Salahkah Mencintai Psikopat

Salahkah Mencintai Psikopat
Bab 14 Pengakuan


__ADS_3

Anika hanya bisa diam menunduk saat berhadapan dengan kedua orang tuanya.


"Saya selalu antar jemput anak saya. Kami memang disiplin dalam mendidiknya, hahaha."


Ayahnya bicara seolah tak pernah melakukan perbuatan bejad di masa lalunya terhadap putri semata wayangnya.


"Begitu ya pak. Bapak sangat menjaga anaknya ya."


Setiap kali mendengar pembicaraan mereka, Anika merasa bagai ditusuk ribuan jarum ke hatinya.


"Tentu saja! Ayah mana yang tidak sayang anaknya! Benar kan Bu!"


"Iya pak."


Ibu Anika pun hanya bisa pasrah dengan keadaan ini. Dia masih dendam dan jijik karena suami dan anaknya melakukan perbuatan tidak senonoh di belakang dirinya. Hatinya sangat sakit. Walau begitu dia juga takut pada suaminya dan kasihan melihat anaknya.


"Bilang saja kapan rencana menikahnya? Nanti saya akan bantu dana kalau memang perlu!"


"Terima kasih banyak pak, saya akan berusaha sendiri dulu."


Sebenarnya Yaslan heran, orang tua Anika ternyata sangat mampu. Tapi kenapa putri mereka bekerja menjadi kasir, bahkan kuliah saja sampai putus.


"Hebat sekali kamu nak Yaslan! Mau jadi dokter spesialis ya! Saya malah khawatir anak saya tidak pantas mendampingimu menjadi istri! Hahaha..."


Selalu seperti itu. Candaan yang mengandung hinaan. Tidak pernah berubah.


Rasanya Anika ingin sekali keluar dari rumah ini. Dia tidak tahan dengan setiap kata yang terlontar dari mereka. Nafasnya menjadi sesak.


"Menginaplah disini beberapa hari! Ada banyak kamar kosong!"


Mata Anika membulat terkejut mendengarnya. Kepalanya masih terus tertunduk.


Nggak mau, nggak mau, rumah terkutuk ini, nggak mau, aku nggak mau...


Yaslan yang melihat keadaan Anika yang tidak seperti biasanya, langsung memegang tangannya.


"Sepertinya kita mau langsung kembali pak, istirahat di rumah. Lusa kita harus kembali bekerja."


Mereka berdua pun berpamitan meninggalkan rumah orang tua Anika.


Selama di dalam, Anika tak berani sedikitpun menatap kedua mata orang tuanya. Melihat dirinya yang masi tunduk terdiam, Yaslan merangkul nya.


"Kamu nggak enak badan? Mau kita nginap di hotel dulu sebelum pulang?"


Anika menggelengkan kepalanya. Entah kenapa saat ini dia ingin bertemu dengan Kairi.


Dia merindukannya.


"Kita masih ada waktu sebelum jam keberangkatan pesawat. Kupikir bisa lebih lama di rumah kamu. Ayahmu ternyata orang yang baik."


Deg!


"Ayo kita jalan-jalan! Ada tempat yang ingin aku datangi!"

__ADS_1


Anika sudah tak tahan lagi. Dia ingin segera melakukan hal untuk bisa mengalihkan pikirannya.


"Baiklah, kalau memang kamu merasa sehat." Mereka berdua memasuki mobil Yaslan yang dia pinjam dari kakaknya. "Kamu ingin kemana?"


Anika diam sebelum menjawab. "Ke rumah penuh sampah."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Awalnya Yaslan sedikit heran dengan permintaan tunangannya itu. Tapi dia pikir kalau itu bisa membuatnya lebih baik, dia akan melakukan apa saja.


Anika sebenarnya tidak ingat jelas dimana letak rumah yang dulu menjadi tempatnya disekap. Saat dia keluar dari rumah itu keadaan sekitarnya gelap gulita. Dia hanya ingat terus berlari menjauhi tanpa melihat ke belakang.


Setelah hampir sejam berkeliling mencari rumah itu, Anika teringat dengan sawah tempat dia melihat kunang-kunang bersama Kairi.


"Aku mau turun disini!"


Yaslan menghentikan mobilnya dan Anika langsung keluar berlari mendekati lokasinya.


Disini dia duduk bersama Kairi.


Air mata mulai membasahi pipinya.


Kairi...


Setelah menelusuri jalan setapak dengan kedua kakinya, akhirnya Anika menemukan rumahnya.


Rumah lusuh yang penuh sampah.


Kenangan di masa lalu mulai kembali mengalir deras. Walau semula banyak hal kejam yang terjadi, dan menimpa dirinya, tapi sebagian besar dia hidup disini dengan damai dan penuh cinta bersama cinta pertamanya.


Sayang semuanya itu harus berakhir.


Perlahan Anika mendekati rumah yang telah dipenuhi tumbuhan liar itu. Sepertinya tak ada tanda kehidupan. Pintu rumahnya sedikit terbuka.


"Tempat apa ini?! Rumah hantu?" Yaslan baru tiba menyusul Anika setelah memarkirkan mobilnya dekat situ. "Bau amis sekali!"


Anika membuka pintunya dan melihat isi rumah yang tak berubah sedikitpun.


Sampah di dalam rumah yang sebagian sudah dibersihkan, sofa lusuh yang dia tutup dengan kain bunga-bunga, tembok dengan cat berwarna ungu yang terlihat mulai berjamur, bahkan peralatan make up, majalah, dan baju-bajunya semua masih terletak di tempat semula.


"Aku nggak tahu apa yang kamu cari, tapi langit mulai gelap. Sebaiknya kita kembali ke rumahku," ajak Yaslan kemudian mengangkat ponselnya yang tiba-tiba berdering.


Pelan-pelan Anika berjalan lebih dalam melewati ruang tengah. Anehnya, walau isi rumah yang remang-remang dengan aura mencekamkan, Anika tak merasa takut sedikitpun.


Dia mulai memeriksa halaman belakang rumah dan menemukan bercak hitam seperti darah di lantainya.


Apa yang telah terjadi padamu?


Entah kenapa sekarang Anika merasa menyesal telah melarikan diri dari rumah ini. Waktu itu dia memang sangat ketakutan, tapi sekarang dia merasa bisa melawan ketakutannya itu demi Kairi.


Apakah kalau aku bisa mengampunimu yang telah membunuh orang, kamu sungguh bisa menjadi orang baik?


"Anika!" panggil Yaslan dari luar. Anika mulai sadar dari pikiran-pikirannya.

__ADS_1


Yaslan mulai masuk mengikuti Anika. "Tempat apa ini? Serem banget..."


"Ayo pulang!" ajaknya sambil menarik Yaslan keluar rumah. Mereka berdua pun keluar dan memasuki mobil.


Selama berada di rumah itu, hanya ada satu tempat yang tidak berani dia menolehkan kepalanya sedikit pun.


Kamar Kairi.


"Sebenarnya itu rumah apa sih? Kenapa kamu kesana?" Yaslan tidak curiga sama sekali. Dia pikir mungkin itu rumah neneknya yang sudah tiada, atau kenangan di masa kecilnya.


Anika terdiam. Sudah lama dia berpikir untuk jujur kepada Yaslan. Apalagi kalau mereka memang berniat untuk menikah.


"Apa kamu ingat saat aku tiba-tiba menghilang?"


Yaslan samar-samar mengingat bayangan di masa lalu saat dia tidak lagi melihat sosok Anika di kampus sampai dia lulus.


"Kamu bilang saat itu ingin menyendiri kan?" tanyanya ingin memastikan dia tidak salah ingat.


"Sebenarnya saat itu aku diculik dan disekap."


Jantung Anika mulai berdebar kencang. Butuh keberanian untuk mengatakan ini. Tapi Anika ingin agar tunangannya tahu sedikit mengenai dirinya. Anika ingin tahu reaksi apa yang akan dia berikan, dan siap walau harus membatalkan rencana menikah mereka.


"Apa?" Yaslan kaget sampai tidak sengaja menginjak rem. Untung saja jalanan sepi.


Yaslan kemudian menepi dan mematikan mobilnya.


"Apa aku nggak salah dengar?"


Anika sedikit kaget dengan reaksinya, tapi sudah berniat untuk tidak lari lagi.


"Waktu itu aku sebenarnya diculik. Aku juga sudah diperkosa. Selama setengah bulan aku dikurung disana. Maaf aku baru memberi tahumu sekarang." Anika tak berani menatapnya.


Yaslan masih terdiam tak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Anika..." dia membuka sabuk pengamannya untuk meraih tubuh Anika ingin mendekapnya. "Jadi ini asal mula trauma kamu?"


"Bukan begitu..." katanya ingin mengelak.


"Jangan khawatir, aku akan melindungimu."


"Tapi traumaku terlalu banyak, aku hanya akan menyusahkanmu..."


"Sudah, jangan dipikirkan," katanya sambil mengelus kepalanya. "Semua sudah berakhir. Kamu sekarang aman bersamaku."


Yaslan melepaskan dekapannya dan menatap Anika dalam-dalam.


"Ceritakan semua padaku. Terlalu berat kamu pikul semua sendirian, bagi penderitaanmu denganku!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mana ada sih cowok sebaik Yaslan😭


Terima kasih sudah baca ya, mohon dukungannya😇

__ADS_1


__ADS_2