Rumah Tangga

Rumah Tangga
Bab 24 - Pulang -


__ADS_3

Di dalam kamar Binar menangis seorang diri, menumpahkan rasa sakit hatinya. Jika saja dia bisa memilih tentu dia juga ingin segera hamil, namun dia bisa apa jika Tuhan berkehendak lain. Dan yang membuat Binar semakin terpuruk adalah tidak adanya tempat dia untuk bersandar.


Sementara di luar, Albiru menatap tajam para Ibu-Ibu yang bergosip tadi. Dari tatapannya jelas Albiru sangat marah namun berusaha untuk mengotrol dirinya, sedang yang ditatap berusah menghidar.


“Saya rasa Ibu-Ibu sekalian sangat kerterlaluan. Urusan rumah tangga saya bukan urusan kalian, jangan kalian pikir diamnya saya berarti saya tidak tahu apa-apa. Saya menghormati kalian sebagai orang yang lebih tua tapi perkataan kalian yang menyakiti hati istri saya tidak bisa saya maafkan.”


Setelah mengatakan itu Albiru segera beranjak, berniat menyusul Binar. Dia tahu istrinya itu pasti sedang menangis seorang diri. Dari awal pernikahan Binar memang sangat ingin segera hamil, bahkan wanita itu sering berkonsultasi ke dokter. Namun ternyata Tuhan belum bekehendak memberi mereka momongan.


 


...****************...


Albiru mengetuk pintu kamar seolah meminta izin pada Binar untuk masuk ke dalam kamar. Begitu masuk ke dalam kamar yang pertama kali Albiru lihat adalah Binar yang menangis ditepi ranjang. Pemandangan yang sungguh menyakiti hati Albiru.


Albiru mendekat dan langsung memeluk tubuh Binar. Membiarkan wanita itu menumpahkan segala keresahan hatinya. Albiru merasa begitu jahat membuat wanita yang dia cintai terus merasakan sakit hati, dia bukanlah suami yang baik.


“Maaf Bi, maaf sayang.” Albiru berbisik pelan sambil mengecup pucak kepala Binar.


“Hati aku sakit Bi, aku juga ingin hamil. Mereka nggak tahu gimana usaha aku selama ini.” Binar mengadu dengan air mata yang terus mengalir deras.


Albiru semakin mengeratkan pelukannya, dia juga merasakan sakit itu. Melihat Binar yang berusaha keras selama ini, tetapi orang-orang diluar sana berucap begitu sadis.


“Aku tahu Bi..aku tahu. Please, jangan nangis lagi. Percaya sama Allah, Allah pasti memberikan yang terbaik untuk kita berdua.”


Binar tidak menjawab, wanita itu semakin memeluk erat tubuh suaminya. Sungguh dia percaya janji Allah, dia percaya bahwa Allah selalu memberi yang terbaik untuk setiap umatnya tapi mengapa orang-orang begitu jahat padanya. Menuduh dirinya yang tidak mau berusaha, menuduh bahwa dia adalah yang orang yang begitu egosi dengan mementingkan kesenanga diri sendiri.


 


...****************...


Saat makan malam Binar masih diam, bahkan wanita itu seharian berada di kamar bersama Albiru. Sikap Binar yang tidak biasa itu membuat Ayah Latif bertanya-tanya, menantunya itu tampak begitu sedih.


“Binar kenapa?” tanya Ayah Latif lembut.


Binar memaksakan senyum seolah mengatakan bahwa dia baik-baik saja, “nggak apa-apa Yah.”

__ADS_1


“Mungkin mbak Binar ngidam Yah,” celutukan itu berasal dari Ella membuat semua sontak mengalihkan perhatiannya pada Binar yang justru menunduk.


Albiru berdeham, melalu tatapan matanya memberi peringatan pada Ella untuk menutup mulut.


“Binar hamil?” tanya Ibu Siti antusias.


Binar menggeleng, berusaha untuk tidak menangis. Dia tahu itu hanya pertanyaan biasa namun saat ini dia begitu sensitif.


Ibu Siti mendesah kecewa sedangkan Ella melebarkan senyumnya, beruntung Albiru tidak melihat kearahnya.


“Nggak apa-apa, anak itu kan titipan dari Allah. Belum diberi sekarang nggak apa-apa, yang penting terus berdoa dan berusaha. Kalian juga masih muda, mungkin masih butuh waktu berdua dulu.” Perkataan itu membuat Binar sedikit lega,setidaknya saat ini ada Ayah Latif yang mendukungnya.


“Tapikan mereka nikahnya sudah lumayan lama Yah, masa belum hamil-hamil sih.” Ella berkata begitu santai tidak memedulikan tatapan tidak suka dari Ayah Latif dan Albiru.


“Ella, jaga ucapan kamu, kamu kan perempuan tidak baik berkata seperti itu.” Tegur Ayah Latif namun Ella seolah menulikan telinganya karena bagi Ella ini adalah kempatan bagus menjatuhkan Binar.


“Mbak Binar sudah periksa belum? Jangan-jangan mbak mandul lagi.” Semua seketika menatap Ella dengan tatapan tidak percaya. Gadis itu benar-benar tidak tahu kondisi.


“Jaga ucapan kamu Ella!” Albiru berseru marah, pria itu bahkan berdiri dari duduknya dan menunjuk Ella dengan tatapan tajam.


Ella ikut berdiri, menantang kakak sulungnya itu. “Kenapa harus marah, bisa jadi kan mbak Binar benar-benar mandul.”


Suara tamparan itu terdengar begitu nyaring. Ella terkejut mendapat tamparan untuk pertama kali dalam hidupnya dan itu berasal dari Albiru, kakak yang begitu dia sayangi. Ibu Siti berdiri di hadapan Albiru seolah memberi perlindungan pada Ella. Pipi gadis itu terlihat merah, beruntung Albiru tidak mengerahkan semua tenaganya.


“Kamu apa-apaan Biru? Kenapa kamu kasar begini?” Ibu Siti mendorong Albiru menjauh, dia takut putra sulungnya itu akan kembali menampar Ella.


Binar sendiri menatap tidak percaya pada Albiru, dia begitu terkejut melihat kemarahan Albiru.


“Kenapa? Dia memang pantas mendapatkannya Bu, bahkan Biru rasa itu belum cukup. Mulutnya itu benar-benar berbisa, perempuan macam apa yang bisa berkata begitu jahat seperti itu.” Mata Albiru berkilat marah menatap Ella yang kini menangis sambil memeluk Ibunya, sedangkan Ayah Latif hanya diam melihat pertengkaran di depannya.


“Biru!” Ibu Siti berseru marah tidak terima perkataan Albiru yang begitu jahat. “Semua yang dibilang Ella memang benar, bisa jadikan istri kamu itu memang mandul. Ella hanya berkata seadanya, seharusnya kamu berterima kasih karena sudah diingatkan.”


“Ibu,” Albiru mundur tidak menyangka Ibunya bisa berkata seperti ini.


Binar yang mendengar perkataan itu begitu sakit hati. Wanita itu segera beranjak masuk ke dalam kamar. Dia tidak menyangka Ibu mertuanya bahkan bisa setega itu mengatakan bahwa dia mandul. Binar tidak percaya mengapa sebagai sesama wanita bisa mengatakan hal yang begitu jahat.

__ADS_1


“Biru benar-benar kecewa sama Ibu,” Albiru menatap kecewa Ibunya dan segera pergi menyusul Binar yang diyakini sedang menangis sakit hati.


“Kalian benar-benar keterlaluan.” Ayah Latif menatap marah pada istri dan anak perempuannya.


 


...****************...


 


Albiru masuk ke dalam kamar dan mendapati Binar sedang mengeluarkan baju-bajunya di dalam lemari, wanita itu berniat pergi dari rumah ini.


“Kamu mau kemana Bi?” tanya Albiru mendekati Binar yang masih sibuk berkemas.


Binar berhenti sejenak demi menatap suaminya, “Ibu dan adik kamu benar-benar keterlaluan. Kamu pikir setelah apa yang mereka lakukan aku masih sudi tinggal disini?”


“Kamu mau kemana Bi? Ini sudah malam, tolong tenang.” Albiru menarik tangan Binar bermaksud menghentikan kegiatan istrinya itu namun segera ditepis kasar.


“Aku mau pulang. Aku mau pulang ke rumah orang tuaku, daripada aku disini terus menerus sakit hati.”


“Nggak Bi, please jangan pergi. Aku akan bicara sama Ibu dan Ella, aku akan minta mereka untuk minta maaf sama kamu.” Bujuk Albiru yang mendapat gelengan tegas dari Binar.


“Nggak, aku mau pulang. Aku mau pulang! Kalau kamu nggak mau ngantar aku pulang, aku bisa pulang sendiri.” Binar beranjak, menarik koper menuju pintu namun Albiru segera menahan langkahnya.


“Oke, aku akan antar kamu pulang.” Putus Albiru akhirnya setelah penuh pertimbangan.


 


TBC


Terima kasih sudah mampir, jangan lupa dukungannya biar author tambah semangat update 😊


Sambil nunggu novel ini update, author punya rekomendasi novel menarik karya ICHA Lauren


Miss Black : Pewaris CEO Yang Terbuang

__ADS_1



Sebutan anak haram melekat pada diri Rose sejak kecil karena ia tidak mengetahui siapa ayah kandungnya. Setelah sang ibu meninggal, Rose diasuh oleh paman dan bibinya. Namun bibi dan sepupunya yang kejam selalu memperlakukan Rose sebagai pembantu. Hingga pada usia empat belas tahun, nasibnya berubah total. Seorang pria bernama Denzel mengatakan bahwa Rose adalah pewaris dari Louis Brown, CEO Brown Group yang terbunuh secara misterius. Namun demi keselamatan dirinya Rose harus tetap menyembunyikan identitas aslinya. Rose memilih menjadi mahasiswi biasa di fakultas seni. Tidak ada yang mengetahui bahwa Rose sesungguhnya adalah pemilik perusahaan property Brown Group yang bernama Miss Black, sekaligus seorang violinis terkenal. Namun identitas aslinya hampir terbongkar ketika Luke, anak angkat Louis Brown datang untuk menuntut haknya. Akankah Rose dan Luke terlibat persaingan atau hubungan mereka justru berubah menjadi cinta?


__ADS_2