Salahkah Mencintai Psikopat

Salahkah Mencintai Psikopat
Bab 46 Kembali


__ADS_3

Anika menggigit bibir bawahnya melihat pria dingin di hadapannya itu. Otaknya terus berputar memikirkan godaan seperti apa yang harus dia lakukan agar pria itu mau menyentuh dirinya. Menggoda cowok saja dia tidak pernah.


Lama menatapnya, Anika melihat cincin kawin yang disematkan di jari manis polisi tampan itu. Dia sudah menikah?


Mengetahui status pernikahannya membuat Anika tambah sungkan untuk menggoda pria beristri. Pernikahannya hancur karena godaan wanita lain, dia tak ingin ada yang bernasib sama seperti dirinya. Anika berpikir untuk menyerah saja dengan uangnya dan melangkah kembali duduk di tempatnya semula memberi jarak cukup jauh dari pria di sampingnya.


"Ah nggak seru deh!" kata pria tadi meneguk minuman sambil merangkul wanita di sebelahnya.


Anika memperhatikan pria lain yang sebagian ternyata juga bercincin. Memiliki istri di rumah yang sedang menunggu kepulangan suami mereka, tetapi malah bermain-main dengan wanita lain. Mata Anika berair melihat kenyataan ini. Wajahnya tertunduk menahan tangisan.


Menggoda pria baik-baik yang berusaha setia pada istrinya, rasanya wanita seperti itu jahat sekali. Lebih jahat dari iblis manapun. Pria normal mana pun pasti akan tergoda, seperti yang terjadi pada suaminya.


Selesai kerja Anika dimarahi oleh manajernya karena tak bisa bekerja dengan baik dan diminta untuk tak datang lagi. Upahnya kerja malam itu pun tak dibayar.


"Sia-sia wajah langka milikmu!!" bentak manajernya sebelum mengusirnya keluar dari ruangannya. Baru kali ini Anika dihujat karena melakukan hal yang menurutnya benar. Apa hubungannya dengan wajahnya? Karena wajahnya yang langka dia seharusnya bisa menggoda lebih banyak pria, kemudian mendapat banyak uang dari situ?


Dunia ini tak akan cocok dengannya.


Wanita penghibur lain yang menyaksikan tadi mulai menindas Anika dengan menyiram alkohol ke wajah dan merobek pakaiannya hingga pakaian dalamnya terlihat. Ada yang mendorongnya sampai terjatuh ke lantai kotor, membuat wanita-wanita itu tertawa terbahak-bahak melihat makhluk menyedihkan yang terkulai lemas di lantai tak bergerak.


Tak ingin dilihat, Anika bersembunyi di bilik toilet bar. Dia terus menerus menangis menghiraukan riasan yang mulai memudar karena air matanya. Selama setahun tinggal di desa terpencil ini, Anika terus menerus mengalami nasib sial hingga membuatnya tak tahan lagi.


Apakah dia tak pantas bahagia? Kenapa hal buruk terus menimpa dirinya?


Setahun tinggal di desa terpencil ini tak juga membuat dirinya bisa hidup tenang. Kesepiannya justru memunculkan kenangan-kenangan buruk di masa lalu. Kejadian sial yang datang silih berganti memperparah keadaanya.


Anika sekarang tak tahu lagi apa gunanya hidup.


Lama berdiam diri Anika terhuyung keluar dari toilet. Loker tempat dia menyimpan jaket dan tasnya telah terisi sampah dan bangkai tikus. Dia memekik kaget kemudian berusaha mengambil barang miliknya dari dalam loker. Isi tas dan jaketnya sudah tak berbentuk karena telah dibakar sebagian. Pasrah dengan keadaannya, Anika mengambil benda-benda yang masih bisa diselamatkan dan bersyukur kartu identitas dan cincinnya masih utuh. Seorang petugas kebersihan yang sudah tua sedari tadi menatapnya kasihan dan menawarkan kopi kaleng hangat.

__ADS_1


"Terima kasih pak," ucapnya tersenyum menghargai perbuatan baik sekecil apapun itu.


Di luar langit masih gelap gulita walau sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Anika melangkah keluar lewat pintu belakang, berusaha menghiraukan udara pagi buta yang sangat dingin. Baru berjalan beberapa langkah, dia terkejut badannya menjadi hangat karena dibalut jaket seseorang dari belakang.


Anika menoleh dengan harapan ditolong oleh seseorang yang dia kenal, tetapi langsung kecewa melihat siapa pemilik jaket itu.


"Nona tak ingin mati kedinginan bukan?" Lagi-lagi dia harus bertemu dengan polisi dingin yang telah beristri itu.


Anika sebenarnya ingin melempar jaket milik pria ini karena tak ingin berhubungan dengan pria manapun, apalagi yang sudah beristri. "Saya sedang berpatroli di daerah ini, jangan sampai ada korban baru lagi." Ucapannya itu membuat Anika mengurungkan niatnya.


Mereka sampai di mobil polisi yang terparkir tak jauh dari situ. "Dimana rumahnya, Nona?"


Entah kenapa dia merasa seperti pernah mengalami hal yang mirip di masa lalu, sehingga merasa tak enak. "Saya bisa jalan, terima kasih."


Lokasi kosannya sebenarnya agak jauh, tapi dengan berjalan Anika berpikir bisa menjadi lebih hangat. Mobil polisi tadi mengikutinya dari belakang. "Anda sungguh tak butuh tumpangan, Nona?" tanyanya lagi dari dalam mobil dengan jendela yang terbuka.


"Tidak, terima kasih atas kebaikan bapak. Tapi sepertinya kita sama-sama telah memiliki pasangan." katanya sambil menunjuk cincin kawin yang sudah dipakai olehnya. Entah sejak kapan dia menjadi sensitif terkait pernikahan. Anika pun mulai berlari kecil dengan sepatu hak tingginya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hidupnya sekarang hampa.


Shift jaga malam di rumah sakit membuat kehampaan itu semakin terasa. Banyak yang lewat, tetapi kehadirannya seolah tak ada. Pegawai tetap di sampingnya terus bekerja, sementara dirinya hanya berdiri tanpa melakukan apapun. Walau sudah biasa diperlakukan seperti itu, Anika mulai jenuh.


"Hallo? Iya iya kenapa Sayang?" Pegawai tadi mengangkat telpon di jam kerjanya dan sekarang pergi entah kemana.


Anika melirik layar komputer yang masih menyala. Dia melihat data mayat yang sepertinya tadi baru masuk rumah sakit.


Pembunuhan lagi?

__ADS_1


Karena penasaran, Anika mulai menggerakkan mouse untuk melihat data dan foto identitas wanita yang sepertinya tak asing.


Bukannya ini wanita dari bar tempat aku kerja kemarin malam?


Tidak hanya satu, tapi ada tiga wanita yang telah dibunuh di hari yang sama. Dan semuanya wanita penghibur yang bekerja di bar tempat dia kerja malam itu. Anika telah dua kali lolos dari malaikat pencabut nyawa, tapi keberuntungan ini malah membuatnya tambah takut. Nafasnya menjadi berat, tubuhnya mulai gemetaran. Apakah berikutnya dirinya akan dibunuh juga?


"Hei kenapa kamu menggunakan komputer!" seru pegawai tadi dengan wajah galaknya setelah kembali dari istirahat kecilnya.


Anika masih diam mematung.


"Wanita-wanita malang, dari tahun lalu kasus wanita menghilang dan terbunuh sampai juga di desa ini. Untung aku sudah tua hahahaha ...." katanya tertawa melirik Anika seolah menyuruhnya mati saja.


Dini hari saat pulang dari shift malam, Anika merasa dirinya diikuti oleh seseorang. Semakin mempercepat langkah kakinya, semakin cepat pula langkah kaki orang yang mengikutinya. Begitu tiba di apartemen kecilnya, Anika segera masuk dan mengunci pintunya.


Bukannya pergi orang tadi justru menggedor-gedor pintu kosannya. Anika semakin merinding ketakutan dan bersembunyi di balik selimutnya mulai bernafas berat. Seluruh badannya gemetaran, tiba-tiba kilas balik diculik dan hampir dibunuh Raymon melintas kepalanya. Dia kemudian mengingat Kairi dan terus-menerus mengucapkan namanya dalam hati.


Gedoran pintu itu tiba-tiba menghilang tergantikan suara seseorang terjatuh ke lantai.


Karena penasaran Anika ingin melihat keluar lewat lubang pintu dan malah melihat tubuh seseorang yang diseret menjauh melewati batas pandangnya.


Apa yang sebenarnya terjadi?


Anika memberanikan diri untuk membuka pintu dan melihat seseorang sedang menyeret pria tua gemuk yang sepertinya telah dibunuh. Dia mengenali pria gemuk itu sebagai security yang bekerja di rumah sakit tempat Anika bekerja.


Sementara sosok yang menyeretnya, tidak salah lagi sosok itu milik dirinya.


"Kairi?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Bagi yang kangen, akhirnya pahlawan Psikopat kita tiba! 🤗


Besok dijamin akan seru, jadi terus ikuti kisah cinta mereka ya!


__ADS_2