
Setelah pembicaraan malam itu hubungan Ibu Siti dan Ella memburuk. Ella menjaga jarak, sedangkan Ibu Siti memilih untuk mengikuti apa yang Ella mau.
Meski begitu, keduanya tetap memilih untuk tinggal bersama. Mereka hanya memiliki satu sama lain karena itulah tinggal bersama menjadi pilihan keduanya.
Berbeda dengan Ayah Latif yang mulai melupakan Ibu Siti. Kini Ayah Latif lebih bersemangat dalam menjalani hari.
Faldi tentu saja bahagia melihat Ayahnya bisa kembali seperti dulu. Akan tetapi, Fadli tidak bisa menampik bahwa hatinya menginginkan kembali utuh.
"Ayah tampak lebih ceria." Fadli membuka percakapan saat keduanya tengah sarapan bersama.
Ayah Latif tersenyum sebelum menjawab, "Ayah hanya menikmati hari tua Ayah."
"Fadli senang Ayah bisa ceria lagi. Belakangan Fadli lihat Ayah lebih sering tersenyum."
"Ayah hanya bahagia melihat sebentar lagi Ayah akan menjadi kakek. Cucu Ayah kembar, kebahagiaan yang berlipat."
"Apa Fadli harus mengucapkan terima kasih sama Mbak Binar karena berhasil membuat Ayah sebahagia ini?" tanya Fadli dengan nada bercanda.
"Harus, kakak ipar kamu berhasil membuat Ayah melupakan masalah Ayah." Jawab Ayah Latif tanpa ragu.
"Jadi, Ayah sudah bisa berdamai dengan kesedihan Ayah?" Fadli bertanya dengan hati-hati.
"Setelah Ayah pikirkan, nggak ada gunanya Ayah bersedih karena yang disana mungkin tidak pernah memikirkan keadaan Ayah. Buat apa Ayah bersedih seorang diri, hidup itu berjalankan Fadli?"
Fadli terdiam sejenak, apa yang dikatakan Ayah Latif benar. Bisa jadi Ibu Siti sedang menikmati hidupnya berdua dengan Ella, sedangkan disini Ayahnya menderita.
"Ayah benar-benar tulus mencintai Ibu." Fadli berucap pelan, namun Ayah Latif masih bisa mendengarnya dengan jelas.
"Meski kami dijodohkan, hidup bersama selama bertahun-tahun apa mungkin Ayah tidak punya perasaan terhadap wanita yang melahirkan kamu dan Biru?"
Fadli menghela napas, begitu lelah dengan masalah orang tuanya yang belum selesai.
"Kenapa Ibu nggak bisa mencintai Ayah, sedangkan Ayah dengan tulus mencintai Ibu?" Fadli kembali bertanya.
"Perasaan itu hanya milik masing-masing, jangan bertanya sama Ayah. Tanyakan itu pada Ibumu."
Ayah Latif benar, perasaan hanya milik masing-masing. Tidak ada yang tahu perasaan orang lain jika tidak dinyatakan dengan jujur.
Fadli akan bertanya pada Ibu Siti nanti. Dia akan menuntut jawaban.
...****************...
__ADS_1
Dani menghilang. Dani adalah pria yang berjanji akan menikahi Ella demi melindungi Ella.
Dani adalah salah satu teman Ella yang juga bekerja di restoran yang sama dengan Ella. Pria itu begitu baik, selalu mendengarkan cerita Ella hingga Ella menceritakan tenang pria yang menerornya.
Entah karena tidak tega atau memang memiliki rasa pada Ella, tiba-tiba Dani melamar Ella. Mengatakan akan menikahi Ella untuk melindungi gadis itu.
Namun, harapan Ella musnah ketika Dani menghilang bak ditelan bumi. Teman pria itu bahkan tidak ada yang tahu.
"Kenapa Ella?" Tanya Mila salah satu teman Ella yang bekerja di restoran.
"Dani nggak bisa dihubungi, Mil. Gue bingung, bahkan teman-temannya nggak ada yang tahu." Jawab Ella gusar, dia khawatir karena hanya Dani harapannya saat ini.
"Coba ke kosannya. Lo sudah nanya sama Pak Wira? Kali aja beliau tahu." Usul Mila berusaha membantu Ella yang terlihat sangat kacau.
"Sudah dan kata Ibu kosnya dia bahkan pindah sebulan yang lalu. Gue sudah tanya Pak Wira, katanya Dani bahkan nggak menghubungi Pak Wira."
Ella tertunduk lesu. Pikiran kacau, satu-satunya pria yang bersedia membantu tanpa meminta imbalan justru menghilang entah kemana.
"Gue turut prihatin Ella, gue bakal bantu lo cari Dani. Lo tenang aja, sekarang lo pulang dan istirahat." Mila dengan lembut mengelus punggung Ella, berusaha menenangkan gadis itu.
Karyawan di restoran ini hanya tahu bahwa Dani dan Ella sedang menjalin hubungan. Mereka tidak tahu hal yang lainnya, karena itulah mereka pikir Dani sedang lari dari tanggung jawabnya.
...****************...
Pintu rumah terbuka dan menampilkan Albiru yang terlihat cukup kaget dengan kedatangan Ibunya.
"Assalamu’alaikum, Biru." Ucap Ibu Siti memberi salam yang dijawab dengan nada datang oleh Albiru.
Pria itu masih tampak marah dan Ibu Siti sangat sadar akan hal itu.
"Maaf Ibu mengganggu, bisa Ibu bertemu Binar?" tanya Ibu Siti langsung, dia bahkan belum dipersilahkan masuk.
"Buat apa Ibu mau bertemu Binar?" Albiru bertanya dengan datar, raut wajahnya tidak bersahabat.
"Ibu cuma mau bertemu dan meminta maaf." Jawab Ibu Siti tanpa ragu yang sayangnya tidak dipercaya.
"Biru nggak yakin. Maaf Bu, tapi demi menjaga kondisi Binar lebih baik Ibu nggak menemuinya. Biru nggak mau kejadian yang lalu terulang lagi."
Ibu Siti tampak bersedih, Albriu tidak mempercayainya. Memang semua ini kesalahannya yang selalu bersikap buruk terhadap Binar.
"Ibu benar-benar ingin meminta maaf Biru. Ibu mengaku salah karena terus menyakiti hati Binar."
__ADS_1
"Sekali lagi Biru minta maaf, karena sekalipun Ibu memohon dengan sangat menyedihkan tetap tidak Biru izinkan. Biru menjalankan tugas sebagai suami yang melindungi istrinya dari orang-orang jahat."
Ibu Siti terpukul, namun tidak bisa berbuat banyak. Apa yang dia lakukan jelas membekas diingatan Albiru dan Binar.
"Siapa Bi?" Tanya Binar saat melihat Albiru tidak kunjung mempersilahkan tamu untuk masuk.
Binar menoleh dan terkejut melihat kedatangan Ibu Siti. Setiap melihat Ibu Siti dia selalu merasa sakit hati, ingatan tentang betapa kejam Ibu mertuanya itu terus berputar diotaknya.
Bahkan kalimat-kalimat kejam yang dilontarkan Ibu Siti masih terekam jelas diingatannya.
"Binar, Ibu cuma mau.. "
Ucapan Ibu Siti terpotong ketika Binar dengan cepat berbalik untuk kembali masuk ke dalam rumah.
Binar menghindari Ibu Siti. Dia hanya tidak ingin sakit hati lagi dan juga tidak ingin kembali melontarkan kata-kata kejam pada Ibu mertuanya.
"Ibu lihatkan, apa yang Ibu perbuat menyakiti hati Binar. Istri Biru tidak ingin bertemu dengan Ibu." Albiru berucap dengan kejam, berusaha mengeraskan hatinya demi menjaga Binar.
"Ibu cuma mau minta maaf Biru." Ibu Siti kembali mengucapkan maksud kedatangannya.
"Kalau cuma mau minta maaf akan Biru sampaikan. Tapi, maaf Ibu nggak bisa menemui Binar."
Ibu Siti terdiam, mungkin usahanya hari ini tidak berhasil. Namun, Ibu Siti tidak akan menyerah begitu saja. Dia akan kembali lagi nanti demi mendapat maaf yang dari Binar.
"Ya sudah, Ibu pulang saja. Kamu sehat-sehat ya Biru, sampaikan salam Ibu untuk Binar."
Ibu Siti segera pergi. Rasanya sangat menyedihkan ditolak oleh anak dan juga menantunya. Namun, Ibu Siti sadar ini semua adalah balasan atas perbuatan jahatnya.
Ini tidaklah sebanding dengan rasa sakit yang Binar terima. Ini adalah balasan yang harus dia terima dan mungkin saja ini masih awal. Mungkin nanti balasan yang akan dia terima jauh lebih menyakitkan.
TBC
Terima kasih sudah mampir dan terus dukung author ya biar semangat update..💪😁
nah sambil menunggu author update yuk mampir kenovel keren karya kak Julia Fajar
mampir dan dukung karyanya ya 😊
Judul : SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
__ADS_1
Zero nama yang diberikan oleh Mak Salmah, wanita yang menemukan bayi merah diantara onggokan sampah. Dia dibesarkan, di perkampungan kumuh, tempat para pemulung tinggal. Tubuhnya yang bulat pendek, karena pertumbuhan yang tidak sempurna membuat dirinya dipanggil si kerdil oleh teman-temannya. Seiring berjalannya waktu, Zero tumbuh menjadi seorang pemuda yang sangat baik dan menjadi tulang punggung keluarga. Saat Zero sedang mengais sampah, dia menemukan sebuah ponsel jadul yang memberinya berbagai misi. Dari misi-misi itu Zero bisa menolong banyak orang dan akhirnya akan membuat Zero menjadi seorang yang kaya raya hingga bisa mengentaskan kemiskinan di sekitar tempat tinggalnya.