
Tepat pukul 10 malam Binar melahirkan si kembar dengan selamat. Kedua bayi mungil itu tampak sehat dan sempurna.
Karena kondisi Binar dan kedua bayinya sehat, Binar memilih melahirkan secara normal. Dia melahirkan bayi kembar laki-laki dan perempuan.
Selama persalinan Albiru terus mendampingi Binar, bahkan dia tidak kuasa menahan tangisnya. Tidak hentinya dia mengucapkan rasa syukur atas karunia yang Allah berikan.
Binar sendiri merasa ini seperti mimpi karena semua terlalu indah. Si kembar telah lahir kedua tanpa kurang apapun, sehat dan terlihat begitu menggemaskan.
"Siapa namanya?" tanya Fadli yang baru saja datang bersama dengan Ayah Latif.
Di samping Fadli, Ayah Latif menatap bahagia kedua cucunya. Tiba-tiba dia merasa sudah begitu tua melihat dirinya kini sudah menjadi seorang kakek.
"Yang jagoan namanya Nevan Ardhani Pramana. Si princess namanya Nessa Ardelia Pramana." Jawab Albiru penuh semangat.
"Halo sayangnya Om Fadli... duh, cantik banget princess Nessa." Fadli tersenyum lebar menatap wajah Nessa yang tertidur lelap.
Meski tidak bisa menyentuh secara langsung, Fadli tetap merasa begitu bahagia. Dia tidak menyangka dirinya sudah berstatus Om dari dua bayi kembar.
Ayah Latif menatap Albiru dengan senyum bahagianya. Pria paruh baya itu memberi Albiru pelukan hangat.
"Selamat, nak. Selamat telah menjadi Ayah, semoga kamu bisa menjadi Ayah yang baik dan hebat untuk anak-anakmu." Bisik Ayah Latif dengan rasa bangganya.
"Aamiin... makasih Yah. Ayah juga selama sudah menjadi kakek." Albiru membalas dengan nada bercanda yang ditanggapi dengan tawa.
"Ayah merasa begitu tua," canda Ayah Latif.
Keduanya berbincang hangat meninggalkan Fadli yang masih betah menatap kedua bayi kembar tersebut.
Ayah Latif melihat kedua orang tua Binar dan menyapa besannya dengan hangat. Para orang tua saling mengucapkan selamat telah menjadi kakek dan nenek.
Mereka bahkan menyuruh Albiru untuk kembali ke ruangan Binar.
Kedua orang tua Binar sedang menunggu di luar bersama Ayah Latif. Para orang tua sengaja memberikan ruang untuk Albiru dan Binar.
__ADS_1
Sejujurnya Albiru ingin menemui Binar sedari tadi, dia belum mengucapkan rasa terima kasihnya karena sudah berjuang melahirkan kedua anak mereka.
"Sayang," Albiru memanggil lembut.
Binar menoleh, wajahnya masih pucat namun, senyum bahagianya masih melekat.
"Bi, gimana si kembar?" tanya Binar lemah.
"Alhamdulillah mereka baik, abis aku adzani mereka langsung tidur pulas. Kamu nggak apa-apa, Bi?"
Binar mengangguk lemah, dia merasa baik-baik saja.
"Makasih, sayang... makasih sudah berjuang si kembar. Kamu hebat, aku cinta sama kamu Bi." Ucap Albiru penuh rasa haru.
Albiru membungkuk, mengecup lembut kening Binar. Menyalurkan rasa bangganya.
"Aku merasa ini mimpi, Bi. Kemarin kita masih berjuang untuk mendapatkan anak dan sekarang Allah hadirkan dua orang anak."
Binar berucap bahagia, air matanya kembali menetes. Albiru menghapus air mata Binar tidak lupa kembali mengecup kening istrinya dengan hangat.
Keduanya terus mengucap rasa syukur yang tidak terkira. Rasa bahagia yang saat ini mereka rasakan seperti menghapus semua duka yang telah mereka lalui.
...****************...
Ibu Siti baru saja ditelepon Fadli yang mengabari bahwa Binar sudah melahirkan bayi kembar. Ibu Siti menangis seorang diri, dia bahagia tapi merasa tidak pantas karena kejahatan yang pernah dia lakukan.
Dulu dia menyakiti hari Binar berulang kali. Bahkan dengan teganya dia meminta Binar untuk pergi atau rela dimadu. Dan sekarang Allah menunjukkan kuasanya, Binar hamil dan melahirkan bayi kembar.
Ibu Siti merasa dirinya begitu jahat. Dia ingin menjenguk Binar dan kedua cucu kembarnya namun, rasa begitu memalukan.
"Ya Allah, rasanya begitu memalukan. Begitu jahatnya diri ini pada menantu sendiri. Bodoh kamu Siti, melepaskan keluargamu dan sekarang menderita seorang diri."
Ibu Siti menangis, merasa sangat menderita. Disaat keluarganya berbahagia dia hanya bisa meratapi nasib seorang diri.
__ADS_1
Inilah akibat dari perbuatan jahatnya. Dia begitu jahat dan egois, selama ini dia merasa sebagai mertua dia harus dihormati. Sayangnya, Ibu Siti lupa anak batasan hingga membuatnya kini dipenuhi rasa sesal.
Selama ini terus membela Ella karena gadis itu terus mengadu tentang hal buruk mengenai Binar. Ibu Siti yang mempercayai Ella tentu saja langsung menilai Binar buruk.
Dia lupa bahwa sebagai orang tua seharusnya dia melihat dari dua sisi. Dan sekarang yang tersisa hanya rasa sesal, ingin mengulang waktu yang tentu saja mustahil terjadi.
Tidak lama pintu diketuk begitu pelan. Ibu Siti segera membukakan pintu, mengira Fadli yang datang berkunjung.
Namun, yang kini berdiri di hadapannya adalah sosok yang dia cari-cari. Tubuhnya kurus, matanya bengkak dan tampilannya begitu berantakan.
"Ya Allah!" Ibu Siti berseru kaget, tidak menyangka siapa yang kini berdiri di hadapannya.
Sosok itu menatap Ibu Siti dengan sendu sebelum akhirnya jatuh pingsan.
TBC
Terima kasih sudah mampir..jangan lupa dukung author ya biar makin semangat update 💪😉
ada rekomendasi novel keren untuk kalian karya author amandaferina06
Yuk mampir dan dukung karyanya 😊
Judul : OBSESI KAKAKKU KEPADAKU
Obsesi yang tidak pantas seorang kakak terhadap adiknya sendiri. Viktor Alexander Aganta, itulah nama lengkap dari sosok abang yang begitu kejam dan sangat terobsesi dengan adiknya, Quenna Anezka Aganta.
Viktor selalu menggunakan penutup wajah setelah tragedi kelam beberapa tahun lalu hingga tidak sekalipun yang mengetahui rupa tampan dari sosok Viktor, bahkan Quenna sendiri.
Quenna tidak pernah melihat wajah sang Abang bertahun-tahun lamanya usai insiden yang menjadi kunci utama hancurnya hidup Quenna karena obsesi abangnya.
Kematian seluruh keluarganya dan obsesi abangnya telah membuat Quenna percaya bahwa ia berada dibawah kendali Viktor, ia menjadi budak Viktor abangnya sendiri.
__ADS_1
"Hentikan perbuatan tidak pantas ini Kak, aku adik mu, adik kandung mu!!"
"Kenapa aku harus mengehentikan? Aku bahkan bisa lebih dari ini, membuat mu mengandung anak ku, misalnya?"