
Binar pulang malam itu juga bahkan tanpa pamit pada mertuanya. Beruntung Ayah dan Bundanya tidak bertanya lebih lanjut saat dia mengatakan merindukan kedua orang tuanya. Sedangkan Albiru hanya mengantar Binar, pria itu sengaja memberi waktu Binar agar lebih tenang.
Ayah Ibra sedikit curiga melihat wajah sembab putrinya namun memilih untuk memendam sendiri rasa curiganya. Dia hanya tidak ingin ikut campur urusan rumah tangga Binar. Yang semakin membuatnya curiga adalah Albiru yang tidak berada disini dan Binar yang sering melamun.
“Binar mau sarapan apa?” tanya Bunda Ina yang melihat Binar hanya duduk diam menatap kosong makanan di hadapannya.
Binar tersentak kaget, “Iya Bun?” tanyanya kaget, sedari tadi dia tidak memerhatikan apa yang Bundannya ucapkan.
Bunda Ina tersenyum, sedikit heran dengan sikap Binar yang tidak biasa. “Binar mau makan apa nak? Kenapa melamun dari tadi?”
Binar menggeleng pelan, berusaha untuk tersenyum meski sulit. “Nggak apa-apa kok Bun, cuma nggak enak badan. Habis ini Binar mau istirahat ya Bun, Binar sudah izin nggak masuk kerja.”
Bunda Ina mengelus lembut rambut Binar. Sebagai seorang Ibu tentu saja dia merasa ada yang salah dengan putrinya, kunjungan Binar kemarin juga sudah cukup membuatnya berpikir ada yang aneh namun dia tidak bisa ikut campur mengenai masalah rumah tangga putrinya. Yang saat ini bisa dia lakukan hanya berdoa yang terbaik untuk Binar dan Albiru.
“Biru tadi nelpon Ayah, bilang nanti pulang kerja baru bisa mampir kesini.” Ujar Ayah Ibra yang sedari tadi hanya menatap Binar dalam diam.
“Iya Yah, Biru lagi sibuk di kantor.” Binar menjawab seadanya, sibuk adalah alasan satu-satunya yang dimiliki saat ini.
Sejujurnya Binar ingin bercerita banyak pada kedua orang tuanya, tapi dia sadar bahwa masalah dalam rumah tangganya tidak baik diceritakan. Dia juga menjaga nama baik Albiru dan keluarganya, tidak ingin kedua orang tuanya merasakan hal yang sama seperti yang dia rasakan saat ini.
...****************...
__ADS_1
Sore harinya Albiru benar-benar datang ke rumah orang tua Binar. Pria itu bahkan tidak berganti pakaian terlebih dahulu. Namun sayang yang ingin dia temui sedang tertidur, entah benar-benar tidur atau hanya sekedar alasan untuk menghindar.
Jadilah Albiru hanya bertemu Ayah Ibra yang sepertinya juga menunggu kedatangannya. Ayah mertuanya itu bahkan mempersilahkan duduk di halaman belakang seperti sengaja menghindar agar tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka.
“Gimana kabarnya Biru?” tanya Ayah Ibra membuka percakapan.
Albiru tersenyum tipis sebelum menjawab, “kacau Yah.”
Ayah Ibra menepuk pundak Albiru seolah memberi semangat. Sepertinya apa yang dia curigai benar, semua terlihat dari raut wajah lelah Albiru.
“Ayah nggak akan nanya ada apa karena Ayah ingin menjaga batasan Ayah sebagai mertua kamu. Ayah cuma nggak mau bersikap tidak adil nantinya.” Ucap Ayah Ibra dengan bijak. Albiru seperti tertampar, selama ini Ibunya tidak adil dengan terus menyudutkan Binar.
“Maaf Yah, mungkin Albiru akan sangat mengecewakan Ayah dan Bunda.” Albiru tertunduk merasa malu pada Ayah mertuanya.
Sekali lagi Albiru dibuat kagum dengan kebijakan Ayah mertuanya itu. Jika saja dia bisa sedikit meniru sikap bijak itu mungkin dia tidak akan berada diposisi ini sekarang.
“Biru, dulu Ayah berada diposisi kamu saat ini. Merasa bingung dihadapi oleh dua pilihan, istri atau keluarga.” Ucapan itu membuat Albiru tersentak, Ayah mertuanya seperti bisa membaca pikiran dengan mudah.
“Lalu apa yang Ayah pilih?” tanya Albiru penasaran.
“Ayah tidak memilih Biru karena memang tidak ada yang bisa memilih diantara keduanya, Ayah hanya berusaha menjaga hati keduanya. Mengambil keputusan sebagai kepala keluarga demi menyelamatkan orang yang Ayah cintai.”
“Apa yang Ayah lakukan untuk menyelamatkan orang yang Ayah cintai?”
“Ayah membawanya keluar dari lingkaran menyakitkan itu, karena Ayah ingat janji Ayah saat menikah bahwa Ayah akan selalu menjaga dan membahagiakan Bunda. Kamu tahu Biru, dulu Ayah dipaksa Eyang Binar untuk tinggal bersama dengan alasan kami belum siap hidup mandir, tapi ternyata yang Ayah terima adalah tangis dan sakit hati Bunda.” Ayah Ibra menjeda ceritanya, memperhatikan raut wajah Albiru.
__ADS_1
“Ayah juga mengalaminya?” tanya Albiru tanpa sadar.
“Iya Ayah mengalaminya, menyaksikan tangis diam-diam Bunda, bagaimana sakit hatinya Bunda saat itu. Sampai kemudian Ayah sadar bahwa ini tidak sehat untuk pernikahan kami, arena itu Ayah mengambil keputusan membawa Bunda keluar dan hidup mandiri.”
Albiru terdiam, dia sangat merasa apa yang sudah dia lakukan benar-benar salah. Selalu berusaha membuat Binar bersabar dalam menghadapi keluarganya sampai dia lupa bahwa wanita yang dia cintai itu kesakitan seorang diri dan puncaknya adalah semalam.
“Biru, salah satu ujian terberat dalam rumah tangga adalah adanya campur tangan orang luar. Termasuk keluarga kita sendiri, karena itulah Ayah tidak akan melewati batas. Yang bisa Ayah katakan adalah keputusan ada ditangan kamu dan apapun yang kamu putuskan Ayah harap kamu tidak menyesal dikemudian hari.”
Ayah Ibra menutup pembicaraan mereka. Membiarkan Albiru memikirkan apa yang akan dia lakukan setelah ini, karena tugasnya sebagai seorang Ayah hanya cukup sampai disini. Membawa Albiru untuk segera mengambil keputusan demi menyelamatkan rumah tangganya.
TBC
Terima kasih sudah mampir, jangan lupa dukungannya biar author tambah semangat 😊
Rekomendasi novel menarik karya amandaferina06
Judul : Nona Muda Dihamili Pelayan
Genta Arakahn. Pria yang akrab dipanggil Genta itu baru saja menginjak usia ke 29 tahun. Ia bekerja sebagai pelayan dan tukang kebun di sebuah rumah mewah milik orang terkaya di New York. Ia merupakan pria baik, polos, jujur, dan lugu untuk ukuran pria. Suatu hari ia tak sengaja melakukan kesalahan besar terhadap nona mudanya yakni Alice Nekhade Arakhe wanita yang baru saja berulang tahun ke 17 tahun dan mengalami kelumpuhan dan bisu akibat kecelakaan. Alice merupakan wanita periang dan tingkahnya kekanakan, cukup polos, namun ia tak secengeng cewek polos lainnya. "Senyuman yang indah bak bunga mekar itu harus layu karena diri ku. Maafkan aku nona telah lancang menodai mu, dan maafkan juga aku telah jatuh hati padamu." ___Genta___
__ADS_1