
Tanpa sempat tidur, Yaslan mendatangi kantor polisi untuk melaporkan dugaannya terkait Kairi yang pernah menculik istrinya dulu. Tapi ternyata polisi sudah bertindak duluan dan sedang menginterogasi rumahnya. Setelah menunggu beberapa saat, hasilnya tak ada yang mencurigakan.
Tentu saja Yaslan tak mau percaya begitu saja. Diam-diam dia menyalin alamat yang ada dalam file yang terletak di atas meja, dan langsung menyelinap keluar dari kantor hendak mendatangi rumah Kairi sendirian. Dia telah ijin kuliah dan kerja hari ini karena ingin fokus pada pencariannya pada Anika.
Lokasi rumah keluarga Kairi cukup jauh membuat kecurigaannya sedikit hilang. Dengan jarak sejauh ini gimana caranya menguntit dan meneror seseorang? Tapi sekali lagi dia meyakinkan dirinya bahwa psikopat gila bisa saja melakukan apapun demi mencapai tujuannya, karena itu dia tetap melakukan menyelidikan sendirian.
Setelah empat jam menempuh perjalanan, Yaslan akhirnya tiba di lokasi yang diduga milik keluarga Kairi. Rumahnya tak terlihat karena pagarnya yang menjulang tinggi.
Walau sedikit cemas memasuki rumah keluarga psikopat, dia memberanikan diri untuk menekan bel rumah yang terhubung dengan interphone.
"Siapa?"
"Saya Jerry Yan," dustanya meminjam nama seorang aktor. "Saya ingin bertemu dengan Kairi Evan."
Hening, lama tak ada jawaban.
Yaslan memikirkan cara untuk menemui Kairi secara langsung. Dia sudah menempuh 120 kilometer dan tak mau usahanya ini berakhir sia-sia.
Lama tak ada suara, akhirnya interphone tersambung lagi. "Maaf, tuan muda tak mengenal Anda."
Sambungan terputus tapi Yaslan sekali lagi menekan tombol.
"Saya tahu dia menyembunyikan Anika! Cepat buka pintunya!" serunya kesal memukul tembok di samping interphone.
Karena kurangnya tidur dan belum makan, Yaslan merasa capek. Emosinya pun tak stabil.
Tanpa mendapat jawaban, interphone-nya diputus lagi. Dengan kecewa Yaslan menendang pintu gerbang yang terbuat dari besi, malah membuat kakinya kesakitan.
Dia kemudian memandang pagar konkrit tinggi di hadapannya, berpikir untuk memanjatinya. Namun suara gonggongan anjing yang dari tadi terdengar dari balik tembok membuatnya sedikit ragu.
Lebih baik digigit anjing daripada kehilangan istri! batinnya menetapkan hati untuk memanjat tembok tinggi itu.
Yaslan memarkirkan mobilnya dekat tembok, kemudian memanjati mobilnya itu, meraih bagian ujung tembok untuk mengangkat tubuhnya. Dia merasa kesehariannya yang rajin work out cukup berguna.
Dengan jas kerjanya, dia menutup kawat duri yang tertancap pada puncak tembok. Sebuah mansion tua dan besar terlihat di antara pepohonan tinggi. Dia tidak melihat adanya anjing, tapi sekarang dia bingung bagaimana caranya dia turun dari ketinggian tembok dua meter lebih.
"Kakimu bisa patah kalau turun dengan kaki mendarat duluan."
Betapa terkejutnya Yaslan mendengar seseorang sudah berdiri di bawahnya tanpa melihat sosok itu mendekati tembok tadi. Sosok itu mengenakan hoddie dan masker sehingga wajahnya tak terlihat.
"Kalau nggak ingin mengalami patah tulang, aku saranin untuk kembali."
__ADS_1
Yaslan mengacuhkan nasehatnya dan menggantungkan badannya di bagian dalam tembok sebelum akhirnya mendarat di atas tanah. Tangannya sedikit tergores kawat berduri.
Dia kemudian langsung menyerang pria tadi mengakibatkan mereka terjatuh ke tanah. Yaslan menindih tubuhnya dengan satu tangan dan tangan satunya mengepal hendak ingin meninju wajahnya.
"Dimana Anika?!" Dia belum pernah melihat Kairi, tapi dia yakin pemuda tak berekspresi ini pasti pria psikopat penculik istrinya.
Kairi tersenyum mencemooh dirinya. "Kamu nggak bisa jaga istrimu ya."
Rasanya Yaslan sudah tak bisa menahan diri untuk menghajar bajingan di hadapannya ini, tapi dia berusaha mengontrol emosinya dan memukul tanah di samping wajah Kairi.
Yaslan berteriak, "Dimana kamu sembunyikan dia?!"
Kairi terdiam.
Karena tak ada reaksi, Yaslan mulai menarik baju depan Kairi dan mengangkatnya.
"Dimana Anika?!!" tanyanya mulai frustasi karena tak kunjung mendapat jawaban. "Dimana kamu sembunyikan dia?!"
Kairi melepas cengkraman Yaslan dari bajunya dan mulai berdiri.
"Dia nggak disini." jawabnya sebelum meninggalkan Yaslan sendirian yang masih tak bergerak di tempat.
Tiba-tiba ponselnya berdering.
Yaslan mendapat kabar dari polisi bahwa mobil yang diduga digunakan oleh para penculik sudah ditemukan. Mendengar itu ekspresinya berubah menjadi penuh harapan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Polisi telah menginterogasi pabrik tua yang menjadi lokasi dugaan penculikan. Mobil yang diparkir di dekat situ tak menunjukkan bekas memakai. Hampir seharian lokasi telah ditelusuri tapi tak ditemukan jejak orang yang memasuki bangunan tua tersebut.
Para polisi pun mengundurkan diri untuk menemukan jejak lain yang mungkin ada dari CCTV yang terpasang di jalan.
Lagi-lagi Yaslan tak mau begitu saja percaya dengan polisi dan pergi sendiri untuk menyelidiki lokasi itu sendirian.
Hari mulai gelap begitu dia tiba di lokasi. Sudah hampir 24 jam istrinya hilang. Yaslan menghiraukan rasa kantuknya dan mulai memasuki pabrik tua itu dengan penerangan dari ponsel di tangan. Dia tidak tahu harus mulai dari mana tapi dia pergi menelusuri saja setiap sudut bangunan.
Karena tak menemukan petunjuk apapun, dia mencari ke bangunan lain yang ternyata dikunci. Yaslan coba mendobrak pintunya, tapi saat terbuka tak menemukan apapun.
"ANIKA!" teriaknya mulai kembali frustasi. Dia berharap istrinya bisa mendengar suaranya dan membalas teriakannya.
"ANIKA, JAWAB AKU! ANIKA!!"
__ADS_1
Sayup-sayup terdengar teriakan wanita. Entah kenapa firasatnya mengatakan itu pasti teriakan Anika. Yaslan segera menuju sumber suara ketika mendengarnya lagi, yang menuntunnya kembali memasuki pabrik. Tapi karena jalannya buntu, dia memutari bangunan menuju balik tembok bagian luar.
Di lantai dia menemukan manhole (lubang got) yang telah terbuka. Lubangnya itu berdiameter sekitar 30 centimeter, hanya memuat satu orang untuk masuk. Awalnya dia ragu untuk masuk ke lubang yang terlihat berbahaya itu, tapi demi Anika dia harus lebih berani daripada para penculiknya.
Sebelum masuk dia mengecek terlebih dahulu lubang itu dengan menyorotkan cahayanya ke dalam lubang.
"Anika?" panggilnya lagi sebelum dari belakang terkena hantaman di kepala sampai tak sadarkan diri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa saat setelah siuman. Yaslan mendapati dirinya duduk terikat di atas kursi. Ketika kesadarannya pulih, dia langsung mengenali sosok di hadapannya yang juga telah terikat dengan posisi yang sama seperti dirinya.
Benar, Yaslan telah menemukan istrinya.
Dia ingin memeluk dan memanggilnya tetapi tidak mungkin dalam keadaan tangan kaki dan mulut yang terikat.
Yaslan tak tega melihat air mata Anika yang bercucuran dan kelihatan kesakitan.
Untuk menenangkan istrinya itu, dia selalu memegang tangannya, tapi kali ini dia tidak bisa.
"Senang ya akhirnya bisa reuni?"
Tiga orang pria dengan masker muncul dari balik kegelapan di belakang Anika. Yaslan tidak mengenali mereka, tapi dia yakin tak ada Kairi di antara para penculik yang tampak masih muda itu.
"Harusnya sudah kusiksa pelacurmu ini, tapi tak ku sangka kita kedatangan pahlawan kesiangan." Salah satu dari mereka yang kelihatan seperti pemimpinnya, mengangkat dagu Anika dan mengelus pipinya.
Dia lalu merobek kemeja Anika hingga kancingnya semua terlepas dan pakaian dalamnya dengan kulit mulusnya terekspos.
"Maaf ya, aku nggak ada dendam padamu. Kamu duduk manis dan jadi penonton saja," katanya pada Yaslan sekarang mulai merogoh bagian dalam pakaian dalam istrinya.
Yaslan memberontak penuh amarah tapi tak bisa melepaskan dirinya dari ikatannya. Dia malah terjatuh ke lantai beton bersama kursinya.
Dua orang pria lain membetulkan kursinya dan menahan Yaslan agar tidak jatuh lagi.
"Diam disana dan lihat baik-baik. Aku mau selesain yang dulu belum kuselesaikan."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bagi yang bisa menebak dengan benar, selamat!
Ditunggu terus dukungannya yaa..
__ADS_1