Rumah Tangga

Rumah Tangga
Bab 23 - Kapan Hamil? -


__ADS_3

Sejak permintaan Binar malam itu, Albiru memilih untuk menghindar demi meredam rasa kecewanya. Sedangkan Binar memilih untuk menghindar agar tidak semakin sakit hati. Keretakan hubungan keduanya tentu saja disadari keluarga Albiru terutama Ibu Siti.


Namun Ibu Siti tidak bisa berbuat banyak karena Albiru memilih diam sedangkan Binar bahkan tidak ingin berbicara dengannya. Ibu Siti tahu penyebab sikap dingin Binar karena tetangga yang lain sudah menceritakan semuanya.


“Kalian ini ada masalah apa sebenarnya?” tanya Ayah Latif yang sudah tidak tahan dengan perang dingin anak dan menantunya itu.


Bianr memilih diam tidak tahu harus menjawab apa, sedangkan Albiru hanya menggelengkan kepalanya. Keduanya masih enggan untuk berterus terang.


“Kalau ada apa-apa itu diselesaikan baik-baik, kalian kan sudah menikah bukan pacaran yang kalau lagi marahan bisa putus begitu saja.” Ayah Latif kembali bersuara sedangkan Ibu Siti memilih diam bersikap tidak tahu apa-apa.


“Iya Yah,” jawab keduanya bersamaan.


Ella yang berada disana ikut menyimak, merasa senang dengan pertengkaran sepasang suami istri itu. Dia akan segera memberi tahu Intan agar sahabatnya itu bisa mengambil kesempatan langkah ini.


“Gue tahu apa yang ada dikepala licik lo,” bisik Fadli yang melihat senyum licik Ella.


Mendengar bisikan itu membuat Ella menghilangkan senyumnya. “Apa sih mas Fadli?”


“Gue bakal pantau lo dan sahabat lo itu, jadi jangan macam-macam.” Ancam Fadli yang terdengar tidak main-main.


Ella hanya diam tidak beminat untuk menjawab Fadli karena baginya ancaman Fadli tidak berlaku. Kali ini Ella akan bermain cantik sehingga Albiru tidak akan curiga pada niatnya.


...****************...


 


Weekend seperti ini biasanya adalah hari yang paling ditunggu Binar karena waktu bersama Albiru lebih banyak, namun perang dingin keduanya belum juga reda. Binar enggan meminta maaf karena tidak merasa bersalah sedangkan Albiru masih memendam rasa kecewanya.

__ADS_1


Binar baru saja pulang dari jalan-jalan paginya seorang diri saat melihat sekumpulan Ibu-Ibu yang biasa menggosipi dirinya sedang berkumpul digerobak penjual sayur dan yang lebih sialnya gerobak sayur itu berada tepat di depan pagar rumah mertuanya. Binar tahu kebiasaan itu, belanja sayuram sambil menggosipi tetangga.


Tidak ingin berbasa-basi atau bahkan sekedar menyapa, Binar melewati kumpulan itu tanpa menoleh sedikitpun. Namun mereka tentu tidak akan melepaskan Binar begitu saja.


“Wah mbak Binar sombongnya lewat nggak negur-negur.” Ucapan Bu Ani sontak membuat Binar mau tak mau menghentikan langkah kakinya.


Binar hanya tersenyum sopan tidak berniat bertegur sapa ramah. Selama ini dia bersikap ramah namun seperti tidak ada harganya.


“Sehat mbak Binar?” tanya Bu Wiwi berbasa-basi.


“Alhamdulillah sehat Bu,” jawab Binar seadanya. Binar sudah akan membuka pagar rumah ketika sebuah celutukan terdengar membuatnya terdiam sesaat.


“Sudah isi belum mbak?” tanya Bu Indah santai seolah pertanyaan yang dia lontarkan adalah hal biasa.


Binar menoleh, menatap Bu Indah dengan tatapan penuh tanya. Dia tahu arti pertanyaan itu namun dia hanya ingin mempertegasnya.


“Sudah hamil belum mbak?” kali ini Bu Rini yang bertanya. Ibu-Ibu yang lain sontak menatap perut Binar yang tampak rata.


“Loh belum toh, sudah lama kan ya nikahnya?” celutukan dari Bu Ani membuat Binar menghela napas pelan.


Bagi wanita yang sudah menikah tentu saja pertanyan seperti ini sangat sensitif. Terlebih lagi jika sudah berjuang namun belum diberi titipan. Rasanya sangat menyakitkan.


“Baru enam bulan kok Bu,” jawab Binar masih berusaha terlihat santai.


“Lah lama itu mbak, tuh anaknya mbak Indah baru tiga bulan nikah sudah hamil.” Bu Wiwi berucap santai sambil dengan bangganya menunjuk Bu Indah yang tersenyum bahagia.


“Alhamdulillah berarti sudah rejekinya anak Bu Indah.” Binar kembali menjawab dengan santai.

__ADS_1


“Berusaha dong mbak, jangan pasrah saja. Iyakan Ibu-Ibu?” Ujar Bu Ani meminta persetujuan Ibu-Ibu lain yang dengan kompak berseru setuju dengan ucapannya.


“Mbak Binar sih sibuk kerja, mungkin terlalu sering capek.” Ujar Bu Indah santai tidak ada rasa bersalah sebagai sesama wanita.


Tidak tahan dengan ucapan itu Binar langsung merubah raut wajahnya. Tidak ada lagi senyum sopan dan sikap santai karena menurut Binar ini sudah melewati batas.


“Ibu-Ibu sekalian apa tahu seperti apa perjuangan saya? Saya rasa kalian semua tidak perlu tahu, cukup saya dan suami saya. Kita ini sebagai sesama wanita seharusnya saling support bukan malah menjatuhkan mental.” Binar berucap dengan nada datar membuat Ibu-Ibu yang lain terdiam tidak berani menjawab.


Binar berbalik bermaksud masuk ke dalam rumah namun wanita itu terdiam sesaat ketika melihat Albiru berdiri di depan pintu rumah. Dari raut wajah suaminya dia yakin pria itu sudah mendengar semua ucapan tidak mengenakan dari para Ibu-Ibu.


“Dan satu lagi Ibu-Ibu sekalian, saya hamil atau belum saya rasa itu bukan urusan kalian. Ini masalah rumah tangga saya, bukan konsumsi publik. Sebagai orang yang lebih tua dari saya seharusnya Ibu-Ibu sekalian tahu apa arti privasikan?” Ujar Binar berusaha menjaga agar tidak menangis. Wanita itu bahkan tidak menoleh kearah Ibu-Ibu yang lain melainkan menatap kearah suaminya.


Binar berjalan masuk ke dalam rumah, wanita itu berusaha mati-matian menjaga air matanya agar tidak tumpah. Ketika sampai disamping Albiru yang kini tengah menatapnya, Binar menghentikan langkah kakinya sejenak.


“Kamu tahukan sekarang bagaimana sakit hatinya aku dengan lingkungan toxic ini?” Bisik Binar tanpa mau menatap suaminya. Kemudian wanita melanjutkan langkah kakinya tanpa menoleh sedikitpun, karena dia sedang menyembunyikan air matanya.


Binar sakit hati, terluka namun tidak memiliki tempat bersandar. Belum cukup masalah dengan Ibu mertuanya, kini dia harus diingatkan kembali tentang keresahan hati yang selama ini dia pendam sendiri.


Binar juga ingin hamil dan memiliki anak, namun dia bisa apa jika Tuhan belum berkehendak. Dia hanya bisa berdoa dan terus berusaha, tapi orang-orang diluar sana berkata sesuka hati tanpa tahu perjuangan apa yang dia lalu selama ini.


 


TBC


Terima kasih sudah mampir. Kritik dan saran dipersilahkan biar novel ini semakin bagus.


Sambil menunggu novel ini update, aku punya rekomendasi novel bagus karya Ingflora. Silahkan mampir dan jangan lupa dukungannya.

__ADS_1



Pertemuan pertama, ia di cela tapi pertemuan kedua ... ia di cari. Maysaroh Safir, anak seorang pedagang lontong sayur keliling. Tanpa sengaja, gerobak ayahnya menyenggol mobil mewah seorang CEO muda. Saat bertemu lagi untuk kedua kalinya dengan pemuda itu, ia menyelamatkan nyawanya. Pemuda itu kemudian mencari dan menjadikannya bodyguard. Petualangan pun di mulai hingga tanpa di sadari tumbuh bunga-bunga cinta di antara mereka.


__ADS_2