Salahkah Mencintai Psikopat

Salahkah Mencintai Psikopat
Bab 42 Pisah


__ADS_3

Sejak Kairi dan Ann menumpang di rumah, hubungan Anika dengan suaminya memburuk. Anika tak menyangka bicara jujur dan terbuka kepada suaminya malah membuat hubungan mereka merenggang. Dia kembali takut untuk jujur mengenai masa lalunya dan bingung akan masa depan kehidupan pernikahannya.


Apakah dia dari awal tak ditakdirkan untuk hidup bersama suaminya itu?


Sudah tiga hari ini hubungan mereka menjadi sedingin es. Anika tak menyukai keadaan mereka ini sehingga berpikir untuk bicara berempat mengenai kebaikan masing-masing di masa depan. Anika dan Yaslan telah menyembunyikan Kairi karena identitasnya yang berbahaya. Saran Yaslan untuk membuat identitas baru dan membiarkannya hidup jauh dari sini mungkin bagus juga. Walau Anika merasa berhutang budi pada Kairi dan ingin menolongnya lebih lama lagi, dia tak ingin hubungan dengan suaminya terus seperti ini. Apalagi Kairi masih memiliki Ann yang akan setia mendampinginya, Anika rela melepaskan Kairi dan perasaannya.


"Ibu Anika Ayu, bisa salin data pasien yang akan digunakan besok pagi?" Waktu sudah menunjukkan pukul enam. Dia sebenarnya sudah bersiap pulang, tapi job baru malah masuk lagi.


Anika segera menulis pesan singkat kepada suaminya, memintanya pulang duluan.


Setelah tambahan dua jam lebih mengerjakan job dadakannya, akhirnya dia selesai. Sebelum pulang Anika mampir di minimarket seberang kantor untuk makan roti dan memilih pulang dengan bus umum.


Sepanjang perjalanan pulang dalam bus, Anika merenungkan banyak hal, terutama mengenai suaminya yang dia rasa berbeda dengan dirinya dan Kairi.


Banyak orang lurus yang berpikir dirinya tak berdosa dan memiliki empati yang kurang. Terkadang mereka merasa dirinya paling suci, sehingga tak bisa mengampuni dosa seseorang di masa lalu. Mereka memang selalu berusaha menjaga reputasi mereka dengan terus berbuat baik dan jauh dari dosa, tapi mereka tak akan bisa memahami orang yang telah melakukan dosa di masa lalunya. Mereka tak akan bisa mengerti perasaan mereka karena tak pernah berada di posisi terhina itu.


Anika terus memikirkan cara yang baik untuk bicara dengan suaminya malam ini. Dia berharap hubungannya bisa lebih baik tanpa harus saling membenci.


Setibanya di rumah, Anika kaget mendapati Kairi duduk di depan pintu rumahnya.


"Ada apa?" tanyanya mendekati Kairi. "Kalian sudah makan?"


Kairi mengangkat kepalanya dan memperlihatkan wajah tanpa ekspresi.


"Ayo masuk, di luar mulai dingin." lanjut Anika karena tak mendapat respon.


Ketika dia membuka pintu rumahnya, Kairi menahan tangannya. Anika tampak bingung dengan tingkah Kairi dan menoleh untuk mendapatkan jawaban.


"Apa kamu sangat mencintai suami barumu?" Anika tambah heran dengan pertanyaan Kairi dan berpikir untuk tidak menjawab pertanyaan yang menurutnya tak perlu jawaban.

__ADS_1


Pintu telah dibuka tetapi Kairi menahannya lagi. "Aku serius dengan pertanyaanku. Apa kamu yakin bisa tetap mencintai suamimu walau dia nggak sempurna?"


"Tentu saja," jawab Anika tanpa pikir panjang dan mulai melangkah masuk. Dengan langkah terpincang-pincang, Kairi menyusulnya dari belakang.


Sebenarnya Kairi ingin sekali merebut Anika dan mengambilnya untuk dirinya sendiri. Dia masih berpikir Anika adalah istrinya dan hanya miliknya seorang. Tapi jawaban dari Anika tadi membuatnya berpikir bahwa selama ini Anika sepertinya tak serius dengan perasaannya.


Keadaan Kairi yang sekarang tanpa lengan dan wajah buruk rupa membuatnya sedikit tak percaya diri lagi. Tapi dia masih belum tenang untuk membiarkan cintanya itu hidup bersama suami yang tak paham dengan dosa seseorang. Dia tak ingin melihat Anika sengsara dan menangis seperti dulu lagi akibat ulah Yaslan yang tak paham deritanya. Karena itu Kairi ingin menyeret Yaslan ke dalam kubangan lumpur dosa, ingin memperlihatkan padanya seperti apa hidup dengan menanggung beban perasaan bersalah dan jijik pada diri sendiri.


"Apakah yang lain sudah tidur?" tanya Anika ceria setelah meletakkan tasnya di atas sofa. Anika berpikir untuk bicara berempat dengan mereka, tapi sepertinya dia datang terlalu malam. Dia belum sadar suaminya sedang di kamarnya sendiri bersama wanita lain.


Kairi yang dari tadi tak berekspresi berdiri di depan pintu kamar Anika dan Yaslan. "Mereka ada di dalam sini."


Pernyataannya itu membuat mata Anika membulat kaget tak percaya. Mana mungkin!


Samar-samar dari dalam terdengar percakapan dan ******* mesra seseorang, yang sudah pasti merupakan Yaslan dan Ann.


Anika terdiam.


Tanpa sadar air mata mulai mengalir membasahi pipinya.


Karena terlalu sedih dan sakit hati, Anika hanya mematung. Dia tetap diam di tempat tak tahu harus berbuat apa. Air mata terus menerus mengalir tak berhenti. Dia menangis dalam diam mendengar ******* yang sepertinya semakin sering terdengar.


Kairi tak tega melihat Anika yang kelihatan tersiksa. Walau berharap Yaslan akan tetap setia dan tak akan termakan bujuk rayuan Ann, dia tahu kecil kemungkinan cowok normal seperti Yaslan tahan godaan seperti dirinya. Kalaupun mereka tertangkap basah selingkuh badan di belakang Anika, Kairi sebenarnya berharap Anika akan marah dan mengusir mereka berdua dari rumah.


Dia tidak menyangka Anika memiliki hati yang begitu lembut.


Dengan kasar Kairi membuka pintunya. Dia mengendus tersenyum menghina melihat posisi mereka. Tak disangka Yaslan bukan hanya menikmati servis cinta milik Ann, tapi ternyata juga siap menyerangnya.


"Sebegitu nggak tahannya kamu dengan tubuh wanita lain selain istrimu?" serangnya dengan hinaan.

__ADS_1


Yaslan yang langsung kaget dan membenarkan celananya tak seperti Ann yang tampak kalem.


"Kalian menjebakku?" tuduhnya asal walau memang benar.


"Kalau diberi jebakan, tikus yang pintar tak akan tergoda seenak apapun keju yang diberikan," celetuk Kairi tambah memojokkan Yaslan.


"Aku tak ada niat seperti itu! Kalau kau tak ingin membuatnya sedih, jangan pernah adukan hal ini padanya." Yaslan tahu mereka memiliki hubungan spesial dan ingin memanfaatkan itu. Dia belum tahu Anika sudah berdiri di luar kamar.


"Sayang sekali. Selama di rumahku, aku sudah sangat baik padanya, tapi istri setiamu tak tergoda sedikitpun." jelasnya pada Yaslan yang terlihat sangat menyesal dengan niatnya tadi. "Kamu percuma setia pada pria brengsek seperti suamimu ini, Anika." lanjutnya kali ini menoleh ke belakang.


Mengetahui Anika sudah pulang, wajah Yaslan menjadi pucat pasi. Dia sangat menyesal dengan mudahnya termakan bujuk rayu wanita yang bahkan tidak dia kenal baik.


Selama ini dia percaya diri dengan kesetiaannya. Tapi diterpa masalah sedikit dan digoda wanita lain langsung membuatnya lepas kendali. Yaslan tak tahu bagaimana harus menghadapi istrinya. Dia sungguh menyesal dan berharap mendapatkan pengampunan darinya.


Perlahan dia keluar kamar mendapati Anika masih berdiri dengan seragam kerja lengkap. Hatinya mencelos melihat pandangan kosong dan mendengar isakan tangis istrinya.


Yaslan mendekati Anika dan mengulurkan tangannya untuk menghapus air matanya, tapi mengurungkan niatnya. Dia tahu kata maaf saja tak cukup untuk menghapus hati istrinya yang sudah terlanjur sakit.


"Yang," mulainya pelan dan selembut mungkin. "Walau tubuhku ternyata selemah ini tak bisa tahan godaan, tapi hatiku tak akan bisa menduakanmu."


Anika kemudian teringat dengan kata-kata Kairi tadi, "Apakah kamu yakin bisa tetap mencintai suamimu walaupun dia nggak sempurna?"


Dia sadar mungkin selama ini memang tidak bisa benar-benar mencintai suaminya. Bukan karena ketidak sempurnaan suaminya, tapi ketidak sempurnaan dirinya sendiri. Dirinya yang memiliki dosa yang lebih besar di masa lalu, dia tak punya alasan untuk tak memaafkan suaminya. Anika menghapus air matanya berharap luka hatinya ikut terhapus.


Sebelum mengatakan hal yang sebenarnya tak pernah ia harapkan, Anika memastikan dirinya sudah tenang untuk bisa mengatakannya dengan jelas.


"Lebih baik kita cerai saja."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Sayang sekali, tapi mungkin ini yang terbaik 😔


Like dan komentar selalu dinantikan lho!!


__ADS_2