Salahkah Mencintai Psikopat

Salahkah Mencintai Psikopat
Bab 34 Berkebun


__ADS_3

Anika menahan nafasnya melihat pemandangan mengerikan di hadapannya.


Tubuhnya gemetaran karena ketakutan. Ini sisi lain Kairi yang mengerikan yang pernah dia saksikan sebelumnya ketika dia hendak melarikan diri dulu. Sisi yang muncul karena Anika menolak dirinya, yang membuat Kairi tega ingin memotong tangan dan kakinya agar Anika bisa terus bersamanya. Sisi psikopat Kairi yang menikmati penyiksaan.


Lia dan Ann sudah menduga akan terjadi hal seperti ini, tapi mereka tak menyangka bakal separah ini. Lia ingin mendekati Elle dan lainnya yang telah bersimpah darah tapi niatnya itu terhentikan oleh Kairi yang menatapnya dengan hawa membunuh. Dia bingung apa yang harus dilakukannya sekarang.


Anika hanya bisa diam di tempat. Salah berkata, dia akan dibunuh juga. Dia tak hentinya bergetar, tapi ini akibat kesalahannya. Karena itu dia coba untuk memberanikan diri.


"Kairi ...." panggilnya maju selangkah.


Kairi menolehkan wajahnya dan Anika bisa melihat tatapan mata Kairi yang biasanya lembut dan tersenyum padanya, sekarang terlihat kosong tanpa sedikitpun menyiratkan cinta.


Anika mengalami konflik batin dalam dirinya. Otaknya ingin segera lari dari situ, tapi hatinya memaksanya untuk terus maju.


"Tolong letakkan pisaunya ...." pintanya selembut mungkin, tak ingin terdengar seperti sedang memerintah. Anika biasa merawat ODGJ, dan salah satu kuncinya adalah harus bisa sabar dan lembut pada mereka, semengerikan apa pun mereka.


Kairi melonggarkan genggamannya dan pisau-pisau itu terjatuh. Anika pun mengambil kesempatan ini mengulurkan tangannya untuk meraih Kairi, dengan niat memeluknya dari belakang.


"Maafkan aku telah tidak patuh padamu." sesal Anika sambil menangis. Seluruh tubuh Anika masih bergetar karena takut. Jantungnya berdegup sangat kencang, takut akan dibunuh. Tapi dia berusaha tetap memeluknya erat-erat. Kairi masih mematung dalam pelukannya.


"Kamu mau maafin aku kan, Kairi?" Sesalah apa pun mereka dengan gangguan mental, sebisa mungkin jangan menyalahkan mereka.


"Jangan tinggalkan aku, aku membutuhkanmu." bujuknya terus mengungkapkan apa yang dirasakannya. "Aku sayang kamu ...."


Sebenarnya hal sederhana itu yang diinginkan oleh Kairi. Disayangi dengan tulus.


Kata-kata yang dilontarkan oleh orang yang dia cintai membuatnya kembali menjadi Kairi. Dia berbalik dan membalas pelukan Anika. Matanya penuh dengan air mata.


Anika mengelus kepalanya. "Jangan takut, aku sekarang di sisimu. Kairi anak yang baik. Kairi sangat lembut." pujinya terus seperti seorang ibu kepada anaknya


Lia mengambil kesempatan ini untuk mendekati teman seprofesinya. Tampaknya Elle dengan kelihaiannya dalam beladiri telah berhasil melindungi dua anak yang telah tak sadarkan diri karena ketakutan. Perut dan tangannya telah terluka, tapi tidak parah.


Melihat ini semua, Ann pun baru sadar bahwa hanya Anika yang bisa menjinakkan monster yang ada di dalam diri majikannya. Anika yang punya kendali untuk mengeluarkan monster itu atau memasukkannya, seperti sebuah tombol yang tertanam di otak Kairi.

__ADS_1


Pagi itu adalah titik balik dari hari berikutnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Anika telah merawat luka pada tubuh Elle. Dia tak berhentinya meminta maaf karena merasa bersalah telah menyebabkan ini semua.


"Saya masih hidup, saya tidak apa Nyonya muda."


Kedua anak-anak itu pun, Rin dan Quill, sedang beristirahat di dalam kamar mereka.


Anika memandang sekeliling kamar dan prihatin dengan keadaan mereka. Kelima pelayan itu harus tidur di kamar sama yang sempit tak berpintu dan tanpa kasur, hanya kain dan papan. Padahal rumah ini sangat mewah, tapi kamar mandi mereka pun sangat tua dan terbuka. Tak ada privasi untuk mereka.


Karena terbiasa merawat ODGJ di tempat kerjanya, Anika merasa ingin merawat mereka selayaknya manusia. Walau masa lalu mereka adalah seorang PSK yang Anika tidak suka, tapi mereka pasti telah mengalami trauma dan perubahan perilaku atas pelecehan yang mereka terima dulu.


"Ayo ikut aku!" Anika memanggil Lia dan Ann yang masih sehat untuk membantunya merombak dua kamar. Kamar yang penuh dengan pakaian sexy, dan sebelahnya, yang ketika dibuka oleh Anika dia tampak sangat terkejut dan ngeri tak percaya apa yang dia lihat.


Seumur hidup Anika tak pernah melihat video porno selain yang dulu dipaksa oleh ayahnya.


Tanpa pikir panjang, Anika meminta plastik dan memasukkan semua peralatan menjijikkan itu ke dalamnya untuk dibuang. Semua baju tak senonoh pun dia ambil untuk dibakar. Lia dan Ann membantunya, walau Ann terlihat sedih karena merasa pakaiannya masih bagus.


Dari gudang, Lia membawa kasur dan memasukkanya ke dalam kamar untuk digunakan oleh mereka.


"Apakah kalian tidak masalah menggunakan kamar ini? Tidak akan membawa trauma kan?" tanya Anika memastikan keadaan mereka.


"Tidak apa Nyonya, kita sudah tak memakai kamar ini." Lia dan pelayan dewasa muda lainnya memang sudah tak ikut dalam produksi video porno. Paman Kairi dan anak buahnya lebih sering memproduksi video pelecehan terhadap anak kecil. Mereka membeli anak polos di luar untuk direkam agar terlihat lebih nyata. Mereka tak merekam orang yang sudah biasa dengan pelecehan.


Anika kemudian mendekati Ann dan memegang pipinya. "Apakah masih perih?"


Ann sebenarnya masih tidak menyukainya. Tapi kejadian tadi membuatnya sadar, tak ada kesempatannya untuk mendapatkan cinta Kairi yang terlanjur sudah tertanam sangat dalam pada Anika.


"Tidak masalah," jawabnya sedikit kasar tak ingin dikasihani olehnya.


"Maafkan aku. Gara-gara aku kalian harus menderita." Anika merasa sangat bersalah, tapi Lia menghiburnya.

__ADS_1


"Kehadiran Nyonya muda membuat Tuan muda lebih lembut. Kami yang seharusnya berterima kasih."


"Tapi jangan lagi menolak cinta yang diberikan oleh Tuan Kairi! Cobalah untuk bisa menerima keabnormalannya!" tambah Ann.


Anika mengangguk. Dia akan berusaha untuk menerima perilaku menyimpang Kairi dan perlahan mengarahkannya ke jalan yang benar. Rumah beserta penghuninya mengingatkannya pada RSJ tempat dia bekerja. Anika berjanji dalam dirinya untuk merawat mereka sebaik mungkin.


"Dimana Kairi?"


Lia dan Ann saling berpandangan dan Ann mengangguk. Mereka berpikir sudah saatnya Anika mengetahui Kairi seutuhnya, dan membantunya untuk menerima majikan baru mereka.


"Beliau sedang berkebun di halaman belakang." jawab Lia.


"Bawa aku ke sana!" pinta Anika tapi Ann menghalangi langkah Anika.


"Nyonya harus berjanji jangan lagi melakukan hal yang membuat Tuan Kairi kecewa! Saya tidak ingin hal seperti tadi pagi terulang kembali!"


Walau sedikit bingung, Anika mengangguk dan mulai melangkah keluar rumah bersama mereka.


"Nyonya harus ingat bahwa Tuan muda melakukan ini semua demi Anda. Nyonya jangan takut padanya dan anggap ini semua normal." Lia ikut membesarkan hatinya, menyadarkan Anika bahwa walaupun Kairi mengidap kelainan mental, tapi dia tetaplah manusia.


Sayangnya itu tidak semudah yang dipikirkan Anika.


Sesampainya di halaman belakang, Anika langsung mual dan muntah melihat tanaman yang ditanam oleh Kairi. Rasanya dia mau pingsan melihat itu semua di depan matanya.


Betapa tidak? Orang normal seperti Anika tak akan memahami ini semua. Dia awalnya berpikir hobi berkebun milik Kairi adalah kegiatan yang normal.


Dia tidak menyangka yang ditanam olehnya bukan tumbuhan, melainkan kepala-kepala manusia yang bagian atas tempurung kepalanya telah dibuka sehingga kelihatan otaknya. Tanaman keluar dari otak yang telah penuh akar itu. Belum kulit manusia yang telah dikuliti dan dijemur, daging dan organ yang telah digiling dan dibiarkan membusuk untuk dijadikan pupuk.


Ya Tuhan, apakah aku bisa menerima cinta seorang psikopat seperti Kairi?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Walau mereka mayat dari penjahat, apa kalian bisa menerima Kairi yang punya hobi berkebun seperti itu? 😔

__ADS_1


__ADS_2