Salahkah Mencintai Psikopat

Salahkah Mencintai Psikopat
Bab 69 Pengkhianatan


__ADS_3

Sudah seminggu lebih Kairi bersama timnya menjalankan misi tapi belum juga ada tanda-tanda keberhasilan sesuai janji awal. Hal ini membuat Anika yang hanya bisa menunggu semakin gelisah.


"Jangan khawatir, semua sesuai rencana walau ternyata memerlukan lebih banyak waktu," hibur Yuri di pagi hari sebelum berangkat ke kantor.


"Gimana bisa tenang kalau tahu suami sedang bekerja mempertaruhkan nyawanya di luar sana? Kamu aja sering pulang larut dengan alasan keadaan darurat!" Kehamilan Anika membuatnya lebih sensitif dari biasanya.


Irina telah dititipkan di rumah ibu Yuri dan Anika telah meliburkan tokonya. Hal ini membuatnya semakin frustasi di rumah sendirian tanpa kegiatan.


"Paling nggak aku ingin buka toko sebentar saja. Apa kamu bisa menyampaikannya pada Kairi?"


"Kakak sudah menegaskan berkali-kali untuk jangan keluar rumah," jelas Yuri sudah bosan hampir setiap hari mengingatkan kakak iparnya mengenai hal yang sama terus.


"Kamu pasti tahu kan ibu hamil perlu aktifitas di luar rumah? Kalau terus terkurung di dalam rumah seperti ini hanya membuatku tambah stres yang tak baik untuk perkembangan janinnya," jelas Anika terdengar putus asa dengan perlakuan yang dia terima.


Anika sudah menunggu lebih dari seminggu tapi belum juga mendapat kabar mengenai suaminya. Selain frustasi dan tak tenang memikirkan keselamatannya, dia juga mulai jenuh dengan semua kegiatan di dalam rumah. Dia telah membaca habis semua buku yang diberikan Yuri dan sudah bosan menonton acara televisi. Anika yang biasa aktif tak suka dikekang tanpa kebebasan tanpa adanya seseorang yang menemaninya bicara.


Yuri menjadi tak enak hati dan kasihan melihat Anika yang biasanya ceria berubah menjadi tukang ngomel. Hari ini hari Minggu dan seharusnya dia libur. Tapi sejak menemukan markas utama tim inti untuk misi ini menjadi sibuk termasuk dirinya, mempersiapkan rencana untuk bisa mengepung organisasi induk besar yang berbahaya itu.


Minggu lalu dia masih bisa santai di rumah dan mengajak Anika jalan-jalan bersama Irina di taman, tapi kali ini, bahkan di hari Minggu pun dia tak bisa menemaninya. Yuri kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi rekan kerjanya.


"Tolong sambungkan ke Kairi."


Dia menyerahkan ponselnya ke Anika yang awalnya tampak bingung tapi langsung meneteskan air mata begitu mendengar suara pria yang dulu menculik dirinya, tapi juga telah menghapus traumanya, cinta pertamanya.


"Halo?" Suaranya yang dalam dan sedikit parau berhasil menghapus kerinduan Anika.


"Kamu kapan pulang Sayang?" tanyanya setelah berhasil menenangkan diri dan menahan air mata rindunya.


Di ujung lain, Kairi yang sedang melatih ototnya dengan mengangkat barbel di tangan kiri dan kedua kakinya, terdiam masih dengan nafas tersengal-sengal. Dia tak menyangka istrinya akan menelponnya.


"Kamu janji akan pulang dalam seminggu kan? Tapi kenapa sudah sepuluh hari kamu belum juga pulang menemuiku dan bayimu?" rengek Anika tetap tak bisa menahan air mata kesepian.


Kairi yakin perubahan hormon akibat kehamilan istrinya membuatnya manja seperti sekarang ini. Dulu dia pernah merasakannya dan merasa istrinya sangat menggemaskan. Hanya karena ada sedikit tulang tersisa di ikan salmonnya saat makan siang bisa membuatnya mengomel sampai malam. Kairi menikmati masa-masa itu dengan menganggap istrinya lebih 'hidup' dari biasanya yang tenang dan hanya bicara seperlunya.


Tapi kali ini dia jauh darinya dan tak bisa menikmati masa itu.


Kairi menghentikan aktifitasnya masih terdiam, bingung harus mengatakan apa pada istri tercintanya. Dia sendiri merasa sedih tak bisa menemani Anika yang sedang hamil lagi.


"Kenapa bengong Kai?" Elle mendekati Kairi yang terdiam dengan barbel di tangan. "Sedang menelepon siapa?" tanyanya lebih lanjut melihat ponsel di telinga.


Anika yang mendengar suara cewek langsung merasa cemburu. "Kamu lagi berduaan sama cewek ya Sayang?! Bukannya kamu lagi kerja? Kalau lagi senggang pulang ke rumah dong!"


Rengekan istrinya yang menjadi-jadi malah membuat Kairi semakin bersalah.

__ADS_1


"Maaf, saya mengganggu ya?" Sebelum Elle sempat pergi dari sana, Kairi mendorong wanita itu sampai jatuh dan mencekik lehernya sampai mantan pelayannya itu kehabisan nafas dan tewas seketika.


Untung saja semua itu hanyalah imajinasinya.


Kairi terdiam dengan keringat dingin mulai bercucuran berusaha mengontrol dirinya. Dia merogoh saku celananya dan mengambil obat penenangnya, langsung meminum tiga pil sekaligus sebelum kembali menyimpannya di saku.


Dia benci bila cinta satu-satunya merasa tak bahagia dan selalu merasa ingin melenyapkan siapa saja yang menjadi penyebabnya, entah disengaja maupun tak disengaja. Pemikiran ekstrim yang terus berputar di kepalanya ini membuatnya berbeda dari manusia normal lainnya. Tak ada yang bisa melihat isi kepalanya, tak ada yang memahami kesengsaraannya mengatasi semua penyakit mentalnya sendirian.


"Sayang? Kenapa diam?"


Suara istrinya langsung menyadarkannya kembali. Obatnya mulai bereaksi dan Kairi kembali fokus ke realitas.


Dia sedang melatih otot di pusat kebugaran markas kepolisian.


Istrinya sedang menelepon dirinya.


"Maaf sayangku, aku sangat merindukan kalian," katanya akhirnya setelah selesai bertarung dengan otaknya sendiri. Senyuman lembut menghiasi wajahnya seolah istrinya sedang berdiri di hadapannya.


Dari jauh Elle memperhatikan Kairi yang sedang bicara lewat telepon. Sudah lama dia tak melihat ekspresi mantan majikannya itu, ekspresi tak berdaya dengan senyuman tulus. Rasanya Kairi seperti memiliki dua kepribadian yang bertolak belakang. Senyuman sadis psikopat dan hawa membunuhnya hilang entah kemana bila dihadapkan dengan istrinya. Kelihatan sekali Anika bukan sekedar wanita yang dia cintai, tapi merupakan segalanya, nyawanya, hidupnya, keberadaan wanita itu seperti matahari untuk menerangi siang, seperti air untuk ikan di laut, oksigen untuk makhluk hidup. Tak tergantikan.


"Dasar psikopat posesif," gumamnya sedikit cemburu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Karena misi kali ini akan melibatkan salah satu organisasi gelap terbesar di dunia, rencana penyergapan dilakukan dari dalam dan luar. Tim inti akan menyusup ke dalam, sementara pasukan khusus akan menyerang dari luar.


Kairi telah berjanji pada istrinya untuk pulang dengan selamat, karena itu walau yakin bisa mengalahkan musuhnya, dia memilih untuk ikut pasukan yang berjaga di luar. Dia tak peduli bahwa semua mengharapkan dirinya untuk menyusup dan menyerang dari dalam bersama tim inti, yang terpenting baginya adalah bisa memenuhi permintaan Anika.


"Kita akan langsung menyerang begitu mendapat signal dari dalam!" perintah sang kapten yang juga bertugas memimpin pasukan di luar.


Namun setelah menunggu cukup lama melebihi waktu kesepakatan awal, sang kapten merasakan kejanggalan. Semakin lama menunggu, semakin mencurigakan yang membuat sang kapten semakin gelisah.


Kairi yang dari tadi berdiri siap siaga mulai merasa bosan. "Apa aku perlu menyusul?" tanyanya menawarkan diri.


"Terlalu berbahaya kalau kau masuk sendirian." Sang kapten tahu bahwa Kairi dulu pernah membantai habis satu markas sendirian, tapi tetap saja dia tak ingin mengambil risiko dan kehilangan murid berharganya itu.


Menunggu sejam lagi tak juga membuat tim inti muncul. Kairi sudah kehilangan fokus dan mulai mencari pelampiasan dengan memainkan pisaunya, mengukir pohon di dekatnya dengan nama istrinya seindah mungkin.


Sang kapten akhirnya mendapat kabar dari markas yang mengatakan bahwa signal para anggota yang semula hilang, mulai menunjukkan lagi keberadaannya.


"Apa?! Hanya milik Jack yang tiba-tiba menyala kembali?!"


Kairi mendengar nama rekan pertamanya disebut dan mulai menaruh minat. Pemuda tampan yang lurus dan masih perjaka, itu yang ada di benak Kairi bila mendengar namanya. Walau tak bisa diandalkan dalam pertarungan, tapi kemampuan investigasi dan ketelitiannya patut diperhitungkan. Dia sangat cekatan dan cepat tanggap bila diberi arahan.

__ADS_1


"Aku tak akan mengambil risiko itu!" Sang kapten tampak masih berbicara lewat ponsel miliknya.


Dia tetap tak setuju membiarkan Kairi seorang diri memasuki markas musuh yang sangat berbahaya.


"Kalau ingin membawanya masuk, siapkan orang untuk menemaninya!" pintanya lebih lanjut yang kemudian disetujui oleh pusat.


Kairi yang semula bosan akhirnya merasa bersemangat. Dia sebenarnya tak memerlukan bantuan, tapi dia mengikuti saja perintah atasannya itu.


Dengan bom asap dan berbagai peralatan pendukung lainnya, mereka berhasil memasuki markas dengan mudah. Sangat mudah sebenarnya. Di dalam gedung tak ditemukan seorang pun musuh. Mereka terus berjalan menyusuri tiap lorong, memasuki gedung semakin dalam menuju arah signal dari Jack.


Namun setibanya di sana, pemandangan mengejutkan telah menunggu mereka.


Elle, Pierce, Sniper, semua rekannya terbunuh ...


.... dan Jack lah pelakunya.


Kairi sungguh-sungguh tak menyangka rekannya itu tega membunuh anggota timnya sendiri.


Dari caranya mereka mati, sepertinya tak ada perlawanan, yang berarti mereka semua tak menyangka akan dibunuh oleh Jack, orang yang mereka percaya.


"Kenapa? Terkejut?" Dia berdiri di antara mayat para tim, di tengah aula luas. Di tangannya dia memegang ponsel yang ternyata bisa menjadi senjata api yang pasti telah dia gunakan untuk membunuh mereka semua.


Pasukan khusus yang berdiri di belakang Kairi mulai bersiap-siap untuk menembak Jack, menunggu aba-aba dari Kairi. Tapi Jack secara misterius berhasil menembak dan membunuh mereka semua dengan senjata rahasianya itu. Dalam sekejap semua pasukan khusus telah tumbang.


Kairi tak berani menoleh ke belakang dan hanya mendengar suara tubuh yang berjatuhan. Dia tahu pemuda di hadapannya ini berbahaya dan sudah bersiap untuk mengeluarkan senjata dari tangan palsunya.


"Tenang Kai, jangan bertindak gegabah!" serunya keras-keras yang membuat Kairi bingung dengan maksud dari kalimatnya.


Perlahan Jack berjalan mendekati rekannya itu, memasukkan senjatanya ke dalam saku celananya. Dia mengangkat tangannya di hadapan Kairi seolah menyerahkan dirinya.


Kairi tambah bingung dengan tingkahnya. Dia masih bisa berpikir jernih dan tak langsung menyerang rekannya itu walau geram melihat timnya termasuk Elle telah dibunuh olehnya.


Jarak mereka sekarang hanya beberapa senti. Tubuh tinggi Kairi berhasil diraih oleh Jack yang tersenyum menengadah ke atas sebelum mendekati telinganya untuk membisikkan sesuatu.


"Pesan dari Yannick Evans, 'keturunanmu akan menjadi milikku' ...."


Tanpa pikir panjang, Kairi menusuk perut Jack dengan tangan yang telah dia ubah menjadi senjata. Jack tewas seketika di tangannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai pembaca setiaku 🤗


Maaf telah lama menunggu, sebenarnya author mau up kemarin, tapi baru terealisasikan hari ini..

__ADS_1


Semoga tetap menarik ya, saya tunggu dukungannya selalu ❤️


__ADS_2