
Binar menatap Ella dengan tatapan penuh amarah. Sedangkan Albiru, Fadli dan Intan tampak terkejut dengan kehadiran Binar.
"Sayang, kendalikan diri kamu. Kamu istirahat ya, biar aku yang urus semuanya." Albiru segera merangkul Binar, wanita itu tampak begitu pucat.
Binar menggeleng terus menatap Ella dengan tajam.
"Aku nggak akan kemana-mana sebelum mencabik-cabik dia dengan tanganku sendiri." Binar berkata penuh dendam membuat Ella melotot kaget.
Tidak menyangka Binar bisa berucap mengerikan seperti itu.
"Tenang sayang, kamu harus banyak istirahat. Masalah ini biar aku yang urus. Kamu percaya sama aku ya," Albiru membujuk, matanya menatap Fadli memberi kode.
"Biar Fadli yang antar mbak Binar kembali ya, mas Biru yang akan urus masalah ini." Fadli segera menggandeng Binar pergi.
Binar menatap Albiru sekali lagi, berusaha meyakinkan diri bahwa suaminya itu akan menghukum Ella dengan setimpal.
Sepeninggalnya Binar, Albiru segera mengalihkan perhatiannya pada Ella. Gadis itu semakin pucat melihat mata Albiru yang berkilat marah.
Dengan kasar Albiru menarik Ella menuju tangga. Intan segera mengikuti keduanya, biar bagaimanapun dia khawatir jika Albiru berbuat nekat.
Dan benar saja, begitu Intan menyusul gadis itu sudah disuguhkan pemandangan mengerikan. Dimana Albiru mencekiki Ella seolah ingin melempar gadis itu kebawah tangga. Albiru hanya perlu melepaskan tangannya dan Ella akan terguling dengan mengenaskan.
"Kamu benar-benar keterlaluan Ella, kamu pikir saya akan diam saja kamu menyakiti Binar?" Ucap Albiru dingin, wajah pria itu mengeras menandangan ada amarah yang tersimpan dan siap meledak kapan saja.
"Mas Biru, tolong lepaskan Ella." Intan berucap di belakang Albiru, terlihat sekali gadis itu takut mendekat.
Albiru mengabaikan Intan, bahkan pria itu semakin mencekik Ella. Sedangkan Ella hanya bisa pasrah, pandangannya sudah kabur. Dia berpikir inilah detik-detik terakhirnya.
Intan segera berlari mencari bantuan. Gadis itu segera bernapas lega saat melihat kedua orang tua Binar yang baru saja datang.
"Om, Tante tolong... tolongin Ella," Intan berucap terbata seraya menunjuk kearah Albiru.
Ayah Ibra dan Bunda Ina tampak begitu terkejut. Keduanya segera berlari menghampiri Albiru.
"Astaghfirullah, Biru. Lepas nak, istighfar." Ayah Ibra mendekat, menarik pelan lengan Albiru.
Tetapi pria itu tampak tidak peduli. Dipikirannya hanya ada wajah Binar yang menangis.
"Biru, ini Ayah nak. Tolong jangan seperti ini, ingat Binar nak. Binar nggak akan sedih kalau kamu seperti ini." Ayah Ibra terus berusaha membujuk menari pelan lengan Albiru.
__ADS_1
Bujukan Ayah Ibra berhasil, Albiru segera tersadar saat mendengar nama Binar. Pria itu menarik Ella dan mendorongnya begitu saja hingga Ella terduduk dilantai.
Ella terbatuk-batuk, berusaha menormalkan pernapasannya. Dia sangat takut pada Albiru, kakak sulungnya itu tidak pernah semarah ini.
"Ya Allah, nak. Ada apa? Kenapa seperti ini?" Bunda Ina mendekat, menepuk pelan punggung Albiru.
Albiru tertunduk, tidak sanggup mengatakan semuanya. Ayah Ibra memilih diam, merangkul pundak Albiru seolah memberi kekuatan untuk menantunya itu.
Disisi lain tampak Rio melihat semuanya, pria itu tersenyum sinis. Dia tidak puas, seharusnya Albiru mendorong Ella begitu saja karena bagi Rio itulah salah satu hukuman setimpal untuk Ella.
...****************...
Setelah kejadian itu, Albiru dan Fadli memutuskan untuk segera memberitahu orang tua mereka. Untuk sementara Albiru menitipkan Binar pada orang tuanya, dia ingin menyelesaikan masalah ini secepatnya.
Sesampainya di rumah, dengan kejam Fadli menyeret Ella yang menangis tersedu-sedu. Ayah Latif dan Ibu Siti yang mendengar keributan itu segera mencari tahu. Dan betapa terkejutnya mereka saat mendapati Ella yang menangis serta kedua kakaknya yang terlihat begitu marah.
"Ada apa ini?" tanya Ibu Siti langsung.
Fadli mendorong Ella kehadapan kedua orang tua mereka, "tanyakan itu sama dia."
"Ada apa Ella?" ganti Ayah Latif yang bertanya.
"Dia penyebab Binar keguguran Yah, dia yang mencampur minuman istri Biru dengan obat penggugur kandungan." Albiru berucap penuh emosi, tangannya mengepal berusaha mengendalikan kemarahannya.
"Astaghfirullah, benar itu Ella?" Ayah Latif dan Ibu Siti tampak semakin terkejut.
"Itu benar Yah, Bu. Bahkan Fadli punya buktinya." Fadli segera menjawab tidak ingin jika Ella berkelit.
"Astaghfirullah, Ella. Kamu benar-benar keterlaluan, apa yang kamu lakukan itu tindak kriminal." Ucap Ayah latif penuh emosi.
"Astaghfirullah, nak. Kenapa kamu berbuat sejauh itu?" Ibu Siti menarik lengan Ella memaksa untuk menatap matanya.
"Biru akan segera membawa Ella ke kantor polisi." Albiru berucap tegas membuat Ella semakin takut.
"Nggak Biru, jangan seperti itu. Biar bagaimanapun Ella itu adik kamu." Ibu Siti segera membela, berusaha menarik Ella kepelukannya.
"Tindakan Ella sudah ketelaluan Bu, dan itu tindak kriminal." Fadli segera menyahut yang disetujui oleh Albiru.
Ella menepis tangan Ibu Siti, gadis itu terlihat marah. Dia sudah sangat terpojok.
__ADS_1
"Kenapa semua orang belain Binar!?" Ella berteriak marah. "Ella benci Binar! Sampai kapanpun Ella benci Binar!"
PLAK
Satu tamparan kembali dia terima, kali ini Ayah Latif pelakunya. Pria paruh baya itu menatap Ella dengan tatapan amarah bercampur kecewa.
Ibu Siti tampak terkejut, segera mendekati Ella berusah melindungi putri bungsunya.
"Sudah cukup Yah," ucap Ibu Siti yang kini menangis.
"Kamu yang sudah cukup membelanya. Lihat dia sekarang, tidak ada rasa bersalah sama sekali!" Ayah Latif berseru marah.
Albiru dan Fadli hanya diam, memberikan waktu untuk Ayah mereka melampiaskan amarahnya. Sebenarnya Albiru ingin sekali memberi pelajaran untuk Ella, namun dia takut akan kelepasan seperti tadi.
Tindakannya tadi tidak bisa dibenarkan. Jika tadi tidak ada Ayah Ibra mungkin dia yang akan berada dipenjara.
Ayah Latif menatap Ella dengan marah. Tidak mengerti jalan pikiran putri bungsunya itu.
"Mau ditaruh dimana muka Ayah jika berhadapan dengan orang tua Binar? Ayah sungguh malu punya anak seperti kamu Ella, tindakan kamu itu kriminal."
"Ayah," Ibu Siti berucap lirih berusaha menghentikan Ayah Latif.
Ibu Siti terlihat takut jika Ayah Latif melewati balasannya. Seperti ada sesuatu yang dia sembunyikan.
Ayah Latif terdiam sejenak, wajah pria itu tampak penuh kekecewaan.
"Saya menyesal membesarkan kamu. Seharusnya dari dulu saya menolak kehadiran kamu. Saya menyesal memberikan kehangatan keluarga saya ke kamu, seharusnya saya tidak pernah mengulurkan tangan saya untuk kamu." Ayah Latif berucap kecewa, matanya tampak berkaca-kaca.
"Ayah!" Ibu Siti berseru kaget.
Albiru dan Fadli tampak terkejut mendengar ucapan Ayah Latif. Mereka bertanya-tanya apa maksud dari ucapan Ayah Latif.
Sedangkan Ella masih tetap menangis, tidak ada raut terkejut dari gadis itu.
TBC
**Adakah yg bisa menebak maksud Ayah Latif?
Terima kasih pembaca setia yg selalu mampir dan mendukung author 😊**
__ADS_1