Salahkah Mencintai Psikopat

Salahkah Mencintai Psikopat
Bab 36 Kebimbangan


__ADS_3

"A ... ampun Tuan!! Kami hanya datang untuk urusan bisnis! Kami tak tahu apapun!"


Tiga pria dewasa berjas mahal dan berwajah sangar terduduk di kursi dalam posisi tangan dan kaki terikat. Satu di antara mereka masih belum sadarkan diri dari senjata kejutan listrik yang disengatkan ke mereka begitu tiba di rumah ini.


Di hadapan mereka, Kairi berdiri membawa gergaji listrik besar. Dia tersenyum lebar memandang mereka yang kelihatan ketakutan.


"Kalian pasti mau menculik Anika bukan?" Kairi menginterogasi mereka berdasarkan delusi yang dia yakini.


"Sumpah! Kami tak tahu siapa itu Anika! Kami tak mungkin menculiknya."


Listrik gergaji dinyalakan dan Kairi mulai memotong tangan kanan orang yang dari tadi menyangkal pertanyaannya. Pria itu berteriak kencang bisa melihat tulang lengannya sendiri. Darah segar mengalir deras dari tangan yang terpotong.


Pria di sebelahnya, yang merupakan seorang pengedar narkoba dan telah menculik serta menjual banyak anak-anak dan wanita, hanya bisa mengompol di celana karena ketakutan.


"Jadi? Kenapa kalian ingin menculiknya? Kalian pikir bisa memperkosa tubuh suci dan indahnya itu?!" tanya Kairi ulang, masih tetap tersenyum seolah menikmati semua ini.


"Huhuhu ampun Tuan, saya tidak kenal Anika ...." jawabnya lemas menahan sakit.


"Masih nggak mau ngaku?" Kali ini kaki kanannya mulai digergaji habis oleh Kairi. "Kita coba lihat apa kamu bisa memperkosa orang dengan wujud barumu."


Pria yang telah diamputasi oleh Kairi dulunya adalah cowok biadab yang sering memperkosa wanita untuk bersenang-senang. Dia sudah tak sadarkan diri mengalami semua penyiksaan ini.


Ann yang menyaksikan itu semua tersenyum puas. "Dasar pengecut! Beraninya hanya dengan cewek dan anak-anak tak berdaya. Ketemu sama Tuan Kairi langsung ngompol dan pingsan." Dia merekam adegan ini untuk nanti dikirimkan ke organisasi mereka sendiri.


Ann merasa diberkati bisa melihat eksekusi ini secara langsung. Baginya Kairi lebih baik daripada polisi maupun jaksa manapun, yang tak pernah sungguh-sungguh mengadili gangster kelas kakap karena takut atau disogok.


Setelah tangan dan kaki mereka semua habis digergaji tanpa ampun, Kairi meminta Lia untuk menjaga mereka agar tetap hidup untuk nantinya diikat dan dikurung bersama dengan pamannya di dalam kamar mewahnya. Potongan tangan dan kaki dikumpul untuk dipaketkan ke markas polisi utama dengan alamat pengirim markas mereka sendiri.


Kairi bahkan sempat memberi pita merah pada potongan kaki tangan itu, seperti parsel ulang tahun.


Di halaman rumah, Elle telah menghabisi para bodyguard mereka bersama dengan para anjing penjaga. Kepala-kepala mereka lah yang nantinya dipakai Kairi untuk bercocok tanam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sudah seminggu berlalu sejak Anika pertama kali dibawa ke rumah ini, tapi dia masih belum bisa menerima kenyataan atas kesadisan Kairi. Walau belum biasa dengan hobi 'berkebun' ala Kairi, Anika sudah tak pernah lagi melihatnya bertindak kasar atau pergi membunuh orang lagi.

__ADS_1


Setiap malam sebelum tidur, Kairi selalu melakukan ritual malamnya untuk bermasturbasi di belakang Anika ketika mereka berbaring di atas kasur. Terkadang Anika heran, apa yang membuatnya terangsang hanya dengan melihat punggungnya saja?


Mereka memang tidur di ranjang yang sama, tapi Kairi tak pernah menyentuhnya. Anika memang melarang Kairi untuk menyentuhnya sedikitpun. Walau begitu setiap malam ritualnya itu selalu mengganggu pendengaran Anika sebelum tidur. Kairi mendesah menyebut namanya membuat Anika tak nyaman.


Paling tidak dia bisa mengontrol diri, dan tindakannya itu kelihatan sangat manusiawi.


"Selamat pagi, Sayang."


Di pagi hari dia pasti akan menyambut Anika dengan kecupan di kening. Terkadang Anika membiarkannya mencium di bagian lain, karena takut akan menyinggung perasaannya lagi. Tapi bila bagian bawah perutnya mengeras, Anika langsung berdiri bersiap untuk sarapan.


Kairi masih bisa mengontrol dirinya dan menurut Anika itu bagus.


Ruang tengah yang waktu itu dihancurkan oleh Kairi sudah dibereskan semuanya. Elle dan yang lain sudah bisa beraktifitas normal kembali. Anika sibuk merombak seisi rumah. Semua pelayan diberi pakaian normal oleh Anika, dan seperti sedang bekerja di RSJ, Anika mengecek mereka setiap hari: pagi, siang dan malam. Dia mengajak mereka melakukan berbagai aktifitas positif seperti senam pagi, nyanyi bersama, menggambar, dan hal lain yang menyenangkan.


Dari semua pasiennya, Rin adalah yang paling susah diatur. Apalagi dia masih bersikeras bahwa paman Kairi adalah tuannya. Dia tak pernah mau mendengar perkataan siapapun selain paman Kairi.


Anika mencatat setiap perkembangan mereka. Tapi dia masih bingung bagaimana harus mengubah hobi abnormal Kairi ke hobi yang normal.


"Menurut saya tak masalah!" jawab Ann ketika Anika bertanya padanya. "Toh yang ditanam kepala-kepala cowok mesum. Paling tidak mereka masih berguna untuk nutrisi bunga yang ditanam. Selama hidup mereka hanya sampah masyarakat!"


"Selama Tuan muda tak menambah kepala lagi untuk ditanam, saya pikir tidak masalah." Lia pun sama saja.


Anika sadar dia salah bertanya kepada mereka. Para pelayan pasti telah melewati banyak masa lalu kelam yang membuat mereka berpikir membunuh atau berkebun seperti itu adalah hal yang wajar.


"Nyonya muda bisa mengajak Tuan muda bicara dari hati ke hati, pelan-pelan mencoba mengatakan bahwa kegiatannya itu tidak wajar."


Elle memiliki mental yang paling kuat di antara mereka. Mungkin itu berkat pelatihan khususnya menjadi seorang mata-mata dulu yang dituntut untuk kuat secara fisik dan psikis. Dia selalu bisa menjawab pertanyaan dari Anika dengan jawaban yang paling normal. Entah karena dia memiliki kemampuan untuk memanipulasi Anika sehingga berpura-pura terlihat normal, atau mentalnya memang mental baja yang membuatnya tak terpengaruh meski mendapat pelecehan atau tindak kekerasan lainnya.


Keempat pasien sudah kelihatan stabil secara emosi, bahkan telah membuat kenangan lama mereka itu seolah bagian dari diri mereka. Hanya Quill yang masih memiliki trauma. Dia yang terakhir bergabung di rumah ini, dan menurut Lia lidahnya telah dipotong agar tak bisa teriak dan membantah. Anika kadang melihat Quill gemetaran saat melihat Kairi atau dirinya.


"Apakah kamu masih bermimpi buruk."


Pertanyaannya itu dijawab dengan anggukan. Anak laki-laki yang malang, batin Anika. Dia sering terlihat berlindung dibalik Rin. Setidaknya dia memiliki orang yang melindungi dirinya.


Begitulah keseharian Anika di rumah maksiat ini. Dia sebisa mungkin menghindari kebun Kairi, dan sebisa mungkin memberi sugesti positif ke setiap 'pasiennya'.

__ADS_1


Setidaknya hari-harinya bisa berjalan dengan damai dan traumanya tak muncul sedikit pun. Tapi tetap saja kadang dia merindukan Yaslan.


Selesai menjalani aktivitas hariannya, Anika merebahkan diri di atas kasur bersiap untuk tidur. Kairi menyusulnya ke kamar tidur selesai mandi. Kali ini Anika memberanikan diri untuk mengajaknya bicara.


Saat mereka berdua sudah berbaring di atas kasur, dia berbalik menghadap Kairi dan bertanya, "Apa setiap malam kamu harus melakukan itu?"


Kairi memandangnya heran sebelum akhirnya tersenyum. "Aku nggak bisa tidur kalau nggak melakukan ini."


Anika memang pernah baca, masturbasi bisa meningkatkan kualitas tidur karena sistem saraf pada otak yang semula tegang bisa menjadi lebih santai akibat hormon oksitosin yang dilepas. Terutama bagi penderita gangguan mental, rangsangan seksual seperti ini sudah seperti obat penenang bagi mereka.


Anika mengambil tangan Kairi yang hendak melakukan perbuatan itu lagi.


"Coba hari ini tidur hanya dengan memandangku. Aku akan menggenggam tanganmu seperti ini." Anika tersenyum lembut padanya. Sesekali ia membelai wajah tampannya.


Bisa memandang wajah pujaannya sebelum tidur membuat Kairi lebih tenang. Otaknya yang tegang mulai merasakan relaksasi. Dia mendekatkan tangan Anika ke wajahnya dan menciumnya sebelum akhirnya tertidur.


Ternyata cara ini bisa juga, batin Anika. Mereka berdua pun tertidur dengan menggenggam tangan, saling membagi kehangatan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Esok paginya ketika membuka mata, Anika melihat wajah Kairi yang masih tertidur dengan nyenyak. Kalau seperti ini dia kelihatan sangat normal. Semakin lama berada di rumah ini membuat perasaannya pada Kairi semakin menguat.


Ya Tuhan, aku memiliki suami yang mencintaiku, kenapa aku jatuh cinta lagi pada pria ini?


Hatinya bimbang. Hal yang dia hindari akhirnya terjadi. Karena merasa Kairi lebih membutuhkan dirinya daripada Yaslan, Anika sempat berpikir untuk tinggal di sini saja dan melupakan kehidupannya di luar rumah ini.


Tapi sayangnya pagi yang cerah dikejutkan oleh gedoran pintu dari seseorang.


"Tuan muda!! Ada berita gawat!!" Lia terus mengetuk pintu membuat Kairi terbangun.


"Rumah ini telah dikepung!!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bagaimana kah nasib mereka??

__ADS_1


__ADS_2