
Anika tidak percaya dirinya memasuki rumah seorang pria asing lagi. Walau kali ini dia tak dipaksa seperti yang dulu dialami oleh dirinya.
Rumah kontrakan Yaslan tidak begitu besar tapi sangat bersih dan rapi. Bisa terlihat kehangatan hubungannya antara keluarga dan teman-temannya, dengan banyaknya jumlah foto yang disematkan di atas Cork board yang terpasang di dinding. Di pojok terdapat gitar, yang sepertinya adalah hobinya, dan koleksi tanaman kecil di rak yang terbuat dari kayu.
Sangat kontras dengan rumah Kairi yang usang dan penuh sampah. Hanya ada aura kelam dan suram yang bisa dirasakan. Apalagi bagi yang mengetahui kisah kelam pemilik rumah tersebut. Belum koleksi gilanya yang berupa potongan tubuh dan organ dalam manusia. Rumah gila yang merupakan saksi bisu atas kekejaman dan kesadisan yang pernah terjadi di rumah itu.
Anika menutup matanya ingin segera melupakan masa lalunya.
"Kamu bisa menaruh barangmu disini. Ini sebenarnya kamar tamu, tapi kamu boleh memakainya."
Barang Anika hanya sebuah dos penuh buku psikologi manusia. Entah apa yang membuat cita-citanya berubah untuk menjadi seorang psikolog, tapi dia tahu salah satu alasannya adalah Kairi.
"Aku harus kembali kerja, ini kunci rumahnya. Kalau ingin keluar jangan lupa kunci pintunya ya! Aku bawa cadangannya."
Setelah Yaslan pergi, Anika hanya bengong.
Dia disekap oleh Kairi, dikurung dan dikunci di dalam kamar sempit.
Tapi Yaslan tidak menguncinya. Dia bahkan mempercayakan kunci dan rumah berharganya pada cewek asing seperti dirinya.
Karena perutnya yang masih sakit, Anika membaringkan diri di kamar dan tertidur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jam delapan malam Yaslan pulang dari kerjanya yang panjang. Dia pulang disambut oleh bau wangi yang memenuhi rumahnya.
"Wah, masak apa?" tanyanya sambil melepas jas putih panjangnya dan menggantungnya di gantungan baju.
Anika sebenarnya tidak percaya diri dengan skill memasaknya. Dia melakukan ini hanya ingin berterima kasih karena diperbolehkan tinggal dengan gratis di rumah ini.
"Maaf aku pakai dapurnya tanpa ijin. Aku lihat ada telur dan bumbu-bumbu dapur jadi mulai masak."
Selesai memasak, Anika menghidangkannya di atas piring dan membawanya ke meja makan. Yaslan sudah duduk menunggu dengan sabar.
"Nasi goreng spesial kesukaanku! Terima kasih!" ucapnya sebelum mulai makan. "Enak lho!"
Melihat Yaslan yang duduk di hadapannya makan dengan rapi menggunakan sendok dan garpu, lagi-lagi Anika membayangkan sosok Kairi yang selalu makan pop mi dengan tangan.
"Ada apa?" tanyanya melihat Anika yang hanya terdiam.
Sadar dipandangi oleh Yaslan, Anika pun mulai makan.
Jas rapi, rumah rapi, kerja bagus, keluarga harmonis, kenapa semuanya harus kebalikan dari Kairi?
__ADS_1
Yaslan sedikit khawatir dengan ekspresi sedih Anika.
"Dulu aku pertama kali melihatmu saat Ospek." katanya tiba-tiba. "Kamu selalu terlihat kuat. Semua mengeluh tapi kamu tetap sabar menjalani setiap tekanan."
Anika tak begitu mengingat masa Ospeknya. Dia selalu sendirian tak ada teman, jadi hanya berusaha melakukan sesuai perintah senior.
"Saat kuliah dan saat kerja pun, rasa capek atau keluhan dari pelanggan tak pernah terlihat dari wajahmu. Walau hidup terlihat berat tapi kamu terus tersenyum."
Mendengar itu, Anika mulai membayangkan masa lalunya. Dari kecil dia sudah biasa untuk tidak mengeluh. Kelakuan abusive orang tuanya pada dirinya lebih kejam dari siksaan manapun yang pernah dia alami sebelumnya.
Keluarga yang dia harap bisa mendapat kasih sayang dan tempat perlindungan, justru adalah sumber luka batin terbesarnya.
Belum kisahnya dengan Kairi, cinta pertamanya yang kelam.
Tak terasa air mata mulai membasahi pipinya.
"Anika?" Yaslan mengambil tisu dan menyeka air matanya. Dia kemudian mengambil air minum dan memberikan gelas itu padanya.
"Aku nggak tahu apa yang telah terjadi pada dirimu, tapi aku berharap bisa menjadi tempatmu berlindung."
Tempat berlindung? Tempat yang selama ini aku butuhkan, apakah aku pantas mendapatkan itu?
"Mungkin sekarang kita masih baru kenal, tapi aku harap kita bisa lebih dari sekedar teman." katanya sekarang berlutut di sampingnya.
"Ma... maaf..." Anika tak bermaksud untuk melukai dirinya, tapi sepertinya Yaslan paham.
"Kalau kamu belum siap, aku akan menunggumu! Satu tahun, lima tahun, aku tunggu sampai kamu bisa menerima diriku."
Apa memang ada cowok sebaik dia. Mana mungkin dia mau menerima cewek kotor seperti diriku.
Malam itu Anika hanya menangis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari berganti minggu, Anika telah menemukan kos baru dan bersikeras untuk pindah. Yaslan pun mengijinkannya dengan memberinya syarat agar memberitahukan alamat kosnya.
Yaslan sering menunggu Anika pulang kerja dan mereka sekedar bercengkrama di kafe dekat situ. Selama tinggal seatap, Yaslan tak pernah berbuat hal tak senonoh pada dirinya. Karena itu Anika mulai sedikit bisa mempercayai dirinya.
Walau begitu dia masih belum bisa menggantikan Kairi di hatinya.
Dita teman kerjanya sering menggodanya dengan Yaslan. "Pacarmu ganteng, dokter lagi, enak banget kamu Ka!"
Anika tersenyum tipis. "Dia bukan pacar."
__ADS_1
"Hampir setiap hari jemput kamu kerja, kalau bukan pacar terus apa dong?"
Anika terdiam.
Kalau dulu dia berhasil membawa Kairi keluar dan pacaran dengannya, apa yang akan mereka katakan pada dirinya bila mengetahui pasangannya seorang psikopat?
Masyarakat selalu menuntut hal yang baik, hal yang merupakan idaman semua orang pada umumnya. Padahal ekspektasi tak selalu sejalan dengan kenyataan.
Yaslan cowok baik yang berprofesi sebagai dokter. Apa bisa dia terima dirinya yang kotor, yang perawannya diambil ayahnya sendiri? Yang pernah disekap dan diperkosa, dan pernah jatuh cinta sama psikopat gila pembunuh?
Suatu hari mereka berdua pergi traveling bersama untuk sejenak menikmati pemandangan danau dan gunung di pulau tempat mereka tinggal. Sayangnya penginapan tempat mereka menginap penuh sehingga mereka terpaksa berbagi satu kamar.
Anika tahu bahwa Yaslan bukan cowok mesum yang akan mengambil kesempatan seperti ini untuk menyentuh dirinya. Tapi dia salah.
Yaslan sudah lama memendam perasaan pada Anika. Dia sudah selalu menahan hasratnya bila bertemu wanita pujaannya itu. Walau dia pria baik-baik yang berpendidikan, tetap saja sebagai cowok normal yang terlalu lama sendirian, hasrat seksualnya muncul. Terutama bila berada di dekat orang yang disukainya.
Selesai mandi Anika berbaring di pinggir kasur sambil membaca buku psikologi miliknya.
Yaslan yang juga sudah selesai mandi, masih mengenakan kimono mandinya.
Karena terlalu asik mempelajari tentang penyakit jiwa manusia, Anika sama sekali tak sadar Yaslan telah mendekatinya.
Tiba-tiba badan kekarnya telah mengelilingi tubuh mungilnya.
Anika kaget setengah mati dan berusaha melepaskan diri dari dekapannya.
"Lepas! Lepaskan!"
Yaslan memperkuat pelukannya.
"Apakah kamu nggak bisa sedikit pun melihatku sebagai pria?"
Anika berhenti memberontak.
Mendengar kata pria, traumanya kembali mengalir deras memasuki alam sadarnya.
Apakah dia juga akan memperkosaku? Apakah kalau aku melawan aku akan dipukul? Apakah aku akan disekap lagi?
Sadar dirinya hanyalah seorang 'wanita' lemah, membuatnya pasrah disentuh, dicium, diraba, oleh orang yang dia pikir bisa dipercaya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Terima kasih sudah baca ya...
__ADS_1
Secara mental wanita itu kuat lho, jadi semangatlah!!