Salahkah Mencintai Psikopat

Salahkah Mencintai Psikopat
Bab 58 Rindu


__ADS_3

Dua bulan telah berlalu, Anika sudah keluar dari rumah sakit dan telah mendapatkan perawatan kejiwaan setelah mengalami keguguran. Terlalu banyak yang telah terjadi pada dirinya, membuatnya bisa berdamai dengan masalah yang dihadapinya. Dia telah sampai di titik dimana dia sudah putus asa akan takdir hidupnya.


Anika telah menjadi hampa


Dia sekarang tinggal bersama Yuri dan Irina di rumahnya karena rumah Yuri telah ditutup setelah ditemukan mayat. Pengasuh yang biasa menjaga Jane ditemukan termutilasi di dalam freezer box di gudang milik Yuri. Polisi itu sendiri yang menangani investigasi pembunuhan di rumahnya sendiri dan merasa sedih ikan hasil tangkapannya tercemar daging manusia ulah istrinya.


Anika yang selama ini percaya kebohongannya berpikir Yuri beneran seorang kanibal, padahal dia ternyata melakukannya untuk menutupi kegilaan istrinya. Dia ternyata pria normal.


"Maaf selama ini aku sungguh-sungguh berpikir kamu seorang kanibal," ucapnya minta maaf ketika mereka sedang makan malam bertiga. "Ternyata kamu normal ya." tambahnya sedikit mengusiknya.


Yuri telah selesai makan dan sedang menyuapi putrinya. "Apakah kamu pikir ada manusia yang murni normal di dunia ini? Semua manusia pasti punya sisi cacat mental."


Selama dua bulan tinggal bersama Yuri membuat Anika sadar bahwa tampilan luarnya yang tampan, berwibawa dan bertubuh atletis hanya sampul luarnya saja, karena jalan pikirnya sering berbeda dari orang pada umumnya. Lama tinggal bersamanya membuat Anika yang semula berpikir bahwa dia keren dan kaku, tapi ternyata unik dan konyol.


Seperti ketika Yuri melihat istrinya dibunuh di depan matanya oleh kakaknya sendiri, dia justru menganalisa kecepatan Kairi memecahkan kaca dan mengambil pecahannya untuk dia gunakan menggorok leher istrinya sendiri. Dia tak menunjukkan emosi sedih atau kaget istrinya dibunuh di depan matanya.


Yuri juga sangat sayang putrinya sampai sering lupa waktu untuk berangkat kerja karena sibuk bermain dengannya. Bahkan dia pernah membawanya ke kantor karena merasa bahagia Irina sudah berhasil memanggilnya papa sehingga ingin dia pamerkan ke teman-teman kantornya.


Keunikannya ini membuat Anika melupakan pesona tampan dan perawakan gagahnya.


"Kenapa menikahi Jane kalau tidak mencintainya?" tanya Anika penasaran setelah tahu Irina sebenarnya bukan anak kandungnya.


Yuri berhasil membuat Irina tertidur dan telah kembali setelah meletakkannya di box bayinya. "Apa kamu pikir menikah perlu cinta?"


Anika memikirkan pertanyaannya. Ketika dia menikahi Yaslan dia tak yakin dulu benar-benar mencintainya. Dan Kairi dulu pun memaksanya menikah sehingga dia tak merasa pernah menikah karena cinta.


"Yang penting bisa kerja sama dengan pasangan dan saling menguntungkan, seperti itu pernikahan yang ideal."


Mendengar itu, Anika tak setuju dan ingin membalasnya namun Yuri melanjutkan opininya


"Kalau kamu menikahi orang yang kamu cintai, terkadang kamu akan menjadi egois dengan memaksakan pasanganmu untuk menjadikannya sesuai dengan ekspektasimu. Seiring berjalannya waktu pernikahan juga akan menjadi hambar dan cinta akan memudar.


"Tapi kalau kamu menikahi pasanganmu karena berpikir bisa saling menguntungkan, biarpun cinta memudar, kalian akan saling membutuhkan dan tak mudah berpisah."


Apakah benar seperti itu? batin Anika mulai berpikir bahwa dulu dia pun menikahi Yaslan karena bisa mencapai mimpinya bekerja menjadi perawat ODGJ. Namun pernikahannya justru kandas karena merasa tak cukup bisa mencintainya. Apakah Anika telah salah memutuskan pernikahannya begitu saja?


"Jangan terlarut dalam pikiranmu sendiri." Yuri menjentikkan jarinya ke hadapan Anika untuk menyadarkannya. "Yang kukatakan tadi semua hanya opiniku saja."


Anika tersadar dan mulai membereskan peralatan makannya. Akhir-akhir ini dia merasa sering melamun.

__ADS_1


"Hari ini saya harus patroli malam. Tolong pastikan pintu rumah terkunci."


Terkadang Yuri suka bicara formal dengannya, padahal mereka seumuran yang membuat Anika heran. "Kenapa masih suka bicara formal denganku?"


Yuri mengenakkan jaket polisinya dan mengambil topinya. "Saya harus sopan dengan istri kakak saya kan, Nyonya," katanya sedikit tersenyum sebelum berangkat kerja.


"Yuri!" panggil Anika sebelum dia memasuki mobil dinasnya. "Katakan pada Kairi, aku merindukannya."


Yuri hanya tersenyum dan mulai menyetir mobilnya menjauhi Anika.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di markas kepolisian tempat pelatihan tembak, Kairi mengenakkan headset sebagai peredam telinga dan sedang fokus menembak target menggunakan senjata api.


Selama dua bulan ini dia terus dilatih untuk bisa bertarung dan membela diri. Dia juga dibekali berbagai informasi mengenai para gangster yang salah satu organisasi terbesar dipegang oleh ayahnya sendiri. Dia harus menjalani hidup seperti di penjara, makan seadanya dan tak diijinkan keluar sampai siap diberangkatkan menjalani misi.


Terkadang Yuri datang mengecek keadaan kakaknya di tempat pelatihan itu selesai bekerja di kantor kepolisian. Baru dua bulan dia dilatih dan perkembangannya sudah sangat pesat. Rencana awal pelatihan setahun bisa dipersingkat dengan kemampuannya.


"Kalau tembak langsung ke jantung atau kepala agar langsung tewas, Kak." Yuri menasehati kakaknya mengenai pengetahuan dasar. Dia yakin Kairi sudah tahu, tapi penasaran kenapa kakaknya itu terus menembak di area lain.


"Ku buat mereka tersiksa dulu sebelum mati," jawabnya dingin.


"Istri tercintamu merindukanmu," kata Yuri menepuk bahu kakaknya selesai pelatihan.


Kairi terdiam. Dia juga merindukannya tapi tak bisa keluar dari sini sebelum misinya selesai dijalankan.


"Kak, kudengar penjaga malam ini tukang tidur," bisik Yuri seolah memberi petunjuk untuk bisa menyelinap keluar. "Pastikan dirimu tak tertangkap."


Ketika semua terlelap dan lampu utama dimatikan, sesuai perkataan adiknya, penjaga pintu depan sudah terlelap di kursinya. Kairi yang terbiasa menyelinap di berbagai keamanan rumah dengan pengalamannya dulu, dengan sangat mudah berhasil lolos. Penjagaan yang memang tak seketat di penjara terlalu mudah baginya.


Hampir sejam Kairi berlari melewati hutan dengan mengandalkan instingnya dan menemukan rumahnya dengan lampu kamarnya yang masih menyala. Dia melihat Anika lewat jendela yang terbaring di kasur dengan mata masih terbuka dan tak tega melihat air matanya mulai jatuh. Anika pun meminum obat tidur karena akhir-akhir ini susah tidur, tak lama kemudian dia terlelap.


Melihatnya terlelap Kairi menyelinap masuk lewat jendela dan naik ke ranjangnya, memeluk istrinya dari belakang. Dia merasakan ketenangan dan kehangatan yang sudah lama tak dia rasakan dan malah terlelap dalam tidurnya.


"Kairi?" tanya Anika keesokaan harinya, heran merasakan kehadiran suaminya di punggungnya. Dia menoleh ke belakang dan seperti mimpi sungguhan melihat suaminya yang telah terbangun.


Rencana Kairi yang semula hanya ingin melihatnya diam-diam tanpa sepengetahuan istrinya telah gagal total. Karena merasa terlalu nyaman dia tertidur sampai keesokan paginya


"Kupikir kamu tak diperbolehkan keluar?" tanya Anika tak yakin.

__ADS_1


Kairi hanya terdiam, bingung apa yang harus dia katakan.


"Aku ingin melihat Istri cantikku," katanya sekarang mulai mencium punggungnya dan membuka atasan Anika. "Aku rindu tubuh sexy istriku."


Kairi mulai menyelipkan tangannya dan bermain dengan dada istrinya sambil terus mencium tengkuk lehernya. Anika juga sangat merindukan sentuhan dan pujian suaminya, membuatnya terlarut dalam interaksi cinta mereka.


Baju sudah berserakan di lantai dan mereka terus menerus menukar ciuman panas yang selama ini tertahan. Namun ketika mereka mulai lebih intim, Kairi tiba-tiba menghentikan aktifitas mereka dan duduk di tepi ranjang.


Anika memeluknya dari belakang. "Kenapa sayang?"


Sebenarnya Kairi merasa belum tenang bila belum berhasil membunuh ayahnya. Sejak kehilangan calon bayi mereka, dia berusaha menahan nafsunya untuk tak menanam benih lagi ke dalam rahim istrinya. Kairi sedikit mengalami trauma, dan menyiksa dirinya dengan hukuman ini karena tak bisa melindungi bayi dan istrinya. Dia tak ingin lagi kehilangan siapapun.


"Aku harus pergi," ucapnya setelah lama diam dan kembali mengenakkan pakaiannya.


Anika sadar tubuh suaminya terlihat lebih berotot dan melihat tangannya yang hilang telah tergantikan.


"Kamu dapat tangan baru ya Sayang?" tanyanya berdiri menyentuh tangan yang terlihat seperti tangan robot itu.


Kairi menggerakkan tangannya dan Anika kagum dengan pergerakannya yang sudah seperti tangan asli. "Hebat!" serunya kagum.


"Ini tak sebagus tangan asli yang bisa meremas dada indahmu, Sayang." Seperti biasa Kairi kembali mesum yang membuat Anika tersipu.


Dia pun segera menuju jendela dan keluar melewatinya. "Lain kali tutup yang rapat," katanya menasehati istrinya sebelum menciumnya lagi dan pergi menjauh.


Di luar Yuri sudah menunggunya dengan senapan api di tangan. "Semalam aku melihat beruang besar masuk ke jendela, dan ternyata itu kakakku sendiri. Untung saja nggak ku tembak."


Kairi tak peduli dengan ocehannya dan terus berjalan menjauh.


"Kamu bisa telat dengan kecepatan kaki. Ayo aku beri tumpangan!"


Sebenarnya Kairi sudah melanggar peraturan dan Yuri merasa bertanggung jawab. Dia pun mengantar kakaknya dengan mobilnya sekalian memberi alasan yang masuk akal kepada para penjaga.


"Kudengar sebentar lagi kamu sudah dipercaya menjalani misi ya Kak?"


Kairi terlalu fokus ke jalan yang membuat Yuri terlihat seolah bicara sendiri.


"Aku tak akan ikut misi, tapi nanti akan ada tim yang menemanimu. Jadi percayakan saja istrimu padaku."


Dalam hati Kairi sebenarnya ingin pergi membunuh ayahnya sendiri dan tak memerlukan tim. Dia tak akan menyangka bertemu dengan seseorang yang dia kenal dalam timnya nanti.

__ADS_1


__ADS_2