Salahkah Mencintai Psikopat

Salahkah Mencintai Psikopat
Bab 47 Berdua


__ADS_3

Sesaat pria itu berhenti ketika mendengar Anika membuka pintu rumahnya, tapi dia kemudian melanjutkan langkahnya menjauhinya sambil terus menyeret tubuh security tadi.


"Kairi? Itu kamu kan?" Anika mengejar pria itu dan menahannya dari depan.


Di bawah sorotan lampu jalan, Anika bisa melihat dengan jelas wajah tampannya yang sekarang sudah setengah rusak. Rambutnya lebih panjang dari terakhir kali mereka bertemu. Anika terus menatap Kairi seolah tak percaya bisa bertemu dengannya lagi. Dia heran dirinya merasa lega dan tenang begitu melihat wajahnya.


Kairi menatap Anika tanpa ekspresi. Dia sebenarnya tak berharap dirinya ditemukan oleh Anika seperti ini. Karena tak tahu harus berbuat apa, Kairi kembali melangkah maju melewati Anika sambil tetap menyeret tubuh berat dengan satu tangannya.


Melihatnya menjauh membuat Anika malah tersenyum haru. Kairi pahlawannya yang selalu melindunginya dari balik layar. Apakah dia yang akhir-akhir ini telah membunuh korban-korban malang itu? Apakah dia telah membunuh pria yang dia seretnya itu juga? Anika ingin bertanya, tapi dia pikir ini bukan waktu yang tepat untuk mengungkitnya.


"Aku merindukanmu." kata Anika jujur yang membuat Kairi berhenti melangkah.


Kairi melepas genggamannya dari pergelangan kaki pria gemuk tadi dan perlahan berbalik untuk melihat Anika. Dia sebenarnya ingin sekali menyentuh wanita pujaannya itu, tapi dia tak ingin lagi menghancurkan hidupnya dengan kehadirannya. Karena itu selama ini Kairi selalu berusaha menyembunyikan dirinya dan menjaganya dari jauh.


Melihat pria di hadapannya yang hanya berdiri diam tak bergerak membuat Anika ingin segera memeluknya, ingin merasakan lagi kehangatan dan ketenangan yang dulu selalu dia dapatkan darinya.


Awalnya Kairi kaget mendapat perlakuan itu dari Anika, apalagi wanita itu pasti tak suka dirinya membawa mayat. Tapi akhirnya dia luluh dan membalas pelukannya itu.


Kairi juga merindukannya.


Ketika melepas pelukannya, Anika perlahan menyentuh luka bekas bakar di permukaan wajahnya. "Apakah ini sakit?" Tahun lalu sebelum meninggalkan rumah, wajahnya masih diperban. Ini pertama kalinya Anika melihat wajah Kairi yang telah rusak.


Kairi memperhatikan tangan Anika yang terulur dan mengambilnya. Dia melihat cincin kawin yang disematkan di jari manisnya. Cincin kawin usang darinya dulu. Walau tak percaya dengan apa yang dia lihat, hatinya mulai diselimuti harapan.


Apakah masih ada kesempatan untuk dirinya memiliki Anika lagi?


Sadar cincinnya telah ditemukan oleh Kairi, membuat Anika malu dan menyembunyikan tangannya. "Ini jimatku untuk mengusir 'lalat-lalat nakal'," jelasnya malu-malu walau tak ditanya.


Sebenarnya cincin kawin dari Yaslan telah dia jual setelah menandatangani surat cerai. Memikirkan mantan suaminya hanya membuatnya sakit hati, karena itu dia segera ingin melenyapkan benda yang bisa mengingatkannya padanya.


Dan sejak tinggal di desa ini, saat Anika merasa kesepian, cincin dari Kairi lah yang selalu membuatnya semangat menjalani hidup. Walau dia tahu tak mungkin bisa bertemu dengannya lagi, tapi dengan adanya harapan itu membuatnya tetap bertahan.


Seolah bermimpi, Kairi sekarang ada di hadapannya.

__ADS_1


Kairi pun sudah tak tahan ingin mencurahkan cintanya, ingin sekali merasakan lagi bibir lembutnya. Dia perlahan melangkah maju ingin menciumnya. Kali ini Anika membalas ciumannya membuat Kairi ingin lebih. Setelah menukar ciuman panas di tengah udara pagi yang dingin, bibir mereka akhirnya terpisah seolah kehabisan nafas.


Senyuman khas Kairi kembali lagi. "Mungkin kamu memang nggak bisa hidup tanpa diriku." godanya sambil menyelipkan sebagian rambut Anika ke belakang telinga.


"Lama nggak bertemu dan itu hal pertama yang kamu ucapkan?!" balasnya sedikit jengkel.


Tubuh pria gemuk yang tergeletak di lantai mulai bergerak. Anika pikir dia sudah mati, tapi sepertinya dia hanya pingsan.


"Kamu nggak membunuhnya? Itu hebat sekali!" pujinya merasa kagum dengan perubahan Kairi.


Terakhir Anika masih takut dengan hobi abnormalnya itu. Tapi lama-kelamaan, apalagi setelah apa yang telah dialami oleh Kairi sampai harus kehilangan lengan dan merusak setengah wajahnya, Anika mulai bisa menerima sisi psikopatnya. Walau begitu dia terus berharap Kairi bisa terus berkembang ke arah positif.


"Sebenarnya aku berniat membunuhnya setelah ini." ungkap Kairi jujur yang membuat Anika yang semula penuh harap, langsung kecewa seketika.


"Jangan lakukan! Dia tak melakukan sesuatu yang buruk!" Anika membela security malang itu, berusaha melupakan sifat genitnya yang menyebalkan.


Kairi tampak marah. "Dia pernah menyentuh pipi kirimu tanggal 23, memegang pinggul dan tanganmu keesokan harinya, menggodamu lima sampai sepuluh kali sehari tiap jam kerja, dan ini ketiga kalinya dia menguntitmu, tapi kamu bilang itu bukan sesuatu yang buruk?"


"Terima kasih atas perhatianmu," katanya sehalus mungkin. "Tapi kamu harus ingat, membunuh tak akan menyelesaikan masalah."


Kairi memandang Anika kemudian mencium keningnya. "Baiklah istriku. Paling nggak ijinkan aku membuangnya ke tempat pembuangan sampah."


Walau pria pingsan itu menyebalkan tapi dia juga manusia. Anika sebenarnya ingin membawa pria malang itu masuk dan menyelimutinya agar tak kedinginan. Tapi selama Kairi tidak membunuhnya, Anika memberinya kebebasan melakukan apapun yang bisa membuatnya puas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kairi kemudian mengajak Anika ke rumahnya di daerah kumuh di pinggir desa. Di dalam rumahnya yang sempit, dia melihat koleksi-koleksi anehnya: pakaian dalam dan pembalut bekas yang pasti merupakan miliknya sendiri.


"Sudah berapa lama kamu nggak minum obat?" tanya Anika melihat keadaannya yang memprihatinkan.


"Setahun lalu." jawab Kairi kelihatan sibuk mencari sesuatu di dalam kardus-kardus yang penuh barang.


Mendengar jawabannya, Anika bertanya lebih lanjut. "Apakah kamu yang membunuh wanita-wanita yang bekerja di bar?"

__ADS_1


Keheningan Kairi membuat Anika berpikir bahwa dia benar telah membunuh mereka. Apakah Kairi membunuh wanita-wanita itu gara-gara dia melihat dirinya yang ditindas oleh mereka?


Anika sudah memutuskan untuk mau menerima sisi psikopat Kairi, karena itu dia berusaha mengontrol emosinya.


"Kairi," panggilnya yang membuat Kairi berbalik memandang Anika. Perlahan dia mengulurkan tangannya dan mengelus pipinya yang masih mulus. "Aku mau tinggal bersamamu lagi, tapi kamu harus janji satu hal."


Kairi tetap diam menunggu Anika melanjutkan kalimatnya. "Aku berharap kamu tak lagi membunuh orang." lanjut Anika memilih kata-kata sehalus mungkin agar tak menyinggung pria di hadapannya.


Kairi sebenarnya sudah tak peduli dengan membunuh. Tujuannya telah berubah dan tak lain adalah melihat Anika hidup bahagia. Dia akan musnahkan semua orang yang tega membuatnya menderita. Melihat Anika bahagia adalah satu-satunya kebahagianya juga. Sesederhana itu.


"Apa aku boleh menyetubuhimu lagi?"


Pembicaraan serius dirusak oleh pikiran mesumnya. Anika sedikit kesal dan malu, tapi dia bersyukur Kairi sepertinya menyetujui permintaannya.


"Tapi kenapa kamu juga membunuh pendeta dan para biarawati? Mereka telah baik padaku." tanya Anika lebih lanjut.


"Mereka tak lebih dari sampah."


Anika belum paham dengan apa yang disampaikan oleh Kairi, tapi dia akan segera mengetahuinya.


Setelah menemukan benda yang dari tadi dicarinya, Kairi mengajak Anika keluar.


"Mau kemana?" tanya Anika heran. Benda yang dicarinya tadi terlihat seperti buku tabungan.


"Beli rumah untukmu."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai ketemu lagi hari ini!


Btw, apa yang kalian sukai dari Kairi? 🤔


Perhatian untuk bab berikutnya akan sangat hot2, karena itu akan up setelah berbuka puasa yaaa...

__ADS_1


__ADS_2