
Tidak perlu mendengarkan omonga orang lain, karena kita hidup untuk diri sendiri bukan untuk orang lain. Selama tidak merugikan tidak masalahnya?
......................
Seperti biasa saat orang-orang di rumah pergi bekerja Ibu Siti akan berbelanja sayuran dan memulai gosip bersama Ibu-Ibu yang lain. Sungguh sesuatu yang tidak patut dicontoh.
“Loh, kok lemas Ti?” tanya Bu Ani begitu melihat Ibu Siti yang tampak lemas.
Ibu-Ibu yang lain sontak menoleh menatap Ibu Siti yang memang tampak lemas. “Nggak apa-apa kok, cuma sedikti capek aja.”
“Capek kenapa toh?” kali ini Bu Wiwi yang bertanya.
Ibu Siti tersenyum menyedihkan, mengundang tatapan khawatir dari Ibu-Ibu yang lain. “Capek dari kemarin saya nggak ada istirahatnya. Binar lagi capek kerja jadi yang ngurus rumah ya saya sendiri.”
Keluhan itu sontak saja mengundang decakan tak percaya. Mereka berpikir menantu seperti Binar itu benar-benar keterlaluan. Sudah memiliki suami tetapi tidak tahu kewajibannya.
“Kok begitu toh, kelewatan sekali mbak Binar itu. Punya mertua kok kaya punya asisten rumah tangga saja. Kamu jangan mau dong digituin, sekali-kali tegas sama menantu sendiri itu perlu.” Bu Wiwi tampak begitu geram, jika saja ada Binar disini mungkin dia sudah menceramahi wanita itu.
“Betul itu, kenapa kamu mau saja Siti. Kamu kasih tau tuh anak kamu kalau istrinya itu jangan bersikap seenaknya saja. Kasian kan kamu sudah tua bukannya menikmati masa tua malah tambah beban.” Bu Ani juga tampak berapi-api seolah dia adalah pembela kaum yang begitu lemah.
Ibu Siti kembali tersenyum lemah, “nggak apa-apa Ibu-Ibu, kan kasihan dia sudah kerja masa harus kerjain pekerjaan rumah juga. Lagian cuma beres-beres dan masak kok.”
Bu Rini yang dari tadi diam saja akhirnya ikut bersuara, “kamu jangan terlalu memanjakan mantumu itu Siti. Bilang sama dia kalo nggak bisa urus rumah tangga yang benar lebih baik berenti kerja.”
“Nggak bisa seperti itu, saya nggak mau egois seperti itu. Biarkan saja dia yang penting dia senang dan Biru juga senang.” Ucapan penuh muslihat itu mengundang protesan dari Ibu-Ibu yang lain.
“Loh justru menantu kamu itu yang egois, kamu jangan diam saja. Kemarin kami sudah nasehati ternyata masih bebal juga.” Bu Rini kembali bersuara, dulu dia juga bekerja keras demi mendisiplinkan menantunya.
“Sudah Ibu-Ibu, nanti saya yang akan bicara dengan Binar. Terima kasih untuk masukan dari Ibu-Ibu semua,” Ibu Siti tersenyum senang merasa mendapat banyak dukungan dari kalangan Ibu-Ibu.
Ibu Siti berpikir semua yang dia lakukan semata-mata untuk kebahagiaan anaknya. Dia hanya ingin Binar mengabdi sebagagi istri yang baik dan menjalankan kewajibannya yaitu melayani Albiru dengan sepenuh hati seperti dirinya yang mengabdi untuk suaminya.
__ADS_1
...****************...
Setelah pembicaraan semalam bersama Binar, Albiru terus saja kepikiran dengan istrinya itu. Sebenarnya Albiru sudah menduga hal ini, beberapa waktu lalu Ibu Siti juga sudah pernah membahas masalah pekerjaan Binar. Hanya saja Albiru tidak sampai hati menyampaikan pada istrinya itu. Jauh dilubuk hatinya Albiru benar-benar tidak mempermasalahkan jika Binar bekerja, syaratnya hanya asal Binar tidak melupakan kewajibannya sebagai seorang istri.
Albiru menghela napasnya untuk kesekian kali. Raka yang mendengar sontak saja menoleh. Melihat rekan kerjanya yang seperti banyak pikiran membuatnya bertanya-tanya. Sebagai seseorang yang lebih dewasa tentu saja Raka merasa Albiru membutuhkan tempat curhat.
Raka menggeser duduknya mendekati Albiru yang hanya mengaduk-aduk makanan dipiringnya. “Kenapa sih? Kayanya lagi banyak pikiran ya.”
Albiru menoleh sekilas, tidak tahu harus menjawab apa. Selama ini dia tidak pernah bercerita apapun dengan orang lain mengenai masalah di rumah tangganya.
Raka yang mengerti segera merangkul baru Albiru, “kalo ada yang membebani pikiran lo cerita aja sama gue. Selama gue bisa bantu akan gue bantu.”
Albiru tersenyum tipis sebelum akhirnya memilih untuk bercerita. “Gue cuma bingung aja mas, istri gue kayanya lagi banyak pikiran. Gue kasian dia harus jadi bahan gosip tetangga gue karena memilih jadi wanita karir dari pada jadi Ibu rumah tangga.”
“Istri gue juga gitu dulu, lo taukan orang tua pemikirannya kadang masih sedikit kolot. Mereka pikir istri ya kewajibannya melayani suami. Gue nggak salahin pemikiran itu sih, ada yang istrinya terpaksa ikut kerja karena kebutuhan ekonomi yang nggak mencukupi dan ada juga yang istrinya kerja karena memang itu impiannya, jadi wanita karir.” Jelas Raka sambil mengenang permasalahannya dulu bersama sang istri.
“Gue nggak pernah ngelarang istri gue kerja mas, tapi semalam dia nanya apa gue ikhlas dia kerja. Dia jadi bersalah nggak bisa jadi istri yang baik cuma karena omonga tetangga yang nggak enak.”
“Kita nggak bisa memaksa orang lain sependapat dengan kita kan. Biarkan saja, cukup buktikan kalo rumah tangga kalian harmonis meski istri lo memilih jadi wanita karir.” Nasehat Raka yang mengundang senyum lega Albiru.
Apa yang dikatakan Raka benar, selama rumah tangganya baik-baik saja tidak masalah Binar bekerja atau tidak. Dan dia sangat menghargai keinginan istrinya itu, lagi pula akan ada saatnya Binar berhenti bekerja sepeti yang sudah mereka sepakati dulu.
...****************...
“Mbak Binar!” panggil Dinda begitu melihat turun dari mobilnya. Hari ini tidak ada Ibu-Ibu tukang gosip jadi Dinda merasa aman.
Binar menoleh kemudian tersenyum saat mengetahui Dinda lah yang memanggilnya. “Hai mbak,” sapa Binar ramah.
“Saya boleh ngomong berdua sebentar?” tanya Dinda.
Binar menoleh kearah rumah sebentar memastikan tidak ada siapapun yang menguping. “Boleh mbak, ayo masuk mobil dulu.”
Keduanya masuk kedalam mobil Binar untuk memastikan tidak akan ada yang bisa menguping pembicaraan mereka. Entah mengapa Binar mereka apa yang akan dibicarakan Dinda adalah hal yang rahasia.
__ADS_1
“Sebelumnya saya minta maaf mbak,” Dinda membuka percakapan. “Saya sudah menahan ini cukup lama, tapi saya nggak tega sama mbak Binar.” Dinda menjeda sebentar bingung mau memulai dari mana.
“Ada apa ya mbak?” tanya Binar was-was.
“Sudah beberapa kali saya dengar mertua mbak Binar menceritakan yang jelek-jelek tentang mbak. Saya nggak tau mbak percaya atau nggak tapi saya nggak tega dengarnya. Saya dulu juga diposisi mbak, mertua saya selalu ceritain saya ketetangga yang lain, karena itu saya nggak tega kalo mbak diposisi saya dulu.” Jelas Dinda panjang lebar dan melebih-lebihkan.
Binar tentu saja terkejut, karena selama ini Ibu Siti memperlakukannya dengan baik. Tidak pernah marah padanya dan selalu memberi arahan yang baik. Binar bingung harus percaya pada Dinda atau tidak. Jika melihat bagaimana Dinda berusaha berbicara secara pribadi membuat Binar mau tak mau sedikit percaya pada Dinda. Lagi pula tidak ada untungnya Dinda berbohong pada Binar, namun dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa mendengar mertuanya sendiri menjelek-jelekan dirinya dibelakang. Padahal Binar menyayangi Ibu seperti seperti menyayangi Bundanya.
“Saya nggak tahu mbak harus bagaimana. Saya harus percaya atau nggak, tapi saya berterima kasih untuk informasi mbak.” Ujar Binar bingung.
Melihat itu Dinda tersenyum sopan, dia tahu Binar bingung harus bereaksi seperti apa karena dulu dia juga seperti itu. Antara percaya atau tidak. Karena dalam pikirannya mertua seperti apa yang tega mejelek-jelekan menantunya sendiri.
Dinda segera undur diri, membiarkan Binar sendirian agar bisa berpikir jernih.
Sedangkan Binar masih duduk didalam mobil, memikirkan kembali ucapan Dinda. Apa yang harus dia lakukan? Batinnya bertanya-tanya.
Tok tok tok
Pintu kaca mobil diketuk membuat Binar sadar dari lamuannya. Dilihatnya Albiru yang menatap khawatir pada dirinya. Binar tersenyum kecil dan segera keluar menemui suaminya.
“Baru pulang Bi?” Tanyanya menyalimi Albiru dengan sopan.
Albiru tidak menjawab melainkan bertanya balik, “kamu ngapain di dalam mobil sendirian?”
Binar menggeleng berusaha menyembunyika keresahan hatinya, “aku cuma iseng main hape malah keterusan sampe lupa waktu.”
Albiru menatap tidak yakin namun memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut. Melihat itu diam-diam Binar bernapas lega, dia akan menyimpan ini sendiri sampai nanti menemukan bukti nyata tentang kelakuan mertuanya itu.
TBC
__ADS_1