
Binar sudah boleh pulang namun Dokter meminta Binar untuk banyak istirahat agar cepat pulih.
Albiru sudah mengusulkan untuk sementara tinggal bersama orang tua Binar, namun wanita itu segera menolak. Binar hanya ingin waktu sendiri.
"Aku pergi kerja ya, Bi. Kalau pingin sesuatu telpon aku, nanti makan siang delivery aja ya." Albiru segera pamit, tidak lupa pria itu mengecup kening Binar dengan lembut.
Sebenarnya Albiru tidak tega meninggalkan Binar sendirian seperti ini namun pekerjaannya di kantor jelas tidak bisa ditunda.
"Hati-hati, sayang." Binar tersenyum mengantar kepergian Albiru.
Disaat seperti ini Binar merasa kesepian, hal itu membuatnya merasa sedih tetapi mengingat Albiru dan kedua orang tuanya membuatnya segera mengusir rasa sedih itu.
Tidak lama sebuah mobil datang, Binar menoleh dan segera tersenyum saat menyadari siapa pemilik mobil itu.
Rio segera keluar dari mobil, tersenyum hangat saat mendapati Binar tengah tersenyum kearahnya. Setidaknya dia bisa melihat Binar tersenyum lagi, begitu pikirnya.
"Hai Bi, apa kabar?" tanya Rio masih dengan senyum hangatnya.
"Seperti yang terlihat, sedikit lebih baik." Binar menjawab ramah, mempesilahkan Rio untuk duduk dikursi teras rumah.
"Senang bisa liat kamu tersenyum lagi," Rio berucap pelan.
Binar kembali tersenyum, "kamu pagi-pagi kesini nggak mungkin cuma nanya kabar kan?"
Rio tertawa kecil sebelum menjawab, "selain keperluan lain tentu aku mau lihat keadaan kamu juga."
"Kita baru ketemu kemarin Rio."
"Dengan keadaan kamu emosional," Rio menjawab singkat.
"Aku lupa ngucapin terima kasih karena kamu kasih tau aku yang sebenarnya tentang Ella."
Rio tersenyum tipis, mengenang bagaimana dia memberi kabar pada Binar bahwa Ella yang telah membunuh calon anaknya. Rio masih ingat dengan jelas tamparan keras Binar untuk Ella dan dia merasa puas untuk itu.
"Sepertinya kamu harus berterima kasih lagi, karena kedatanganku hari ini bawa kabar baik." Rio berbisik pelan membuat Binar penasaran.
"Kabar apa?" tanya Binar penasaran.
"Ella sudah berada di penjara." Rio segera memberitahu membuat Binar menatap Rio tidak percaya.
"Secepat itu?" tanya Binar masih tidak percaya.
"Tentu, Ayah mertua kamu dan Fadli yang mengurus semuanya. Dan aku senang keluarga Biru berada dipihakmu."
__ADS_1
Binar tersenyum tipis, sejujurnya dia masih merasa apa yang Ella terima saat ini masih belum cukup.
"Menurut kamu penjara cukup untuk membuat Ella jera?" tanya Binar tidak yakin.
Rio menggeleng pelan kemudian pria itu berbisik lirih.
"Ada karma yang menanti Ella, kamu tenang aja Bi."
...****************...
Albiru termenung, pikirannya sedang membayangkan bagaimana keadaan Binar. Tadi dia menelpon Binar untuk menanyakan keadaan istrinya itu sekaligus memberitahu bahwa dia sudah mengirim makan siang untuknya.
Lama Albiru melamun hingga tidak sadar sosok Raka sudah duduk di hadapannya.
"Nggak makan Biru?" Albiru tersentak kaget mendengar suara Raka.
Raka sendiri hanya tersenyum singkat, "melamun?" tanyanya kemudian.
"Lagi banyak pikiran mas," Albiru menjawab singkat.
"Gue sudah dengar berita itu, gue turut sedih Biru. Yakin ini cobaan dari Allah yang sedang mempersiapkan hal terindah buat lo dan istri lo."
Albiru tersenyum tipis, "gue lagi belajar untuk ikhlas mas."
"Banyak yang lagi gue pikirin mas, gue belajar ikhlas dan juga harus kuat demi istri gue."
"Pelan-pelan Biru, sebagai kepala rumah tangga menjadi sandaran istri adalah tugas kita. Tapi kalau lo lelah, lo bisa cerita sama gue."
Albiru kembali tersenyum, sosok Raka benar-benar sosok kakak yang dia butuhkan selama ini.
"Terima kasih mas, terima kasih sudah dengarin keluh kesah gue."
"Jangan sungkan Biru, anggap gue ini abang lo." Raka menepuk pelan pundak Albiru.
"Lo emang sudah seperi abang gue mas, terima kasih untuk semua nasehat lo selama ini." Albiru berucap tulus membuat Raka tersenyum lebar.
"Gue senang bisa bantu lo. Gue berdoa semoga Allah segera memberi lo keturunan, gue pingin lihat lo dan istri lo bahagia." Ucap Raka penuh ketulusan namun Albiru hanya diam tidak memberi reaksi apapun.
Raka menatap Albiru yang kini memilih menyibukan diri dengan makan siang di hadapannya. Melihat hal itu Raka segera paham akan satu hal. Ada sesuatu yang sedang Albiru tutupi.
...****************...
Ella menangis sendirian di dalam sel tahanan. Teman-teman satu selnya hanya menatap sinis Ella, pasalnya gadis itu terus saja menangis sejak datang.
__ADS_1
Tidak lama seorang polisi datang mencari keberadaan Ella.
"Saudari Gabriella, ada yang ingin bertemu." Ella segera menghentikan tangisnya.
Dalam hati gadis itu berharap Ayah Latif datang untuk membawanya pulang. Namun sayang semua harapan Ella musnah ketika melihat siapa yang datang mencarinya.
"Lo benar-benar penguntit." Ella segera membuka suara ketika melihat sosok Rio yang sedang duduk santai di hadapannya.
"Terima kasih pujiannya," Rio membalas santai membuat Ella semakin kesal.
"Kenapa lo tahu gue ada disini?" tanya Ella penasaran.
"Gue sudah bilangkan, apapun menyangkut Binar gue pasti tahu. Apalagi tentang kejahatan lo itu." Rio merubah ekspresi wajahnya menjadi sangat menyeramkan.
"Apa mau lo?" tanya Ella lagi tidak ingin berlama-lama menatap Rio.
"Gue cuma memastikan keadaan lo."
"Gue baik-baik saja dan gue pastikan sebentar lagi gue bakal bebas."
Rio tersenyum sinis, "gue tahu itu."
"Lo pasti sedih lihat gue akan bebas, gue kasih tahu lo kalau Gabriella yang lo hadapi ini bukan orang sembarangan."
Rio memilih diam menatap Ella dengan tatapan tajammya.
"Lo sudah periksa keadaan gue, jadi gue rasa sudah cukup lo disini. Silahkan pergi dan jangan muncul lagi di hadapan gue."
"Mungkin lo memang akan bebas, tapi jangan harap gue bakal biarin lo tenang. Gue sudah bilang jangan main-main sama gue atau lo akan menyesal seumur hidup lo." Rio berucap santai namun sarat akan ancaman.
"Penjara memang nggak akan bikin lo jera Gabriella, karena ini gue sudah mempersiapkan semuanya buat lo. Hal yang nggak akan pernah lo bayangkan sebelumnya." Lanjut Rio membuat Ella sedikit takut namun kesombongan gadis itu mengalahkan segalanya.
"Gue nggak takut sama ancaman lo itu!" ucap Ella angkuh.
"Setelah lo bebas, gue pastikan lo akan menderita hingga berpikir untuk lebih baik menghabiskan sisa hidup lo di penjara. Gue nggak akan lepas lo begitu saja Gabriella, gue akan buat lo menderita hingga lo bersujud dikaki gue memohon ampun."
Usai mengucapkan hal itu Rio segera pergi meninggalkan Ella yang ketakutan. Ancaman Rio tidak terdengar main-main, Ella juga merasa Rio bukan pria sembarangan.
Ella memikirkan apa yang akan Rio lakukan padanya. Apa pria itu akan mengurung dan menyiksa dirinya atau pria itu malah menyiksa keluarganya?
TBC
**Maaf ya baru sempat update, terima kasih yang sudah setia menunggu.
__ADS_1
Akan ada kejutan dibab selanjutnya, terus pantengin novel ini ya 😊**