Salahkah Mencintai Psikopat

Salahkah Mencintai Psikopat
Bab 20 Dendam


__ADS_3

"Siapa?!"


Yaslan sedang menyusuri rumah gelap gulita yang dipenuhi sampah. Terdengar suara tangisan lemah dari balik pintu kayu di seberang ruangan, tapi saat hendak meraih gagang pintunya, dia merasa telah menendang sesuatu.


Betapa terkejutnya Yaslan mendapati benda yang tak sengaja dia tendang adalah kepala manusia.


Dia langsung meraih gagang pintu untuk membukanya, dan justru mendapati seorang wanita telanjang bulat yang tangan dan kakinya telah diamputasi. Rambutnya telah dicabuti setengah dan terdapat banyak luka bekas penganiayaan.


"Apa ini?!"


Saat hendak meninggalkan ruangan, seluruh tubuhnya menjadi lemas begitu mendapati istrinya tergeletak tak berdaya di lantai. Tubuhnya setengah telanjang dengan kaki dan tangan yang terikat. Wajahnya tak terlihat jelas tapi seluruh tubuhnya gemetar mengetahui hal kejam apa yang telah dialami istri malangnya tersebut...


"Hahhh?!!" Yaslan terperanjat dari tidurnya, penuh dengan keringat dingin. Ini pertama kali dalam hidupnya dia bermimpi buruk sampai terbangun seperti ini.


Dia masih tak percaya dengan apa yang barusan dia lihat dalam mimpinya. Padahal dia hanya sebagai pengamat dan bukan korban yang mengalami hal itu, tapi kekejamannya terasa sangat nyata.


Setelah mengatur nafasnya dan meminum segelas air yang biasa dia sediakan di samping tempat tidur, Yaslan berbalik mendapati istrinya masih tertidur dengan nyenyak.


Kenapa semua ini harus kamu alami? Yaslan membelai istrinya dan mencium keningnya.


Kemarin Anika telah menceritakan semua tentang apa yang telah dialaminya kepada Yaslan.


Dari hari pertama dia dipaksa berhubungan badan berkali-kali seperti binatang, diberi makanan penuh belatung, disekap dan disiksa setiap kali melawan, sampai hari dimana dia kabur dan menemukan sejumlah koleksi gila potongan tubuh dan organ manusia.


"Gila, benar-benar gila! Dan selama ini kamu menanggung semuanya sendirian?"


Yaslan masih tak percaya dan tak tega mendengar semua itu. Membayangkan sebuah penyekapan dan pemerkosaan biasa saja dia sudah merasa emosi yang bercampur aduk, apalagi mendengar kenyataan lebih kejam yang sudah diluar imajinasinya.


"Dan sekarang bukannya di penjara, dia malah ada di rumah sakit gila tempat kamu bekerja?!"


Anika terdiam. Dia tahu bahwa Kairi seorang psikopat yang berbahaya dan telah mengancam nyawanya. Tapi perasaan nyaman saat tinggal bersamanya selama beberapa bulan membuat hatinya bimbang.


"Dia sepenuhnya nggak salah, ibunya yang telah salah mendidiknya," katanya berusaha sedikit membelanya.


"Tetap saja! Dia sekarang sudah dewasa! Apa artinya, dia membunuh orang lain karena kesalahan orang tuanya?!"


"Bukan begitu, Yang. Tentu saja perbuatannya itu salah, tapi anak korban pelecehan dan kekerasan dari orang tua itu sebenarnya sudah nggak bisa berpikir normal lagi. Mereka sudah nggak tahu mana yang salah dan mana yang benar."


Anika tahu betul karena dirinya sendiri pernah mengalaminya. Walau dia tahu hubungan terlarang dengan ayahnya sendiri itu salah, tapi dia hanya bisa pasrah diperlakukan seperti itu. Melawan pun tak menyelesaikan masalah, hanya berakibat mendapat kekerasan fisik. Dia pernah berkali-kali ingin membunuh dirinya tapi terlalu takut.


Bedanya, Anika memiliki sahabat yang membuka pikirannya untuk hidup demi diri sendiri. Dia mendapat kekuatan untuk bisa meninggalkan orang tuanya dan percaya bahwa balas dendam terbaik adalah hidup bahagia tanpa mereka.

__ADS_1


"Kamu sudah dimanipulasi olehnya. Bisa saja dia bohong untuk mendapat simpatimu."


"Bukan, nggak mungkin... Dia nggak mungkin bohong."


"Sayang, aku percaya padamu, tapi nggak dengan bajingan itu!"


Anika hanya bisa diam mendengar Yaslan bicara. Suaminya itu memiliki keluarga bahagia dan dibesarkan dengan penuh cinta. Dia pasti tak akan bisa mengerti kehidupan anak yang telah dilecehkan orang tuanya sendiri.


"Hahh! Benar-benar gila!! Ada keluarga gila seperti itu yang tega menyiksa dan perkosa anak sendiri, benar-benar menjijikkan!"


Deg!


Anika tak berani mengangkat kepalanya. Dia hanya berpikir dunianya dan Yaslan terlalu berbeda.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tak terasa dua tahun telah berlalu sejak mereka menikah dan pindah di rumah baru. Anika dan Yaslan bisa hidup bahagia dengan tenang tanpa masalah besar.


Atas nasihat Yaslan, Anika mengurangi jadwal kerjanya dan lebih fokus ke studinya. Dia juga tak pernah lagi menemui Kairi dan sebisa mungkin menjauhinya.


Karena khawatir, Yaslan sampai bicara pada kepala rumah sakit untuk memindahkan Anika, atau pasien bernama Kairi karena takut akan keselamatan istrinya itu.


Dan berkat usahanya, Kairi sudah tak terlihat lagi di rumah sakit tempat Anika bekerja sekarang.


Anika terkejut suaminya mengalungkan sesuatu di lehernya. Ketika dia membuka matanya, dia melihat sudah ada kue kecil berbentuk hati di hadapannya.


"Terima kasih, Yang!" ungkapnya sambil mencium pipinya, merasa senang dengan kejutan kecil yang dibuat oleh suaminya itu.


Mereka berdua sedang berlibur di sebuah pantai agak jauh dari tempat tinggal mereka. Dia sudah menyiapkan semuanya demi melihat istrinya bahagia. Yaslan selalu berusaha membuat banyak kenangan indah agar Anika bisa melupakan kenangan buruk di masa lalunya.


Selesai makan malam, mereka berdua duduk di teras villa dan menikmati pemandangan pantai malam serta suara deburan ombak yang menenangkan.


"Gimana perasaanmu, Yang?" tanya Yaslan sambil menggandeng tangan istrinya.


Anika menutup matanya sebelum menjawab, "Rasanya damai."


"Syukurlah." ucapnya sekarang mencium tangan Anika. "Setelah kamu nggak seatap lagi dengan psikopat gila itu, aku jadi lebih tenang."


Anika mengangguk setuju. Walau ada sesuatu yang hilang di hatinya, tapi ini hal baik untuk bisa memfokuskan cintanya pada Yaslan.


Kairi pria jahat! batinnya dalam hati. Cintanya palsu, hanya cinta Yaslan yang tulus.

__ADS_1


Akhir-akhir ini Anika mulai mengulangi kata-kata itu di dalam pikirannya.


"Tidur yuk, Yang!" ajak Yaslan beranjak dari duduknya. "Besok pagi kita mau bersepeda keliling pantai kan?"


Anika memeluk lengan Yaslan sampai mereka tiba di kamar tidur, Anika belum melepasnya.


"Kenapa, Yang?" tanyanya mulai heran dengan tingkah manja istrinya.


"Mau charger cinta lewat kamu, Yang." kata Anika tersenyum.


"Hahaha, charger cinta?"


"Iya, biar bisa lebih tenang. Karena Sayang selalu baik padaku, nggak pernah memukulku!"


Yaslan menjadi sedih mendengar itu.


Gara-gara pria brengsek itu. batinnya sedikit marah. Anika harus mengalami ini semua!


Keesokan harinya setelah mereka berdua puas menikmati keindahan pantai, mereka pun pulang kembali ke rumah.


"Karena kamu suka pantai kita harus sering kemari!" usul Yaslan dalam perjalanan pulang. "Anniversary kita juga bisa kita agendakan ke pantai!"


Menurutnya tempat yang bikin relax bagus untuk menenangkan hati Anika. Dia pun setuju dengan usulannya.


Setibanya di rumah, mereka dikejutkan dengan isi rumah yang berantakan.


"Panggil polisi, Yang!" Yaslan perlahan memasuki rumah dan menyalakan lampu. Dia pikir ada perampok yang masuk ke rumah mereka.


Setelah yakin tak ada orang di dalam, mereka berdua pun masuk menunggu polisi di dalam.


"Yang penting nyawa kita selamat, dan barang berharga semua kita bawa." katanya tidak ingin terlalu panik agar Anika pun tetap tenang.


"Tapi kenapa mereka tega menghancurkan rumah kita ya, Yang."


Tak lama setelah Anika menanyakan hal itu, dia mendapat jawabannya.


Foto-foto yang terdapat Anika di dalamnya semua dicoret-coret dengan sadisnya. Bahkan ada pesan di tembok yang bertuliskan dengan warna merah 'Sampai Jumpa'.


Yaslan pikir mereka bisa hidup dengan tenang, tapi kenapa masih saja ada yang menerror istrinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


🖤Kira-kira siapa yang tega melakukan ini semua pada Anika?


__ADS_2