
Saat bekerja sebagai perawat kesehatan mental, Anika selalu mencari cara untuk bisa menemui Kairi. Tapi sangat sulit untuk mendekati ruangan khusus itu dalam waktu lama dengan banyaknya penjagaan.
Bahkan ada petugas khusus untuk membersihkan ruangannya sehingga tak ada kesempatan untuknya. Ketika Kairi dibawa mandi atau keluar untuk check up pun, dia selalu dikawal dengan penjagaan yang ketat.
"Apa yang sebenarnya terjadi padanya, kak?" tanya Anika pada salah satu seniornya saat makan siang.
Seniornya menggelengkan kepalanya. "Saya juga kurang tahu."
"Dengar-dengar sih dia pindahan dari RSJ kota sebelah, karena peralatan disana kurang lengkap." jawab seorang rekan kerja yang lain.
"Kenapa dia harus diisolasi ya kak?" tanya Anika pura-pura penasaran.
"Terakhir dia pernah coba bunuh diri dengan membentur-benturkan kepalanya, makanya sekarang masuk ruangan khusus."
Anika membolakkan matanya. Dia terkejut sekaligus sedih mendengar itu.
"Kenapa tanya-tanya? Ganteng ya?" tanya teman kerjanya bercanda.
"Ganteng-ganteng kalau gila ngapain!?" ucap yang tertua dari mereka mulai tertawa. Anika pun pura-pura merasa lucu. Padahal dalam hati dia merasa sangat iba dengan kondisi Kairi.
Suatu malam ketika Anika harus menyelesaikan banyak pekerjaan karena ada karyawan yang cuti, Anika baru bisa menyelesaikan pekerjaannya lebih lama dari biasanya.
Di sore hari isi rumah sakit sepi. Anika telah menduga ini sehingga dia segera menuju bilik Kairi sebelum shift malam datang.
Dia mencoba untuk mengetuk-ngetuk kaca jendela tapi tak mendapat respon.
Tatapan Kairi tetap kosong.
Dari pagi sampai malam posisinya nggak berubah. Apa otaknya sudah rusak?
Anika pun menyerah dan pulang ke rumahnya.
Walau dia tidak bisa bicara padanya, atau menyentuhnya, tapi Anika merasa cukup senang bisa bertemu dengan Kairi untuk sekedar melihatnya masih hidup.
Kairi orang yang telah menghilangkan traumanya. Kenyataan itu selalu dia simpan dalam hatinya.
Anika sedikit membayangkan kisah cintanya dulu bersama Kairi sampai disadarkan oleh suaminya.
"Gimana dengan pekerjaanmu?" Yaslan baru selesai mandi dan sudah mengenakkan pakaian tidurnya. "Sudah hampir sebulan kerja disana ya?"
Anika sadar dia sudah bersuami dan berusaha mengubur kenangan manisnya ke bagian terdalam kepalanya.
"Menyenangkan mas." jawab Anika berusaha tak telihat terlalu senang.
Yaslan memandangnya lekat-lekat. "Berhenti panggil mas dong! Panggil Baby, atau cintaku, atau sayangku."
Anika justru teringat dengan Kairi lagi ketika dia memanggilnya dengan sebutan sayang.
"Sudah minum obat tidur, Sayang?" tanyanya menggenggam tangan Anika dan menciumnya.
Tangan yang besar tapi lentik mirip Kairi.
"Belum," jawab Anika menatap Yaslan walau pikirannya ke hal lain.
"Kalau gitu hari ini boleh coba nggak sayang?" tanyanya sambil terus melanjutkan kecupannya dari dahi menuju bibir sampai ke leher.
Ciuman ringan sudah biasa mereka lakukan, bahkan saling berpelukan tanpa busana. Tapi saat Yaslan mulai lebih intim selalu saja Anika ketakutan.
__ADS_1
Kali ini Anika merasa bisa lebih mengontrol dirinya. Dia membiarkan Yaslan menanggalkan gaun malamnya, sekarang mulai mencicipi bagian lain.
"Gimana? Masih takut Yang?" Yaslan ingin memastikan Anika dalam keadaan siap untuk menerima dirinya. Dia tak ingin memperburuk trauma yang dideritanya.
Namun betapa terkejutnya Yaslan ketika mendapat jawaban ciuman panas dari istrinya yang telah melingkarkan seluruh tubuhnya ke tubuh Yaslan dengan penuh gairah.
Anika menanggalkan pakaian Yaslan sambil terus menciumnya, kemudian mulai memanjati pria yang telah terbaring heran itu.
Setiap sentuhan yang dia rasakan dia lakukan sambil membayangkan pria lain. Tubuh yang lebih kurus dan putih pucat, tubuh yang penuh luka.
Mereka menyelesaikan hubungan intim mereka dalam waktu yang cukup singkat, dimana Anika yang lebih aktif.
"Kamu punya sisi liar juga ya." kata Yaslan terbaring penuh keringat dengan aktifitas mereka barusan.
"Maaf, nggak suka ya..." Anika sedikit malu dengan dirinya sendiri. Dia merasa telah berlebihan mengekspresikan gairah cintanya.
"Nggak kok! Aku suka!" jawabnya jujur. "Hanya saja kamu seperti orang lain."
Yaslan membelai rambut Anika. Akhirnya istrinya menjadi miliknya. "Kamu belajar kayak gitu darimana sih?" tanyanya sedikit curiga.
"Nonton." Anika telah berbohong. Tidak mungkin dia bilang terus terang telah mencoba segala posisi dengan 'suaminya' yang dulu.
Yaslan tertawa mendengus. "Istriku yang pemalu ternyata punya gairah seksual yang tinggi." Dia berpikir bahwa karena traumanya, Anika selama ini telah menahan hasrat seksualnya. Dia merasa lega mengetahui istrinya ternyata masih normal, bahkan jauh dari yang dia bayangkan.
"Berarti traumamu sudah hilang ya Sayang?" tanyanya sambil terus membelai rambut panjangnya.
Anika masih diam menutup setengah wajahnya dengan bantal. Banyak sekali rahasia yang dia sembunyikan dari suaminya.
"Iya." jawabya tak lebih.
Saat berhubungan badan dengan Yaslan tadi, Anika sebenarnya membayangkan Kairi. Dengan melakukan itu, Anika bisa mengatasi traumanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Yaslan merasa lebih puas dengan kehidupan rumah tangganya setelah bisa lebih intim bersama istrinya. Studi yang melelahkan dan kerjaan yang panjang terasa lebih ringan.
Walau begitu dia sedikit kaget karena Anika setiap malam meminta jatah. Dia merasa libido istrinya lebih tinggi daripada dirinya sendiri.
Mungkin karena masih muda, batin Yaslan setelah selesai bercinta dengan wanita kesayangannya itu. Dia dan Anika memang terpaut empat tahun.
Hari ini hari Minggu. Beberapa sahabat Yaslan berencana untuk main ke rumah barunya.
"Gila! Beruntung banget kamu, Lan! Istriku aja selalu diam kayak boneka tiap kali kita main!" Sahabat seprofesinya kelihatan iri mendengar pengakuan Yaslan.
"Mungkin dia pura-pura trauma, padahal sebenarnya dia takut dikira pelacur!"
"Jaga mulutmu oy!" sahut sahabatnya yang lain memperingati.
"Traumanya itu nyata kok." Yaslan mulai bicara. "Dulu dia sering terbangun karena traumanya itu."
"Kasian juga ya."
Yaslan hanya bilang trauma di masa lalu, tidak lebih. Dia tidak bilang apa yang pernah dialami istrinya sampai menyebabkan trauma.
"Ngomong-ngomong dimana istrimu?" Sahabatnya sadar belum bertemu dengan Anika.
"Dia mendadak diminta masuk kerja."
__ADS_1
"Hari Minggu gini? Rajin banget ya istrimu! Istriku di rumah kerjanya nontooon terus!"
"Udah dong jangan dibanding-bandingin terus! Kasian aku yang jomblo sendirian."
Yaslan tersenyum bangga dengan istrinya. Dia melupakan kenyataan bahwa istrinya telah menyembunyikan banyak hal darinya.
Di tempat Anika bekerja, kepala rumah sakit memintanya untuk menggantikan seorang perawat yang mendadak sakit. Walau belum mendapatkan sertifikasi keperawatan, Anika mulai dipercaya untuk mengisi list pasien dan hal lain yang melibatkan pasien secara langsung.
Anika sedang menjaga pasien rumah sakit jiwa orang dewasa yang dianggap hampir sembuh dan sudah dipercaya untuk keluar dari bilik mereka.
Kebanyakan pasien rawat inap yang dia lihat mengalami skizotipal*, gangguan perasaan dan gangguan mental akibat kerusakan otak.
Walau tingkah laku dan ekspresi mereka berbeda, tapi mereka juga manusia. Anika merasa sangat prihatin melihat mereka. Cacat secara mental tidak terlihat seperti cacat fisik, sehingga banyak yang memperlakukan mereka seperti orang sehat. Padahal justru mereka lebih membutuhkan perawatan karena tak bisa berpikir normal.
Saat dia membuka-buka buku catatan rawat inap pasien, Anika menemukan namanya.
Kairi Evan.
Dia membaca sekilas profilenya dan diagnosa penyakitnya.
Gangguan mental skizofrenia paranoid.
Anika mengingat-ingat kembali buku psikologi yang sering dibacanya, dan tahu bahwa gangguan ini merupakan salah satu jenis skizofrenia dimana pengidapnya mengalami delusi bahwa orang lain ingin melawan dirinya.
Setelah sedikit mencatat informasi di buku catatan kecilnya, Anika dikagetkan oleh suara yang memanggilnya.
"Ibu Anika!"
"Ya Bu!"
"Ibu diminta membantu perawat untuk memandikan pasien."
"Baik Bu saya segera kesana."
Anika memasukkan buku catatannya ke dalam kantong seragam dan segera menuju bagian kamar mandi pasien.
Untuk mencegah hal yang tak diinginkan seperti bunuh diri dan sebagainya, bilik pasien tak dilengkapi dengan kamar mandi. Langit-langit bilik pun harus tinggi, dan tempat tidurnya harus disambungkan ke lantai.
"Ibu gosok badannya dengan waslapp ya Bu."
Anika mengambil waslapp yang diberikan. Ada sekitar empat orang di dalam kamar mandi.
Memandikan pasien orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) cukup menantang. Karena keadaan, ada yang dimandikan di kasur, ada juga yang sudah bisa mandi sendiri walau tetap dengan penjagaan. Kali ini pasiennya cukup berbahaya sehingga memerlukan penanganan ekstra.
Saat mendekati pasien, Anika mengenali pemilik tubuhnya yang penuh bekas luka. Pasien masih mengenakan celana untuk privasi, tapi seluruh kakinya pun tak meninggalkan kulit mulus.
Walau tangannya sedikit gemetar, Anika dengan lembut mulai membasuh badannya. Dua perawat pria di kiri-kanan menahan tangannya, dan seorang perawat wanita memegang kepala shower.
Anika kemudian teringat kenangannya dulu, ketika Kairi pernah membasuh dirinya dengan tangannya yang masih terikat. Walau di awal dia ketakutan dibasuh oleh penculik dan pemerkosanya, tapi setelah mengenal Kairi, Anika bisa merasakan kesabaran dan kelembutan dalam setiap basuhannya.
Melihat keadaan ini, tanpa sadar Anika menangis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
*Skizotipal: Gangguan kepribadian yang menyebabkan seseorang kesulitan untuk menjalin hubungan dekat dengan orang lain karena merasa sangat tidak nyaman untuk berinteraksi.
Terima kasih banyak sudah baca ya..
__ADS_1
Mohon dukungan like dan komen agar bisa up terus😇