Salahkah Mencintai Psikopat

Salahkah Mencintai Psikopat
Bab 40 Perang


__ADS_3

Ketika Anika dibawa pergi oleh Ann untuk diamankan atas perintah Kairi, Elle dan Lia menyiapkan senjata bersiap untuk perang. Paman Kairi memiliki segudang koleksi senjata yang didapatinya secara ilegal. Elle juga telah mengamankan banyak senjata dari rombongan gangster yang sempat mampir dengan tujuan bisnis ke rumah ini.


Markas utama ketiga organisasi besar tersebut sudah dimusnahkan oleh Kairi dan yang lain, dan seharusnya sudah diurus oleh polisi setelah menerima parsel dari Kairi.


Karena itu orang-orang yang datang mengepung mereka ini sudah pasti merupakan organisasi aliansi yang merasa terancam dan dirugikan atas kehilangan teman kerja mereka.


Kairi sudah menduga akan semua ini, karena itu dari awal dia tak berniat membunuh para bos utama organisasi untuk digunakannya suatu hari.


"Kembalikan bos kami dan serahkan diri kalian, bila tak ingin dihancurkan bersama rumahnya!" perintah seseorang dengan pengeras suara. Lokasi yang dikelilingi hutan ini adalah medan yang aman untuk perang tanpa gangguan dari polisi.


Ketika mereka bersiap-siap untuk menembakkan senjata bazooka mereka ke arah rumah, pintu utama terbuka.


Tak lama kemudian Kairi keluar dengan santai sambil membawa monster-monster peliharaannya yang diikatkan pada rantai anjing --anjing manusia--.


Tiga pria tanpa busana tak berkaki dan tak berlengan di sebelah kanan tangannya, dan dua lagi di sebelah kirinya. Dia melangkah dengan senyuman di wajah, seolah sedang membawa jalan-jalan peliharaannya. Di belakangnya Rin menyusul membawa pria gendut majikannya yang sudah terlihat lemas, dan Quill mengikuti mereka dengan dua pria lain di tangan.


Para gangster tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Bos mereka dihina dan diperlakukan seperti anjing.


"Cowok gila!" celetuk salah seorang.


"Apa yang harus kita lakukan bos?" tanya yang lain.


Dua bos organisasi kecil itu tampak ngeri dengan penampakan teman kerja mereka.


"Tahan senjatanya, rekan kita masih hidup."


Sampai di tengah halaman. Kairi berhenti dan lima anjing penjaga yang telah dilepas bergabung bersama dengannya.


Dia mulai bicara dengan suara lantang, "Kalau kalian menginginkan peliharaanku ini, kalian harus memberiku pengganti." Walau jaraknya lumayan jauh, mereka masih bisa mendengar jelas apa yang dikatakan olehnya.


Salah seorang bos menyuruh bawahannya menyiapkan sejumlah uang yang dikemas di dalam koper dan melemparnya ke hadapan Kairi.


Kairi menginjak kopernya dan menyeletuk pelan, "Cih, otak mereka selalu duit."


Para anggota gangster tak tahu bahwa Kairi hanya pengalih perhatian dari serangan sesungguhnya. Sebenarnya Elle dan Lia telah menyiapkan perangkap yang mengelilingi tembok pagar rumah.


Lia menyalakan mesin traktor dan mulai menyetirnya menjauh. Semua mata anggota tertuju pada mesin traktor yang dijalankan Lia dan bersiap-siap untuk menembaknya. Mereka tidak sadar bahwa kawat tajam menuju arah mereka, membelah tubuh mereka menjadi dua.


"Waktunya panen hasil kebun," kata Kairi riang sesekali bersiul.

__ADS_1


Elle melakukan hal yang sama di sisi lain tembok. Setelah berhasil membunuh sebagian anggota, mereka berdua lari untuk mengamankan diri.


Anggota yang masih hidup ngeri melihat rekan mereka tubuhnya terbelah. Mereka semua panik atas kesadisan itu. Ada yang melarikan diri, ada yang menembak dengan membabi-buta.


"Sial, ayo mundur!" Bos yang masih tersisa menyuruh semua anak buahnya untuk mundur, tapi ternyata Elle sudah memasang bom di bawah salah satu mobil mereka. Karena diparkirkan berdekatan, semua mobil meledak sekaligus.


Kairi melepaskan rantai dari ikat leher anjing milik manusia peliharaannya. "Sana kalian bebas!" serunya menyuruh mereka pergi.


Dia telah memasang bom bunuh diri yang melekat di masing-masing tubuh mereka. Ada beberapa yang lari ingin bebas dari cengkraman psikopat gila itu, mengakibatkannya meledak bersama kawan mereka. Tapi ada satu yang justru menyerang Kairi, berpikir untuk bunuh diri bersama.


Kairi terjatuh berusaha melepaskan diri dari manusia gila itu. Quill yang berdiri di belakangnya menabrakkan tubuhnya untuk membebaskan tuannya, bom meledak dan dia hancur berkeping-keping bersama manusia anjing itu. Padahal Quill selama ini hanya diam tak peduli, tapi dia telah mengorbankan nyawanya demi Kairi.


Menyaksikan Quill yang hancur di depan matanya membuat Kairi terdiam, bengong tak bergerak. Darah segar telah menyiprati seluruh tubuhnya.


Rin telah kabur masuk ke dalam rumah, berpikir untuk menyelamatkan diri bersama majikannya. Tapi tak lama mereka berdua tewas tertimpa reruntuhan akibat ledakan bazoka yang menghantam rumah.


"Tuan muda!" Lia mendekati Kairi untuk menyelamatkan tuannya itu yang masih terlihat shock atas kejadian tadi. Dia berhasil menembak mati beberapa anggota yang masih tersisa.


Tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang ke arah Kairi, berpikir untuk menggilas psikopat gila itu. Tetapi Lia berhasil menembak mati pengendara itu, mengakibatkan dirinya tertabrak dan terseret mobil yang kemudinya telah berbelok.


Melihat itu semua, Kairi tak percaya kenapa mereka semua mau mengorbankan nyawanya demi dirinya. Dia berjalan terhuyung-huyung mendekati Lia. Mobilnya telah menabrak tembok rumah mengakibatkan Lia terjepit antara tembok dan mobil. Bagian perut ke bawah sudah mati rasa karena hancur tertabrak, tapi dia masih setengah hidup.


"Kenapa...?" Kairi ingin bertanya kenapa mereka menyia-nyiakan hidup mereka demi orang seperti dirinya, tapi kata-katanya terhenti.


"Berikan kalung saya ini pada orang tua saya, Tuan." Lia selama ini berharap bisa dibebaskan. Tetapi dia merasa sudah bebas dengan kematiannya. "Itu permintaan terakhir saya."


Kairi mendorong mobilnya berusaha mengeluarkannya, tapi itu justru membuat Lia tambah kesakitan.


"Tolong bunuh saya. Saya sudah tak tahan rasa sakit ini."


Kairi memungut senjata yang tergeletak di bawah. Dia mengarahkannya ke kepala Lia dan menarik pelatuknya. Belum pernah dia merasa keraguan ketika hendak membunuh orang.


"Terima kasih, Kairi." ucapnya tersenyum sebagai kata terakhir sebelum peluru menembus tempurung kepalanya dan menewaskannya seketika. Kairi kemudian mengambil kalung liontin dari leher Lia, yang setelah dibuka ternyata menampilkan foto keluarganya.


Kejadian ini mengguncang jiwanya, tapi suara ledakan membuatnya tak sempat berpikir. Kairi mendengar beberapa orang masih menyerang di balik tembok. Dia melihat Elle yang masih terus bertarung dengan beberapa gangster yang masih tersisa. Kairi mendekatinya dan membantunya menembaki beberapa gangster sampai pelurunya habis.


"Tuan! Bukankah Anda seharusnya sudah melarikan diri?"


Pengorbanan kedua pelayan lain telah merubah pikirannya. Kairi ikut bertarung tak peduli peluru telah mengenai lengan dan menyerempet tubuhnya.

__ADS_1


"Cepat lari!" perintah Kairi menghadang orang yang berusaha memukul Elle dengan tongkat besi. Dia berpikir untuk menghabisi semua gangster sampai tak tersisa, sudah tak peduli dengan nyawanya sendiri.


Elle tak percaya tuannya berusaha menolong dirinya. Tuannya yang selama ini terlihat cuek dan berdarah dingin, menolong dirinya yang hanya seorang pelayan.


"Tuan! Anda harus tetap hidup demi Anika!" serunya keras-keras agar terdengar.


Kata-katanya itu menyadarkan Kairi. Namun ketika mereka berdua hendak menyelamatkan diri, paman Kairi yang ternyata masih hidup, lari seperti anjing gila, mendekati ponakannya sendiri berusaha ingin membunuhnya.


Kairi terjatuh tapi berusaha melepaskan diri dari pamannya dengan Anika dalam pikirannya. Elle ingin menolongnya tapi Kairi melarangnya mendekat karena bom di tubuh pamannya yang bisa meledak kapan saja.


Setelah pergulatan yang cukup lama, Elle memukul kepala mantan majikannya dengan tongkat besi hingga tewas. Mereka berusaha melarikan diri begitu bom meledak, tapi terlambat. Kairi melindungi Elle dengan tubuhnya dan tak sadarkan diri.


Elle berusaha menyadarkan Kairi. Dengan keadaan setengah sadar Kairi menyeret kakinya dengan bantuan Elle. Mereka berhasil masuk ke mobil dan dengan kecepatan penuh Elle menyetir mobilnya ke tempat yang aman.


Dengan kemampuan terbatasnya, Elle berusaha merawat luka-luka Kairi yang tak sadarkan diri karena kehabisan darah. Dia tak mungkin membawa majikannya ke rumah sakit mengingat identitas dan keadaan mereka yang akan mencurigakan.


Dia hanya bisa menangis dan berharap majikannya akan selamat dari masa krisis. Pendarahan berhenti tapi tubuhnya masih demam tinggi. Elle keluar masuk motel membeli obat dan perban, hingga akhirnya Kairi kelihatan membaik dan telah sadarkan diri.


Karena tahu dirinya tak bisa menolong lebih dari ini, Elle berpikir untuk membawa Kairi ke Anika. Dia mengendarai mobilnya dan segera menuju alamat yang telah diberikan oleh Kairi. Belum sampai di tujuan, mobilnya kehabisan bahan bakar yang membuat Elle membawa Kairi keluar. Dia memapahnya sampai depan rumah, menghiraukan guyuran hujan.


Melihat mobil Anika mendekat, Elle segera lari dari situ, dan dari kejauhan memastikan tuannya sudah berada dalam dekapan Anika.


Sampai sekarang tak ada yang mengetahui keberadaan Elle.


Kairi yang sudah sadarkan diri setelah dilarikan di rumah sakit dan dioperasi, menatap kosong langit-langit kamar. Kejadian menegangkan di medan perang masih teringat jelas. Semua pelayanannya tewas tapi dia sendiri yang masih hidup. Hal ini membuat hatinya sakit. Tak terasa air mata selalu mengalir mengingat kejadian itu.


"Kairi?" Anika memasuki ruangan mendekat Kairi. "Kamu menangis lagi?" Dia mengambil tisu dan menyeka air matanya.


Kairi berusaha mengangkat kepalanya dan dengan bantuan Anika berhasil duduk. Anika kemudian memeluknya dan mengelus punggungnya.


"Nggak usah takut, aku ada disini. Semua sudah lewat."


Seumur hidup baru sekarang seseorang berjuang untuk dirinya sampai mengorbankan nyawanya. Dirinya yang selalu membunuh orang untuk kesenangan pribadi, baru sekarang sadar atas kekejaman dan kesedihan dari menghabisi nyawa seseorang.


Kairi mulai memahami artinya rasa kehilangan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Semoga ini suatu pertanda baik untuk Kairi ya... 🤗

__ADS_1


__ADS_2