
Setelah penolakan Binar dan Albiru, ternyata Ibu Siti tidak menyerah begitu saja. Wanita itu terus berusaha melakukan pendekatan kepada anak dan menantunya.
Mungkin orang-orang berpikir dirinya terlambat, namun Ibu Siti yakin suatu saat nanti Binar dan Albiru akan memaafkannya.
Setelah selesai bersiap-siap, Ibu Siti segera keluar rumah bermaksud untuk kembali bertamu ke rumah orang tua Binar.
Tapi, kehadiran Fadli yang tiba-tiba berdiri di teras kontrakan mengurungkan niatnya.
"Fadli, sudah lama nak?" tanya Ibu Siti setelah mempersilahkan Fadli masuk ke dalam rumah.
"Baru sampe kok Bu. Ibu mau pergi ya?" Fadli bertanya saat melihat Ibunya yang sudah tampak rapi.
"Iya, Ibu mau ke rumah orang tua Binar. Sebenernya, Ibu malu mengatakan. Ibu.. mau minta maaf sama Binar atas apa yang sudah Ibu lakukan padanya."
Fadli terkejut mendengarnya. Ini berita membahagiakan jika Ibunya benar-benar menyesal dan meminta maaf pada Binar.
"Ibu benar-benar mau minta maaf?" tanya Fadli memastikan.
"Iya nak, Ibu merasa menyesal sudah jahat menyakiti hati Binar selama ini." Jawaban Ibu Siti terdengar begitu meyakinkan.
"Alhamdulillah kalau Ibu benar-benar menyesal. Fadli ikut senang, semoga Mbak Binar bisa memaafkannya Ibu."
"Aamiin.."
"Oh iya, ada apa Fadli kesini? Ibu kira Fadli nggak akan datang berkunjung." Ibu Siti tahu betul jika Fadli sangat anti datang ke rumah karena ada Ella.
Untungnya Fadli datang setelah Ella pergi bekerja.
"Fadli cuma mau nyampaikan pesan Ayah. Ini Bu, Ayah bilang ini untuk Ibu." Fadli menyerahkan sebuah amplop coklat yang entah berisi apa.
Ibu Siti menerima meski sedikit bingung.
"Ibu terima, ya." Ibu Siti tersenyum meski Faldi tahu Ibunya tampak sedih.
"Ibu sedih? Fadli bisa lihat mata Ibu dan Ibu nggak bisa bohong sama Fadli."
Ibu Siti menghela napas, berat untuk berkata jujur.
"Ayah kamu itu orang yang baik, tentu saja berat melepaskan pria seperti Ayah. Tapi, mau bagaimana lagi, ini sudah keputusan kami berdua."
"Ibu cinta sama Ayah?" tanya Fadli hati-hati.
Sejujurnya dia sudah lama ingin menanyakan hal ini. Namun, sulit untuk menemukan waktu yang pas membahas masalah perasaan orang tuanya.
Kini Ibu Siti tersenyum kecil. Dapat Fadli lihat Ibunya sedikit malu untuk berkata jujur.
"Hadirnya kamu dan Biru sudah cukup membuktikan perasaan Ibu. Tapi, ada hal lain yang nggak bisa Ibu katakan. Tentang alasan mengapa selalu Ella yang Ibu pilih."
__ADS_1
Fadli terdiam, sebenarnya dia penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi. Kedua orang tuanya sudah mengaku saling mencintai, tapi sekarang mereka justru berpisah.
"Kenapa Ibu nggak minta rujuk? Fadli mau keluarga kita utuh lagi."
"Setiap keputusan pasti ada resikonya. Ibu memutuskan berdiri di samping Ella, maka Ibu harus siap kehilangan Ayah."
"Tapi kenapa Bu?"
Ibu Siti menggeleng, tidak ingin menjawab rasa penasaran Fadli.
Masa kelamnya sudah lewat, tidak ingin dia ingat dan kenang karena rasanya begitu menyakitkan.
Fadli tidak bisa memaksa lebih lanjut. Mungkin dia harus puas sampai disini. Biarkanlah kedua orang tuanya hidup bahagia dengan pilihan mereka masing-masing.
...****************...
Albiru dan Binar sedang membeli perlengkapan bayi kembar mereka. Terlihat jelas Binar begitu antusias dan Albiru begitu bahagia melihat hal itu.
"Bagus nggak Bi? Imut banget ya, jadi nggak sabar mereka pakai sepatu ini." Binar berkata dengan antusias sambil menunjuk sepasang sepatu bayi.
"Bagus sayang, kita beli apa yang menutu kamu bagus." Albiru menjawab seperti apa yang Binar harapkan.
Ketika Binar sibuk memilih berbagai perlengkapan bayi, seseorang yang sepertinya mengenal mereka datang mendekat.
"Binar?" Suara yang lama tidak Binar dengar mengejutkan wanita hamil itu.
"Kak Gaby!" Binar berseru kaget membuat Albiru ikut menoleh.
"Iya ini aku. Kamu apa kabar?" Wanita bernama Gaby itu tersenyum hangat.
Binar tidak menjawab melainkan memeluk Gaby meski sedikit susah karena terhalang perutnya.
"Wah kalian sudah nikah ya. Berapa bulan, Bi?" Gaby menatap takjub perut Binar yang besar.
"Tujuh bulan, kak. Kak Gaby apa kabar?" Albiru menjawab tidak lupa menanyakan kabar wanita yang sangat dia kenal ini.
"Alhamdulillah baik."
"Kak Gaby sama siapa? Kakak mau beli baju buat anak kakak?" tanya Binar penasaran, pasalnya sudah lama dia tidak bertemu dengan Gaby.
"Bukan, aku belum nikah. Ini lagi cari kado buat temanku yang baru melahirkan." Gaby tertawa kecil, Binar masih sama seperti dulu.
"Kita makan siang dulu, yuk. Abis itu belanja lagi. Aku mau ngobrol banyak sama kak Gaby." Usul Binar yang mau tidak mau disetujui Albiru dan Gaby.
Ketiga segera mencari tempat makan siang terdekat. Binar terlihat begitu cerewet, menanyakan berbagai macam pada Gaby yang tidak lelah untuk menjawab.
Jauh sebelum mengenal Albiru, Binar memang sudah sangat dengan dengan Gaby. Wanita itu tetangga Binar yang kebetulan teman sekolah Rio. Banyak waktu yang mereka habiskan bersama, sampai ttiba-tiba Gaby menghilang tanpa kabar.
__ADS_1
Binar tentu saja sedih karena kehilangan sosok yang sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri. Namun, sekarang Gaby kembali tanpa mereka duga. Hal yang tentu saja membahagiakan Binar.
"Kak Gaby kenapa hilang gitu aja?" tanya Binar begitu mereka selesai memesan makanan.
"Bukan hilang sih, aku dapat beasiswa keluar dan apesnya kontak kalian hilang. Jadi, nggak bisa hubungin kalian lagi."
Binar percaya begitu saja, sedangkan Albiru justru tidak percaya. Dia merasa ada sesuatu saat Gaby tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Pasti berkaitan dengan sepupu tengil Binar itu.
"Nggak apa-apa, sekarang kak Gaby sudah balik. Nah, aku mau minta semua kontak kak Gaby biar nggak susah hubungin."
Gaby dengan senang hati memberikan kontaknya. Bahkan Binar meminta alamat tempat tinggal Gaby dengan alasan agar Binar bisa dengan mudah menemuinya.
"Wah itukan apartment mewah banget kak." Ujar Binar begitu Gaby menyebutkan alamat tempat tinggalnya.
Gaby tertawa kecil, tidak menyangka respon Binar padahal rumah Binar jauh lebih mewah dari apartmentnya.
"Hadiah dari bos, baru ditempati beberapa bulan. Kapan-kapan main kesana ya." Jawaban Gaby membuat Binar semakin antusias.
"Bosnya baik banget sih." Binar berucap tidak menyangka, sekarang ini tentu saja sulit menemukan bos sebaik itu.
"Alhamdulillah dapat bos baik. Binar pasti kaget kalau tahu siapa bosnya." Ucapan Gaby semakin mengundang rasa penasaran Binar.
"Memangnya siapa bosnya?" tanya Binar penasaran.
Gaby hanya tersenyum, masih belum mau memberitahu Binar. Wanita itu seperti ingin memberi kejutan pada Binar.
Sedangkan Albiru yang sejak tadi hanya menyimak diam-diam sudah bisa menebak siap bos Gaby.
TBC
**KiraΒ² siapa Gaby sebenarnya?
dukung author terus ya biar makin semangat update πͺπ
siap bertemu dikarya baru author??
nah sambil menunggu update yuk mampir kenovel menarik karya kak Bhebz
mampir dan dukung karyanya ya π**
Judul : EX-MAFIA HOT DADDY
*Aku adalah Alexander Smith, seorang bos mafia terbesar di Rusia. Dunia mengenalku sebagai pria kejam, dingin, dan tak punya perasaan. Hingga suatu peristiwa besar yang menghilangkan nyawa seseorang yang aku cintai membuatku memutuskan untuk meninggalkan dunia hitam. Dunia yang banyak memberiku kemewahan dan kenikmatan dunia.
Aku memutuskan untuk menjadi hot Daddy bagi putriku seorang.
__ADS_1
Ternyata bayangan hitam masa laluku kembali membayangiku. Akankah aku bertahan untuk tidak terjun kembali ke Dunia gelap itu*???