
Yuri telah membunyikan bel rumah berkali-kali sampai akhirnya dibuka oleh Nyonya Brown, seorang wanita berkulit gelap dan bertubuh gemuk, sangat kontras dengan balutan kimono sutra putih dengan bordir emasnya yang mencolok.
"Selamat pagi Nyonya Brown," sapa polisi tampan itu kepada istri rekan kerjanya. Dibalik masker wajah yang ia kenakan, ekspresi kesal terlihat jelas pada wanita berambut ikal itu. Kedatangan tamu di pagi-pagi buta, siapa yang tak merasa jengkel?
"Bila tak ingin terlibat masalah dengan kepolisian, mohon untuk tak bersuara dan mengikuti arahan saya," pinta Yuri sesopan mungkin sambil menunjukkan lencana polisi dan alat penyadap yang berhasil membuat wanita malang itu bungkam seketika sebelum berhasil mengeluarkan amarahnya.
Sebenarnya keluarga Dragunov dan Brown memiliki relasi yang baik. Hanya saja istri Brown kurang suka dengan Yuri yang naik jabatan dengan cepat karena koneksi, tak seperti suaminya yang berjuang keras untuk bisa mendapatkan posisinya sekarang ini.
Yuri dan wanita simpanan Jack itupun akhirnya dipersilahkan masuk dan diminta menunggu di ruang tamu. Dia kemudian menelpon rekannya untuk memastikan kedatangannya.
"Aku akan mengenakan kembali alat penyadapku karena akan terlalu mencurigakan bila mematikannya terlalu lama," katanya mengingatkan Brown. "Kalau kau tiba aku akan pulang. Pastikan untuk tak bersuara."
Waktu masih menunjukkan pukul 4 dini hari, yang berarti masih dua jam sampai Brown bisa pulang. Dia sebenarnya berharap untuk pulang dan tidur di kasur empuknya, tapi siapa sangka dia harus ikut dalam investigasi Yuri.
"Apa yang bisa kubantu?" tanyanya terdengar letih akibat kurang tidur.
"Pastikan untuk merekam percakapan sesuai catatan yang aku tinggalkan," tambah Yuri sebelum menutup telponnya dan memasang kembali alat penyadapnya.
Wanita penghibur di sampingnya dari tadi masih terdiam sedang konflik batin antara ingin meninggalkan tempat ini atau mengikuti saja pria tampan yang menjanjikannya sejumlah uang setelah berkonstribusi dalam investigasinya. Wanita berambut hitam itu berkali-kali mencuri pandang menatap wajah tampan polisi itu. Seperti wanita normal lain pada umumnya, dia berusaha terus mencuci matanya dengan ketampanan pria di sampingnya.
Yuri pun terlihat berkali-kali melirik wanita yang duduk di sampingnya itu. Dia tak menyangka wanita tambahan yang dia pesan itu ternyata mengaku adalah sahabat dari kekasih Jack yang telah menghilang setelah Jack tak tampak lagi di distrik merah.
Suasana hening dan saling lirik melirik itu terlihat seperti sejoli anak sekolah yang saling menyukai tapi tak berani untuk mengungkapkannya.
"Mau lanjut lagi aktivitas panas di rumahku ini, cantik?" goda Yuri terdengar kaku dan tak alami. Dia sebenarnya menyiapkan skenario pulang dari distrik membawa salah seorang pe*cur ke rumahnya. Agar tak mencurigakan, alat GPS pun dia tinggal di rumah kakaknya.
Wanita berambut gelap itu bingung apa yang mau dilanjutkan. Melanjutkan interviewnya atau aksi di ranjang yang sebenarnya tak terjadi? Dia hendak bertanya sebelum Yuri menyodorkan secarik kertas.
'Baca keras-keras: 'Tuan perkasa yang gagah berani, mari kita melanjutkan gairah di ranjang sekali lagi.'
__ADS_1
Wanita itu justru menahan tawa membaca kalimat norak yang telah ditulis oleh Yuri yang membuat pria sok playboy itu tersinggung karena telah susah payah mencari kalimat yang sesuai dengan suasana saat ini.
"Mari saya basuh badan tuan dan pijat dengan tubuh saya," ajak wanita penghibur itu dengan luwes sambil menarik Yuri masuk ke kamar mandi.
Walau kesal karena wanita itu tak patuh pada perintahnya dengan mengikuti skenario yang telah dia susun untuk mengelabui anak buah yang sedang mengintai percakapan mereka. Tapi ternyata perkataan wanita itu membuat dua polisi muda yang mendengarnya tak berdaya dan mulai berfantasi yang tak senonoh. Mereka iri pada bosnya itu dan telah melupakan tugas utama mereka untuk mengintai dan menulis laporan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Siapa Anda?" tanya Anika tampak tak takut sedikitpun. Dia masih heran kenapa seorang pria yang terlihat elit datang di tokonya yang masih tutup.
Tamu tak diundang yang datang malam itu mengeluarkan lencana polisi dan menunjukkannya kepada wanita hamil di hadapannya itu.
"Saya adalah atasan dari saudara ipar Anda Nyonya. Bolehkah saya masuk?"
Awalnya Anika tampak ragu. Dia tahu polisi sedang mengincar suaminya, yang berarti mereka adalah musuhnya. Walau dia tak tahu alasan Kairi menjadi buronan polisi, tak mungkin dia membiarkan musuh masuk ke dalam tokonya.
"Maaf saya ingin istirahat malam ini," jawabnya sengaja mengelus-elus perut besarnya dan hendak menutup pintunya sampai perkataan polisi itu menghentikan langkahnya.
Anika langsung mematung tak percaya dengan apa yang dia dengar dari atasan Yuri. Apa karena itu suaminya menjadi buronan? Karena itu suaminya dan Yuri merahasiakan hal ini darinya?
Walau masih terguncang dengan kenyataan baru yang dia dengar tadi, Anika tetap ingin memastikan kepada suaminya sendiri sebelum menelan mentah-mentah informasi dari pria asing yang mengaku adalah atasan Yuri.
"Maaf tapi Anda bisa datang lagi besok." Anika mencoba untuk menutup pintu kedua kalinya, tapi kali ini dihentikan oleh Kairi yang sedari tadi sudah berdiri di belakangnya.
"Jangan libatkan istriku pada rencana kotor kalian!" ancamnya terlihat sangat marah padahal kenyataannya tubuhnya masih lemas karena penyakit dan ketidak stabilan otaknya.
Pria berwibawa itu tersenyum puas berhasil menarik keluar Kairi yang telah lama diincar kepolisian.
"Anda tampak tak sehat, Kairi Evans." Para anak buah di belakangnya telah siap menodongkan senjata dari balik mantel mereka. Sebisa mungkin mereka tak ingin menarik perhatian masyarakat sekitar sehingga pergerakan mereka sangat hati-hati.
__ADS_1
"Maaf sekali, tapi kami datang tak bermaksud untuk ribut," jelasnya menyuruh anak buahnya untuk menurunkan senjata mereka. "Kami hanya ingin agar Anda menyerahkan diri secara sukarela, dengan begitu hukumanmu akan diringankan."
Kairi tak ingin percaya pada polisi yang telah memfitnah dirinya. Dia lebih membenci kenyataan mereka yang sampai tega melibatkan istrinya yang sedang hamil.
"Apa nggak ada pilihan lain selain itu?" tanya Kairi sebenarnya juga tak berharap mendapatkan jawaban yang bagus.
"Berarti Anda harus kami tangkap secara paksa," jawab pria di hadapannya itu sambil menggenggam senjata di pinggangnya, hendak mengeluarkan dan menodongkannya kepada Kairi.
Anika merentangkan tangannya ke samping dan berdiri di antara mereka, membentengi diri untuk melindungi suaminya. "Hentikan sekarang juga!" serunya putus asa, tak ingin ada pertumpahan darah yang terjadi di depan tokonya.
Para polisi terkejut dengan keberanian Anika dan kembali menyimpan senjata mereka.
"Nyonya sebaiknya jangan melibatkan diri dalam masalah kami," pinta si atasan berharap Anika bisa menyingkir dan Kairi bisa segera ditangkap.
"Saya nggak akan pergi kalau Anda masih berpikir untuk menangkap suami saya!" ucapnya lantang berharap kekuatan ibu hamil bisa melunakkan polisi dan membiarkan suaminya untuk bebas.
Tapi tentu saja sang komandan tak bisa begitu saja melepas Kairi yang sekarang berdiri di depan matanya. Lama diam berpikir, dia kembali meraih senjatanya, berharap rencananya yang berisiko bisa berhasil untuk menembak kaki Kairi dan membawanya ke markas polisi.
Sayangnya dia sedang berhadapan dengan seorang Psikopat yang mentalnya sedang tak stabil. Kairi lebih cepat selangkah dan telah berhasil mendorong tangan sang komandan yang sedang memegang senjata. Demi melindungi istrinya itu, dia berhasil menghindari peluru yang sekarang malah melesat menembus tenggorokan polisi komandan malang itu.
Darah menyembur keluar sedikit mengenai Anika yang langsung memekik melihat kejadian pembunuhan di depan matanya. Kejadian ini pun disaksikan oleh anak buah sang komandan yang langsung menodongkan senjatanya ke hadapan Kairi.
Dengan cepat, para anak buah polisi pun semuanya berhasil dibunuh Kairi menggunakan senjata dari sang komandan yang masih digenggam mayatnya itu.
Anika berhasil dia lindungi, tapi Kairi telah menjadi buronan sungguhan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Terima kasih banyak kepada para pembaca yang telah sabar menunggu kelanjutan kisahnya 😊
__ADS_1
Karena semangat dan dukungan dari para pembaca setia, author akan berusaha untuk up secara berkala agar membuat kalian menunggu tak terlalu lama🤗
Sungguh banyak terima kasih atas segalanya, tak ada pembaca tak ada juga cerita ini❤️