Salahkah Mencintai Psikopat

Salahkah Mencintai Psikopat
Bab 28 Keluarga


__ADS_3

Hari ini Anika kedatangan sahabatnya sejak SMP. Dia adalah satu-satunya sahabat yang telah membebaskannya dari hidup yang kelam ketika dilecehkan oleh ayahnya dulu. Berkat kutipan yang didapat dari sahabatnya ini, dia bisa memberanikan diri untuk keluar dari rumah.


"Salam kenal, namaku Bora Eve. Sahabat Anika sejak SMP." Bora memperkenalkan diri kepada Yaslan.


"Ayo masuk! Anika sering cerita tentang kamu."


Anika sangat senang dengan kehadiran sahabatnya itu. Karena sudah lama tak bertemu, banyak sekali yang mereka bicarakan. Melihat keceriaan istrinya, Yaslan menjadi lega. Akhir-akhir ini Anika mulai mimpi buruk lagi. Padahal shift jaga malamnya bertambah banyak. Dia sempat berpikir untuk menolaknya, tapi ditentang oleh Anika yang mengutamakan studi Yaslan agar bisa cepat selesai.


"Apa kamu tahu tentang pembunuhan berantai yang akhir-akhir ini menimpa para pebisnis pasar gelap?"


Anika menggelengkan kepalanya mendengar informasi baru yang dia dapat dari Bora. Sahabatnya itu memang tertarik dengan hal yang berbau misteri dan pembunuhan.


"Sekarang lagi heboh lho! Katanya banyak dari mereka yang dikabarkan menghilang. Bahkan kantor polisi pernah dikirimi paket yang berisi potongan mayat mereka."


"Yang benar saja?!" Yaslan yang dari tadi sedang menyiapkan makanan telah mencuri dengar pembicaraan mereka.


Sejak kasus penculikan mereka dulu, Anika maupun Yaslan sudah jarang nonton berita di televisi. Mereka takut akan mengalami trauma yang berkepanjangan, sehingga menghindari hal-hal yang berbau kekerasan.


"Ayo makan!" ajak Anika melihat suaminya telah selesai memasak dan sedang menata meja makan.


"Wah ini semua kak Yaslan yang bikin?"


Di meja terhidang makanan yang dihias dengan cantik seperti hidangan menu di restoran bintang lima.


"Hampir setiap hari dia memasak seperti ini! Dan masakannya semua enak!" Anika memuji suaminya yang mulai tersipu malu.


"Biasa aja kok, cuma hobi." jawabnya sedikit salah tingkah.


Selesai makan, Yaslan yang membereskan meja dan mencuci piringnya. Dia menyuruh Anika untuk bersantai dengan sahabatnya itu.


"Suamimu sangat baik." Kali ini giliran Bora yang memuji suami sahabatnya itu.


"Dia selalu seperti itu." jawab Anika kelihatan bangga.


"Aku harap bisa menemukan ayah yang tepat untuk bayiku."


Anika terkejut mendengar pengakuan sahabatnya. "Kamu sedang hamil?"


"Calon suamiku tiba-tiba kabur begitu saja. Jadi aku harus siap menjadi single mother." Bora meraba perutnya yang masih belum besar itu. Dia sama sekali tidak kelihatan menyesal atau dendam.


Anika tidak tahu harus bilang apa. Dia sedikit heran sahabatnya percaya diri untuk memiliki anak sebelum menikah. Dia tidak akan pernah mau di posisi itu.


"Mau merabanya? Siapa tahu nanti kamu cepat tertular." tanya Bora sedikit bercanda.


Karena sebenarnya Anika belum ingin punya anak, dia ingin menolaknya. Tapi dia pernah dengar bahwa ibu hamil rentan stres. Dia tidak ingin membuat sahabatnya kecewa.


Bora memperlihatkan perutnya yang sedikit membesar dan mengelusnya. "Aku harap dia akan jadi anak yang baik dan tumbuh dengan sehat."


Anika ikut mengelusnya, tapi dia malah merasa jijik.

__ADS_1


"Wah lagi hamil ya? Sudah berapa bulan?" Yaslan kembali bergabung bersama mereka. Dia merasa bersemangat melihat kehamilan Bora dan berharap istrinya terpancing untuk memiliki anak juga.


Tapi dari tadi Anika terdiam.


Setelah lama bercengkrama, Yaslan dan Anika mengantar Bora sampai ke stasiun. Anika memeluknya sebelum berpamitan. Dia berharap bisa bertemu sahabatnya itu lagi dan berjanji akan mengunjungi Bora suatu hari nanti.


"Ada apa, Yang?" tanya Yaslan yang sadar istrinya menjadi lebih diam saat mereka di mobil menuju rumah. "Kamu kelihatan kurang bersemangat."


Anika menjawab ingin segera pulang karena capek.


Malam itu mimpi buruknya semakin intens. Dia memimpikan masa lalu kelam yang selama ini ingin dia lupakan. Tapi saat terbangun dia lupa.


Ada masa lalu kelam yang sebenarnya ingin dia lupakan dan kubur dalam-dalam. Dia merasa telah menghapus ingatannya itu, tapi tubuhnya seolah mengingatnya.


Setiap kali Yaslan harus jaga malam, Anika selalu mengenakan hoddie milik Kairi. Dia menjadi keterusan memakainya saat dia merasa tak enak.


"Selera fashionmu berubah, Yang?" tanya Yaslan melihat istrinya semakin sering mengenakkan hoddie di rumah.


Anika menggelengkan kepalanya. "Rasanya lebih nyaman memakai pakaian longgar."


Biasanya Anika suka memakai celana pendek dan T-shirt di rumah. Kalau keluar pun celana jeans atau rok dia selalu pasangkan dengan T-shirt yang ngepas badan.


"Ngomong-ngomong kemarin ibu menelponku. Ibumu."


Anika mematung mendengar ibunya disebut.


Ekspresi ketidaksukaannya mulai muncul. Anika tahu dia benci ayahnya yang selalu melecehkannya tiap malam. Tapi dia baru sadar dia lebih benci ibunya yang jahat.


Ibunya yang tahu anaknya diperkosa suaminya tapi tetap diam dan malah menyalahkan dirinya.


"Sebenarnya ibu berharap untuk bisa berbaikan denganmu. Karena itu aku mengajak mereka untuk rekreasi bersama."


"Kenapa?!" Anika tak percaya dengan apa yang dikatakan Yaslan. "Kenapa nggak tanya aku duluan?!"


Yaslan kaget melihat reaksi istrinya. "Aku hanya ingin kamu memiliki hubungan yang baik dengan keluargamu. Kamu seharusnya menghormati mereka karena mereka orang tuamu."


Anika mulai memegang perutnya lagi. Dia tidak pernah mau memikirkan orang tuanya, dan berpikir melupakan mereka adalah satu-satunya cara untuk memaafkan perbuatan mereka dulu.


Tapi sepertinya Yaslan tidak paham. Tentu saja dia tidak paham, dia tidak tahu apapun mengenai dirinya.


"Menurutmu semua keluarga di dunia ini adalah keluarga bahagia?"


"Aku tahu pasti setiap keluarga memiliki masalahnya masing-masing. Karena itu aku hanya ingin membantu untuk memperbaiki hubungan kalian."


"Memang kamu tahu masalah apa yang ada dalam keluargaku?" Anika tahu niat baik Yaslan untuk membantunya. Tapi dia kesal padanya yang tidak tahu apa-apa tapi ingin jadi pahlawan.


"Ibumu bilang kok, kalau kamu anak yang susah diatur dan suka melawan."


Apa?!

__ADS_1


"Kamu harusnya sadar, kamu sekarang sudah dewasa, Yang. Bukan lagi anak ABG yang masih labil."


Anika tak percaya suaminya percaya begitu saja bualan ibunya dan sekarang ikut menyalahkan dirinya tanpa mendengar cerita darinya. Dia selama ini sudah selalu menutup aib keluarganya dari Yaslan, tapi sekarang malah disalah artikan.


"Ibumu pasti mencintaimu. Cinta ibu itu tulus. Ayahmu pun pasti begitu."


Kata-katanya sekarang terdengar seperti omong kosong. Anika tak mau lagi mendengar lebih dari ini. Dia takut dia harus mengingat semuanya lagi. Dia takut trauma terbesarnya akan kembali.


"Jangan berhubungan lagi dengan orang tuaku." pinta Anika. Untuk sementara hanya ini yang bisa dia minta.


"Ya udah, kita nggak usah rekreasi bersama mereka. Tapi aku nggak nyangka kalau kamu nggak punya perasaan seperti ini."


Berhenti bicara! "Memang aku nggak punya perasaan."


"Apa kamu jadi berubah gara-gara pria brengsek itu? Dia yang sudah memanipulasi dirimu untuk membenci orang tua ya?"


Anika tak percaya Yaslan terus saja bicara seolah mengetahui semuanya. "Aku dari dulu seperti ini."


"Kamu memperlakukan orang tuamu seperti musuh. Kamu seharusnya membalas budi mereka karena telah membesarkanmu."


Berhenti bicara!!


"Sayang, coba lupakan masa lalu dan lihat ke depan. Bagaimana pun juga kalian adalah keluarga. Kamu adalah darah daging mereka. Hubungan darah itu tak bisa putus sampai mati."


"DIAM!!"


Nafasnya sesak dan tubuhnya lemas. Anika terjatuh.


Pengalaman paling pahit yang ingin dia lupakan muncul ke permukaan. Perasaan bersalah yang dulu terus menghantuinya, trauma terbesar hasil dari traumanya yang lain, mengalir deras ke dalam ingatannya.


Dia meringkuk di lantai memegang perutnya yang kesakitan.


"Anika!" Yaslan menelpon ambulans khawatir dengan keadaan istrinya.


Tapi Anika sudah tidak bisa lagi berpikir jernih dan terus menangis.


Maaf ... maaf ... maafkan aku ... aku jahat... aku pantas mati...


Trauma terbesarnya telah muncul kembali ke permukaan.


Maafkan aku ... maafkan ibu ...


Anika pernah menggugurkan kandungannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Trauma itu sungguh susah hilangnya. Jangan sampai membuat orang lain trauma😇


Jangan lupa dukungannya selalu ya...

__ADS_1


__ADS_2