Salahkah Mencintai Psikopat

Salahkah Mencintai Psikopat
Bab 4 Pernikahan


__ADS_3

...!Hati-hati, bab ini mengandung kekerasan!...


"Anika Ayu, menikahlah denganku!"


Setelah siuman, Anika dikejutkan oleh seorang pria yang berlutut di hadapannya sambil menyodorkan sebuah kotak cincin untuk melamar dirinya.


Anika sering melihat momen romantis ini di media sosial. Orang-orang yang dilamar dengan hiasan-hiasan romantis di luar negri atau di tempat yang indah.


Tapi dirinya dilamar dalam keadaan tangan diikat, kaki dirantai dan mulut diplester, dengan latar rumah pengap yang penuh dengan sampah berbau menyengat.


Belum pria yang melamar dirinya kelihatan lusuh dengan pakaian kumuh dan penampilan kotor seperti gembel. Tubuhnya tinggi kurus, wajahnya tak kelihatan jelas karena hampir tertutup rambut depannya yang panjang


Saat kesadarannya mulai pulih, pikirannya dihantam oleh kenyataan bahwa dirinya telah diculik seseorang dan disekap di tempat asing. Air mata mulai bercucuran dari mata sembabnya.


Pria asing itu membuka plester yang sedari tadi melekat di mulutnya. Senyuman psikopat selalu menghiasi wajahnya seperti orang gila yang otaknya sudah rusak.


Siapa kamu? Aku dimana? Apa yang kamu inginkan?


Banyak sekali yang ingin Anika tanyakan, tapi ketakutannya membuatnya bisu. Badannya terus bergetar, takut dengan apa yang akan dilakukan oleh penculiknya itu.


"Mulai hari ini kita akan hidup bahagia sebagai suami istri."


Cowok lusuh itu menyematkan cincin murahan ke jari manis Anika, kemudian menabrakkan bibirnya dengan sembarangan ke bibir gadis tak berdaya itu.


"Kenapa menangis di hari bahagia kita?" tanyanya sambil mengusap air mata Anika dengan lengan baju lusuhnya.


"Huhuhu... Ampuni saya..." Tangisannya tak mereda.


"Kita sudah jadi suami istri, harus bersikap seperti suami istri."


Saat itu juga Anika dipaksa untuk berhubungan badan dengan pria tak dikenal di tempat asing yang penuh dengan sampah.


Awalnya Anika memberontak, tapi dia dipukul hingga babak belur, diminta untuk patuh sehingga dia hanya bisa diam dan pasrah. Seluruh tubuhnya bergetar menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Air mata tak berhenti mengalir membasahi pipinya yang lebam.


Penculikan, penyiksaan, penyekapan, dan pemerkosaan, semua ini dia alami di hari yang sama. Dia tidak ingin memikirkan esok hari yang harus dia lalui seperti di neraka.


Berhasil menyalurkan hasratnya, pria itu mengenakkan kembali celananya dan memandang wanita tak berdaya itu dengan seringai puas di wajahnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Siang berganti malam, Anika masih terbaring lemas di atas tikar milik pria itu. Pria mesum yang telah melepaskan hasratnya berkali-kali tanpa perasaan seperti binatang.


"Aku berangkat kerja dulu ya, Sayang." ucapnya sebelum menutup pintu dan menguncinya.


Kamar yang ditempati Anika tak berjendela. Hanya ada plastik-plastik penuh sampah yang memenuhi kamarnya. Terkadang terdengar suara seperti kecoak atau tikus yang sedang membongkar sampah.


Entah sudah berapa jam Anika terbaring di atas tikar, tak bergerak sedikit pun, hanya bisa meratapi nasibnya.


Perlahan dia menegakkan badannya, menahan rasa sakit yang muncul dari selangkangannya. Ruangan yang ditempatinya gelap gulita, tapi matanya sudah mulai terbiasa dengan kegelapan.


Jiwa untuk bertahan hidupnya tiba-tiba muncul. Anika berusaha mendekati pintu dan memaksa membukanya sambil berteriak meminta tolong. Namun tak ada jawaban. Pintunya masih tetap berdiri kokoh.


Dengan tangan terikat dia berusaha meraba-raba lantai, berharap menemukan benda yang bisa membantunya untuk melarikan diri. Tapi tak ada yang dia temukan selain sampah plastik

__ADS_1


Putus asa, Anika kembali berbaring di tikar. Kali ini perutnya mulai berbunyi karena sejak kemarin dia belum makan. Kelelahan atas usahanya melarikan diri sepanjang malam, Anika kembali terlelap dalam tidurnya.


Tak lama kemudian dia dibangunkan oleh suara pintu terbuka. Penculiknya datang membawa tempat makan anjing bekas yang sepertinya belum dicuci. Bagian luarnya sudah karatan dan berubah warna.


"Selamat pagi Sayang, aku bawain makanan untukmu." Dia menjatuhkan tempat makannya itu ke lantai di hadapan Anika.


Walau sudah merasa kelaparan, Anika merasa mual melihat makanan yang disajikan di hadapannya. Nasi basi yang sudah berlendir dan tulang ayam dengan sedikit daging yang masih menempel. Banyak belatung kecil-kecil yang menggeliat di dalam makanannya.


"Ayo makan sayang! Aku sudah siapin dengan cinta."


Melihat Anika yang hanya diam mematung, cowok itu dengan kasar menjorokkan kepalanya ke dalam makanannya. Wajah Anika dipenuhi oleh makanan basi yang berbau itu.


"Gimana? Enak ya Sayang?" tanyanya dengan senyuman psikopatnya.


Anika terbatuk-batuk merasa ada sesuatu yang memasuki tenggorokannya. Makannya sudah bercampur dengan muntahannya. Dia mulai menangis lagi.


"Kok nangis Sayang?" Cowok itu menjambak rambutnya dan mengangkat kepalanya. "Istriku jadi jelek kalau terlalu banyak nangis."


Dia mendorongnya kembali ke atas tikar dan mulai menelanjanginya. Karena takut dipukuli lagi Anika hanya bisa pasrah badannya dijilati setiap bagian. Seolah tidak puas kemarin melepaskan hasratnya berkali-kali, dia memaksa Anika untuk menjadi


pemuas nafsunya lagi.


Anika hanya diperlakukan sebagai objek seksualnya.


Puas bisa merasakan Anika lagi, dia kembali beranjak menuju pintu kamar untuk keluar.


"Kamu .... kamu siapa? Kenapa melakukan ini padaku?" tanya Anika memberanikan diri. Dia bisa merasakan getaran dalam suaranya saking takutnya.


Anika mulai mengingat-ingat lagi kejadian sebelum diculik. Pernah bertemu? Apa dia cowok lusuh yang datang ambil tester waktu itu? pikirnya mulai menerka.


"Senyumanmu membuatku jatuh cinta."


Hanya karena itu?! Hanya karena itu ... dia ...


"Kamu juga selalu belanja roti di minimarket kan?"


Kenapa dia tahu? Anika tambah ngeri mendengar fakta baru yang keluar dari mulut pria itu. Jangan-jangan dia yang selama ini mengikutiku dari belakang?


Perasaannya yang selama ini seolah dikuntit seseorang terjawab. Tangisannya mulai pecah tidak bisa menerima kenyataan ini.


"Hikshiks, kenapa? Kenapa aku??"


"Kan cinta tak perlu alasan." jawabnya santai dan senyumannya semakin lebar.


Menjijikkan! Aku nggak mau hidup sama cowok gila seperti dia!


Tapi kengeriannya tak berhenti sampai disini. Di atas sampah-sampah yang berhamburan, Anika melihat pakaian dalam yang tidak asing.


Pakaian dalamnya sendiri.


Kenapa bisa ada disini? Dia bahkan memasuki rumahku?


Di atasnya pun tergantung jemuran baju dengan sesuatu yang dijepit. Sesuatu itu terlihat seperti softex bekas pakai masih ada darah yang dijepit dalam jumlah banyak.

__ADS_1


"Itu koleksi pribadiku," katanya senang mengetahui Anika memandangi sesuatu yang dia anggap koleksi itu.


"Aku tahu semua yang kamu suka, kebiasaan kamu, bahkan kapan kamu datang bulan."


Gila! Dia benar-benar gila!! Ya Tuhan, masa aku harus hidup sama orang seperti ini?!


Tangisan dan ketakutan bercampur menjadi satu. Perasan Anika sudah tak karuan.


"Kita enak-enak dulu biar hati senang, Istriku." Dia mulai menjilati seluruh tubuh Anika yang telanjang kemudian bersiap-siap untuk berhubungan badan lagi. Anika berusaha melawan, tapi tak berhasil dengan tenaga pria yang dimilikinya.


"Lepasin! Aku nggak mau!!"


Duak!


Kepalan tangan mendarat di wajah Anika. Hidungnya langsung mengeluarkan darah.


"Kamu jadi istri harus patuh ya."


Perlakuan ini mulai mengingatkannya akan traumanya dulu.


Bila melawan, dia akan dipukuli. Walau jijik, dia harus melakukan apapun yang disuruh.


Anika yang sudah susah payah keluar dari lingkungan abusive, sekarang masuk lagi ke dalam neraka ini.


Setelah melakukan perbuatan mesumnya lagi, pria itu kembali mengenakkan celananya dan menuju pintu untuk keluar.


"Aku tidur dulu ya, sampai nanti Sayang." ucapnya sebelum mengunci pintu.


Melihat pria itu pergi Anika menangis sejadi-jadinya.


Kenapa semua ini terjadi lagi padaku? Kenapa aku terlalu lemah? Dari dulu aku nggak berubah! Apakah ini takdirku?


Anika mulai terkulai lemah tanpa busana. Perlakuannya ini bahkan lebih kejam dari traumanya dulu.


Dia sudah capek menangis.


Lama terdiam, Anika tiba-tiba teringat kembali kata-kata sahabatnya dulu ketika SMP. Kata-kata yang membuatnya bangkit dari keterpurukannya dulu.


'Hidupmu itu milikmu. Kamu yang menentukan hidupmu sendiri. Jangan mau disetir orang lain.'


Mengingat itu Anika mulai berjanji pada dirinya.


Aku harus kuat! Aku harus hidup untuk diriku sendiri! Aku harus merubah takdirku!


Dia pun mulai bangkit dan mendatangi tempat makannya. Walau masih jijik, Anika memaksakan diri untuk memakan bagian yang menurutnya masih bisa dimakan.


Setelah itu dia mulai mengenakan pakaiannya dan pergi tidur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai, semoga masih seru ya!


Mohon dukungan like dan komennya😇

__ADS_1


__ADS_2