Rumah Tangga

Rumah Tangga
Bab 42 - Hati Nurani -


__ADS_3

Ibu Siti tanpa sengaja mengetahui bahwa Binar sulit hamil. Mengetahui hal itu Ibu Siti semakin tidak menyukai Binar, alasannya tentu saja karena dia ingin menimang cucu sedangkan Binar tidak bisa memberikan hal itu.


Karena hal itulah Ibu Siti diam-diam menemui Binar. Wanita itu ingin memberi pengertian pada sang menantu bahwa seorang anak sangat diperlukan dalam sebuah keluarga.


"Ibu tidak mau basa-basi," ucap Ibu Siti ketika Binar baru saja menyajikan minuman.


"Ada apa ya Bu?" tanya Binar tidak mengerti.


"Begini Binar, Ibu sudah tahu semuanya. Ibu tahu kalau kamu sulit hamil lagi. Kamu tahu kan tujuan pernikahan salah satunya adalah memiliki keturunan tapi kamu tidak bisa memberikan hal itu pada Biru. Sampai sini kamu pahamkan?"


"Binar nggak ngerti maksud Ibu apa." Ucap Binar berusaha untuk bersikap santai.


"Kalau kamu nggak bisa beri Biru keturunan seharusnya kamu sadar diri. Cerai atau biarkan Biru menikah lagi." Ibu Siti berucap begitu menggebu seolah apa yang dia katakan adalah hal yang sangat genting.


Binar terdiam, sejujurnya hal ini pernah terlintas dipikirannya. Sejak tahu bahwa dia sulit hamil, Binar selalu menerka-nerka apakah Albiru akan bisa menerima dirinya atau malah akan berpaling demi mencari keturunan.


"Ibu yakin Biru juga memikirkan hal ini, atau mungkin dia sudah punya calon tapi karena masih menghargai kamu sebagai istri, dia memilih diam. Ibu harap kamu segera sadar diri." Usai mengucapkan hal menyakitkan itu Ibu Siti segera pergi.


Binar masih diam memikirkan segala kemungkinan buruk yang akan dia hadapi. Ibu mertuanya benar, sebesar apapun cinta Albiru padanya tidak menutup kemungkinan dia akan ditinggalkan. Binar sangat tahu sebesar apa keinginan Albiru untuk segera memiliki anak.


Membayangkan Albiru menceraikannya atau bahkan memiliki istri lain sungguh menyakiti Binar begitu dalam.


Binar tidak ingin berada diposisi ini namun Tuhan tidak memberinya pilihan lain. Binar ingin menyerah, dia lelah dengan segala cobaan dalam kehidupan pernikahannya.


...****************...


Albiru merasa ada yang salah dengan Binar. Istrinya itu tampak begitu murung dan selalu melamun. Albiru tahu Binar masih bersedih akan kondisinya saat ini tapi melihat tatapan kosong Binar, dia yakin ada hal lain yang mengganggu pikiran Binar.


"Sayang," panggil Albiru lembut.


Binar menoleh, tatapannya begitu sendu membuat Albiru merasa sakit.


"Kenapa? Ada yang sakit?" tanya Albiru hati-hati


Binar menggeleng pelan terlihat enggan untuk menjawab.


"Please, cerita sama aku ya. Aku nggak mau lihat kamu sedih terus seperti ini."

__ADS_1


"Aku capek Biru, capek sama semuanya. Kenapa Tuhan kasih aku cobaan seberat ini? Aku nggak sanggup, aku capek." Binar menangis, rasanya begitu menyesakkan.


"Jangan ngomong seperti itu, Tuhan tahu yang terbaik buat kita. Aku akan selalu ada buat kamu, jangan menyerah." Albiru menarik Binar dalam pelukannya, membiarkan sang istri menumpahkan tangis dalam dekapannya.


"Kalau kamu capek hadapi aku tolong beritahu aku, biar aku yang mundur." Ucap Binar disela tangisnya, meski berat Binar tetap mengucapkan hal itu.


"Aku nggak akan menyerah, apapun keadaan kamu akan selalu aku terima. Jadi, please kamu jangan menyerah. Kita harus sama-sama kuat hadapi ini, kita harus percaya suatu hari nanti Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk kita."


Binar tidak menjawab, wanita itu hanya mampu menangis. Ucapan Ibu mertuanya siang tadi masih terngiang jelas dalam pikirannya. Apakah dia siap bila suatu hari nanti Albiru memilih untuk menikah lagi? batinnya bertanya-tanya.


...****************...


Keesokan harinya Bunda Ina datang berkunjung menemui Binar. Wanita paruh baya itu sangat merindukan putrinya.


Belum sempat Bunda Ina mengucap salam, suara yang dia kenal terdengar dari dalam. Itu suara Ibu Siti yang entah mengapa membuat Bunda Ina mengurungkan niatnya mengucapkan salam melainkan berdiri diam dibalik pintu.


"Jadi bagaimana pertimbangan kamu? Apa pilihan kamu Binae?" tanya Ibu Siti.


"Binar nggak akan memilih Bu, biarkan Biru yang memilih." Binar menjawab pelan namun Bunda Ina masih bisa mendengar.


"Kalau gitu kamu siap Biru ceraikan kamu atau kamu sanggup melihat Biru menikah lagi?" Pertanyaan Ibu Siti membuat Bunda Ina terkejut.


"Apapun pilihan Biru akan Binar terima dengan ikhlas." Binar kembali menjawab dengan pelan, wanita itu terlihat lelah.


"Bagus, karena kamu nggak bisa ngasih Biru keturunan jadi kamu harus siap apapun yang akan terjadi kedepannya."


Bunda Ina sudah tidak tahan dengan ucapan menyakitkan itu. Dengan langkah lebar wanita itu masuk ke dalam rumah dan menarik tangan Ibu Siti yang tampak begitu terkejut melihat kehadiran dirinya.


"Saya tidak menyangka kamu begitu jahat sama anak saya mbak." Ucap Bunda Ina marah.


Binar juga tampak begitu terkejut, tetapi ada hal yang paling dia khawatirkan yaitu Bundanya tahu apa yang dia sembunyikan.


"Bunda," panggil Binar pelan.


"Kamu duduk Binar, biar Bunda yang selesaikan." Binar segera menurut karena Bunda Ina terlihat tidak ingin dibantah.


"Anak kamu itu sulit hamil, wajarkan saya memberikan solusi." Ibu Siti berucap begitu santai tidak memedulikan Bunda Ina yang tampak begitu marah.

__ADS_1


"Sulit hamil bukan berarti tidak bisa hamil. Kamu bukan Tuhan yang bisa menebak masa depan, bisa saja bulan depan atau beberapa bulan kemudian Binar akan hamil."


"Tanyakan pada putrimu itu apa yang dokter katakan. Anak kamu itu sulit hamil, rahimnya rusak!" Ibu Siti berseru menantang Bunda Ina.


"Kalau kamu lupa, ada Tuhan diatas segalanya. Apapun yang dokter katakan nggak akan ada artinya kalau Tuhan berkehendak lain."


"Sampai kapan Biru harus menunggu untuk diberi keturunan?"


"Apa kamu sadar apa yang kamu ucapkan itu? Kamu seorang wanita, bagaimana jika posisinya dibalik. Bagaimana kalau mas Latif menceraikan mbak atau justru menikah dengan wanita lain?"


"Ini nggak ada hubungannya.."


"Jelas ada, karena kita sesama wanita seharusnya gunakan hati nurani kita sebelum berucap." Bunda Ina segera memotong ucapan Ibu Siti yang berniat menyanggah ucapannya.


"Dan sebagai seorang Ibu saya menginginkan anak saya memiliki keturunan." Ucap Ibu Siti tidak ingin mengalah.


"Dan saya sebagai seorang Ibu tidak akan terima anak saya diperlakukan seperti ini. Seharusnya mbak itu malu, karena semua yang terjadi pada Binar itu karena ulah anak mbak." Bunda Ina sudah tidak bisa menahan emosinya, dengan marah wanita itu menunjuk wajah Ibu Siti.


"Jangan bawa-bawa Ella!" Ibu Siti menepis tangan Bunda Ina dengan marah.


"Saya akan tetap membawa nama anak kesayangan mbak itu karena dialah dalangnya. Seharusnya anak mbak yang mengalami ini semua bukan anak saya!"


"Berani sekali kamu berucap seperti itu!"


"Saya nggak akan takut, seandainya membunuh itu tidak berdosa saya pastikan Ella hanya tinggal nama!" Desis Bunda Ina begitu mengerikan membuat Ibu Siti mundur selangkah karena merasa terancam.


"Sekali lagi kamu menyakiti hati anak saya, saya nggak akan tinggal diam. Sebaiknya jaga baik-baik putri kamu itu atau kamu akan melihat dia dalam keadaan hancur!" Ancam Bunda Ina yang setelah mengucapkan hal itu segera mendorong Ibu Siti keluar rumah.


Bunda Ina berbalik dan mendapati Binar yang tengah menangis. Hati Ibu mana yang tidak terluka melihat kondisi putrinya yang begitu rapuh. Bunda Ina merasa dia gagal menjaga putrinya sendiri.


TBC


**Maaf semuanya baru bisa update lagi


semoga makin suka sama novel ini


jujur author nulis ini sampai ikut sakit hati, semoga feelnya dapat ya 😊

__ADS_1


jangan lupa kritik dan sarannya serta like dan komen ya 😊**


__ADS_2