Salahkah Mencintai Psikopat

Salahkah Mencintai Psikopat
Bab 6 Perasaan


__ADS_3

"MATI!"


"MATI!"


"MATI!"


Anika menangis kesakitan dengan jeratan di lehernya.


"Ka...i...ri..." panggilnya lemas hampir kehabisan nafas.


Begitu tersadar, Kairi melepas tangannya.


Tiba-tiba air mata membasahi pipinya.


Melihat itu, Anika menjadi bingung. Dia pikir psikopat gila tidak memiliki emosi.


Setelah lama terdiam, Kairi tiba-tiba membuat pengakuan, "Aku benci ibuku."


Anika bingung dengan pengakuan tiba-tibanya. Badannya masih gemetar karena habis dicekik. Dia mencoba untuk bisa sedikit memahami penculiknya itu, berusaha melupakan semua kelakuan kejam yang pernah dia lakukan sebelumnya.


Semua manusia pasti punya masa lalu pahit yang membuatnya melakukan perbuatan keji. batinnya sebelum bertanya lebih lanjut.


"Apa yang terjadi dengan ibumu?" tanyanya memberanikan diri.


Kairi menatap Anika dari balik rambut depannya yang sedikit panjang. Menimbang-nimbang apakah wanit ini layak dia ceritakan masa lalunya atau tidak.


"Dia bunuh diri, setelah membuatku sengsara. Aku nggak bisa membalas dendam atas perbuatannya padaku."


Mendengar Kairi mau menjawab pertanyaannya, Anika mulai bertanya lebih lanjut.


"Apa yang telah ibumu lakukan?"


Kairi kemudian membuka baju lengan panjang yang selalu dia kenakan. Di badannya terlihat banyak sekali bekas sayatan dan luka bakar yang memenuhi setiap sudut kulit dari leher sampai ujung lengan.


Dia membuka celana panjangnya yang memperlihatkan bekas luka yang sama banyaknya sampai ke pergelangan kaki.


Anika memekik pelan tak percaya dengan apa yang dia lihat.


Pantas saja Kairi selalu berpakaian lengan panjang. Saat berhubungan badan pun dia tak pernah melepaskan pakaiannya. Ternyata untuk menyembunyikan bekas lukanya, yang terpatri dengan jelas di seluruh tubuhnya tanpa tersisa sedikitpun kulit yang mulus.


Walau ketakutannya pada pria ini masih ada, tapi Anika mulai merasa iba melihat banyaknya jumlah bekas luka yang sudah tak terhitung jumlahnya.


Dengan sedikit keraguan, Anika perlahan mengulurkan tangannya untuk menyentuh permukaan kulitnya. Kairi hanya diam membiarkan dirinya disentuh. Setiap goresan luka seolah memperlihatkan sejarah siksaan yang selama ini Kairi dapatkan dari ibunya. Anika teringat akan siksaan yang dia dapat dari ayahnya. Tapi siksaan yang diderita Kairi ini terlihat jauh lebih parah daripada apa yang dulu dia dapat dari ayahnya.


Tak sadar air mata mulai mengalir jatuh ke pipinya. Anika mengasihani pria yang ada di hadapannya itu.

__ADS_1


"Kamu telah lama berjuang sendirian ya," ucapnya mulai memeluk Kairi. "Pasti sakit sekali ya."


Anika merasa seolah memeluk dirinya sendiri yang terluka. Membayangkan masa lalunya dulu sangat mengerikan, apalagi membayangkan siksaan yang lebih dahsyat yang mungkin dialami pria ini.


Kairi terdiam. Senyuman psikopatnya telah hilang tergantikan ekspresi sendu mengetahui ada yang mau memahami dirinya. Air matanya tiba-tiba mengalir dan dia tidak tahu kenapa. Dia pun membalas pelukan Anika, pertama kali bisa bersikap lembut padanya.


Saat melepaskan pelukannya, Anika menunjuk telapak kakinya.


"Aku juga ada banyak bekas luka bakar dari puntung rokok ayah. Tapi dia melakukannya di tempat yang sulit terlihat." Melihat ada orang yang memiliki penderitaan yang mirip dengan dirinya, membuat Anika merasa bisa membagi kisahnya sendiri. "Aku pernah diusir keluar rumah tanpa busana padahal hari hujan."


"Ibu juga sering melakukan itu."


Aib yang selama ini disembunyikan oleh Anika, mulai dia utarakan pada Kairi. Kairi pun merasakan hal yang sama. Penderitaan mereka yang mirip yang mereka dapat dari orang tua membuat mereka bisa saling memahami satu sama lain.


"Tapi lukamu ... hiks ... yang dilakukan ibumu sangat kejam ...." Anika mulai menangis lagi membayangkan penderitaan yang harus diderita Kairi.


Anika juga mengalami kekerasan dari ayahnya, tapi sebatas tinjuan dan tendangan yang hanya meninggalkan memar dan benjolan, yang akan hilang begitu waktu berlalu.


Tapi Kairi, ibunya tega menyiksanya dengan sayatan pisau dan dan luka bakar, luka-luka berat yang menyisakan bekas yang dalam.


Melihat Anika menangisi dirinya, Kairi merasakan suatu emosi yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.


Selama ini tak pernah ada yang menangisi dirinya.


Hanya dari kesalahan kecil, atau bahkan tanpa alasan sekalipun, ibunya akan memukulnya habis-habisan dan mengurungnya di kamar tempat dia mengurung Anika sekarang.


Kairi kecil selalu menangis meminta maaf walau tidak tahu dimana letak kesalahannya. Bisa berhari-hari dia dikurung tanpa makanan. Tapi ibunya akan kembali menjadi baik hati dan memanjakan dirinya.


Setiap hari dia merasakan perlakuan yang berubah-ubah; memukul-memeluk, mengancam-memuji, mengurung-memanjakan.


Dari situ Kairi menjadi sangat tergantung pada ibunya. Dia tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Dia hanya tahu harus patuh kalau tidak ingin disiksa, dan harus minta maaf walau tidak bersalah.


"Yang sakit bukan bekas lukanya karena telah dipukul, tapi luka hati yang tertinggal."


Kata-kata Kairi itu membuat Anika sadar.


Siksaan fisik dan pelecehan yang diterimanya hanya sakit pada saat itu. Tetapi trauma akibat perlakuan itu yang akan terus membekas.


"Aku pikir aku bisa menghilangkan traumaku dengan berjuang hidup dan mengubah pola pikir. Tapi kalau dihadapkan dengan kejadian yang mirip di masa lalu, traumaku pasti akan muncul lagi." aku Anika.


"Sahabatku pernah bilang, kita harus hidup untuk diri kita. Jangan biarkan trauma merusak kebahagiaan kita. Karena hidup kita adalah milik kita sendiri" lanjutnya sekarang merasa nyaman bisa bicara dengan penculiknya.


Kairi terus memperhatikan Anika berbicara. Mungkin ini pertama kali dalam hidupnya ada yang mau mengajaknya bicara dan memperlakukannya seperti manusia.


Dari kecil Kairi selalu dikucilkan karena lusuh dan memiliki ibu gila. Di sekolah pun tak ada yang berani mendekatinya, bahkan gurunya sendiri karena jijik dan takut padanya.

__ADS_1


"Aku nggak pernah cerita kepada siapapun tentang pelecehan yang dilakukan ayahku. Aku malu, bahkan ke ibu aku nggak cerita. Walau tiap malam ayah selalu masuk kamar... hiks... tapi di depan teman-teman aku selalu menutupi deritaku. Sejak SMP, setiap malam... hikshiks..."


Kairi mencoba menghibur Anika dengan menepuk kepalanya. Aib yang berusaha Anika tutupi semua keluar di hadapan pria di sebelahnya. Selama ini dia memendamnya sendirian, tapi dia merasa nyaman bisa menceritakannya kepada Kairi.


"Ibu yang tahu hubungan terlarang itu malah menyalahkanku. Malah memandangku jijik dan nggak melakukan apa-apa untuk menolongku karena takut pada ayah.


"Karena nggak tahan dengan keadaan rumah aku langsung keluar begitu tamat SMA dan pergi kos. Aku pikir bisa melupakan semuanya, tapi waktu bertemu Raymon aku sadar traumaku masih ada."


Belum pernah Anika seterbuka ini menceritakan kisahnya pada orang lain. Bahkan ke sahabat baiknya sekalipun, apalagi Tia. Dia selalu memendam deritanya sendirian. Selalu berusaha terlihat memiliki keluarga bahagia dan dibesarkan dengan cinta di depan orang lain.


Dia selalu menutup rapat aib keluarganya dan memikulnya sendirian.


Anika tidak menyangka bisa merasakan kelegaan setelah menceritakan semua penderitaannya ini kepada Kairi, yang sebenarnya adalah penculik dan pemerkosanya.


Kairi hanya terdiam mendengarkan sambil terus menepuk kepala Anika.


"Aku yakin kamu juga bisa berubah! Apalagi kamu sudah nggak memukulku lagi kan? Kamu juga nggak lagi memaksaku berhubungan badan! Itu hebat!"


Anika pikir dengan terus memujinya melakukan hal positif, seperti yang dilakukan pada anak kecil, dia pasti akan berubah ke arah positif.


Lama Kairi terdiam.


"Ibuku juga... melakukan pelecehan... saat aku 11 tahun..." katanya mengakui, sekarang tak berani memandang Anika karena sebenarnya jijik pada dirinya telah melakukan perbuatan inses yang terlarang.


Anika mematung tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Walau merasa aneh, awalnya aku pikir itu salah satu cinta ibu. Tapi lama kelamaan aku sadar itu salah. Ketika SMA aku menolak berhubungan badan, ibu malah menghukumku."


Kairi mengingat samar-samar kejadian itu, ibunya menghantam kepalanya berkali-kali ke tembok dan memukul badannya dengan besi panas. Dia kemudian diikat dan dikurung di kamar mandi sampai mengaku bersalah.


Mendengar itu Anika semakin menangis. Kairi juga sama seperti dirinya, dilecehkan oleh orang terdekat, oleh orang tua mereka sendiri. Bahkan Lebih parah lagi, Kairi dilecehkan ketika masih duduk di bangku SD. Dia tak tega membayangkan penderitaan anak kecil yang harus melayani ibunya sendiri di ranjang.


Kali ini Kairi tersenyum dan memeluknya lembut.


"Aku nggak apa kalau bersama Anika." Pertama kali Kairi bisa bersikap lembut kepada seseorang. "Anika spesial."


Anika tak menyangka mendapat pernyataan seperti itu dari penculik dan pemerkosanya. Dia menjadi bingung dengan perasaannya sendiri.


Tapi malam itu, pertama kalinya mereka tertidur bersama, hanya saling berpelukan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Terima kasih sudah baca


Mohon dukungannya ya...

__ADS_1


__ADS_2