Salahkah Mencintai Psikopat

Salahkah Mencintai Psikopat
Bab 1 Peramal


__ADS_3

Jam tiga dini hari Anika tiba-tiba tersentak saat tidur di kosannya yang sempit. Keringat dingin bercucuran membasahi pakaian tidurnya. Sudah lama dia tidak memimpikan masa lalu yang dulu terus menghantui dirinya.


Dia mulai mencoba tidur lagi tapi tidak bisa. Akhirnya dia menghabiskan waktunya menjelajahi internet tentang make up kesukaannya lewat ponsel miliknya. Sinar matahari mulai menembus korden tipis yang tergantung di jendelanya. Dia pun menyiapkan diri untuk kuliah.


"Lihat cowok ganteng itu!" Anika refleks menoleh --walau sebenarnya tidak tertarik-- saat temannya menunjuk seseorang.


Saat ini Anika sedang di kantin bersama Tia. Temannya itu baru saja putus dari pacarnya. Jadi wajar saja sih radar otaknya sangat cepat begitu melihat cowok ganteng, begitu pikirnya.


"Besok malam ada acara festival BEM. Katanya dia bakal buka stan ramalan tarot dan tangan. Dari dulu dia terkenal dengan ramalannya dan semua cewek pasti antri minta diramal olehnya."


Mendengar itu tanpa sadar Anika tersenyum. Dia bisa merasakan suasana hati berbunga-bunga yang terpancar dari temannya itu. Sepertinya dia telah menemukan obat atas patah hatinya.


"Akhir pekan aku harus kerja," ucap Anika dengan raut wajah meminta maaf mengingat ada kerja sambilannya sebagai SPG yang tidak bisa ia tinggalkan.


"Acaranya sampai malam kok! Habis kerja kamu langsung datang aja!" Tia berusaha membujuk Anika.


"Baiklah."


Pulang kuliah Anika pergi ke bimbel yang letaknya cukup jauh dari tempat tinggalnya. Dia biasanya mengajar anak sekolah bahasa Inggris, sesuai dengan fakultas yang dia ambil. Anika tidak ingin merepotkan kedua orang tuanya, karena itu dia berusaha kerja sambilan sebanyak-banyaknya untuk mengumpulkan uang.


Langit mulai gelap setelah Anika selesai mengajar. Seperti biasa dia mampir ke mini market di pojokan kosannya untuk membeli makan malamnya; roti sobek yang akan dibagi tiga sebagai makanannya sehari.


Saat jalan kaki kembali ke kosnya, tiba-tiba dia merasakan ada seseorang yang mengikuti dirinya. Namun saat dia menoleh, hanya seekor kucing yang terlihat.


Mungkin aku kecapekan, batinnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Tanganmu sangat kasar."


Telapak tangannya sedang dipegang oleh seorang cowok tampan di dalam sebuah tenda kecil. Anika sendiri tidak percaya kenapa dia sekarang duduk di hadapan pria ini untuk meminta meramalkan nasibnya.


Dia memang janji dengan Tia untuk nonton konser saat festival BEM, tapi dia tidak berpikir untuk mendengar omong kosong dari cowok sok tampan ini. Anika yang sebenarnya tak tertarik ramalan, dipaksa Tia yang sudah antri sampai sejam demi bertemu pujaan barunya itu.


"Apakah itu artinya saya bernasib jelek?" tanyanya sedikit jengkel.


"Tidak, artinya kamu seorang pekerja keras."


Semua juga tahu! batinnya kesal.


"Sepertinya kamu jomblo ya?" lanjut peramal itu sambil terus meraba-raba tangannya.


Dia ini nggak benar-benar meramal tapi asal tebak!


Anika yang merasa tidak nyaman, nyaris berdiri sebelum dihentikan oleh kata-kata selanjutnya.


"Traumamu terlalu berat untuk kamu pikul sendirian."


Anika membolakkan matanya, tak percaya.

__ADS_1


Kenapa dia tahu?


"Hubungan dengan orang tuamu kurang bagus. Kamu harus bisa berdamai dengan mereka kalau ingin menghilangkan traumamu." lanjut pemuda itu.


Anika langsung menarik tangannya dan beranjak dari kursinya.


Kenangan buruk yang susah payah ingin dia lupakan malah dibuka terang-terangan di depan mukanya.


"Masih bisa ramalan tarot kalau kamu kurang tertarik ramalan tangan." tawar pria itu dengan senyuman tampannya.


Tapi Anika tidak tergoda sedikit pun.


"Kamu mau meramal nasib atau membuka aib orang?"


Setelah mengatakan itu Anika langsung menerjang keluar melewati keramaian. Dia bahkan mengacuhkan Tia yang dari tadi memanggil dirinya.


Setiba di kosannya, dia langsung merebahkan diri di atas kasur. Dia tertidur begitu saja karena terlalu capek.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya, seperti sudah terprogram di otaknya, Anika bangun subuh-subuh untuk bersiap kerja.


Dia mengacuhkan sejumlah chat tak terbaca dari ponselnya, dan langsung membersihkan wajahnya sebelum memulai riasan baru. Dia pun segera mengganti seragamnya dan berangkat dengan gojek online.


Dua hari ini dia harus menjadi SPG di supermarket untuk produk minuman. Shiftnya dari pagi sampai sore membuatnya tak sempat membuka ponselnya karena terlalu fokus untuk bisa memenuhi target penjualan.


Anika menggotong sample produk minuman untuk ditawarkan kepada orang yang lewat. Dia menghiraukan beratnya barang yang harus dibawa dan terus tersenyum ramah.


Anika tetap melayaninya dengan ramah karena menganggap semua tamu di supermarket adalah peluang untuk membeli produknya.


"Silahkan coba kak!" katanya tersenyum memberikan satu tester.


Pria itu menegak habis satu gelas dan tanpa berkata-kata meminta tambah.


"Silahkan kak, kalau ini rasa anggur."


Dia langsung menghabiskan minumannya dan langsung mengambil yang lain tanpa sempat ditawarkan oleh Anika.


"Bagaimana kak? Apakah cocok dengan rasanya? Produk kita ini..." Baru saja mau menjelaskan produknya lebih lanjut, pria itu tiba-tiba pergi meninggalkannya begitu saja.


Dasar tidak sopan! batin Anika. Dia pasti tipe yang hanya mau gratisan!


"Kalau beli tiga apakah saya bisa ikut undian?"


Kali ini seorang pemuda berkaca mata dengan tampilan sangat rapi mendatangi Anika.


"Benar kak, setiap pembelian 3 produk kami, bisa mengambil satu kertas undian ini." Anika langsung senang melihat ada yang tertarik dengan promosinya.


Pria itu tidak mengambil tester dan membeli tiga produk minuman darinya. Dia pun terlihat sangat sabar mendengar penjelasan yang diberikan oleh Anika. Sayangnya dia tidak menang undian.

__ADS_1


"Terima kasih banyak kak. Silahkan datang lagi besok!" ucap Anika berusaha menyemangatinya.


Pria itu tersenyum ramah sebelum pergi meninggalkan dirinya.


Dua orang bertolak belakang di waktu yang bersamaan. Pikir Anika setelah apa yang barusan menimpa dirinya. Dia belum tahu bahwa kedua pemuda itu yang akan mengisi hidupnya di kemudian hari.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ketika pulang untuk menerima upahnya, Anika dikagetkan dengan kabar bahwa penjualannya hari ini jauh melewati target.


Padahal hari sebelumnya bahkan tak sampai setengah dari target penjualan.


Saat antri dengan SPG lain di pintu keluar untuk pemeriksaan, dia mencuri dengar dua orang wanita yang sedang bergosip ria.


"Katanya ada cowok aneh bermasker yang beli minuman dua dos."


"Cowok lusuh bermasker? Dia bahkan dikira gembel dan hampir diusir waktu mau masuk supermarket!"


"Aneh juga sih ke supermarket hanya beli minuman lalu pulang. Dua dos lagi!"


Anika tidak percaya mendengar itu. Masa sih orang yang minta gratisan waktu itu?


Belum selesai mencerna apa yang didengarnya tadi, Anika dikejutkan lagi dengan melihat sosok tak asing sedang berdiri di pintu keluar SPG.


Cowok itu bersandar di tembok sambil memandangi ponselnya.


Anika tidak merasa janjian dengan siapapun, apalagi dengan cowok, karena itu dia pergi melewatinya begitu saja.


"Anika Ayu?"


Anika langsung menoleh mendengar namanya disebut.


"Siapa ya?" Dia sebenarnya sedikit merinding mengetahui orang asing tahu namanya, tapi dia berusaha kelihatan biasa saja.


"Masa lupa dengan peramalmu kemarin?"


Ternyata cowok tampan itu pria yang meramal nasibnya kemarin.


Pantas saja nggak asing, mukanya pasaran sih.


"Mau apa?" Nadanya sedikit judes mengingat kelakuannya kemarin.


"Aku datang menjemputmu."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


**Hai pembaca baru! Terima kasih mau menyempatkan diri untuk mampir yaa🤗


Bila tidak tahan dengan adegan kekerasan, boleh diskip bacanya.

__ADS_1


Like dan komentar kalian sangat dinantikan oleh penulis pemula seperti saya🥰**


__ADS_2