Salahkah Mencintai Psikopat

Salahkah Mencintai Psikopat
Bab 61 Nafsu


__ADS_3

Ketika tim penyelamat tiba di lokasi musuh, mereka ngeri melihat lautan merah dari atas helikopter. Kairi yang telah bermandikan darah berdiri dengan tenang di antara ratusan mayat yang telah dia bantai habis. Elle telah mengumpulkan mayat-mayat itu ke luar gedung, berencana untuk membakarnya.


Anggota kepolisian khusus telah tiba di lokasi musuh dalam jumlah yang banyak untuk sekalian menyelesaikan masalah yang ada di atas pulau itu. Kapten mereka datang sendiri untuk menyaksikan keselamatan anggota timnya, tapi tak disambut baik oleh Elle.


"Sudah tahu lokasinya tapi kenapa memerlukan waktu yang lama?!" protesnya penuh amarah pada kaptennya. Dia beranggapan kepolisian tak sungguh-sungguh ingin menyelamatkan mereka.


"Dengar, Elle, lokasinya terlalu berbahaya kalau kita kerahkan terlalu banyak orang. Apalagi terakhir kita ketahuan telah menyusup."


Tim medis mulai memberikan selimut hangat dan mengevakuasi Kairi dan Elle ke dalam helikopter. Tangan mereka ditancapkan jarum infus dan wajah mereka diberikan masker oksigen. Kapten mereka berada dalam helikopter yang sama. Dia masih heran dengan ladang darah yang dia saksikan tadi.


"Bagaimana caranya kalian menyerang musuh dan bisa selamat?"


Elle tersenyum picik, seolah mencemooh kaptennya yang belum mengenal Kairi. "Ini semua hasil kerjaan dia. Saya hanya menunggu di luar."


Sang kapten tambah heran dan tak menyangka anak didiknya dalam dua bulan lebih bisa melakukan hal segila ini.


"Apa yang kau lakukan?" tanyanya kali ini menghadap Kairi dengan ekspresi sedikit takut.


Kairi tersenyum dan hanya menjawab, "Nggak minum obat."


Walau belum paham dengan pernyataan Kairi, sang kapten berpikir untuk lebih berhati-hati mengawasi anak didik barunya yang sepertinya pria berbahaya yang haus darah. Dia berpikir untuk menelusuri masa lalunya lebih teliti begitu sampai di kantor.


Setibanya di markas kepolisian, orang yang pertama menyambut mereka adalah Pierce.


"Kau sudah pulang, Babe?" tanyanya ingin memeluk 'kekasihnya' itu, tapi disambut dengan tonjokan oleh Elle. Pierce yang tak menduga hal ini langsung terjungkal ke lantai.


"Pel*cur sialan!" gumamnya menahan hidungnya yang berdarah.


"Kau kan yang dari awal berniat membunuh Kai?! Kau pikir aku nggak tahu?!"


Pria bertindik itu memuntahkan darah dari mulutnya dan tertawa menghina. "Apa bagusnya cowok cantik itu?"


Elle ingin meninjunya lagi tapi langsung ditahan oleh sang kapten yang tak ingin ada keributan di wilayah kepolisian.

__ADS_1


Yuri segera menghampiri Kairi dan langsung memeluknya dengan penuh semangat. "Kamu kelihatan sehat kak!" katanya datar walau kebahagiaan tetap terpancar dari raut wajahnya.


Perlakuan tak biasa ini membuat Kairi jijik pada adiknya. "Enyahlah dari hadapanku."


"Baik ...." jawab Yuri menurutinya, langsung menyingkir karena takut akan aura pembunuh kakaknya itu.


Selama terdampar di pulau, Kairi tak meminum obat yang membuat mentalnya tak stabil. Rasanya dia ingin sekali membunuh setiap orang yang ada di lokasi ini. Tangan barunya yang telah dimodifikasi sebagai senjata tersembunyi telah dia uji coba di markas musuh. Tapi dia belum puas dan berpikir untuk mencobanya lagi di sini. Dia tak peduli polisi ataupun warga sipil, yang penting dia harus membunuh seseorang.


Saat bersiap mengubah tangannya menjadi senjata, dia melihat istrinya dari kejauhan, menunggu dirinya di balik pagar besi dengan penuh kekhawatiran.


Istrinya yang telah dia rindukan selama ini.


Tak peduli dengan jurnalis dan polisi yang mulai datang menghampiri dirinya, Kairi langsung berlari ke arah Anika dan langsung memeluknya. Anika membalas pelukannya dan tak bisa menahan air matanya lagi.


"Kupikir kau akan meninggalkan ku juga!" serunya terisak dalam dekapan suaminya.


Kairi memegang wajahnya dan tersenyum padanya. "Mana mungkin aku bisa meninggalkan istriku tercinta," katanya langsung mencium istrinya di hadapan ratusan orang yang menyaksikan.


Saat Kairi memutuskan kontak bibir mereka, dia kembali tersenyum nakal. "Aku sudah janji kalau kembali akan memberimu lebih dari ciuman."


Di toilet umum, Kairi yang sudah tak bisa menahan nafsunya lagi, langsung menelanjangi istrinya dan mencium setiap sudut kulitnya. Anika sebenarnya merasa tak enak melakukan hal intim seperti ini di tempat umum. Dia terus berusaha menolaknya halus tapi Kairi semakin bersemangat.


"Kita lakukan kalau pulang saja, Sayang," sarannya berusaha menahan tangan Kairi yang sedang sibuk bermain-main dengan bagian privatnya.


Kairi yang memang lama tak minum obat, sudah tak bisa berpikir jernih lagi. Dia tak peduli dan melanjutkan aksinya, memasukkan miliknya dari belakang dengan sekali hentakan dan langsung memompanya dengan kasar.


Perlakuan yang didapatkannya ini membuat Anika merasa suaminya seperti orang yang berbeda. Kairi memaksakan kehendaknya tanpa mendengarkan permintaannya. Walau tahu suaminya pengidap gangguan mental, tapi dia tidak bisa memahami sisi suaminya yang liar ini yang seolah tak berperasaan.


"Hng .... Sudah ... hentikan Sayang ...."


Selesai satu ronde tak membuat Kairi berhenti. Dia sekarang mendudukkan Anika di pangkuannya dan mulai bermain lagi dalam posisi duduk di atas toilet sambil menghisap dadanya kencang-kencang.


Anika tak bisa mendesah. Walau badannya merasa enak, tapi tidak dengan hatinya. Dia merasa sedih dengan apa yang dilakukan Kairi padanya saat ini. Pria ini bukan suaminya yang selalu minta ijin untuk berhubungan, yang selalu memujinya dan lembut padanya. Pria ini seperti orang yang dulu pernah memperkosa dirinya, yang hanya menjadikan dirinya sebagai pemuas nafsunya saja.

__ADS_1


Anika sedang bercinta dengan sisi psikopatnya.


Kairi kemudian mengubah posisinya dan memasukkan bagian privatnya yang sudah sangat mengeras ke dalam mulut istrinya, memaksanya untuk menelannya dalam-dalam sampai Anika ingin muntah karena merasa tersedak. Tapi dia tak peduli dan terus menikmati hasratnya yang akhirnya bisa dia lampiaskan setelah berbulan-bulan menahannya.


Mereka telah menikah, tapi baru pertama kali setelah sekian tahun Anika merasa seperti diperkosa oleh suaminya lagi. Dia hanya bisa pasrah dan menangis, takut bila dia melawan justru akan membahayakan dirinya.


Setelah melepas hasrat berkali-kali dengan berbagai posisi liar, Kairi pun puas dan pergi begitu saja dari kamar mandi merasa ngantuk.


"Dari mana saja kamu kak!" sapa Yuri yang ternyata dari tadi mencarinya.


Kairi menguap pelan dan mencari lokasi untuk tidur. "Aku ingin tidur sebentar, jangan ganggu." katanya santai memasuki sebuah ruangan.


Yuri kemudian mendengar isakan tangis seorang wanita dari dalam toilet pria tempat Kairi keluar tadi dan menemukan Anika yang terbujur lemah di lantai tanpa busana. Hanya sehelai pakaian yang menyelimutinya dari atas.


"Apa yang terjadi?" tanya Yuri tak percaya dengan apa yang dia lihat. Dia langsung melepas jaket dinasnya dan melingkarkannya ke tubuh Anika. Dari bau menyengat seperti klorin dan dari penampilan Anika yang acak-acakan seperti korban kasus pemerkosaan yang sering dia tangani, Yuri bisa menebak apa yang telah dilakukan oleh Kairi pada istrinya sendiri.


Dia benar-benar monster, batinnya sedikit marah kepada kakaknya yang sebenarnya dia hormati.


Anika masih terisak memikirkan perlakuan yang diterimanya tadi. Walau dia tahu suaminya sakit mental, walau dia tahu tapi tetap saja hatinya pedih diperlakukan seperti ini oleh suaminya sendiri yang dia cintai.


Yuri mengumpulkan pakaian Anika yang tersebar, dan sedikit malu memungut pakaian dalamnya.


"Ini, cepat pakai. Saya akan jaga di luar."


Anika menghapus air matanya dan kembali mengenakkan pakaiannya. Setelah bercermin dan memperbaiki penampilannya, dia keluar kamar mandi dan melihat Yuri yang kelihatan kesal.


"Ayo kita temui suami bejatmu sekarang juga!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Berakhir lagi bab hari ini...


Terima kasih selalu atas dukungannya! Kalau ada yang ingin disampaikan, sangat ditunggu lho komentar kalian🤗

__ADS_1


__ADS_2