
Dua tahun berlalu sejak Anika berhasil lolos dari genggaman Kairi.
Tapi selama dua tahun itu dia tak bisa melupakannya.
Anika sudah keluar dari tempat kuliahnya dulu dan telah pindah pulau jauh dari tempat dia tinggal sebelumnya. Dia takut Kairi akan sungguh-sungguh mencarinya. Walau begitu dia juga khawatir dengan keadaannya mengingat perpisahannya waktu itu.
Apakah Kairi selamat?
Selama dia hilang, orang tuanya sama sekali tak mengkhawatirkan dirinya. Tidak heran sih, pikirnya. Orang tuanya pasti lebih menginginkan dirinya mati.
Saat ini Anika sedang bekerja sambilan menjadi kasir di mini market sambil kursus ilmu psikologi. Anika ingin menjadi psikolog, tetapi dia harus mengumpulkan banyak uang untuk bisa kuliah dan perlu waktu yang panjang untuk bisa mendapatkan gelar itu. Dia mulai menjalani hidupnya dari awal lagi untuk bisa mencapai cita-cita barunya tersebut.
Suatu hari di mini market, dia bertemu seseorang dengan wajah yang tak asing.
Walau begitu Anika tak ingin terlalu memperdulikannya. Di selanya bekerja, dia menerjemahkan beberapa buku secara online. Bayarannya memang tidak seberapa, tapi dia berusaha untuk tak membuang sedikitpun waktunya.
"Tolong ini semua ya, Anika."
Dia kaget sosok itu mengetahui namanya saat hendak bayar di kasir.
Pria dengan kacamata dan penampilan rapi? Siapa dia?
"Mungkin kamu lupa." Pria itu mengulurkan tangannya. "Kenalkan, namaku Yaslan."
Anika kemudian ingat dengan pria ramah yang membeli minuman saat dia menjadi SPG di supermarket. Dan pria yang meminjam catatannya saat seminar di gedung kuliah lamanya.
"Lama tidak bertemu ya."
Anika hanya menunduk sedih mengacuhkan tangan yang terulur. Dia sibuk menghitung belanjaannya di mesin kasir.
"Semuanya 56.700 rupiah kak." katanya selesai menghitung.
Pria itu kemudian mengambil kartu namanya dan meletakkannya di atas meja kasir.
"Sampai nanti." pamitnya.
Anika tak ingin berhubungan dengan pria manapun. Belum melihat orang di masa lalunya hanya membuatnya sakit hati. Teman-temannya semua pasti sudah lulus dan mendapat gelar sarjana, sementara dia harus kehilangan setengah tahun pada psikopat tak jelas dan sekarang bekerja sebagai kasir.
Dia membuang kartu namanya itu tanpa melihatnya sedikit pun.
Hari-hari berikutnya pria itu datang lagi. Dan dia terus meninggalkan kartu namanya setelah dilayani oleh Anika.
Bahkan dia rela mengantri panjang, mengacuhkan petugas kasir lain, karena hanya ingin dilayani oleh dirinya.
"Aku masih punya seribu lagi kartu nama, dan tak akan pernah berhenti meninggalkannya untukmu sampai kamu menghubungiku." katanya begitu sampai di hadapannya.
Dasar cowok boros! Kenapa hidupku selalu dikelilingi cowok-cowok keras kepala!
Anika tetap mengacuhkannya dan menghitung belanjaannya seperti biasa.
"Semuanya 121.300 rupiah kak."
Pria itu memberi kantong belanjaannya kepada Anika.
"Maaf tapi saya tidak bisa terima dari tamu toko kak."
"Anggap saja aku meninggalkannya."
Saat dia pergi, Anika melihat isinya yang berupa makanan dan minuman kesukaannya, dan juga vitamin C serta obat-obatan.
__ADS_1
Kenapa dia tahu aku punya maag?
Karena sayang, Anika tidak membuangnya. Dia memberinya kepada anak jalanan yang sering lewat di depan mini market.
Di hari lain, Anika meliburkan diri karena merasa tidak enak badan. Sebenarnya dia ingin sekali pindah pekerjaan agar tak diganggu cowok bebal itu lagi. Dia sudah mencoba melamar di beberapa tempat, dan telah diterima menjadi pelayan restoran tak jauh dari kosannya.
Hari berikutnya dia belum juga sembuh. Perutnya yang sakit luar biasa, membuatnya mau tak mau pergi untuk mengontrol diri di puskesmas terdekat.
"Anika Ayu, silahkan masuk!" panggil perawat mempersilahkannya masuk ke dalam ruangan.
Dia disambut oleh senyuman seorang dokter muda yang selama ini menjadi pelanggan keras kepalanya.
Melihat cowok itu lagi, Anika menjadi cemberut.
"Apa keluhan anda?" tanya dokter itu ramah.
"Entahlah, sepertinya dokter lebih tahu." jawab Anika asal, mengalihkan pandangannya.
Dokter muda itu tambah tersenyum melihat tingkahnya.
"Silahkan berbaring di atas ranjang."
Anika malah menjadi panik mendengar kata ranjang.
"Baiklah, aku akan memeriksamu disitu. Tolong buka mulutnya."
Dia mengikuti perkataannya.
"Permisi ya," katanya mengeluarkan stetoskopnya. "Tolong tarik nafas, hembuskan."
Dokter itu kembali duduk dan mengeluarkan alat tensi.
Tanpa berkata apapun, Anika mengulurkan tangannya. Setelah selesai, dokter muda itu mencatat semuanya kemudian berbalik menghadap Anika.
"Apakah saya boleh memeriksa perutnya?" tanyanya dengan mendapat balasan anggukan dari Anika.
Tetapi saat ia hendak menekan-nekan perutnya, Anika tiba-tiba menahan tangannya. Dia merasa traumanya yang dulu muncul lagi.
"Sepertinya saya sudah sembuh dok!" ucapnya.
Dokter itu tertawa singkat.
"Menurut saya tidak begitu."
Ironisnya sakit perutnya muncul lagi membuat Anika mengelus-elus perutnya.
"Apakah anda tidak makan teratur akhir-akhir ini?"
Anika mengingat dirinya dulu tak pernah ada masalah hanya dengan memakan roti sobek seharian. Kenapa dia harus sakit maag sekarang?
"Saya sering melihat anda memegang perut. Ayo ikut saya!" ajaknya kali ini menuntun tangan Anika keluar kamar.
Anika langsung menepis tangannya.
"Anda mau bawa saya kemana dok?!"
"Untuk membuatmu sembuh."
Kebetulan jam menunjukkan jam istirahat siang. Dokter muda itu pun mengajak Anika makan di restoran yang akan menjadi tempat kerja barunya.
__ADS_1
"Saya sering makan disini." katanya setelah mereka duduk di meja.
Apa takdir hidupku tak bisa lolos dari pria ini? batin Anika pasrah.
Setelah memesan makanan, mereka jadi saling diam.
"Apa yang telah terjadi padamu?" tanyanya akhirnya, dengan pertanyaan yang sebenarnya paling ingin Anika hindari.
"Hanya ingin menyendiri." dustanya.
"Untuk menyendiri tak perlu lari dari kehidupanmu kan?" tanyanya khawatir dengan apa yang mungkin telah dialami olehnya.
Anika hanya diam. Dia memang telah diculik, diperkosa, dan disekap oleh seorang psikopat. Parahnya lagi dia telah jatuh cinta pada psikopat gila itu.
Tapi dia tak mungkin menceritakan hal ini kepada orang lain.
Setelah mereka selesai makan, Anika ingin membayar sendiri pesanannya yang ditolak mentah-mentah oleh Yaslan.
Anika sudah mengingat namanya sekarang.
"Mulai hari ini makan yang teratur."
"Baik." dustanya lagi.
Mana mungkin bisa makan enak-enak dengan uang pas-pasan! gumamnya dalam hati.
"Kamu tinggal dimana?"
Anika tak menjawab. Sebagai gantinya di menyuruhnya pergi.
"Terima kasih sudah traktir saya." pamitnya ingin pria itu segera pergi meninggalkannya sendirian. Karena kos Anika dekat situ, dia tak ingin tempat tinggalnya diketahui olehnya.
Malang nasib Anika, tiba-tiba terdengar warga yang ribut meneriakkan peringatan kebakaran. Saat dia berbalik, dia melihat asap hitam keluar dari arah kosannya.
"Buku-buku pelajaranku!" adalah hal yang Anika teriakkan sebelum lari menuju kosannya.
Lokasi kosannya yang dekat pasar memang adalah tempat yang rawan kebakaran. Tapi karena harganya yang sangat murah membuat Anika menghiraukan peringatan itu.
Sekarang dia menyesal.
Untung saja api belum sampai kamarnya. Orang-orang mulai berlarian menjauhi sumber api, tapi Anika justru masuk ke kamarnya.
Cepat-cepat dia membawa satu dos buku-buku pelajaran dan catatannya keluar. Hanya itu yang menurutnya berharga. Dompetnya sudah ada di tasnya.
Yaslan yang ternyata menyusul dirinya mendekati Anika.
"Untung saja aku nggak ketiduran di dalam kos." kata Anika sedikit lega.
"Artinya hidupmu masih dilindungi."
Kata-katanya itu menyadarkan Anika. Dia kembali menilik hidupnya di masa lalu, dimana dia selalu lolos dari siksaan kejam yang silih berganti menimpa dirinya.
"Tapi sekarang aku jadi homeless" lirih Anika sedih menghadapi kenyataan pahit lagi.
"Untuk sementara kamu bisa tinggal di rumahku."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bab tanpa Psikopat gila😊
__ADS_1
Terima kasih sudah baca...