
"Dia tak menerima tawaran dari kepolisian?"
Pria yang dulu menjadi kapten dan pelatih Kairi tampak kecewa dengan laporan Yuri. Dia sebenarnya berharap banyak dengan kehadiran Kairi dalam timnya misinya akan sukses.
"Apa boleh buat pak. Istrinya sedang hamil lagi. Karena itu Kakakku sepertinya tak ingin kehilangan mereka lagi. Dia ingin berdedikasi untuk keluarganya."
Yuri berusaha menjelaskan keadaan kakaknya ketika tiba di kantor kepolisian bagian divisi misi khusus. Walau mereka beda divisi, tapi pangkat mereka sama. Usia Yuri yang tergolong muda sudah mengepalai unit investigasi kriminal. Selain pengaruh dari kakeknya yang merupakan mantan komisaris jendral, dia dari dulu juga terkenal gila kerja dan jenius dalam memecahkan berbagai kasus.
"Seharusnya dia tak boleh menolak perintah dari kepolisian." Seorang pria setengah baya yang kelihatan berwibawa memasuki ruangan. Yuri dan rekannya itu langsung memberi hormat dengan menaruh tangan di sebelah dahi mereka.
"Kepolisian telah memberinya pelatihan dan telah banyak menghapus jejak kriminalitas yang dia lakukan, tak masuk akal kalau dia lebih memilih hal remeh dibanding pengabdian negara," lanjut kepala bagian divisi investigasi itu. Dia adalah atasan mereka yang mengepalai seluruh divisi kriminalitas.
Yuri tahu kalimat kasar yang dilontarkan oleh atasannya itu keterlaluan. Kehamilan Anika dianggap remeh dan dia sebenarnya juga tidak setuju dengan ucapannya itu. Walau begitu yang dikatakannya ada benarnya. Kepolisian telah banyak memperjuangkan kebebasan kakaknya, karena itu Kairi seharusnya bersyukur dan membalas budi dengan berdedikasi kepada kepolisian, menjalankan perintah mereka tanpa pikir panjang.
"Sayang sekali keahlian yang dimiliki olehnya tak bisa kita manfaatkan. Dia benar-benar menyia-nyiakan bakatnya, benar-benar tak berguna" tambahnya dengan hinaan yang membuat Yuri geram.
"Saya akan mencari penggantinya Pak!" seru kapten dari unit pelatihan dan misi khusus yang dulu telah melatih Kairi itu. Dia berusaha meredam amarah Yuri sekaligus memberi saran untuk menghindar pertikaian, tapi sepertinya tak berhasil.
"Tak ada yang lebih pantas untuk misi ini selain dirinya. Apapun alasannya dia harus ikut! Atau semua kepala divisi akan kupecat!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mau berlutut sampai kapan?" Kairi menyeka keringatnya yang keluar akibat aktivitas berkebunnya. Dia sedang mencangkul tanah untuk menyiapkan sayur kol yang akan siap ditanam.
Teriknya matahari tak menghalangi Yuri dan rekan serta para anak buah yang tampak sedang berlutut memohon agar Kairi ingin bergabung dalam misinya.
"Kami sungguh sangat mengharapkan kehadiranmu Tuan Evans. Selesai menjalani misi yang tak sampai seminggu, Anda akan dibebaskan dari segala tuduhan dan mendapat amnesti serta hak khusus lain sebagai penduduk wilayah ini, seperti bebas pembayaran pajak dan imbalan uang seumur hidup."
Kairi tak tertarik dengan itu semua dan tetap melanjutkan kegiatan mencangkulnya. Dia menemukan cacing tanah lalu mengambilnya dan memasukkannya ke dalam ember yang sudah berisi belasan cacing lain.
Yuri tahu bukan dengan uang cara merayu kakaknya. Lama berpikir dia pun mulai menemukan ide gilanya. "Kalau ikut misi ini, selain keamanan mutlak untuk keluarga, fasilitas VIP lain juga akan dirasakan istri dan anakmu kak! Sopir pribadi, pengasuh anak, bodyguard, juga mobil dan rumah baru, semua yang Anika mau akan kami berikan!"
__ADS_1
Walau perkataan ini sedikit menarik minatnya, tapi Kairi tetap cuek dan melanjutkan mencangkul kebunnya.
"Kalau nggak salah kakak ipar bercita-cita ingin kerja di rumah sakit kan? Kita bisa bantu mengurus semua itu. Kami juga bisa bantu menyiapkan pernikahan kalian dan menjaga privasi dengan menyiapkan pulau terpencil untuk bulan madu. Aku yakin kakak ipar sangat sexy dengan bikini yang hanya bisa dilihat olehmu kak!" lanjut Yuri dengan membisikkan kalimat terakhir walau masih bisa didengar oleh rekan kerjanya yang lain.
Semua memandang heran dengan ide recehan Yuri dalam membujuk kakaknya. Tapi mereka tak menyangka perkataannya itu justru menghentikan langkah Kairi yang sudah mulai menyebar benih sayurnya.
"Berapa lama kita bisa tinggal di pulau itu?" Bayangan Kairi yang bisa hidup berdua bersama istrinya dan bebas dari gangguan luar membuatnya sangat menaruh minat.
Pikiran mesumnya mulai menguasai otaknya dengan membayangkan hal-hal mesum seperti bisa bersetubuh dengan istrinya dimana saja dan kapan saja tanpa ada seorang pun yang mengganggu. Itu jauh lebih menyenangkan daripada di rumah sampah miliknya dulu. Terisolasi dari dunia luar, hanya ada dirinya dan istri tercintanya, tak ada yang lebih dia inginkan daripada hal itu.
Yuri merasa menang dan mulai semakin membual. "Bebas sampai kapanpun sepuasmu Kak! Nggak ada orang lain di pulau itu selain kalian berdua. Kepolisian akan mengawasi dari jauh, jangan sampai ada yang bisa mendekati pulau itu dan melihat apalagi menyentuh kakak ipar! Kalian akan mendapatkan privasi dan keamanan penuh!"
Rekan kerja Yuri tak yakin kepolisian bisa mengabulkan permintaan yang bersifat pribadi itu. Tapi dia diam saja dan mulai berpikir mungkin ini hanya strateginya menghadapi kakak yang super posesif pada istrinya itu.
Lama berpikir Kairi mulai kembali berkebun dengan menyebar pupuk ke dalam benih sayurnya. Pikirannya sekarang lebih tertuju pada keindahan tubuh istrinya dan ingin segera mencumbunya. Anika masih membuka toko sendirian yang sebenarnya kurang disetujui oleh Kairi. Dia tak bisa tak melihat istrinya sedetik saja, dan ingin terus berada di sampingnya agar merasa aman.
"Aku pikir dulu." katanya dan para polisi akhirnya pergi setelah berlutut di tanah berumput hampir sejam lamanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Anika tetap bersikeras walau Kairi sudah membujuknya dengan ribuan ciuman dan pujian yang dia lontarkan pada istrinya. Dia telah menghias rumah dengan bunga-bunga kesukaan istrinya dan memasak makan malam bahkan memesan kue kesukaannya. Saat ini mereka sedang duduk di atas sofa dengan posisi Anika di atas pangkuannya sedang merangkul dirinya. Suasana yang romantis dengan remang-remang lilin dan harum aroma terapi tetap tak bisa membuat istrinya luluh.
Kairi mulai mengangkat pakaian Anika dan mencium perutnya sebelum menghisap buah dada mungil tapi sempurna baginya.
"Sayangku, aku lebih sengsara melihatmu setiap pagi harus menyetir sendirian membuka toko dan menjaga ponakan berisik itu setiap hari," lanjutnya merayu dengan mengelus paha mulus dan mulai meraba bagian privat istrinya.
Anika tak bisa bohong merasa nikmat dengan semua perlakuan suaminya yang dia dapat sejak dia pulang kerja tadi. Tapi tetap saja dia tak rela melihat suaminya harus bersimbah darah lagi dan takut sisi Psikopatnya akan muncul lagi.
Kairi mendorongnya ke atas sofa, menindih istrinya dari atas. Walau ruangan hanya diterangi oleh cahaya dari lilin dan perapian, Anika bisa melihat wajah tampannya yang sebagian tertutup bayangan hitam. Dia tak menyukai Kairi hanya karena ketampanannya, tapi dia menyukainya karena masa lalunya yang kelam tetap menyisakan sisi lembutnya. Anika mencintai kesedihan dari ingatan masa kecilnya yang tak mengenal cinta, tapi sekarang bisa memberikannya cinta melebihi harapannya.
Cinta Kairi yang murni padanya, tak ada orang lain yang bisa menandinginya, bahkan mantan suaminya yang baik hati masih tergoda oleh wanita lain dan belum tentu berani menantang maut demi dirinya seperti yang dilakukan Kairi.
__ADS_1
"Aku hanya ingin kamu bahagia, Sayangku." Anika tahu kata-katanya itu bukan sekedar bualan. Kairi telah banyak melakukan hal bahaya demi dirinya. Perjuangannya dibalik layar tak mungkin dia lupakan. Dia tahu sekali dalam pikiran suaminya hanya ada dirinya seorang.
Anika mengulurkan tangannya dan membelai suaminya dengan lembut. "Aku nggak perlu bahagia kalau itu hanya akan menghancurkan dirimu."
Tetap saja mau dirayu seperti apapun, bayangan ketika sisi Psikopat suaminya kumat yang membuatnya melakukan hal berbahaya diluar nalarnya, dan sosoknya ketika depresi, tak ingin dilihat oleh Anika lagi.
"Aku cukup memilikimu yang sekarang," lanjutnya mencium bibir Kairi pelan-pelan dan sangat lembut.
Kairi sudah tak bisa lagi menahan dirinya dan ingin merasakan istrinya lebih dekat. Mereka berdua mulai bercumbu dengan penuh gairah di atas sofa dan siap untuk melakukan kegiatan yang lebih intim, tapi Kairi berhenti di tengah.
"Kenapa Sayang?" tanya Anika sedikit bernafas berat akibat kegiatan ganas mereka tadi.
"Bayi kita nggak akan mati kalau kita s*x lama-lama kan, Sayang?"
Anika tetawa kecil. Dulu dia pernah mengkhawatirkan ini, dan sampai sekarang pun dia selalu mengkhawatirkan janin di dalam kandungannya.
"Asal kamu lembut, nggak masalah. Bayi kita terlindungi oleh rahimku kok." jelas Anika dengan kecupan di keningnya.
"Kamu tahu aku nggak bisa lembut melihat wajah sexymu itu kan, Sayang,"
Di hari tanpa Yuri maupun Irina, mereka bisa bebas melepas hasrat mereka secara menyeluruh tanpa merasa terganggu atau mengganggu. Anika merasa lebih puas apalagi dengan banyak kejutan-kejutan romantis yang telah disiapkan oleh suaminya itu.
Akhirnya setelah sama-sama sudah mencapai klimax dan merasa terpuaskan secara batin, Anika mengubah pikirannya dan ingin coba mempercayai suaminya sekali lagi.
"Kamu harus janji ini misi terakhir ya, Sayang?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Trik jitu Yuri untuk merayu Kairi dan trik jitu Kairi untuk merayu Anika😅
SELAMAT MEMBACA YA, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA SELALU🤗🤗🤗
__ADS_1