Salahkah Mencintai Psikopat

Salahkah Mencintai Psikopat
Bab 29 Hancur


__ADS_3

"Ibu ... hikshiks ..."


Anika kecil menangis di atas kasur, menahan darah yang mengalir dari bagian dalam paha atasnya.


"Tolong aku ... ibu ... sakit ... huhuhu ...."


Malam itu keperawanannya telah hilang direnggut ayahnya sendiri. Anika tidak tahu bagaimana harus menghadapi ini. Bagian bawah perutnya sangat sakit.


Sebelumnya, ketika ibunya pergi belanja, ayahnya selalu masuk ke kamarnya dan menyentuh bagian-bagian sensitif Anika ketika dia sedang belajar.


"Cepat belajar! Nggak usah pedulikan ayah!"


Hari lain, ayahnya memaksanya menonton video porno sambil memegang daerah kewanitaannya.


"Kamu mau coba kan? Nikmat rasanya, kamu pasti suka."


Dan malam dimana ibunya akan pergi bersama teman-temannya ...


"Ibu, aku mau ikut!"


"Kenapa? Kami harus belajar kan, ayahmu sudah mau menemanimu belajar."


"Tapi ... Ayah ..." Anika ingin sekali bilang. Dia ingin sekali meminta pertolongan.


"Ayo cepat, Anika!" teriak ayahnya.


Tapi Anika terlalu takut.


Kemudian, setiap malam, ada ibunya di rumah pun, setiap malam, ayah bejatnya melepas hasratnya pada Anika, anaknya sendiri. Gadis kecil tak berdaya harus melayani pria tua yang mesum. Kalau melawan dia akan dipukul sampai memar. Tubuh mungilnya semua dijilati dan disentuh penuh nafsu.


Pria bejat itu tidak peduli Anika menangis, dia tidak peduli anaknya tersiksa. Dia tidak peduli perbuatannya itu bisa menorehkan luka yang dalam, dia tidak peduli.


Yang penting dirinya merasa nikmat dan puas.


Karena merasa tidak berdaya melawan ayahnya yang tiap malam memaksanya berhubungan badan, sehingga sudah terlalu lama terlibat skandal memalukan ini, Anika bingung bagaimana caranya meminta tolong pada ibunya.


Dia hanya bisa berharap ibunya tahu dan menolongnya.


Tapi suatu hari, Anika mencuri dengar percakapan ibunya di telepon dengan seseorang.


"Hikshiks ... Anak itu ... Apa yang dia pikirkan sampai menggoda ayahnya sendiri?! Tiap malam! Hikhiks .... Anak nggak tahu malu! Menjijikan!"


Anika sadar tidak mungkin meminta pertolongan ibunya. Karena ibunya ternyata tahu, tapi tidak mau menolong dirinya. Dia bahkan menuduh putrinya penyebab semua ini.


Saat Anika kepergok ibunya di kamar mandi sedang mengeluarkan cairan menjijikan dari kem*luannya, dengan air mata bergelimang Anika mencoba untuk memohon.


"Tolong Bu, Anika nggak kuat. Tolong bilang ayah, atau ayo keluar dari rumah ini! Anika mohon, Bu!"


Tapi ibunya dengan tega berkata, "Jangan melawan ayahmu! Kamu tahu kita nggak mungkin bisa bertahan hidup tanpanya! Uang darimana?"


Ibunya melepas tangan, seolah membiarkan putrinya terus diperkosa.


Akhirnya Anika hanya bisa pasrah menghadapi siksaan ini setiap malam. Menangis seorang diri setiap malam. Menahan beban atas sakit mental dan fisik sendirian.


Sampai suatu hari periode menstruasinya berhenti.


Kenapa? Aku harus gimana? Aku sudah coba minum obat kenapa belum keluar darah?!


Anika ketakutan. Dia bingung apa yang harus dia lakukan? Kepada siapa dia bisa minta tolong?


"Hoeekkkk!!!" Karena pengaruh hormon, dia merasa mual dan mulai tidak bisa mengendalikan dirinya.


Ibunya yang melihat itu mulai curiga.


"Kamu kenapa?" tanyanya pada putrinya.


"Keracunan makanan."


"Buka bajumu!" Ibunya meraih bajunya tapi Anika berusaha melawan.


"Jangan sentuh! Ampun Bu!"

__ADS_1


Begitu berhasil mengangkat baju Anika dan melihat perut putrinya yang membesar, bukannya merasa terkejut, atau merasa iba, tapi ibunya justru merasa sangat jijik melihat putrinya yang hamil dengan suaminya sendiri.


Reaksi ibunya itu bagaikan diterpa badai. Anika merasa hidupnya tak ada artinya. Dia semakin takut dan merasa bersalah. Dia merasa sangat jijik pada dirinya sendiri.


Akhirnya orang tuanya membawa putrinya ke dokter untuk melakukan pengguguran kandungan.


"Untuk bisa melakukan aborsi, diperlukan persetujuan dari ayah janin tersebut. Apakah ada cara untuk bisa mengontaknya?"


Ayahnya tak bertanggung jawab dan pura-pura bertanya, "Siapa yang menghamili putriku?!"


Ibunya bingung dan menangis sejadi-jadinya. "Kenapa putriku tak tahu malu sampai hamil diluar nikah?"


Ayahnya terus melarikan diri dari masalah, "Sabar mah! Nggak usah menangis."


Ibunya terlalu takut pada suaminya, "Huhuhu ... Kami harus gimana dok? Putriku sendiri tidak tahu siapa ayah dari janinnya. Dia mungkin telah tidur dengan banyak pria."


Orang tuanya bersandiwara menyalahkan putrinya sendiri atas kejadian ini yang mereka lakukan.


Karena sudah terlalu takut, sudah terlalu trauma, Anika tak bisa berkata-kata. Dia takut kalau mengatakan yang sebenarnya akan membuatnya lebih menderita. Tubuhnya terus gemetar.


Dia berpikir lebih baik untuk menanggungnya seorang diri.


"Itu karena kamu nggak pakai alat kontrasepsi! Jadinya seperti ini kan! Karena janinnya sudah membesar, biayanya jadi mahal!"


Selesai operasi pengambilan janin, ibunya masih terus menyalahkan putrinya.


Tubuh Anika telah rusak. Jiwanya telah rusak. Dia sudah tidak mau berpikir lagi. Apapun fitnahan yang dilontarkan kepadanya, dia diam. Terlalu banyak yang terjadi. Setiap malam dia diperkosa ayahnya, ibunya tidak menolong dirinya bahkan menyalahkan dirinya. Dan sekarang dia telah membunuh bayinya sendiri.


Depresi berkepanjangan membuat Anika merasa ingin lari dari kenyataan ini. Untuk mengatasi traumanya, Anika mengalami disosiasi*.


Lama libur dari sekolah, sahabatnya Bora khawatir padanya. Tapi Anika takut untuk cerita. Dia melarikan diri dari kenyataan dengan berbohong bahwa dia tidak apa. Setelah aborsi pun ayahnya tetap memperkosanya. Tapi Anika sudah tidak menangis lagi. Dia sudah pasrah.


Tidak mungkin ada yang memahami dirinya dan mau bersimpati padanya. Karena itu Anika menunjukkan kepada orang lain bahwa dia anak baik yang dibesarkan dengan penuh cinta.


Selama ini dia telah bersandiwara memiliki keluarga yang bahagia. Bahkan kepada suaminya.


Dia telah berbohong kepada semua orang.


"Sayang? Gimana perasaanmu?"


Anika sekarang terbaring di tempat tidur rumah sakit. Dia telah membuat suaminya khawatir.


Saat Yaslan mengulurkan tangannya untuk membelai istrinya, Anika ketakutan. Dia menghalangi tubuhnya tak mau disentuh. Seluruh tubuhnya bergetar. Traumanya yang dia pikir sembuh telah kembali, dia takut disentuh lawan jenis.


Setelah sehari menginap di rumah sakit, Anika menerima obat-obatan dan diperbolehkan pulang. Yaslan membawanya kembali ke rumah.


"Kamu cuti kerja aja dulu. Nanti aku coba hubungi kepala rumah sakit. Istirahat di rumah aja ya, Yang?"


Anika tidak menjawab. Pikirannya masih kosong.


"Ini aku siapin makan siang untukmu. Kamu mau aku suapin?"


Setiap hari Yaslan berusaha menghibur istrinya. Dengan sabar dia merawatnya, berusaha tidak menyentuhnya agar traumanya tidak kembali.


"Apa aku mengatakan sesuatu yang salah ya? Sampai traumamu muncul lagi?"


Anika menggelengkan kepalanya.


Seharusnya aku cerita padanya! batin Anika.


Tapi aku terlalu takut, aku takut kalau Yaslan juga akan memandangku dengan ekspresi yang jijik sama seperti ibuku dulu.


Anika merasa dirinya lemah. "Maafkan aku ... huhuhu .... Maafkan aku ...."


"Jangan khawatir, istirahat dulu yang banyak."


Sudah tiga hari Anika istirahat di rumah, dia mencoba untuk melakukan aktifitas seperti biasa. Tapi dia mulai berhalusinasi.


"Dasar pembohong! Kamu telah membohongi semua orang, membohongi suamimu. Anika yang sebenarnya menjijikan dan kotor. Anika yang sebenarnya itu pembunuh bayi..."


"Tidak ada suara, anggap aja radio rusak, aku nggak mendengar apapun!"

__ADS_1


Anika mulai mendengar suara-suara yang menyalahkan dirinya. Suara-suara dari dirinya yang lain. Setiap kali mengacuhkannya, suaranya semakin sering terdengar.


"Suamimu sangat sabar melayanimu. Kamu nggak pantas hidup bersamanya. Dia pasti akan meninggalkanmu kalau tahu istrinya wanita kotor dan seorang pembunuh."


Rasanya semua penderitaan yang selama ini dipendam oleh Anika sendirian, telah bocor keluar.


"Aku ingin mati!! Huhuhu .... Aku nggak tahan!"


"Jangan bilang seperti itu, Yang! Kamu harus lihat ke depan! Lupakan pria brengsek itu! Aku akan menolongmu, ayo semangat!"


Anika terdiam sesaat. Dia tahu suaminya tak mungkin bisa menolongnya. Dia hanya akan menambah lukanya. Kalau cerita pun dia tak akan paham penderitaannya. Traumanya hanya akan tambah parah.


Yaslan tak putus asa mendampingi istrinya. "Sayang, hari ini aku masak makanan kesukaanmu lho!"


Meja makan telah dihias dengan lilin dan bunga oleh Yaslan. Dia memasak menu spesial kesukaan istrinya. "Ayo makan yang banyak ya, Yang!"


"Kasihan sekali suamimu. Selalu menyiapkan makanan enak, mengurus rumah untukmu, dia selalu memanjakanmu. Tapi bayi di kandunganmu nggak pernah bisa merasakannya. Suamimu ingin punya anak, tapi kamu mana tahu kasih ibu? Mana tahu kalau pernah tega bunuh anak sendiri?"


"Hiks hiks maaf ... maafkan aku ... huhuhu ...."


Sudah seminggu istrinya seperti itu. Menangis, minta maaf, bengong, Yaslan mulai capek. Dia telah melakukan semuanya, tapi Anika tak juga membaik. Bahkan traumanya lebih parah dari pada sebelum mereka menikah.


Yaslan mulai putus asa.


"Selama ini kamu berbohong karena kamu egois. Kamu hanya menjaga reputasimu, kamu yang sebenarnya cewek kotor yang rusak. Keluargamu yang sebenarnya terkutuk! Di permukaan kamu kelihatan seperti anak baik-baik padahal kamu penuh dosa!"


"Sayang, yuk dimakan dong..."


"DIAM!! Berhenti bicara!!"


"Iya Yang, maaf ya."


"Menurutmu aku harus gimana?!"


Yaslan kaget melihat istrinya seolah bicara pada sosok yang ada di atasnya, bukan kepada dirinya.


"Hanya itu yang bisa aku lakukan! Hikshiks ... aku harus gimana?!"


"Kamu sama saja seperti ibumu. Kamu lari dari kenyataan dan cari aman. Dirimu yang asli itu orang yang kejam, yang tega membunuh darah dagingnya sendiri!"


"Bukan begitu ... hikshiks ... padahal sudah 10, tahun yang lalu, tapi kenapa..."


"Yang? Kamu bicara sama siapa?"


Suaminya yang normal pasti tidak bisa memahami dirinya yang jiwanya sudah rusak.


"Ayo tidur aja yuk, kamu harus istirahat."


Malam itu Anika tidak bisa tidur. Suaminya sudah terlelap pasti capek karena harus kerja dan belajar, belum harus mengurus rumah dan dirinya yang sakit jiwa.


Anika berdiri menuju lemari dan mengambil hoddie milik Kairi. Dia membawanya ke teras dan duduk di lantai sambil memeluknya erat-erat.


"Kairi ... hikhikshiks ..."


Selama ini tak ada orang yang bisa diandalkannya, tak ada tempat tinggal untuknya, tak ada orang yang memahami dirinya, sampai dia bertemu Kairi.


"Kairi .... Aku merindukamu ... hikshiks ...."


Tapi sudah terlambat, waktu itu Anika telah memilih Yaslan dan mengacuhkannya. Dia sudah tak bisa lagi mengulangi waktu.


"Kairi .... hikshikshiks .... Kalau saja aku bisa jujur dengan perasaanku ...."


Mukanya menelungkup di lututnya masih terus menangis, ketika dia mendengar suara seseorang.


"Jangan nangis lagi, 'istriku'."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


*Disosiasi: Pertahanan yang digunakan otak untuk mengatasi trauma kekerasan seksual.


Setelah ini bakal ada banyak Kairi, Yeay!

__ADS_1


__ADS_2