Salahkah Mencintai Psikopat

Salahkah Mencintai Psikopat
Bab 63 Pilihan


__ADS_3

Keesokan harinya, Anika membuka matanya dan mendapati Kairi yang masih tertidur di sampingnya. Kalau melihat wajahnya yang sedang tertidur, Kairi sama sekali tak terlihat berbahaya. Dia kelihatan tak berbeda dengan orang normal lain pada umumnya.


Tapi kenyataannya semalam suaminya lagi-lagi lepas kendali dan hampir saja membunuh dirinya.


Anika bertanya-tanya dalam hati, apakah dia bisa kuat menjalani hidupnya bila dia harus berhadapan lagi dengan sisi psikopat Kairi? Selama ini tak pernah ada masalah, tapi ketika dia harus menjalankan misinya, dia berubah.


Anika bangun duluan untuk menyiapkan sarapan, tapi sudah kedahuluan Yuri yang sedang memasak di dapur sambil menggendong putrinya. Pemandangan ini selalu membuat Anika tersenyum dan berharap suatu hari bisa melihat suaminya dalam posisi itu.


"Selamat pagi," sapa Yuri begitu melihat Anika dan mulai menata meja untuk sarapan.


Anika ikut membantu dengan menyiapkan teh dan kemudian duduk di meja makan. Setelah mendudukkan Irina di kursi bayinya, Yuri pun bergabung. Biasanya seperti ini mereka lalui hari-hari selama tinggal bersama.


"Apakah Kairi baik-baik saja kemarin?" tanya Anika membuka pembicaraan.


Yuri memandangnya dulu sebelum menjawab, "Kamu yang diserang, tetapi menanyakan kabar kakakku?"


"Dia yang sakit disini, tentu saja aku menanyakan kabarnya," jelas Anika lebih lanjut.


Yuri tahu hidup bersama ODGJ tidaklah mudah, apalagi yang berbahaya seperti Kairi. Dirinya saja dulu sudah digigit Jane berkali-kali, bahkan hampir dipotong dan dijadikan santapannya. Belum dia selalu harus melindungi Irina dari ibu kanibalnya itu. Memang susah, tetapi dia selalu fokus ke hal lain seperti hobi memancingnya, atau fokus ke putrinya, yang bisa membuatnya bertahan lima tahun hidup bersama Jane sebelum akhirnya dia meninggal.


Sementara itu Anika masih berpusat pada Kairi, Yuri khawatir suatu hari kakak iparnya ini akan merasa tertekan dan mentalnya menjadi tak kuat hingga ikut berubah seperti kakaknya.


"Kamu harus fokus ke hobimu," saran Yuri melihat Anika yang kelihatan terus merenungkan sesuatu.


Dia tahu Anika suka membaca dan kadang menulis kutipan dari buku yang dibacanya. Tapi karena kesibukannya membuka toko sendirian, Anika sudah lama tak membeli buku-buku baru.


"Kalau kamu bisa nyaman dengan dirimu sendiri dan menjalani hidup dengan santai, kamu pasti bisa menjalani hidup yang damai dengan suami gilamu."


Walau tak suka dengan hinaanya, tapi Anika menghargai sarannya. Dia melihat Yuri yang mulai menyuapi makanan ke Irina dan berpikir apakah dirinya bisa bahagia dan merasa seperti keluarga sungguhan bila memiliki anak dengan suaminya itu?


"Kamu ayah yang penyayang ya," puji Anika untuk pertama kalinya. Sudah lama dia ingin mengatakan ini, tapi kekonyolannya membuat Anika sering menunda pujiannya.

__ADS_1


Yuri melihat Anika dengan ujung matanya sebelum kembali fokus ke putrinya. "Saya sebenarnya ayah yang gagal."


Anika bingung dengan pernyataannya itu dan memandangnya dengan heran.


"Saya sebenarnya memiliki dua anak," lanjut Yuri yang membuat mata Anika membulat tak percaya. "Tapi karena kelalaian diri sendiri, anak pertama meninggal tak lama setelah lahir."


Yuri mulai menceritakan kisahnya secara lengkap. Dia menikahi Jane yang telah diperkosa karena memang ingin bertanggung jawab atas keadaannya. Jane yang masih berusia 18 tahun dan mengalami trauma, mendapat perawatan psikiater dan kasih sayang dari Yuri dan keluarganya, hingga membuat keadaannya semakin membaik.


Tapi dia tak menyangka traumanya kumat lagi, yang membuatnya tega merebus dan memakan anaknya yang belum genap sebulan itu. Hal ini membuat Yuri terpukul dan sering pulang malam, membiarkan istrinya sendirian. Dia tak bisa menerima keadaannya saat itu dan berusaha terus lari dari kenyataan dengan bekerja lebih giat dan bersenang-senang bersama teman-teman kantornya, menelantarkan istrinya.


Keadaan ini membuat Jane yang menderita kesepian akut, mencoba mencari seseorang untuk bisa dia santap. Kejiwaannya yang tidak stabil selalu merasa dengan menyantap seseorang, akan membuat dirinya tidak kesepian lagi. Jane memilih orang yang dia sayang untuk dia konsumsi.


Dalam kesendiriannya, ada seorang pria muda yang sering mengantar koran ke rumahnya. Dia mengagumi Jane yang cantik dan sering menemani dirinya yang kesepian. Mereka akhirnya melakukan hubungan terlarang, yang mana adalah siasat Jane untuk menarik perhatiannya dan membunuhnya. Pria malang itu pun berakhir di atas piring Jane.


Setelah berbulan-bulan, Yuri berpikir untuk kembali menghadapi kenyataan hidupnya dan menerima kembali keadaan istrinya yang tidak normal. Tapi sudah terlambat. Ketika sedang menginvestigasi kasus laporan kehilangan, dia tak menyangka menemukan potongan tubuh manusia di kulkas rumahnya sendiri. Walau yakin itu tubuh potongan orang yang dilaporkan menghilang, tapi demi melindungi istrinya, dia pura-pura tak melihat apapun, hingga kasusnya ditutup karena mayatnya tak ditemukan.


Lagi-lagi karena kelalaian Yuri, dia telah membiarkan istrinya membunuh dan menyantap orang lain. Belum ternyata istrinya telah hamil lagi dengan entah siapa.


Sejak itu dia mulai belajar berdamai dengan kenyataan hidupnya dan berusaha fokus ke hal selain sumber stresnya. Hal ini lah yang membuat dirinya menjadi seperti sekarang ini.


"Saya bahkan lega ketika melihat istri saya mati, apakah saya bisa disebut baik?" ungkapnya kelihatan menyesal atas apa yang telah menimpa dirinya.


Mendengar itu semua, mata Anika telah berair tak bisa membayangkan hidup Yuri yang ternyata sangatlah menyiksa.


"Kamu telah berjuang selama ini, tak ada yang salah dari itu." Hanya itu yang bisa dikatakan Anika untuk menyemangati adik iparnya.


Yuri selesai menyuap putrinya dan sekarang memberinya minuman. "Kalau saya memang baik, saya tak akan membiarkan istri saya membunuh orang sampai berkali-kali."


"Itu sudah di luar kontrolmu," jawab Anika menenangkan dirinya. Anika pun tak bisa mengontrol Kairi yang telah banyak membunuh orang. Dia mulai paham kenapa Yuri begitu menyayangi putrinya itu padahal tak sedarah dengannya. Itu karena harapan Yuri ada pada Irina.


Yuri berdiri dan mengangkat putrinya untuk diajak bermain. "Tapi saya masih belum sehebat dirimu yang berhasil mengontrol monster buas."

__ADS_1


Anika tak tahu apakah dirinya pantas dibandingkan dengan perjuangan yang telah dilalui Yuri. Tapi dia merasa mereka mirip karena sama-sama memiliki pasangan dengan gangguan jiwa.


"Kadang kalau melihatmu saya jadi berpikir mungkin saya juga bisa mengontrol Jane bila bisa memberinya lebih banyak cinta. Tapi sampai dia matipun, saya tak merasakan apa-apa."


Anika menggelengkan kepalanya. "Aku nggak pernah mengontrol Kairi. Kalau mengontrol seseorang itu bukan cinta namanya."


Setelah menaruh Irina di dalam box mainannya, Yuri kembali untuk membantu Anika membereskan piring yang telah dipakai.


"Aku dan Kairi, kita hanya saling terbuka dan saling percaya. Mungkin cinta kita menjadi kuat karena aku percaya padanya tak akan membunuhku, sekumat apapun dirinya. Dia pun percaya aku tak akan meninggalkan dirinya, semengerikan apa yang dia lakukan."


Dulu Anika tak memiliki ini ketika bersama Yaslan. Dia tak percaya mantan suaminya itu bisa menerima dirinya yang penuh aib dan dosa. Dan Yaslan mungkin tak percaya cinta Anika padanya bisa sedalam cintanya pada Anika.


"Hmm..." gumamnya mulai cuci piring bersama Anika. "Hidup memang tak lepas dari masalah."


"Begitulah! Jadi kita harus menjalani hidup yang sekarang ini sebaik mungkin!" jawab Anika setuju sambil menyerahkan piring yang telah dia cuci untuk dikeringkan Yuri.


Pria itu menatap Anika dan iseng mengambil piringnya dengan menggengam tangan kakak iparnya itu. "Kalau ada pilihan hidup yang lebih baik, apa kamu mau mencobanya?"


Anika tak paham dengan apa yang ingin disampaikan olehnya, sehingga Yuri mulai menjelaskan lebih lanjut.


"Selama hidup bersamamu, aku merasa lebih tenang daripada dulu. Apa kamu tak merasakan hal yang sama?"


Pertama kali Yuri bicara non formal dan sedekat ini padanya. Anika masih tak mengerti apa maksudnya berkata seperti itu. Dia hanya bisa diam menatap wajah tampannya yang terlihat serius.


Di dekat situ, Kairi telah mendengar semua percakapan mereka. Dia tenggelam dalam pikirannya sendiri dan mulai berpikir mungkin adiknya itu bisa membuat cintanya hidup lebih tenang dan bahagia.


Dia mulai berpikir untuk merelakan Anika.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Semakin rumit hubungan mereka, tapi semua tergantung pada Anika.

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya🤗


__ADS_2