
Anika dan Yaslan akhirnya pulang dari bulan madu mereka yang panjang. Yaslan sempat sakit karena tak tahan dengan udara dingin di sana. Anika telah merawatnya dengan sabar, walau harus mengorbankan tiga hari dari total liburan mereka untuk tetap di dalam hotel.
"Aku nggak akan mau ke daerah dingin lagi." kata Yaslan berjanji pada dirinya sendiri. "Tapi aku suka dirawat istri cantikku," tambahnya sembari memeluk istrinya.
Anika tersenyum melihat tingkah suaminya yang sedikit manja. Yaslan kelihatan sangat manusiawi dengan kelemahannya itu.
Mereka pun mulai membongkar koper mereka. Anika kemudian membersihkan rumah dan Yaslan mulai memasak untuk makan siang mereka. Ketika membersihkan rumah yang telah ditinggali selama sepuluh hari, Anika merasa tanaman hias koleksi Yaslan sedikit bergeser. Tapi dia menghiraukannya, berpikir mungkin ada hewan seperti cicak yang menggesernya.
Selama makan siang, mereka mengobrol seperti biasa. Tentang kegiatan ski perdana mereka, tentang pekerjaan dan studi mereka, lalu tentang keluarga.
"Kakakku habis melahirkan." katanya mengumumkan sambil melahap makan siangnya.
Anika terdiam sesaat. "Selamat ya." katanya berusaha terlihat ikut senang.
"Ibuku mengajak kita untuk mengunjungi mereka. Gimana kalau kita ke sana minggu depan?" ajak Yaslan.
"Boleh." Anika hanya menjawab seperlunya, lalu mulai membereskan peralatan makannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat mengatur barang untuk membawanya ke rumah orang tua Yaslan, Anika sadar ada beberapa pakaian dalamnya yang hilang lagi. Dia mulai merasa tidak nyaman dan langsung berpikir Kairi telah diam-diam memasuki rumah mereka.
"Yang, keamanan rumah benar-benar terjamin kan?" tanyanya memastikan pada suaminya.
Yaslan mengangguk. "Tentu saja! Kalau ada yang masuk pasti alarmnya bunyi. Rumah kita juga dijaga 24 jam oleh petugas keamanan lewat CCTV yang ada di depan pintu masuk dan pintu belakang.
Anika sedikit ragu. Orang normal mana bisa membuat pengamanan untuk penyusup yang abnormal.
Tapi dia kemudian mengingat Kairi yang sama sekali tidak menyentuhnya, padahal memiliki kesempatan untuk membawanya kabur saat dia diculik oleh Raymon waktu itu.
Selama dia tidak menggangu, pikirnya menenangkan diri, seharusnya tidak masalah.
Sebelum ke rumah orang tua Yaslan, pasangan suami istri itu memasuki tempat belanja, ingin membeli hadiah untuk calon ponakan Yaslan. Anika merasa tak enak badan dan terus meraba perutnya selama berada di bagian baju bayi.
"Ini aja, lucu banget ya?" Yaslan memilih bingkisan set baju bayi berwarna pink. Anika langsung menyetujui berharap ini semua segera berakhir.
Selesai membayar di kasir, mereka pun duduk di cafe untuk istirahat.
__ADS_1
"Kamu nggak apa, Yang? Kamu kelihatan pucat." Yaslan khawatir pada istrinya.
"Sepertinya sebentar lagi aku datang bulan." jawabnya meraba perutnya. "Nanti aku mau coba lihat di kamar mandi."
Yaslan sedikit kecewa. "Kamu sudah nggak minum pil KB lagi kan?"
Anika mengangguk sedikit ragu. Dia berbohong lagi. Ada hal yang tidak ingin dia ceritakan, hal yang sebenarnya ingin dia lupakan.
Setibanya di rumah orang tua Yaslan, Yaslan langsung menggendong ponakan barunya yang belum berusia sebulan itu.
"Sudah cocok jadi ayah nih!" goda kakaknya melihat Yaslan bersama bayinya.
Yaslan kelihatan sangat senang dengan bayi yang dia gendong di tangannya. Melihat itu, Anika memegang perutnya. Dia merasa bersalah. Tapi dia masih merasa belum pantas untuk menjadi seorang ibu.
Seperti biasa makan malam di keluarga Yaslan terasa sangat ramai dengan jumlah anggota yang banyak. Karena sudah beberapa kali mengunjungi mereka, Anika sudah terbiasa. Selesai makan Yaslan bermain dengan kedua ponakannya di halaman belakang. Anika senang melihatnya bahagia bermain bersama anak-anak. Dia berharap suatu hari bisa memberikan kebahagiaan itu kepada suaminya.
"Yaslan dulu sering membantuku merawat anak bungsuku. Mereka terpaut 15 tahun. Karena itu dia menyukai anak-anak."
Ibu Yaslan sedang berdiri bersama Anika, menceritakan sedikit mengenai masa kecil anaknya.
"Yaslan suami yang baik dan lembut, pasti bisa menjadi ayah yang baik." jawab Anika memuji suaminya.
Anika terdiam. Mungkin seperti ini rasanya memiliki seorang ibu sungguhan.
Sebelum tidur, Yaslan memperlihatkan foto albumnya di masa lalu. Anika penasaran dan tersenyum melihat Yaslan sangat menggemaskan saat masih kecil. Walau begitu dia juga sedih, andai dia juga memiliki foto album keluarga bahagia.
"Gimana denganmu, Yang?"
Anika bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan suaminya.
"Kamu nggak pernah cerita tentang dirimu, padahal aku ingin tahu seperti apa kamu saat sekolah, seperti apa kamu menghabiskan waktu bersama keluargamu."
Nafas Anika tertahan. Dia tidak mau mengingat masa kecilnya tapi seperti dipaksa untuk mengingat.
"Yang?"
"Aku nggak ingat!" serunya dengan ekspresi ketakutan.
__ADS_1
Yaslan kaget mendengar respon istrinya.
"Apa ada yang terjadi?" Dia berusaha menenangkan istrinya.
"Keluargaku terlalu biasa, nggak ada yang bisa diceritakan." Anika langsung merebahkan dirinya di atas kasur bersiap untuk tidur. Dia belum siap menceritakan yang sebenarnya, terutama pada suaminya yang memiliki keluarga bahagia.
Yaslan kemudian menyingkirkan album fotonya dan memeluk istrinya dari belakang.
"Apapun yang terjadi," kata Yaslan berusaha menghibur istrinya, "aku selalu ada untukmu. Aku akan melindungimu."
Entah kenapa mendengar itu, Anika tetap tidak bisa tenang. Anika tidak yakin suaminya bisa memahami dirinya dan keadaan keluarganya. Yaslan tidak tahu apa-apa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan paginya mereka memutuskan untuk pulang lebih cepat. Setelah sekian lama, mimpi buruk mengenai trauma Anika kembali menghantui dirinya.
"Jaga kesehatan ya. Jangan kerja terlalu berat." pamit ibu Yaslan. Anika tahu walau ibunya bilang untuk tidak terburu-buru memiliki anak, dia pasti tetap sangat mengharapkan anak dengan marga Rymer, anak Yaslan.
Sepanjang hari Anika merasa tidak enak badan. Dia tidak tahu apakah ini pengaruh hormonnya sehingga dia menjadi lebih cemas dari biasanya, ataukah ada sesuatu yang lain. Dia pikir dia sudah bisa mengatasi traumanya. Tapi kenapa sekarang mulai muncul lagi?
Anika berusaha mengalihkan pikirannya ke hal lain. Pulang kerja dia mendapat kabar suaminya tak akan pulang karena harus jaga malam.
Saat sendirian, dia mulai merasa kesepian. Dalam kesendiriannya itu dia justru membayangkan sosok mengerikan yang ingin memperkosa dirinya. Anika langsung masuk ke kamar menutup pintunya dan sembunyi di balik selimut.
Dadanya sesak, nafasnya memendek. Sakit perut melanda dirinya dan dia sadar dirinya sedang datang bulan.
Anika memaksakan dirinya untuk berdiri menuju toilet, berusaha terus untuk meyakinkan dirinya bahwa rumah ini aman, tak ada yang akan datang. Dia berusaha percaya dengan kata-kata Yaslan.
Kembali dari toilet dia mencari obat tidurnya di dalam lemari. Dia menemukan hoddie Kairi yang tersimpan di dalam. Anika mengambil dan mengenakkannya, entah kenapa dia merasa lebih tenang.
Anika berbaring di atas kasur sambil memikirkan Kairi.
Kenapa harus dia...? tanyanya dalam hati. Kenapa aku merasa aman dengan seorang pembunuh?
Malam itu Anika pun tertidur, membayangkan Kairi sedang mendekap dirinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Hai, hari ini tidak ada Kairi.
Tapi sebentar lagi dia akan muncul kok jadi tetap baca terus ya...