Salahkah Mencintai Psikopat

Salahkah Mencintai Psikopat
Bab 62 Dilema


__ADS_3

Anika langsung mencegat Yuri yang kelihatan begitu kesal kepada kakaknya itu.


"Tolong jangan hiraukan!" Dia takut kejadian seperti di rumah paman Kairi dulu akan terulang kembali. Hanya menolak hadiah pemberian Kairi, dia bisa menghancurkan satu ruangan dan melukai orang tak bersalah.


"Aku tak ingin kamu juga terluka ...." lanjutnya dengan suara kecil membayangkan tragedinya di masa lalu.


Mendengar itu, Yuri merasa tersentuh karena dikhawatirkan oleh kakak iparnya. Padahal Anika telah diperlakukan seperti itu oleh kakaknya, tapi dia malah mengkhawatirkan dirinya.


Melihat air matanya terjatuh, Yuri refleks mengulurkan tangannya dan menyeka pipinya yang basah. Dia berpikir Anika telah banyak menderita karena kakaknya, padahal selama ini dia melihat mereka berdua selalu mesra.


"Jangan pikirkan orang lain. Bahagiakan dirimu sendiri." lanjutnya sekarang malah membelai wanita di hadapannya itu.


Anika menengadah ke atas. Dia pertama kali melihat Yuri memancarkan perasaan iba di raut wajahnya yang biasanya selalu datar. Pria kaku dengan pemikiran unik yang hanya membuat ekspresi konyol di hadapan putrinya. Saat ini wajahnya kelihatan begitu mirip dengan Kairi yang dia rindukan. Tanpa sadar Anika terus menatapnya hingga mata mereka bertemu.


"Maaf saya permisi dulu," katanya tiba-tiba pergi meninggalkannya sendirian dan Anika tak yakin tapi dia melihatnya tersipu malu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah melalui proses yang panjang di kepolisian akibat ulah pembantaiannya yang tanpa perintah, Kairi akhirnya diperbolehkan pulang bersyarat.


Langit sudah gelap gulita ketika dia melangkah keluar gedung bersama adiknya yang dari tadi terus menunggunya. Anika telah pulang duluan untuk menjemput Irina dan menunggu di rumah.


Suasana menjadi hening selama di dalam mobil. Kairi diskors dan tangannya telah diambil. Dia tak diperbolehkan keluar rumah dalam kurun waktu yang belum ditentukan atas perbuatannya itu.


Yuri tak tahu harus bicara apa. Dia senang kakaknya berhasil ditemukan, apalagi bisa menghancurkan organisasi yang sebenarnya tak berani disentuh kepolisian. Tapi mengingat perlakuannya pada istrinya tadi membuatnya sedikit kecewa. Tak seperti Kairi yang membenci wanita, Yuri sangat menghargai wanita dan menyayangi anak-anak.


Begitu tiba di rumah, Anika yang belum tidur berusaha bersikap normal dan menyambut suaminya dengan pelukan dan kecupan di pipi. Tapi kelelahan dan mood Kairi yang kurang baik membuatnya tak menggubris istrinya.


"Ayo makan dulu dan minum obatnya ya!" bujuk Anika seperti mengurus pasiennya agar suaminya itu mau mendengarkannya. Dia bahkan menyuapi suaminya itu agar mau makan.


Yuri sedikit lega melihat kemesraan mereka kembali dan ikut duduk makan karena sudah sangat lapar.


Suasana makan malam yang hening tak seperti biasanya akhirnya selesai. Anika bangkit dan segera mencari obat yang biasa dikonsumsi suaminya, tetapi terkejut mendapati obat yang telah dia siapkan tak dibawa Kairi saat pelatihan.


Artinya dia telah tidak mengkonsumsi obatnya selama tiga bulan.

__ADS_1


Pantas saja kejiwaannya kurang stabil sehingga memunculkan sisi psikopatnya yang bisa membahayakan orang lain. Dengan sedikit kecewa Anika menuju meja makan dengan obat di tangan.


"Ini, makanlah," pintanya meletakkan lima macam pil di atas meja. Dia berusaha tak membahas penemuannya tadi.


Kairi berdiri begitu saja dan menuju sofa dekat perapian untuk tidur, menghiraukan istrinya begitu saja. Dia sebenarnya akhir-akhir ini tak bisa tidur akibat penyakit mentalnya itu, dan terkadang merasa sangat lelah, sampai berpikir saja dia tak mau.


Karena khawatir akan kesehatannya, Anika justru mendatanginya dan berusaha sekali lagi. "Kalau kamu makan obat ini, pikiranmu akan lebih tenang dan kamu bisa tidur dengan nyenyak, Sayang."


Masih di meja makan, Yuri pura-pura mengutak-atik ponselnya, tetap waspada bila terjadi sesuatu di antara mereka.


Kairi yang awalnya cuek, langsung tersenyum ketika tersadar ada istrinya di dekatnya. "Kamu sangat cantik, Istriku." katanya menarik tangan Anika dan mendudukkannya di atas dirinya.


"Enak-enak dulu yuk Sayang," lanjutnya sekarang malah membuka paksa pakaian istrinya dan membuka celananya sendiri.


Anika sebenarnya tak masalah untuk melayani suaminya itu, tapi tempat dan waktunya saat ini tak tepat. Yuri masih satu ruangan dan Kairi seharusnya istirahat karena tadi siang sudah banyak mengeluarkan spermanya.


"Tu ... tunggu Sayang! Jangan sekarang!"


Tapi saat ini Kairi hanya ingin menghilangkan stressnya dengan s*x. Dia tak mempedulikan lokasi maupun kehadiran adiknya.


Tanpa membuka celana dlm istrinya, Kairi memasukkan lagi miliknya ke lubang wanita pujaannya, langsung menggerakkan tubuhnya dan merasakan setiap kenikmatan.


Karena kepatuhan Anika, Kairi terus berganti posisi dan terus melakukan aksi liarnya, sengaja mengulur waktu hanya untuk merasakan kenikmatannya lebih lama. Semakin lama dia semakin tak bisa mengontrol dirinya dan bahkan tega menjadi sadis dengan menyiksa istrinya itu, tapi Anika mengigit bibir bawahnya berusaha tak berteriak kesakitan. Dia berusaha tetap patuh walau tak mau. Keadaannya ini sekarang mengingatkannya akan kejadian di masa lalu ketika baru diculik. Air matanya tak bisa dia sembunyikan


Hingga ketika Kairi membalik tubuh Anika dan mencekik lehernya dengan senyum kenikmatan sambil terus menggerakkan pinggulnya, Kairi baru tersadar begitu melihat wajah tersiksa istrinya yang sudah tak sadarkan diri karena hampir kehabisan nafas.


Senyuman psikopatnya telah hilang tergantikan ekspresi terpukul tak percaya dengan perbuatannya sendiri.


"Sayangku, Cintaku, maafkan aku, aku sangat menyayangimu," katanya berulang-ulang sambil mencium setiap sudut wajahnya merasa sangat menyesal.


Yuri menepuknya dari belakang dan menyodorkan obatnya. "Dia baik-baik saja kalau kamu makan ini."


Tanpa pikir panjang Kairi langsung menyambar obatnya dan memakannya tanpa air. Dia kemudian memangku istrinya dan memeluknya erat-erat, membelai rambutnya yang panjang sambil terus meminta maaf dan menyatakan cintanya walau tahu istrinya tak mungkin dengar.


"Jangan khawatir kak, dia hanya tak sadarkan diri." Yuri berusaha menenangkan kakaknya yang kelihatan panik itu dan menyelimuti tubuh Anika yang kemudian dia angkat dan bawa masuk ke kamar.

__ADS_1


Ketika kembali dia masih melihat Kairi yang terlihat begitu menyesal dan ketakutan seperti orang kecanduan narkoba yang tak bisa lagi mendapatkan obatnya. Yuri hanya duduk di sampingnya sambil menunggu obatnya bereaksi dan mulai bicara begitu melihat kakaknya sudah tenang.


"Kalian seperti monster yang memiliki ketergantungan yang gila."


Kata-katanya itu sama sekali tak membuat Kairi lebih baik. Dalam hati dia terus menyalahkan dirinya dan tambah membenci dirinya yang selalu saja membuat Anika yang dia cintai tersiksa.


"Apa kakak pernah dengar kisah hidup dewa kematian?" Kairi tetap diam dan Yuri melanjutkan ceritanya. "Setiap makhluk hidup yang disentuh oleh dewa kematian pasti akan mati. Manusia, bunga, kelinci, serigala. Dan dia merasa itu adalah tugasnya sebagai dewa kematian. Hingga suatu hari dia bertemu dengan seekor rusa yang dia tak tega menyentuhnya.


"Dewa kematian itu melalaikan tugasnya dan bertahun-tahun hidup melindungi dan melihat rusa itu dari jauh. Dia terus mengikuti rusa itu kemanapun dia pergi bersama kawanan rusa yang lain. Hingga suatu hari si rusa merasa dirinya sudah cukup untuk hidup dan mendekati dewa kematian.


"Dewa kematian yang awalnya menolak akhirnya memeluk rusa itu untuk pertama dan terakhir kalinya. Si rusa akhirnya mati bahagia di tangan dewa kematian."


Kairi sebenarnya tak tertarik dengan ceritanya dan ingin tahu apa yang sebenarnya ingin dikatakan oleh adiknya itu.


"Kematian itu datang tiba-tiba tapi ada juga yang siap menerima kematian. Aku hanya takut suatu hari Anika akan suka rela dibunuh olehmu kak. Kalau kamu ingin dia terus hidup, aku tak yakin kamu bisa hidup bersamanya."


Kali ini Kairi tak terima dan langsung ingin menonjok adiknya itu yang berhasil langsung ditahannya.


"Aku tak akan mungkin membunuhnya!" katanya percaya diri. "Aku rela mati di tangannya, tapi aku tak akan membiarkannya mati!"


Yuri menutup matanya dan berpikir kakaknya belum sadar. Dia kemudian bangkit berdiri dan mengatakan ini sebelum pergi.


"Tindakanmu hari ini telah membuktikannya berbeda. Dirimu yang lain bisa membunuhnya kapan saja kalau kau tak berhasil mengontrolnya, Kak."


Kairi dibiarkan merenungkan sendiri atas perbuatannya hari ini. Sebagai orang dengan gangguan jiwa, dia tentu saja setengah sadar melakukan aksi yang tak bisa dia kontrol sepenuhnya. Ketika tidur dan bangun lagi, kadang otaknya akan refleks menghapus kenangan yang tak dia inginkan, dan membuatnya kembali melakukan tindakan kejahatannya.


Kairi menjadi bingung dengan tujuan hidupnya. Dia ingin sekali membunuh ayahnya dan memberantas semua kejahatan untuk membuat dunia yang aman untuk istrinya. Tapi itu bisa dia lakukan bila dia memancing keluar sisi psikopatnya.


Di lain sisi dia ingin hidup bahagia bersama istri tercintanya, melalui hari dengan melihat senyuman di wajahnya. Tapi dia takut suatu hari sisi psikopatnya akan muncul dan mengontrol dirinya sepenuhnya, membunuh Kairi yang asli.


Apapun yang dia lakukan akan berisiko untuk Anika. Apakah hidup terpisah dengannya adalah cara paling aman?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Terima kasih telah membaca novelku hari ini🤗

__ADS_1


Kisah dewa kematian dulu pernah author lihat di YouTube yang judulnya "The Life of Death", benar-benar animasi yang sangat menyentuh


Menurut pembaca setiaku, apa yang sebaiknya Kairi lakukan ya? 🤔


__ADS_2