
Dua hari setelah bertemu dengan mantan kekasih, Raja menjadi lebih memiliki kepercayaan diri yang meningkat dengan perkataan Rania beberapa hari yang lalu membuat Raja makin percaya diri bila ia lelaki tampan bukan main, kata-kata itu keluar saat ia menyisir rambut di cermin kamarnya. Hari ini Raja akan makan siang bersama salah satu model bajunya ini perempuan beda lagi. Bila di lihat dari kehidupan Raja begitu nikmatnya, lelaki mapan tampan siapa yang tidak mau bersandar.
Zena geli melihat dandanan Abangnya di pagi ini benar tampan tapi tidak seperti biasanya. Zena meledek abis-abisan Abangnya dan menimbulkan sebuah pertengkaran kecil. Melihat hal seperti itu Ibu Raja sudah makin tidak tahan dengan tingkah laku anak sulungnya yang seharusnya sudah ada yang mengatur dan mendampingi anak laki-lakinya itu.
"Raja ikut Ibu sebentar" ucap Ibu dengan tatap mata yang begitu tajam
"Raja buru-buru Ibu..."
"Jangan bantah Ibu!" jawaban yang lumayan singkat dan membuat semua terpana pada Ibu. Ayah Raja tidak banyak bicara tentang hal itu semua ia serahkan kepada istrinya.
Di teras rumah, Ibu Raja menatap mata anak sulungnya begitu dalam tapi Raja tidak begitu menghiraukan.
"Ibu mau mengatakan apa?" tanya Raja
"Ibu mau kamu cepat menikah!" dengan nada yang tinggi Raja melirik ke arah Ibu. "Akhir pekan besok Ibu mau kamu ikut dengan kami bertemu dengan calon istrimu", kata Ibu lagi.
Raja hanya mengelus jidatnya sambil menggerutu ingin menolak perkataan Ibunya tapi tatapan mata Ibu sudah begitu tajam seakan tidak ingin memperpanjang masalah, Raja hanya mengiyakan sambil membelai tangan Ibunya untuk mendapatkan ketenangan, tidak ikut sarapan pagi Raja mencium kening Ibunya lalu meninggalkan rumah.
Ibu Raja menghelakan nafas panjang sedikit ada perasaan takut jika Raja tidak mau hadir di akhir pekan besok, itu Ibu juga takutkan terjadi dengan Rania. Kembali ke meja makan dengan wajah Ayah dan Zena yang begitu tegang juga tapi Ibu bisa meyakinkan suami dan anak bungsunya. Nanti siang Ibu dan Zena akan menyiapkan untuk acara besok termasuk kesiapan dan kelengkapan untuk rencana Ibu.
Diperjalanan menuju distro Raja mulai berfikir keras bagaimana untuk menolak ia juga berfikir siapa calon tunangannya atau istrinya nanti lalu ia menyadarkan dirinya bahwa ia akan segera berumah tangga, saat itu Raja benar-benar bingung untuk menolak permintaan Ibu.
Tiba di distro Raja sudah disambut dengan perempuan model itu semua pikirannya tentang Ibu langsung hilang Raja dan perempuan itu langsung menuju kestudio pemotretan, Dio melihat Raja memang begitu beda saat merangkul perempuan itu seperti ada sesuatu yang mengganjal perlahan Dio mendekati bosnya untuk mencari tahu yang sebenarnya.
“Nanti deh makan siang atau kita bincang sore ngobrol di kafe depan” jawab Raja yang keburu lari untuk mengejar perempuan itu. Setiap harinya Raja selalu mencoba perempuan baru dan memang sengaja untuk berganti-ganti model supaya ia bisa menikmati anggur merah di kamar hotel. Usia Raja yang mungkin masih dibilang muda mempengaruhi pergaulannya yang masih ingin bersenang-senang, alasan Raja belum mau menikah adalah ia tidak akan bisa seperti ini lagi.
Distro - studio - kantor sisanya club&bar. Raja juga sudah tidak memikirkan bagaimana Rania dan pertemuan yang tidak begitu penting.
...
Setelah pertemuan itu, di kantor Rania tidak bisa tenang bayangan wajah Raja selalu mengahantuinya hingga akhir pekan datang lagi Rania masih sibuk dengan tumpukan dokument yang belum selesai.
Rania bingung kenapa bisa begitu kuat bayangan Raja di fikirannya. Itu membuat Rania akhirnya pasrah dengan dokument yang begitu menggunung. Akhir pekan karyawan lainnya sudah bersiap-siap untuk pulang dan menikmati upah bulanan mereka salah satunya Dimas yang dari tadi sudah menganggu Rania untuk segera berangkat ke distro itu.
"Dim kayaknya gue bakal banyak pengeluaran deh jadinya gabisa belanja disana" Rania mencari alasan yang membuat Dimas percaya
__ADS_1
"Yaudah... gue beliin atau nggak temenin gue aja deh" Dimas mencoba memaksa rekan kerjanya itu dengan memasang wajah yang melas
"Lo nggak liat dokument gue segini tingginya?"
"Gampang itu mah nanti gue kerjakan sepulang dari distro" Dimas masih terus memaksa Rania.
"Emang Danang kemana si?"
"Kayak kagak tahu Danang aja dia akhir pekan gini pasti udah ngebucin lah" dengan helaan nafas panjang dan terpaksa Rania membereskan meja kerjanya dan membawa beberapa berkas untuk dibawa pulang oleh Dimas. Rania mencemaskan bagaimana nantinya bila disana ia bertemu dengan Raja... masih belum siap dan nanti yang ada bayangan Raja makin banyak di fikiran Rania.
"Ahhh nggak bakal selesai-selesai dong nanti dokument gue" celetuk Rania di dalam mobilnya
"Apanya Ran?" Dimas melihat Rania kebingungan
"Ehh... Emm enggak papa, emang gue ngomong apa Dim?" Rania juga bingung dengan dirinya sendiri. "Kira-kira gini pemilik distro ada disana nggak ya Dim?" Tanya Rania lagi sambil melirik kaca spion.
"Semoga aja biar lo bisa ketemu"
"Nggak.. Nggak mau ahh dihh apaan si?" Rania makin takut bertemu dengan mantan kekasihnya.
Malam akhir pekan yang masih diingat oleh Rania saat masih di tempat bimbel adalah makan jajan sekolahan saat nunggu jemputan sampai berganti hari, saat itu hujan turun dengan intensitas rendah bisa dibilang saat itu gerimis dengan romantisnya Raja meletakan tangannya diatas kepada Rania supaya kepala Rania tidak terkena air hujan, percakapan yang Rania ingat saat itu adalah
Sambil memeperhatikan kaca spion, Rania berulang kali mengehela nafas panjang untuk mengambil ketenangan dirinya sendiri, beberapa kali Dimas menanyakan dan menyakinkan Rania jika ia sedang baik-baik saja. Dimas berkata bawa santai saja di malam akhir pekan ini jika perlu habiskan saja upah bulanan Rania. Dimas memang sudah lama menjadi rekan Rania dan Rania juga tidak kaget mendengar omongannya yang suka sompral itu.
"Wahh Rann kayaknya lo harus parkir di parkiran umum deh ini pinggir jalan udah penuh banget" Dimas memberi arahan kepada Rania dan Rania segera mengarahkan mobilnya menuju parkiran umum.
Masih terlihat helaan nafas panjang Rania di depan jendela mobilnya membenarkan rambut yang masih terbilang baru disusul dengan merapikan bajunya. Dimas melihat rekannya hanya menggeleng-gelengkan kepala lalu menarik paksa Rania untuk segera berjalan menuju distro.
Disisi lain. Tadi sore Raja melakukan bincang sore dengan Dio asisten pribadinya dan sekarang mulai merangkap menjadi konsultasi hidup Raja. Perlahan Raja menceritakan tentang hidupnya yang mungkin selama ini di pandang oleh Dio sebagai pencinta wanita istilah jaman sekarang 'playboy' tapi di balik itu Raja tiba-tiba terlintas tentang suatu hubungan yang lebih serius ditambah lagi pembicaraan Ibu tadi pagi yang membuat Raja makin nggak karuan nggak tahu harus bagaimana.
Sebagai asisten yang profesional dengan gaya lagaknya Dio ia memberi arahan kepada Bosnya yang sedang bimbang galau merana ini, Dio mengatakan sambil meneguk kopi panas seperti ini...
"Sekarang apa lagi yang mau Bos tunggu? Mau perempuan yang seperti apa lagi yang Bos incar? Nggak usah lah jauh-jauh bahas perempuan, itu distro nggak bakal gitu-gitu terus dan itu adanya cuma dua maju atau berhenti. Sampai sini Bos paham?"
Yang dilihat Dio, Raja hanya butuh kemantapan hati dan jalan yang benar, tapi Dio begitu menyayangkan bila Raja tidak memilih jalan rumah tangga.
__ADS_1
Bincang sore cukup sampai situ Raja kembali ke kantor untuk menandatangani beberapa invoice dan mengagendakan jadwal meeting dengan selebritas papan atas untuk keperluan promosi baju di edisi baru. Tadi sore Raja menuju kantor dengan ditemani senja yang menghalang haluan Raja, berfikir keras bagaimana dengan besok bisa atau tidak iya atau tidak yakin atau tidak.
Setelah dari kantor Raja kembali kedistro untuk memfokuskan dirinya berjualan dan membantu karyawan yang lain.
Kembali dengan Rania dan Dimas...
Rania dan Dimas sudah masuk kedalam distro, Rania masih tampak tegang matanya mulai berkeliaran diseluruh penjuru distro.
Distro Raja yang ini tidak begitu luas cukup lah untuk beberapa baju yang keluar tiap edisinya semua di urutkan mulai yang keluaran pertama sampai yang segera hadir. Senang bukan main, Dimas sudah bukan menjadi dirinya ia kalap dan hampir membeli lima buah kaos satu hoodie dan Rania hanya mengincar sepatu keluaran edisi kedua.
"Selamat datang, ada yang bisa dibantu?"
Rania pasang telinga setiap karyawan yang menyambut pengunjung datang, Rania langsung melihat kearah pintu masuk jaga-jaga karyawan disitu menyambut kedangan Bosnya.
Rania lumayan tertarik dengan desain dan gaya-gaya Raja di distro itu semua yang ada di distro nggak mungkin tidak atas persetujuan Raja. Rania kagum dan tidak menyangka juga mantan kekasihnya yang banyak dibilang berondong itu bisa punya selera sebagus ini.
"Udah ambil aja jangan meragukan upah bulanan gue" kata Dimas yang masih sibuk memiliah baju
"Nggak ahh Dim gue beli sendiri nanti gue jadi utang sama lo" jawab Rania sambil mencoba sepatu yang akan ia beli. Dimas akan mengakhiri belanjanya dimalam ini dan sampai saat itu Rania masih belum liat adanya Raja. Dalam hati Rania tidak mungkinlah Bos mau ikut jualan yang ada bos itu hanya menyuruh dan memerintah karyawannya.
Setiba di kasir Dimas dan Rania mengeluarkan sejumlah uang tunai lalu segera meninggalkan distro, sebelum terjadi dan sebelum bayangan Raja menumpuk di fikiran Rania ia menggeret paksa Dimas menuju parkiran mobil.
...
"Zena nggk ikut kesini Bos?" tanya salah satu karyawan Raja
"Nggak, gue belum pulang jadi Zena nggak tahu kalau gue kesini" jawab Raja sambil mengecek pendapatan di kasir. Malam ini Raja menyuruh semua karyawannya pulang cepat dan membiarkan Raja sendirian mengurusnya di distro.
Keanehan itu juga dilihat oleh karyawan Raja dan ini jarang sekali terjadi Raja berkata ini adalah salah satu pengahargaan untuk mereka karena sudah bekerja dengan rajin. Tidak menunggu lama lagi semua karyawan yang sedang bekerja malam itu langsung bergegas untuk pulang padahal jam tutup distro masih tiga jam lagi.
Wajah karyawan Raja tampak senang dan merencakan menikmati malam akhir pekan bersama orang-orang tersayang. Sedangkan dengan Raja?
Raja duduk di kasir dengan pandangan kosong dan memikirkan besok. Raja juga termasuk anak yang patuh terhadap Ibunya bila dengan Ayah, Raja masih bisa menolak atau tidak menuruti perintah Ayahnya dan semenjak itu Ayah Raja serahkan semua urusan dan masalah anak-anaknya pada istrinya yaitu Ibu Raja.
Se playboynya Raja ia juga bisa berfikir keras sambil memandangi nomer telfon perempuan-perempuan yang selama ini menemaninya minum anggur merah di kamar hotel. Saat itu Raja memantapkan apapun besok yang terjadi Raja bakal lakukan yang penting Ibu Raja tidak memaksa lagi dan semua akan berjalan damai bila Raja menuruti perkataan Ibu.
__ADS_1
Distro Raja menjadi sorotan dimalam akhir pekan dengan apa yang terjadi besok, begitu juga dengan Rania yang takut bertemu dengan Raja di distro. Mereka berada di distro Raja yang berbeda dengan segala perasaan gelisah mereka.
***