Salahkah Mencintai Psikopat

Salahkah Mencintai Psikopat
Bab 8 Rahasia


__ADS_3

Rasanya sudah lama sekali Anika tidak keluar dari rumah sampah itu. Dia masih tak percaya Kairi mengajaknya keluar.


Apakah dia hanya mengujiku? Apa yang akan dia lakukan bila aku melarikan diri?


Mereka jalan bergandengan tangan menelusuri jalanan yang sepi. Kairi sengaja memilih waktu tengah malam untuk pergi belanja di mini market yang buka 24 jam, dengan begitu tak akan ada banyak orang.


"Dari dulu kamu tinggal disini ya?" tanya Anika.


"Iya."


Anika memperhatikan sekeliling. Hanya terdapat sedikit rumah dengan jarak berjauhan. Pepohonan dan sawah pun masih banyak terlihat.


Sama sekali tak ada bayangan dimana dirinya berada sekarang. Bagaimana Kairi dulu bisa menguntitnya di dekat rumahnya dan tempat kerjanya yang terletak jauh di tengah kota?


Petugas kasir yang melihat mereka masuk, memandang pasangan nyentrik itu dengan heran.


Seorang gadis dengan riasan cantik dan pakaian bersih, bergandengan tangan dengan pria lusuh dan kampungan.


Petugas kasir itu tambah heran melihat cincin usang yang tersematkan di kedua jari manis mereka.


Kenapa cewek cantik itu mau menikahi pria aneh seperti itu?


Mereka pun memilih bahan makanan dan segera pulang.


Anika terus berpikir apakah sebaiknya dia melarikan diri saja? Dia bisa saja lari dan memasuki sebuah rumah untuk meminta tolong. Atau seharusnya tadi dia minta tolong ke petugas kasirnya untuk memanggil polisi?


Tetapi Anika tak ingin Kairi masuk penjara. Dia pun merasa kasihan kalau sampai harus meninggalkannya sendirian.


"Istriku, lihat!"


Kairi menunjuk ke arah sawah yang terdapat banyak kunang-kunang berterbangan. Lahir dan besar di kota membuat Anika tak pernah melihat makhluk kecil ajaib itu.


"Waah, banyak sekali!"


"Dulu waktu kecil lebih banyak." Kairi menuju sawah meninggalkan Anika sendirian di jalan setapak.


Awalnya Anika dengan antusias menyemangati usaha Kairi untuk menangkap kunang-kunang. Tapi kemudian dia terdiam dan lagi-lagi berpikir untuk melarikan diri.


Sekarang jarak mereka cukup jauh. Bila sekarang Anika berlari dan bersembunyi di salah satu rumah, pasti dia akan aman. Tapi bagaimana dengan Kairi? Apakah dia akan kumat lagi bila dirinya meninggalkannya?


Terlalu lama larut dalam pikirannya dengan kontradiksi yang hebat antar ingin bebas dan ingin tetap bersama penculiknya, membuatnya kehabisan waktu.


Kairi berhasil menangkap dua kunang-kunang dan kembali ke tempat Anika berdiri. Dia menaruh satu ke telapak tangannya.


"Lucu sekali, kecil begini bisa bercahaya indah! Hebat ya!" Anika sama sekali sudah melupakan keinginannya untuk kabur.


"Apa kamu tahu, mereka mengeluarkan cahaya karena mau kawin?"


"Dasar mesum! Pikirannya selalu kawin!"


"Memang benar kok. Rasanya aku seperti kunang-kunang malang ini."


Anika heran. "Kenapa?"


Kairi mulai melepas kunang-kunangnya ke udara, terus menatapnya terbang menjauh.


"Mungkin aku nggak akan bercahaya lagi kalau nggak ada Anika."


Kata-katanya yang sederhana selalu membuat Anika terenyuh.


Anika juga melepas kunang-kunang yang ada di tangannya, dan kedua kunang-kunang itu terbang bersama menjauhi mereka.


"Mungkin aku juga sama, aku nggak bisa bercahaya kalau nggak ada Kairi."

__ADS_1


Mereka berdua duduk di pinggir sawah mulai berciuman mesra.


Anika pun sudah membulatkan tekadnya untuk tidak berpikir untuk kabur lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


'Cowok gila! Dasar pembohong! Kamu nggak pantas untuk Anika! Dia pasti akan pergi meninggalkanmu sendirian! Hanya ibu yang benar-benar mencintaimu!'


'Sekali psikopat selamanya psikopat!'


Kairi terbangun dari mimpi buruknya. Keringat dingin bercucuran membasahi tubuhnya yang telanjang dada. Dia kemudian memandang Anika yang tertidur di sampingnya dan menciumnya berkali-kali.


Anika berbeda, dia spesial, dia tidak seperti cewek-cewek itu! Dia bukan ibuku!


Setelah memenangkan diri dia kembali tertidur.


Di hari ulang tahun Kairi, mereka berdua masak dan membuat kue bersama. Walau hasilnya tak seindah resepnya, tapi mereka berhasil membuat hidangan istimewa, lain dari hari biasa yang selalu berupa nasi kucing dan mi instan.


"Happy birthday Kairi--" Anika menyanyikan lagu ulang tahun untuknya, kemudian menyuruhnya mengucapkan permohonan sebelum meniup lilin.


"Semoga bisa s*x dengan Anika untuk selama-lamanya." ucapnya meniup lilin.


"Dasar beneran mesum!"


"Hehehe..."


Selesai makan mereka menonton film romantis bersama seperti di bioskop.


"Pemain utamanya itu tipeku banget!" kata Anika yang duduk di sebelah Kairi.


"Anika pasti cocok dengan cowok ganteng seperti dia."


"Nggak ah, di hatiku cuma ada Kairi sekarang."


"Nggak usah pura-pura suka aku kok, aku nggak akan pukul kamu lagi."


Mendengar itu Anika sudah tak bisa fokus dengan filmnya.


"Kamu bilang apa sih! Aku nggak pura-pura, aku beneran udah sayang Kairi seorang!"


"Mungkin sayang yang kamu maksud hanya muncul karena stres dalam dirimu yang ingin bertahan hidup, bukan benar-benar sayang."


Anika merasa Kairi sedikit berbeda.


"Sebenarnya aku bisa saja lari waktu itu, tapi aku sudah putuskan untuk terus bersamamu! Karena aku percaya kamu bisa berubah!


"Aku nggak pernah cerita tentang aibku ke siapapun, tapi aku jujur padamu dan merasa beban hidupku lebih ringan! Masa lalu mungkin nggak bisa hilang, tapi berkat kamu traumaku hilang!"


"Masa lalu nggak bisa hilang..." gumam Kairi.


Dia kemudian bangkit dan mengambil pisau dapur. Anika kaget dengan perubahan sikapnya itu.


"Kamu pasti akan meninggalkanku, menelantarkanku sendirian." Langkah demi langkah, dia maju mendekati Anika dengan pisau di tangan. "Dasar cewek pelac*r, hanya bisa memberi ************ untuk membela diri!"


"Ayo bunuh aku kalau berani!" tantang Anika menarik Kairi.


"Kalau itu bisa membalaskan dendam ibumu, bunuh aku!"


Kairi terdiam.


"Jangan menyerah Kairi, aku tahu kamu bisa berubah! Aku bukan ibumu di masa lalu! Aku Anika! Kamu nggak sendirian lagi! Berjuanglah bersamaku!"


Kairi mundur dan membuang pisaunya.

__ADS_1


Dia sekarang mengacak-acak rambutnya. Wajahnya terlihat kesakitan.


"Nggak usah takut..." Anika mendekatinya dan memeluknya. "Ada aku sekarang."


"Kamu pasti nggak akan mengampuniku."


"Aku mengampuni semua perbuatanmu. Kamu udah sangat hebat dan berani tidak sampai membunuh orang lain atau membunuh dirimu sendiri!"


Kata-kata Anika itu membuatnya berdiri melepaskan pelukannya. Seluruh badannya bergetar.


"Kairi..." Anika meraih tangannya.


Pasti ada trauma lain yang tidak bisa dia ceritakan, batin Anika. Aku harus bisa menolongnya, karena dia sudah berhasil menghilangkan traumaku.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari berikutnya, Kairi menjadi pendiam dan menjauhi Anika. Ekspresinya seperti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Kairi bahkan lebih sering mengurung diri di kamarnya. Tapi Anika tak menyerah dan terus menerus menunjukkan kasih sayangnya.


Akhirnya suatu hari Kairi menyerah dan memeluknya sebelum berangkat kerja.


"Sayangku, sepertinya yang kamu bilang benar. Aku memutuskan untuk berjuang bersamamu."


Anika pikir Kairi telah kembali ke dirinya yang lembut. Bahkan dia sampai menangis bahagia berpikir Kairi akan berubah demi dirinya.


Tapi sayangnya itu tak akan berjalan sesuai harapannya.


Malam itu Anika tertidur dengan mimpi indah jalan-jalan ke taman bermain, traveling ke pantai, dan makan di restoran bersama Kairi layaknya suami istri.


Tiba-tiba dia terbangun mendengar suara pintu terbuka, berpikir Kairi sudah pulang. Namun yang dia lihat justru pintu yang ternyata tak terkunci.


"Kairi?" panggilnya bergerak menuju arah pintu.


Tak ada orang?


Lagi-lagi dia berpikir untuk kabur, tapi perasaannya seolah mengikatnya untuk tetap di rumah ini.


Anika berpikir untuk sedikit melihat keliling rumah. Dia kemudian penasaran dengan kamar Kairi yang selama ini tertutup. Dia berpikir untuk tak membukanya, tapi perasaan penasaran telah berhasil menguasainya.


Saat membuka kamarnya, Anika dikejutkan dengan banyaknya potongan-potongan tubuh manusia yang telah dimutilasi.


Ada potongan kaki yang dibakar, potongan tangan yang dimumifikasi, dan organ-organ dalam yang diawetkan di dalam toples.


Anika merasa mual dan tak percaya dengan apa yang dia lihat.


Mana mungkin ini perbuatan Kairi yang lembut, pasti dia menutupi kejahatan ibunya.


Namun dia tambah kaget dengan buku-buku catatan dan foto-foto dirinya yang diambil secara diam-diam berserakan di lantai. Saat membuka buku catatannya, bulu kuduknya berdiri.


Buku catatan yang berisi tulisan tangannya mengenai rencana penculikan dan penyekapan dirinya, dan cara membuat manusia menjadi hewan peliharaan, yaitu dengan memotong bagian sendi engsel siku dan lutut, lengkap dengan gambar tangannya.


Klik


Bunyi saklar lampu dinyalakan.


"Sayang?" Kairi muncul membawa gergaji di tangannya.


Anika jatuh terkulai lemas dengan semua kenyataan yang sekarang menampar dirinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai para pembaca, terima kasih sudah mampir😇


Mohon dukungannya ya!!

__ADS_1


Maaf mulai sadis lagi nih...


__ADS_2