Salahkah Mencintai Psikopat

Salahkah Mencintai Psikopat
Bab 65 Kebahagiaan


__ADS_3

Hujan mulai berhenti ketika Yuri mendekati Kairi yang terlihat masih sadar walau tak bisa bergerak.


"Perlu bantuan?" tanyanya menawarkan diri dengan wajah tanpa ekspresi. Dia tak tahu bagaimana harus menanggapi ini, kasihan atau lucu melihat kakaknya mati kutu tertindih beruang raksasa. Dia tak pernah melihat kakaknya dalam keadaan tak berdaya seperti sekarang ini.


Tapi di lain sisi Kairi lagi-lagi dibuatnya kagum karena berhasil membunuh beruang yang sebenarnya selama ini meresahkan warga sekitar. Yuri pikir kalau kakaknya kumat dia berguna membasmi kejahatan, tapi berbahaya bagi istrinya. Sebaliknya, kalau dia tidak kumat, Kairi berubah jadi cowok lembut yang posesif pada istrinya, tapi berbahaya bagi orang lain yang salah bicara atau menyentuh istrinya sedikit saja bisa langsung dibunuh.


Kepribadian yang berlawanan dalam satu tubuh ini membuat Yuri sadar bahwa kehadiran Anika itu sangat penting sebagai penjinak kakaknya. Dia paham betul tak mungkin bisa memisahkan mereka.


Setelah membantunya keluar dari tindihan beruang yang beratnya mungkin sekitar 100 kilo itu, Kairi tampak tenang seolah habis membunuh tikus. Dia kelihatan santai dan tak kecapekan sama sekali. Hanya saja kakinya mati rasa karena tertindih beban berat terlalu lama yang membuatnya oleng sehingga Yuri membantunya berjalan.


Setibanya di rumah, mereka melihat tiga mobil polisi yang sudah terparkir di halaman. Yuri tak heran karena ini pasti panggilan otomatis dari alarm di gelang kaki kakaknya yang tersambung GPS. Anika terlihat kesal menjawab semua pertanyaan dari polisi yang seolah menyudutkannya dan dari tadi menuduh Kairi dengan berbagai tuduhan tak beralasan. Begitu melihat suaminya dari kejauhan, Anika langsung berlari dan memeluknya.


"Maafkan aku Sayang. Nggak seharusnya aku membiarkanmu yang lagi depresi sendirian," kata Anika memeluknya erat-erat. "Kamu nggak apa? Kenapa banyak darah?"


"Jangan khawatir, itu bukan darahnya," jelas Yuri sementara Kairi hanya terdiam menatap istrinya.


Melihat darah tetap membuat Anika khawatir. Entah suaminya yang terluka atau suaminya telah membunuh seseorang, dia tetap tak bisa tenang kalau Kairi dalam keadaan seperti ini.


Wajah khawatirnya ingin ditenangkan oleh Kairi. Dia mengulurkan tangannya ingin membelai istrinya yang sudah lama tak dia lakukan, tetapi niatnya terhenti oleh polisi yang mendatanginya dan langsung memborgol tangannya.


"Skorsmu akan diperpanjang di tahanan!" serunya dingin dan menariknya dengan kasar.


Kairi yang sudah pasrah hanya terdiam, tapi Yuri langsung membela kakaknya.


"Apa pernah polisi menangkap seseorang tanpa mendengarkan dulu perkataan saksi?" tanyanya menantang.


"Apa yang ingin kau bela dari orang yang jelas-jelas terbukti melanggar peraturan dengan mencoba untuk melarikan diri?"


Yuri tetap tak menyerahkan kakaknya dan membalas kesal, "Aku saksi bahwa tersangka hanya membela dirinya untuk menyelamatkan keluarga dan rumahnya dari serangan hewan liar!"


"Kau sebut pembelaanmu yang tanpa bukti itu bisa diterima?"


"Silahkan periksa sendiri di dalam hutan. Jangan lupa untuk membersihkan TKP!"

__ADS_1


Polisi itu pun memerintah anak buahnya untuk memeriksa ke dalam hutan sesuai petunjuk Yuri sambil terus menjaga Kairi dengan sebelah matanya, tak ingin melepas pandangannya dari pembunuh itu.


"Tenang saja kak, mereka tak akan menahanmu," bisik Yuri berusaha menenangkan kakaknya yang dari tadi masih memperhatikan istrinya.


"Terima kasih Yuri," kata Anika penuh harap dan tanpa sadar memegang perutnya.


Para polisi kemudian membebaskan Kairi begitu bukti ditemukan. Hal ini membuat Anika sangat lega dan Yuri langsung mencemooh rekan kerjanya itu. Polisi rekannya itu memang merasa dirinya saingannya karena tak dapat promosi jabatan seperti Yuri.


Dengan begini kasus pun ditutup.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari-hari berjalan lebih damai setelah itu. Kairi perlahan kembali membuka dirinya dan tak lagi menghabiskan waktu di dalam kamar. Dia memulai hobi berkebunnya kali ini dengan biji tanaman asli tanpa mayat. Saat makan pun dia mau bergabung dengan istri dan adiknya walau tak banyak bicara.


Melihat perubahan positif suaminya, Anika menjadi senang dan berpikir untuk mengumumkan kehamilannya saat makan malam hari ini. Kebahagiaannya tak bisa ia tutupi ketika menyiapkan makan malam sambil melihat Kairi yang berusaha sekuat tenaga menghibur ponakannya yang dari tadi menangis.


"Aku punya kejutan untukmu, Kak!"


Sayangnya Anika kedahuluan oleh Yuri yang ternyata juga memiliki kejutan untuk kakaknya itu.


"Mau kubilang sekarang atau nanti aja?" tanyanya antusias walau masih belum ditanggapi oleh Kairi.


Anika sebenarnya bingung kejutan apa yang bisa diberikan oleh adiknya itu. Apakah Kairi diperbolehkan kerja lagi? Atau mungkinkah Yuri akan pulang kembali ke rumahnya? Walau dia akan merasa kesepian, tapi mungkin itu lebih baik untuk meningkatkan mood suaminya.


Anika tak menyangka kejutan yang dimaksud malah akan mengancam rumah tangganya lagi.


"Ada misi baru yang ditawarkan untukmu."


Kali ini Kairi berhenti mengunyah makanannya dan mulai menatap Yuri, ingin tahu bahwa dia tidak sedang bercanda.


"Kalau kamu berhasil, skorsmu akan dicabut dan bahkan ditawarkan untuk bergabung di kepolisian bagian badan intelijen khusus," lanjutnya dengan bangga karena sebenernya dirinya pun selama ini berharap untuk masuk ke departemen itu.


Kairi yang memang selama ini memiliki tujuan untuk memberantas semua bentuk kejahatan yang akan membahayakan istrinya, terlihat penuh harap. Dia berpikir untuk serius mencari keberadaan ayahnya dan membunuhnya bila bisa bergabung dengan badan intelejen yang pastinya menyimpan banyak informasi rahasia.

__ADS_1


Namun Anika yang mendengar kejutan itu dari tadi tampak pucat pasi. Dia sebenarnya tak berharap suaminya kembali menjalankan misi yang akan memicu keluar sisi Psikopatnya. Apalagi bergabung ke badan intelijen yang pastinya selalu harus berhadapan dengan pembunuhan. Dia lebih berharap untuk bisa menjadi keluarga kecil yang sederhana dan membuka toko bersama suaminya, jauh dari pekerjaan yang berisiko mengganggu kesembuhan mentalnya.


Tanpa sadar Anika mengelus lagi perutnya dengan ekspresi sedih di wajah, membayangkan harus melahirkan dan membesarkan anak seorang diri. Dia tahu tak mungkin bisa melarang suaminya, karena itu Anika lebih memilih untuk diam.


"Aku nggak tertarik," jawab Kairi tiba-tiba yang membuat semua orang di meja makan terkejut.


"Kenapa kak? Bukannya ini yang kamu inginkan? Nanti seluruh informasi rahasia bisa diakses kalau kamu berhasil gabung dengan badan intelejen, dan kita bisa mencari tahu mengenai keberadaan ayah."


Yang dikatakan oleh Yuri tepat seperti yang dipikirkan olehnya. Walau sebenarnya tertarik dengan tawaran itu, tapi Kairi tetap menolaknya.


"Kalau bisa aku ingin kembali menjalani kehidupanku dulu dan mempersiapkan diri menjadi ayah yang baik."


Mereka tambah terkejut dengan pernyataannya itu dan hanya bisa diam menunggu penjelasan darinya.


"Maksudnya kamu mau bikin anak lagi, gitu?" tanya Yuri tanpa basa-basi karena kakaknya tak kunjung menjelaskan.


"Anakku sudah dibuat."


Anika tak percaya suaminya tahu bahwa dirinya telah hamil lagi dan memilih untuk berada di sampingnya. Dia menjadi tak bisa berkata-kata dan hanya memandang suaminya penuh haru dan mata berkaca-kaca.


"Maksudnya kamu sudah hamilin istrimu lagi kak?" tanya Yuri tak percaya dengan kalimat vulgar seolah Anika tak sedang duduk bersama mereka.


"Kalau kamu lanjut bicara, akan kurobek mulutmu!" ancam Kairi yang membuat adiknya langsung tutup mulut.


Anika sebenarnya merasa terlalu haru dan senang dengan pilihan hidup suaminya yang membuatnya tak terlalu mempermasalahkan Yuri.


"Jadi," lanjut Kairi sekarang menghadap istrinya. Kamu mau pindah lagi atau ingin tetap tinggal disini Sayangku?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kairi kembali!


Tapi tentu tak akan semulus ini rencananya...

__ADS_1


Maafkan author atas keabsenannya... Sekarang author telah kembali ke Jepang yang masih dingin walau sudah musim semi...


__ADS_2