
Binar baru saja turun dari mobil saat mendapati sekumpulan Ibu-Ibu yang biasa bergosip di depan rumah mertuanya menatap kearahnya. Sebenarnya Binar tidak ingin berpikiran buruk namun melihat tatapan sinis itu membuatnya bertanya-tanya apa yang salah dengan dirinya.
“Permisi Ibu-Ibu,” sapa Binar sopan yang dijawab senyum palsu sekumpulan Ibu-Ibu penggosip itu.
“Baru pulang mbak?” tanya Bu Ani basa basi.
Binar tersenyum sopan sebelum menjawab, “iya Bu.”
“Wah, semangat banget kerjanya ya mbak, sampe pulang sore begini malah tadi saya liat mas Biru sudah lebih dulu pulang.” Celutuk Bu Rini yang Binar yakini ada maksud tersirat dari kalimatnya.
Binar masih tersenyum sopan sebelum menjawab, “mau giman lagi Bu, mendekati akhir bulan biasa memang lembur.”
“Nggak bisa ngurus suami dong,” kali ini Bu Wiwi yang bersuara.
Masih dengan mempertakankan senyum sopannya Binar kembali menjawab santai, “ya bisa dong Bu, Alhamdulillah suami saya nggak rewel.”
Mendengar jawaban Binar sontak saja Bu Ani tersenyum sinis. “Halah mbak, beda dong kalo sambil kerja. Kan waktu sama suami jadi berkurang apalagi kalo sering lembur begini.”
Kening Binar berkerut tidak paham, “maksudnya apa ya Bu?”
“Iya bedalah mbak, Ibu rumah tangga sama wanita karir kaya mbak Binar gini. Tuh contohnya menantu saya rela melepas pekerjaannya demi ngurus suami.” Dengan bangga Bu Rini kembali memuji menantunya. Sebenarnya Binar tidak peduli dengan Ibu-Ibu ini tapi omongan yang mereka sampaikan sedikti menyentil egonya.
“Saya kerja juga atas izin suami kok Bu,” jawab Binar sopan.
“Yakin mas Biru ikhlas izinin mbak kerja? Bisa saja kan cuma nggak enak mau larang.” Bu Ani kembali berbicara kini matanya menatap satu persatu Ibu-Ibu yang ada disana seolah meminta persetujuan atas ucapannya.
Bu Wiwi langsung menimpali, “bener tuh mbak, kita sebagai istri seharusnya sadar diri jangan mau seenaknya saja.”
“Mbak Binar jangan marah loh, kita ngomong gini sebagai sesama wanita,” timpal Bu Ani.
Oke sudah cukup panas kuping Binar, dia sudah tidak mau mendengar omongan tidak bermutu ini. “Nggak apa-apa Bu, saya ucapkan terima kasih untuk nasehatnya. Kalau begitu saya pamit dulu ya.”
Binar segera undur diri, memasuki rumah dengan perasaan kesal. Tapi dia masih memiliki sopan santun untuk tidak membalas ucapan Ibu-Ibu itu.
Sayangnya, perkumpulan Ibu-Ibu itu tidak berenti sampai disana. Sayup-sayup Binar bisa mendengar bisikan yang tidak mengenakan itu.
__ADS_1
“Kasian banget Bu Siti dapat menantu seperti itu. Kalau saya sih ogah, keras kepala banget.” Binar bisa menebak itu suara bisikan Bu Ani.
“Bener tuh Bu, pasti gengsi deh kalo jadi Ibu rumah tangga.” Kali ini suara Bu Rini yang terdengar.
Dan masih banyak lagi omongan-omongan tidak mengenakkan itu. Meski Binar berusaha tidak memedulikan, tapi sebagai seorang istri batinnya bertanya-tanya, apa benar Albiru hanya tidak enak melarangnya bekerja?
...****************...
“Bi, aku mau nanya.” Albiru yang baru keluar dari kamar mandi langsung terkejut mendapati Binar yang sudah duduk didepan meja rias. Dia saja tidak tahu kapan Binar sampai rumah.
“Kamu bikin kaget sayang. Kamu kapan nyampe kok sudah disini aja?” tanya Albiru.
Binar membetulkan posisi duduknya menghadap Albiru yang sedang memakai kaos. “Aku sudah pulang dari tadi tapi mampi sebentar didepan.”
“Sudah kamu mandi dulu, sebentar lagi maghrib.”
“Bi, aku mau nanya dulu sama kamu.” Binar terdiam sebentar sebelum memberanikan diri bertanya pada suaminya. “Kamu beneran ikhlas kalo aku kerja?”
“Kenapa kamu nanya begitu?” tanya Albiru balik.
“Kok malah nanya balik sih, jawab dulu pertanyaanku.”
Albiru menghela napas sebelum menjawab, “Pertanyaan kamu aneh. Kita kan sudah pernah bahas ini sebelum nikah.”
“Aku nanya kamu ikhlas atau nggak. Cukup jawab jujur, aku nggak masalah apapun jawaban kamu yang penting jujur.”
Albiru mendekat kearah istrinya, mengelus dengan lembut rambut sang istri. “Aku ikhlas sayang, selama kamu senang dan nggak memberatkan kamu.”
“Apa aku berenti kerja aja?” tanya Binar mengagetkan Albiru.
“Kamu kenapa sih? Ada omongan yang bikin kamu jadi begini kan?” Albiru semakin heran dengan sikap Binar yang tiba-tiba berubah.
__ADS_1
Binar mengangguk pelan, “Ibu-Ibu tadi bilang kalau jadi Ibu rumah tangga itu baik dari pada jadi wanita karir.”
Albiru berlutut dihadapan Binar, dengan lembut menggenggam tangan istrinya. “Apapun itu selama menjalaninya dengan ikhlas pasti baik. Kamu nggak perlu dengarin omongan orang lain.”
“Aku cuma takut nggak bisa ngurus kamu dengan baik. Bunda selalu bilang aku harus jadi istri yang baik dan melayani suami sepenuh hati.”
“Dan kamu sudah jadi istri yang baik buat aku,” jawab Albiru. “Dengar, kamu itu istriku dan yang tahu baik atau tidaknya kamu ya aku bukan orang lain.”
Mendengar ucapan Albiru membuat Binar bernapas lega. Apa yang dikatakan suaminya itu benar, merekalah yang menjalankan kehidupan pernikahan ini dan orang luar tidak tahu apapun. Dan selama ini Binar selalu berusaha belaja menjadi istri yang baik untuk Albiru.
...****************...
“Maaf ya Bu, Binar nggak bisa masak makan malam.” Binar membuka percakapan. Mereka sekarang berada di ruang makan, bersiap makan malam.
“Nggak apa-apa Binar, Ibu tahu kok kamu kan abis lembur pasti nggak sempat masak.” Jawab Ibu Siti sambil mengambilkan makanan untuk suaminya.
Binar sedikit lega, beruntung tidak ada Ella jika tidak bisa dipastikan adik iparnya itu akan memulai pertikaian lagi
“Masak memasakan kalian kan bisa gantian,kalo Binar capek kan ada Ibu nanti Binar ada waktu luang baru bisa masak.” Kali ini Ayah Latif yang bersuara. Ayah mertua Binar itu memang jarang ada di rumah karena urusan pekerjaan,
“Ayah benar, lagian kan masih ada Ella. Buat apa juga anak itu ada di rumah kalo nggak bisa diandalkan.” Ucap Fadli yang disambut pukulan dari Ibu Siti.
“Kamu ini kenapa sih sama Ella, adik kamu itu kan masih kecil. Kurang-kurangin mas jahat sama adik sendiri.” Omel Ibu Siti yang tidak terima si bungsu diremehkan.
Fadli berdecak kesal karena pembelaan Ibunya, “Ibu, ini belain terus Ella. Makanya sakarang jadi manjakan.”
Dalam hati Binar membenarkan ucapan Fadli, di rumah ini Ella memang terlalu dimanjakan dan hasilnya sering sekali bersikap sesuka hati. Binar yang anak tunggal saja tidak seperti itu diperlakukan. Ayah dan Bundanya tidak akan segan-segan bersikap tegas jika dia sudah melewati batas.
“Fadli, kamu diam. Ibu nggak usah ladenin omongan Fadli. Sekarang kita makan malam dan Fadli kamu yang pimpin doa.” Perintah Albiru tegas yang tidak bisa dibantah Fadli.
Malam ini Binar bisa bernapas lega terhindari dari Ella. Namun dia tidak tahu ada hal besar yang menantinya esok hari, sesuatu yang tidak dia duga-duga.
__ADS_1
TBC