
Dikamar, Rania masih sangat bersyukur tidak bertemu dengan mantan kekasihnya itu, jujur Rania takut dengan bayang-bayang wajahnya. Sesuai dengan janji Dimas ia membawa beberapa dokument Rania ke rumahnya dan malam akhir pekan ini Dimas sibuk mengerjakan. Ada untungnyajuga tadi Rania datang ke distro pekerjaannya bisa di ringankan dengan Dimas.
Merebahkan tubuhnya sejenak di atas tempat tidur adalah hal nikmat yang tidak bisa di pungkiri oleh Rania. Mama dan Raisa masih sibuk dengan urusan mereka masing-masing rumah tampak sepi sunyi dan entah Rania bingung apa yang harusnya ia lakukan. Ia coba beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan kearah dapur untuk mencari makanan atau minuman yang bisa menenangkan kegelisahannya ini.
Ruang tamu dan susu putih menjadi pilihannya, duduk diruang tamu sambil menonton televisi bisa sedikit meredakan kegelisahannya.
Disisi lain
Distro sudah di tutup olehRaja satu jam yang lalu, Raja ingin menghabiskan malam akhir pekannya ini dengan berfoya-foya makanan. Sebelum besok harus bertemu dengan calon masa depannya, Raja ingin menghabiskan waktunya dengan sejumlah makanan yang lezat.
Tidak pernah pernah Raja seperti ini biasanyayang ia lakukan adalah pergi ke club&bar untuk menghabiskan
beberapa botol minuman alkohol tapi kali ini ia memilih cara lain. Dengan segera Raja melaju kesebuah rumah makan yang buka dua puluh empat jam dan ia memesan banyak makanan.
“Ehh itu Raja pemilik distro yang terkenal ituuu” suara gunjingan dari beberapa pengunjung di tempat makan tersebut.
Seharusnya Raja bisa makan dengan tenang dan nikmat di tempat itu tapi nyatanya berbanding terbalik, malam akhir pekan banyak di kunjungi orang-orang terutama muda mudi yang sedang berpesta makanan juga
disana, tidak sedikit yang meminta foto bersama dengan Raja.
"Ehmm, Mbak... Bisa di bungkus aja nggak ini nanti antar ke mobil saya yaa" sangat membuat Raja tidak nyaman sekali dengan kelakuan orang-orang disana dan akhirnya Raja harus mengasingkan diri di apartement keluarganya.
Dengan di temani lampu gedung dan bintang di langit yang berkelap kelip, Raja menghabiskan semua makanan yang tadi ia pesan di dalam kamar apartement itu. Saat Raja sendiri pun ia sudah mulai terbuka fikirannya tentang jalan masa depannya yang harus ia pilih. Jika nanti pilihan Ibunya adalah jalan satu-satunya, Raja berserah diri dengan keadaan.
Pilihan yang bagus Raja habiskan makanan itu buat dirimu puas dengan semua rasa dari makanan yang ada di hadapanmu.
...
Akhir pekan yang sesungguhnya pun tiba. Pagi yang cerah ini Raisa sudah membangunkan Adiknya secara paksa untuk membantu kerja bakti membersihkan seluruh rumahnya. Kegiatan yang sangat bermanfaat disisi lain Rania juga bisa menghilangkan bayangan Raja di fikirannya.
Lagu favorit Papa yang Rania putar di ruang tamu menambah semangat kerja bakti mereka. Kekompakan ini harus terus terjalin sampai nanti akhirnya Rania dan Raisa ber-rumah tangga.
“Ya lo duluan lah Kak masa gue yang ngelangkahin Elo?” celetuk Rania sambil menyapu area dapur dan meja makan
“Kalau yang datang jodohnya Rania dulu?” jawab Mama Rania yang membuat Rania terdiam sambil terbawa oleh fikiran Ibu Raja, kan Raja lagi.
“Nggak ahh Ma.. nanti syarat ngelangkahin Kakak banyak dan ribet, mending urut aja lah” jawab Rania lagi yang makin mempertegas
“Kalau sudah jodohkan lo nggak bisa ngela Ran...”
Percakapan mereka berakhir sampai musik yang Rania putar itu tiba-tiba berhenti, ada panggilan masuk dari...
“Zena? Dia masih nyimpen nomer gue?”
“Zena Adiknya Raja? Lo balikan sama Raja Dek?” tanya Raisa penasaran. Sebelum Rania menjadi olokan Raisa, ia menerima panggilan masuk itu menjauh dari Mama dan Raisa.
Dengan jantung yang bedegup kencang Rania menarik nafas sedalam-dalamnya dan perlahan
bericara dengan Zena.
“Syukur Kak Rania masih menyimpan nomer Zena” Zena yang memulai pembicaraan itu.
“Iyaa sepertinya tidak ada salahnya kalau gue masih simpen nomer Zena” jawab Rania yang sedikit gugup, ini masih Adiknya yang telfon bagaimana bila Abangnya yang menelfon
“Kak Rania nggak lupa kan janjinya sama Ibu buat makan malam nanti?”
Rania terpaku dengan kata-kata Zena yang mengingatkan tentang pertemuan itu. Rania tidak tahu harus menjawab apa Rania hanya menelan ludahnya sambil berfikir keras.
“Tunggu aja Zen.. Kalau nggak dateng itu tandanya gue sudah cukup tidak ingin berurusan dengan keluarga lo lagi” jawab Rania
“Hmmm.. Zena paham Kak, cuma ini bakal susah untuk menjelaskan kepada Ibu mungkin Kakak bisa datang karena Ibu itung-itung melegakan hatinya Ibu, Kak” Zena yang seakan masih ingin Rania datang, dengan helaan nafas panjang Rania mengiyakan pertemuan nanti malam.
“Kami tunggu kehadirannya Kak...” Zena langsung mematikan panggilannya itu dan membuat Rania makin pusing. Kembali lah Rania ke ruang tamu dan memutar kembali lagu favorit Papanya.
Raisa dan Mama sudah mendesak Rania untuk bercerita, setelah pertemuan akhir pekan minggu kemarin, Rania tidak mengatakan apa-apa kepada keluarganya. Dari pandangan Mama dan Raisa, mereka tidak mempermasalahkan hubungan Rania dengan Raja yang terpaut usia jauh itu malah Mama sangat mendukung Rania. Entahlah Rania masih belum ingin memikirkan itu terlebih dahulu ia mengalihkan pembasahan dengan
kegiatan kerja bakti dirumah itu.
Berlanjut hingga makan siang tiba.
...
Dari kemarin kalian belum berkenalan ya.. dengan Ibu Raja yang sangat super ini, perkenalkan ini adalah Ibu Ika yang telah melahirkan dua anak satu laki-laki satu perempuan. Mulai sekarang kalian bisa memanggilnya Ibu Ika.
Kembali...
Ibu Ika sudah bingung mencari Raja kesana dan kemari sampai beliau harus menelfon Dio asisten pribadi Raja, Ibu Ika takut anak laki-lakinya ini melarikan diri dan yang paling Ibu Ika takutkan adalah Raja kembali kedunia malamnya.
__ADS_1
“Raja disini...” suara itu muncul dari arah pintu utama rumah Ibu Ika
Semua melihat kearah suara itu berasal, disana Raja berdiri dengan badan yang lusuh seperti orang yang baru saja bangun tidur. Raja menjelaskan kepada Ibunya jika ia tidak seperti yang Ibunya fikirkan, Raja sedang menenangkan dirinya di apartement dengan sajian makanan yang ia bawa pulang kemarin.
“Syukurlah... Ibu khawatir dengan mu” Ibu Ika yang membelai manja anak sulungnya itu. Raja bergegas masuk kedalam kamarnya untuk membersihkan badannya lalu ikut makan siang bersama keluarganya.
Zena tidak tega melihat Abangnya seperti beban yang ada diri Raja begitu berat, dengan kerendahan hati Zena masuk kedalam kamar Abangnya dan memastikan Abangnya baik-baik saja.
“Ya begitu lah Zen, saat Ibu membicarakan tentang pernikahan beban gue makin berat” kata Raja yang duduk di pinggir tempat tidur.
“Emang lo mau kayak gini terus? Hidup cuma buat foya-foya main perempuan habisin duit buat berbotol-botol alkohol?” jawab Zena yang makin membuka fikiran Abangnya. “Harusnya lo bersyukur ada yang masih sayang sama lo” kata Zena lagi.
“Uuuuu Adek gueee udah bijak banget udah dewasa ya sekarang” Raja mengalihkannya dengan meledek Zena. Dengan gerak cepat Zena dan Raja berjalan berdampingan menuju meja makan yang sudah di tunggu oleh Ibu dan Ayah. Di meja makan Ibu Ika tidak membahas tentang nanti malam supaya Raja tetap tenang dan menghindari ketidak hadiran Raja untuk makan malam.
...
Berlalu...
Setelah semua pekerjaan rumah selesai dan makan siang bersama, Rania beserta keluarga berkunjung kemakam Papa. Lumayan lama mereka tidak berbagi tawa dengan kepala keluarga yang sampai sekarang membawa pelajaran berharga bagi kedua anaknya dan istri tercinta. Satu persatu mereka menabur bunga beserta air untuk menyegarkan makam Papa.
“Pa.. Ada yang mau balikan sama mantannya” celetuk Raisa
“Apaan si Kak” gerutu Rania yang mulai fokus berdoa untuk Papa tercinta, begitu juga dengan Mamanya.
Tak lama dari itu mereka kembali ke parkiran mobil dan meninggalkan pemakaman Papa. Rasa rindu yang tidak bisa terbayar lunas harus mereka lunasi dengan air mata yang turun di pipi mereka. Rindu dengan orang yang sudah berbeda alam itu begitu berat susah untuk mengatakan kepadanya susah untuk mengobatinya.
Kembali kerumah...
Di jalan Mama Rania meminta untuk datang ke acara makan malam itu walaupun hubungan Rania dan Raja sudah selesai tapi hubungan kekeluargaan tidak boleh selesai. Hormati Ibu Ika yang masih peduli dan sayang dengan Rania, begitu kata Mama.
“Nanti gue bantu dadanin dehh, rambut udah kece gini masa nggak di dukung sama penampilan yang oke” Raisa yang selalu menyeletuk kepada Adiknya dan membuat Rania tetap diam dengan muka yang datar.
...
Dihalaman belakang Raja sedang duduk santai sambil menikmati sore yang tenang ditemani dengan secangkir kopi angin yang berhembus juga menemani Raja.
Dari arah belakang Raja, Ayah memanggilnya seakan memberi tahu jika di situ ada Ayah yang ingin berbincang dengannya.
“Pasti rindu dengan anak laki-lakinya” gurau Raja setelah meneguk kopinya itu.
“Kamu sih jarang dirumah” jawab Ayah yang sekarang posisinya sudah di samping Raja.
“Ahahaha...Setelah kamu mulai berulah, Ayah tidak mau mengaturmu lagi dan semua akan setuju bila Ibu yang berbicara... Nampaknya Ayah akan menyetujui perkataan Ibu” jawab Ayah yang begitu santai. Raja hanya terdiam sambil terus mengenuk secangkir kopinya.
“Dulu Ayah juga diatur oleh Nenek mu hingga akhirnya Ayah punya anak dua dengan Ibu Ika... Semua orang tua pasti mau yang terbaik untuk anaknya, jika nanti malam yang bertemu dengan kamu tidak sesuai dengan kata hati kamu, bilang dengan Ayah nanti Ayah akan bantu bicara dengan Ibumu” kata Ayah lagi
Raja masih terdiam sepertinya ia masih mencerna perkataan Ayah. Sampai akhirnya Raja menganggukan kepalanya dan izin kembali ke kamar untuk bersiap-siap. Ayah Raja berharap pertemuan nanti malam berjalan dengan lancar.
...
Rania sudah cantik yang serasi dengan warna rambutnya polesan di wajahnya juga tidak terlalu mencolok, Raisa sudah siap untuk mengantar Rania malam ini.
Malam ini Raisa meminjam mobil Rania untuk bertemu dengan temannya, katanya Raisa sekalian keluar aja supaya Raisa bisa hemat bahan bakar mobilnya. Tidak diambil pusing Rania dan Raisa melaju ketempat yang sudah Zena bagi melalui pesan singkat. Bagaimana dengan Mama? Jangan khawatir Mama tenang dengan film yang sudah ia pilih dan sekarang sudah anteng di kamarnya.
Raisa berulang kali mengatakan kepada Adiknya untuk tetap menjaga sikap jika kebencian atau ketidak sukaannya terhadap Raja jangan terlalu dilihatkan anggap aja mereka sedang menyambung silaturahmi.
“Okay Kak... Nanti gue kabari ya kalau udah waktunya jemput” Rania yang sudah tiba di tempat yang dituju
“Okaay, jangan kemana-mana tunggu sini aja”
“Iyaa, ahaha kayak anak SD aja gue” Raisa langsung tancap gas menuju tempat temannya.
Tarik nafas panjang lalu dibuang perlahan untuk meringankan kegugupan yang memenuhi diri Rania. Berjalan masuk dan mencari keberadaan keluarga Zena. Akhir pekan kemarin Ibu Ika mengatakan akan bertemu di kafe dekat supermarket tapi kali ini berbeda tempat.
“Kak Rania datang...” ungkap Zena yang melihat kearah Rania. Sontak itu membuat semua keluarga Zena melihat ke arah Rania yang sedang berjalan ke meja keluarga Zena. Begitu anggun Rania berjalan dan malam itu pandangan Raja sepenuhnya kepada Rania. Jelas terkejut kenapa harus Rania yang menjadi calon pendamping Raja dan kedatangan Rania malam ini menjadi kejutan yang luar biasa bagi Raja.
“Selamat malam semua maaf kalau Rania datang terlambat” ucap Rania kepada keluarga Zena. Langsung Ibu Ika menyambut dengan suka cita.
“Ibu hampir tidak mengenali mu kalau Zena tidak mengatakan kamu sudah tiba disini” Ibu Ika membelai manja Rania. Zena memberi tempat duduk untuk Rania yang dimana itu berhadapan dengan mantan kekasihnya.
“Selamat malam Raja..” Rania bersikap sangat hormat dengan mantannya juga
“Malam Rania” jawab Raja yang menundukan kepalanya memberi tanda hormat juga.
Semua tertuju kepada Rania yang memang berpenampilan beda dimalam itu, Rania begitu hanya mengikuti apa kata Raisa dan ingin lebih terlihat sopan saja.
“Lama ya kita nggak kumpul makan kayak gini” Ibu Ika yang memulai pembicaraan. Sebelum deretan menu makanan datang, Ayah Raja memberikan beberapa pertanyaan kepada Rania seputar pekerjaan lalu bagaimana Rania di kantor dan apakah Rania sudah mengetahui kesibukan yang sekarang sedang digeluti oleh Raja.
__ADS_1
Makanan pun datang semua perlahan menikmati makan malam sambil memulai pembahasan yang sudah Ibu Ika rencanakan matang-matang.
“Ran... Sampai sekarang kamu tidak berkencan dengan laki-laki lain?” Ibu Ika memulainya
“Tidak Ibu.. Rania fokus dengan pekerjaan jika Rania harus berkencan dengan laki-laki lain Rania ingin segera laki-laki itu menikahi Rania” Zena dan Raja saling melempar pandangan saat mendengar jawaban Rania.
“Sudah begitu siap kamu dengan pernikahan?” tanya Ibu Ika kembali
“Tidak akan pernah ada yang siap dengan pernikahan tapi Rania tidak mau membiarkan hati ku ini terus-terusan di gantung oleh hati yang tidak bertanggung jawab” begitu tegas Rania menjawabnya.
“Jika dengan segera hatimu akan ditanggung oleh Raja kamu siapa?” pertanyaan Ibu Ika yang menjebak bagi Rania. Rania mulai memandangi Raja begitu dalam seakan mencari jawaban.
“Dari awal Rania sudah merasa pertemuan ini akan membicarakan tentang hubungan Rania dan Raja. Bila Ibu tidak keberatan beri saya waktu dua minggu untuk memikirkannya.”
“Dengan senang hati Ibu akan menunggunya”
Makan malam dilanjut hingga hidangan itu selesai di sajikan. Makan malam yang penuh perjuangan untuk memikirkan kembalinya Rania dengan Raja, di dalam hati Rania sebenarnya ia rindu dengan mantan kekasihnya yang berondong ini.
“Permisi, Rania ke toliet sebentar” ucap Rania di tengah kehinangan meja makan.
Saat pembicaraan berlangsung tadi, Raja hanya diam dan saling bertatapan mata dengan mantan kekasihnya itu. Saat Rania berjalan ke toilet mata Raja juga terus tertuju kearah Rania.
“Ibu tahu kamu juga rindu dengan mantan kamu yang ini kan?” kata Ibu Ika
“Rindu tidak harus menanggung hatinya juga Ibu” jawab Raja sambil meneguk anggur merahnya
“Ingat kata Ayah tadi sore, jika ini tidak sesuai dengan kata hatimu tidak usah dilanjutkan” tambah Ayah dan Ibu Ika hanya menganggukkan kepalanya.
Makan malam yang memang penuh perjuangan dan berjalan begitu singkat hanya membicarakan apakah Rania mau membina rumah tangga dengan mantan kekasihnya, dari sini Ibu Ika begitu menggatungkan harapannya kepada Rania.
“Terima kasih atas undangan makan malamnya untuk jawaban atas pertanyaan Ibu nanti Rania akan ganti dengan makan malam juga” jawab Rania yang baru lima menit duduk di kursinya setelah dari toilet.
Makan malam selesai, keluarga Raja meninggalkan meja makan begitu juga dengan Rania yang berjalan menuju pintu keluar sambil menunggu signal di ponsel Rania penuh. Rania tidak bisa langsung menguhungi Kakaknya karena signal tidak mendukung.
“Rann...” Raja menghampiri Rania sambil mencengkram lengan mungil Rania.
“Ehh... Ada apa Ja?” jawab Rania yang terkejut serta kebingungan.
“Lo nggak bawa mobil?” tanya Raja
“Enggak, tadi mobilnya di bawa Kak Raisa jadi ini gue nunggu jemputan”
“Tunggu sini... Lo pulang sama gue, gue ambil mobil dulu”
“Trus keluarga lo?”
“Mereka check in di hotel sebelah, udah lo tunggu sini” Raja berlari kearah parkiran
mobil.
Rania tersipu malu dengan cengkraman yang di lakukan Raja tadi. Hanya butuh beberapa menit Rania menunggu Raja, ia sekarang sudah ada di depannya dengan mobil megahnya.
“Kenapa lo mau nganter gue pulang?” Rania memulai pembicaraan di dalam mobil itu.
“Ya gue ngerasa bersalah aja pasti lo dateng makan malam kepaksa karena Ibu kan?”
“Iyaaa dan gue emang sengaja ngulur waktu buat kasih jawaban biar gue nggak kepikiran juga. Ibu Ika kayaknya sayang banget sama gue Ja” percakakapan antara mereka sudah dimulai
“Emang lo bakal kasih jawaban apa?” Raja penasaran
“Kepo ya lo... Emang lo mau nikahin gue?” Rania bertanya balik
Raja diam tidak menjawab dan terus fokus pada jalanan. Raja juga nggak tahu kenapa tiba-tiba semua jadi bingung dan bimbang seperti ini.
“Lo nggak kangen gue Ran?” Raja bertanya kembali
“Kangen lah tapi gue yakin diluaran sana banyak cewek yang sudah pernah tidur sama lo”
“Sebejat itu gue di fikiran lo?”
“Kenyataan Raja...”
“Gue tunggu jawabannya”
Rania hanya diam saat sudah tiba di depan rumahnya. Tidak ada kata ucapan perpisahan dan Rania rasa semua bisa dibicarakan melalui Zena.
“Makasih mantan..” ucap Rania
__ADS_1
“Sama-sama mantan..” jawab Raja
***