Salahkah Mencintai Psikopat

Salahkah Mencintai Psikopat
Bab 21 Pelaku


__ADS_3

Setelah kejadian mengerikan waktu itu, Yaslan dan Anika untuk sementara menginap di hotel sampai menemukan rumah baru. Mereka sepakat untuk pindah ke lokasi yang lebih aman.


Tak membutuhkan waktu yang lama sampai menemukan rumah baru mereka yang terletak di sebuah perumahan. Anika memandang isi rumah yang masih kosong dan belum terisi perabotan itu. Perasaan bersalah bercampur dengan sedikit perasaan semangat di lokasi tempat tinggal baru mereka.


"Sayang nggak usah takut lagi ya," ucap Yaslan berusaha menenangkan Anika sembari memeluknya. "Polisi sudah tahu semuanya dan aku sudah pasang pengaman di rumah baru kita. Kebetulan ada temanku yang kerja di kantor keamanan rumah."


Anika baru tahu ada kantor keamanan yang memasang CCTV dan mengawasi rumah mereka 24 jam setiap harinya. Hanya dengan membayar biaya bulanan, rumah mereka aman dari ancaman luar. Alarm rumah tersambung dengan kantor itu, dan petugas keamanan akan langsung datang ke lokasi alarm berbunyi.


"Maaf Yang, gara-gara aku kita harus pindah."


Rumah mereka sekarang jauh dari lokasi studi Yaslan dan Anika. Dan karena mereka berdua masih mengeluarkan biaya untuk sekolah kedokteran Yaslan, keadaan keuangan mereka sebenarnya bisa dikatakan pas-pasan.


"Bicara apa sih? Yang terpenting itu keselamatan diri bukan uang!"


Walau rumah mereka jauh, Yaslan memastikan istrinya selalu selamat sampai tujuan. Tiap hari dia selalu berusaha untuk mengantar dan menjemput istrinya ke tempat kerja dan kampus.


Untuk beberapa saat kehidupan mereka bisa berjalan kembali dengan damai, sampai suatu hari dimana langit menjadi lebih cepat gelap daripada hari sebelumnya.


Yaslan sembunyi-sembunyi mengangkat telpon dari istrinya. "Tunggu sebentar ya, Yang," bisiknya. "Masih ada satu pasien yang harus dihandle."


"Baik, Yang." Di seberang telpon, Anika memahami keadaan darurat suaminya. Dia menelpon hanya ingin sekedar memastikan kesediaan Yaslan untuk menjemput, ataukah dia bisa pulang sendirian. "Aku tunggu ya."


"Pokoknya jangan keluar wilayah rumah sakit ya Yang! Love you." Yaslan segera mengakhiri panggilan telponnya dan kembali berhadapan dengan pasien yang sedang berbicara dengan seorang perawat.


Hari ini jadwalnya lebih padat dari biasanya. Sudah jam delapan lewat masih ada pasien yang harus dikontrol. Kebetulan pasien ini adalah langganannya sejak sejak awal check up, sehingga tak ada dokter lain yang bisa menggantikan dirinya.


Sebisa mungkin Yaslan mempercepat waktu konsultasinya, tapi pasiennya seolah tak memahami teguran halusnya dan terun-menerus melontarkan pertanyaan seputar penyakitnya. Yaslan mulai gelisah dan dengan sengaja berkali-kali melihat jam tangannya di depan pasangan suami-istri tersebut.


Akhirnya lewat jam setengah sembilan malam, pasiennya keluar dari ruangan. Yaslan segera menghubungi istrinya untuk menginformasikan bahwa dia akan segera menjemputnya, tapi panggilannya tak diangkat.


Dengan ponsel tetap di telinga, Yaslan buru-buru menuruni anak tangga menuju ruang bawah tanah tempat parkir mobil karena liftnya terlalu memakan waktu. Saat merogoh saku jas putihnya, dia lupa bahwa kunci mobilnya masih tertinggal di dalam laci sehingga dia kembali ke atas.


Tak henti-hentinya dia mengulang panggilan telpon pada istrinya yang tak kunjung mengangkat telpon. Karena terlalu khawatir, Yaslan malah menghubungi panggilan darurat.


"Kecelakaan atau kejadian perkara?"


"Maaf pak, ehm... Istri saya tidak mengangkat telponnya." Yaslan mengutuk dirinya sekarang merasa seperti orang bodoh.


"Apakah ada kejadian perkara yang terjadi pak?"

__ADS_1


"Belum pak, saya hanya khawatir karena istri saya dulu pernah..." Belum selesai dia menjelaskan situasi, dia dipotong oleh petugas aparatnya.


"Bila menghubungi nomer darurat artinya telah terjadi kecelakaan atau kejadian perkara seperti perampokan, penculikan , maupun pembunuhan..."


Yaslan segera mematikan ponselnya merasa tak ada gunanya mendengar penjelasan mereka. Dia pun segera menelpon balik istrinya.


Tapi kali ini nomernya tak bisa dihubungi.


Karena terlalu khawatir dengan keselamatan Anika, Yaslan menambah kecepatan mobilnya dan hampir melanggar peraturan lalu lintas. Dia dengan sembarang memarkirkan mobilnya dan segera keluar setengah berlari memasuki rumah sakit jiwa.


Betapa leganya dia mendapati istrinya berdiri memandangi papan pengumuman membelakangi dirinya.


"Hosh... hosh...." Yaslan hampir mati kehabisan nafas yang dengan kecepatan tinggi berusaha untuk menjemput istrinya dan terlalu berlebihan mengkhawatirkan dirinya.


Anika membalikkan badannya menyadari nafas berat yang terdengar dari belakang.


"Ada apa, Yang?" tanyanya khawatir melihat keadaan suaminya.


Yaslan tak menjawabnya dan hanya memeluk istrinya itu yang membuatnya tambah heran.


"Kenapa ponselmu mati?" tanyanya akhirnya bisa mengatur nafas.


Yaslan merasa perjuangannya sia-sia, tapi dia lebih senang bisa melihat istrinya dalam keadaan aman. Dia pun tersenyum bahagia dan kedua sejoli itu pun dengan bergandengan tangan jalan keluar gedung menuju mobil.


Baru sedetik melepaskan pandangannya dari Anika, ada seseorang dari belakang membungkam mulut Anika dan memasukkanya ke dalam mobil cargo yang telah disiapkan dekat situ.


Detik yang sama, Yaslan berusaha mengejar penculiknya, tapi kalah cepat. Dia pun segera menyalakan mobilnya sendiri, berusaha untuk mengejar mobil besar itu tetapi kehilangan jejaknya begitu memasuki jalanan besar.


Jalanan utama memang sering dipadati dengan mobil cargo dan truk besar sampai subuh karena merupakan tempat keluar masuk jalan tol.


Yaslan berhenti dan memukul setir mobilnya.


Dia sudah berusaha secepat mungkin untuk menjemput istrinya, tapi malah kehilangan wanita kesayangannya itu di depan matanya sendiri. Yaslan mengacak-acak rambutnya dan dengan putus asa menelpon polisi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Yaslan masih berada di kantor polisi untuk diminta keterangan. Belum ada kabar mengenai keberadaan Anika yang membuatnya tambah frustasi.


Polisi memperbolehkannya pulang dan dia pun dengan pikiran kosong kembali menuju rumahnya.

__ADS_1


Dia memandangi rumah yang baru dia kontrak dengan keamanan penuh serasa tak ada artinya. Usahanya untuk antar jemput istrinya setiap hari pun seolah sia-sia.


Istrinya pernah diculik, dan harus bernasib sial diculik lagi. Kejahatan apa yang pernah dilakukan istrinya sampai harus diperlakukan seperti ini?!


Yaslan mencoba untuk tidur tapi tidak bisa. Dia tak bisa hanya diam menunggu, karena itu dia mulai mencari tahu kira-kira siapa yang tega melakukan ini kepada istri malangnya.


Awalnya dia menduga ini perbuatan Kairi, penculiknya dulu. Tapi dia sedang di rawat di rumah sakit jiwa, tak mungkin bisa bebas berkeliaran.


Lalu dia kepikiran hal gila bahwa psikopat bisa saja kabur dari tempat mereka dikurung. Dia pun setengah berharap mencoba untuk menelepon RSJ tempat Kairi dirawat.


"Hallo, bisa bicara dengan Kairi Evans." Yaslan hafal mati nama pria ini saat memaksanya pindah ke rumah sakit lain.


"Ada keperluan apa ya, Pak?" jawab panggilan dari ujung telpon.


"Ehm, saya ingin pastikan kapan jadwal kontrol berikutnya dengan keluarga?"


"Sebentar ya Pak, mohon ditunggu."


Yaslan menunggu dengan harap-harap cemas. Kalau Kairi masih dirawat disitu, siapa orang yang kira-kira bisa dia curigai?


"Halo, Pak? Pasien yang bernama Kairi sudah dipulangkan beberapa bulan yang lalu."


Ini dia! pikirnya.


"Kapan dia sudah dibebaskan ya, Bu? Di alamat mana?"


"Maaf, Pak. Untuk menjaga privasi kami tak bisa memberitahu alamatnya. Tapi pasien kami sudah dipulangkan bulan Februari yang lalu dan dijemput keluarga."


Tiga bulan yang lalu di bulan Maret mereka mendapat ancaman teror di rumah lama mereka.


"Terima kasih." ucap Yaslan sebelum mengakhiri panggilan.


Dengan mendapat informasi ini dia sangat yakin siapa pelakunya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Terima kasih atas dukungannya selalu.


Apakah benar sesuai dugaan Yaslan bahwa Kairi lah pelakunya?

__ADS_1


__ADS_2