seperti itu."
Binar tidak bisa berkata-kata, entah mengapa perasaan khawatir itu kembali menguasainya. Menatap Dinda yang baru saja membagikan kisah pahit rumah tangganya membuat Binar semakin takut.
Dinda cantik, pintar mengurus rumah tangga, lemah lembut dan tidak lupa dia sudah memilih seorang anak. Tapi Ibu mertuanya masih begitu jahat dan yang lebih menyedihkan adalah suami yang tidak bisa membelanya.
__ADS_1
Jujur saja Binar begitu takut jika suatu saat nanti dia akan bernasib sama seperti Dinda. Terlebih dia tidak bisa hamil dan Ibu mertuanya sangat membenci dirinya.
...****************...
Albiru tahu ada yang salah dengan Binar. Istrinya itu kembali murung sepulang dari taman. Melihat wajah sedih itu membuat Albiru takut Binar kembali murung dan sedih.
"Kenapa sayang?" tanya Albiru tidak tahan melihat wajah murung itu.
Binar menggeleng lemah, enggan bercerita.
"Ya sudah kalau belum mau cerita. Atau mau telepon Mbak Rika? Mungkin kamu mau cerita sama dia, kalian sesama wanita pasti lebih nyaman."
Albiru dengan lembut membujuk Binar. Dia tahu ada yang tidak beres dan satu-satunya yang bisa membantu hanya Rika.
"Aku telepon Mbak Rika, tapi kamu jangan dengar ya." Pinta Binar yang segera disetujui Albiru.
Albiru segera keluar kamar ketika Rika menjawab panggilan telepon Binar.
"Halo, Binar." Sapa Rika begitu hangat.
"Mbak Rika sibuk?" tanya Binar ragu.
"Boleh?" tanyanya meminta izin.
"Tentu."
"Tadi saya dengar cerita dari teman, dia baru saja cerai karena suaminya lebih memilih Ibunya. Selama ini Ibu mertuanya begitu jahat, karena itu dia milih untuk pisah." Binar mengambil jeda sejenak, dia seperti menceritakan kisahnya sendiri.
"Saya takut Mbak, kalau suatu hari saya ada diposisi itu. Saya nggak bisa kasih keturunan untuk Biru, Ibu mertua saya juga terus mendesak. Saya nggak mau ditinggalin Mbak, saya juga nggak mau dimadu." Binar menangis menceritakan kegelisahannya hari ini.
Rika mendengarkan curhatan Binar tanpa menyela. Mendengar semua curhatan Binar membuat Rika merasa kasihan. Binar seperti ini karena desakan Ibu mertuanya yang begitu egois.
"Binar, saya melihat Albiru selalu menatap kamu dengan cinta. Saya yakin suami kamu itu mencintai kamu dengan tulus. Sekarang bayangkan apa yang sudah dia lakukan selama ini. Menemani dan mencintai kamu dengan tulus, jadi nggak perlu khawatir lagi ya."
"Tapi Mbak saya takut Ibu mertua saya akan berbuat nekad."
"Cukup percaya pada suami kamu. Percaya kalau dia hanya mencintai kamu, urusan Ibu mertua kamu itu nggak perlu kamu khawatirkan. Selama Albiru memperlakukan kamu dengan penuh cinta, maka percaya apapun rintangan kalian akan tetap bersama."
Binar mendengarkan semua nasehat Rika. Entah mengapa setiap bercerita dengan Rika selalu perasaan tenang yang dia rasakan. Rika berhasil membuatnya nyaman bagaimana sosok kakak perempuan yang siap mendengar segala keluh kesahnya.
__ADS_1
...****************...
Semalam setelah curhatan Binar pada Rika suasana hati Binar sudah kembali. Albiru begitu bahagia melihat perubahan itu, Rika benar-benar membantu.
"Hari ini mau kemana?" tanya Albiru pada Binar yang duduk disampingnya.
Mereka saat ini berada dimobil, ingin menikmati weekend berdua. Tapi sepertinya mereka belum memiliki rencana.
"Aku mau ke taman, di daerah kantor kamu ada taman yang bagus." Usul Binar dengan nada ceria membuat Albiru bahagia.
"Siap boss!" Sahut Albiru penuh semangat tidak lupa dengan gerakan hormatnya.
Binar tertawa bahagia dan selama perjalanan menuju taman keduanya saling melempar canda. Kebahagiaan sederhana yang telah lama mereka tidak rasakan.
Saat sampai di taman Binar segera memilih tempat, dia ingin duduk menikmati angin segar sambil melihat anak-anak bermain.
"Aku beli minuman ya," ucap Albiru pamit.
Binar tersenyum menikmati pemandangan anak-anak berlarian. Pemandangan yang sangat Binar impikan.
Namun sayang senyum Binar segera lenyap saat melihat sosok Ella yang bediri tidak jauh darinya. Ella tidak melihatnya, tapi Binar bisa dengan jelas melihat wajah itu. Wajah orang yang telah tega berbuat jahat pada dirinya dan anak yang dia kandungan.
Albiru yang kembali dengan membawa minum segera panik melihat wajah pucat Binar. Pria itu berlari menghampiri sang istri.
"Kenapa sayang?" tanyanya panik.
"Dia... dia disini Bi. Orang jahat itu disini!" Binar menunjuk kearah Ella yang sayangnya sudah pergi.
Albiru menatap sekeliling namun tidak menemukan hal aneh.
"Siapa sayang?" tanyanya lagi.
"Pembunuh itu Bi, pembunuh anak kita. Dia ada disini, dia pasti mau berbuat jahat sama aku." Binar berucap panik, wajahnya semakin memucat.
"Tenang sayang... tenang ya. Ada aku disini, nggak akan ada yang jahatin kamu." Albiru memeluk Binar menenangkan namun Binar masih terlihat begitu panik dan takut.
Sampai kemudian pandangan Binar menggelap dan hal terakhir yang Binar dengar adalah teriakan Albiru memanggil namanya.
Binar pingsan!
__ADS_1
TBC