
"Sudah berapa bulan, Nak?"
Seorang nenek tua yang sedang membeli ikan di toko milik Anika dan suaminya menanyakan perut Anika yang mulai terlihat membesar.
"Oh, ehm, sekitar lima bulan, Nek." jawabnya malu-malu karena ketahuan telah hamil oleh pelanggannya. Pelan-pelan dia mengelus perutnya, kali ini bukan karena trauma tapi karena kebahagiaan yang telah menyelimuti dirinya.
Kairi baru kembali setelah mengantarkan pesanan daging ke rumah pelanggan. Dia melihat nenek-nenek yang setiap hari datang membeli di toko mereka dan menunduk berterima kasih padanya ketika berpapasan.
Selama setahun ini pasangan suami istri itu menjalani hidup mereka dengan tenang. Pagi hari mereka ke kota untuk membuka toko mereka, sore hari mereka pulang dan membawa sisa dagangan untuk dijual ke desa.
Anika memandang Kairi yang sekarang sedang memotong-motong daging dengan pisau besarnya. Ketika sadar diperhatikan, Kairi membalasnya dengan senyuman dan kecupan di kening. Anika merasa lega, tak ada yang aneh darinya. Kadang dia takut kegiatan memotong ini mengembalikan naluri psikopatnya, tapi sepertinya Anika berpikir terlalu jauh.
Di malam hari Yuri kadang datang berkunjung membahas beberapa kasus-kasus susah bersama kakaknya. Sepertinya dari dulu mereka sering diskusi bersama. Sekarang karena tempat tinggal mereka berdekatan, Yuri sering menemuinya secara langsung.
Di hari libur, Anika pun terkadang mengunjungi Jane dan putrinya untuk sekedar menemani mereka dan memastikan keadaannya. Naluri perawatnya muncul bila melihat orang yang mengalami trauma atau gangguan mental, membuatnya tak bisa membiarkannya sendirian.
Kalau suaminya tugas, Jane selalu ditemani oleh pengasuh. Dia tak pernah dibiarkan sendirian dan itu membuat Anika lega karena bisa mengurangi stres pada Jane. Selama berkunjung tak ada tanda-tanda aneh dari pasangan suami istri itu yang membuat Anika lupa bahwa Yuri seorang kanibal.
"Sialan, kasus ini sangat susah!" seru Yuri putus asa suatu malam ketika dia datang berkunjung ke rumah kakaknya.
Setahun ini tak ada lagi kasus pembunuhan yang membuat Yuri membantu divisi lain menangani kasus rumah tangga. Baginya lebih mudah menginvestigasi kasus pembunuhan daripada kasus perselingkuhan.
Anika tersenyum kecut melihat Yuri yang kelihatan kesusahan. Dalam hati dia sebenarnya tenang karena tak ada lagi berita yang mengerikan. Apakah ini berkat suaminya? Dia penasaran tapi memilih untuk tak bertanya.
Kairi tak peduli dengan adiknya dan mulai makan makanan yang baru disediakan oleh Anika.
"Ayo makan dulu kak!" panggil Anika tapi Yuri masih menatap dokumen di hadapannya. Dia kemudian duduk di samping Kairi dan mulai makan juga.
__ADS_1
Tak lama Yuri menyusul mereka karena menyerah perihal kasusnya. Dia ikut duduk di seberang Kairi dan mengambil salad di hadapannya.
"Nggak ambil dagingnya juga?" tanya Anika heran karena Yuri hanya mengambil sayur yang banyak. Dia baru sadar selama ini kalau Yuri datang untuk makan dia hanya mengambil ikan dan sayur.
"Sudah lama saya pensiun makan daging." jawabnya melahap sayuran segar yang ada di atas piringnya.
Anika berpikir mungkin ini caranya untuk menekan nafsu memakan tubuh manusianya keluar. Dari yang dia tahu, kanibalisme biasanya juga memiliki kepribadian psikopat seperti merasa puas dan hebat saat makan daging korbannya. Kanibalisme bisa juga muncul karena sejak kecil merasakan kesepian akut yang dilampiaskan dengan memakan daging sesamanya agar tak merasa sendirian.
Yang jelas kanibalisme pasti memiliki gangguan jiwa. Tapi Anika tak bisa menemukan keanehan dalam pribadi Yuri, yang membuatnya sulit menganalisa gangguan jiwa apa yang dideritanya sampai tega memakan manusia. Apakah dia benar sudah lama berhenti jadi kanibal, atau dia seorang psikopat yang pandai menyembunyikan jati dirinya?
Tak sadar terlalu lama berpikir sampai bengong membuat Kairi menyuapi istrinya, yang dilahap oleh Anika begitu saja. Dia baru sadar disuapin suaminya setelah suapan ketiga.
Kairi tertawa kecil melihat keluguan istrinya. "Kalian perlu istirahat." katanya terus menyuapi istrinya itu.
Sejak istrinya hamil, Kairi selalu memakai kata jamak menyebut istrinya, daripada memakai 'kamu'. Dia lakukan itu karena ingin memberi kesan anaknya juga disebut.
"Kalian sangat mesra ya. Bikin iri." kata Yuri datar melihat pasangan di hadapannya.
Kairi menatap adiknya dingin, kesal karena telah mengganggu keromantisannya bersama istrinya.
Yuri sadar ditatap abangnya membuatnya tahu diri. "Baiklah, saya pulang dulu. Istri di rumah pasti minta dimanja juga." katanya bangkit berdiri. "Besok jadi datang kan, Anika?"
"Iya! Besok pagi aku kesana!" Dia telah janji pada Yuri untuk menemani istrinya karena pengasuh mereka tak bisa datang. ini sudah ketiga kalinya Anika datang membantu.
Walau tak setuju, Kairi mengijinkan istrinya karena beralasan bahwa Anika ingin belajar merawat anak sebelum bayinya sendiri lahir. Dia sebenarnya ingin menutup toko dan ikut menjaga istrinya. Sejak Anika hamil, Kairi menjadi lebih protektif dari biasanya yang sebelumnya sudah sangat protektif.
Dulu ketika pertama kali Anika sadar dirinya hamil, dia sebenarnya takut dan tak percaya diri. Dia terus menunda untuk mengumumkannya pada Kairi sampai akhirnya kedapatan suaminya. Keraguan pada diri sendiri untuk bisa menjadi ibu yang layak pada anaknya masih menyelimuti dirinya. Anika sadar masa kecilnya yang mendapat pelecehan dan kekerasan bisa saja muncul secara tak sadar, karena anak adalah cerminan orang tua.
__ADS_1
Tapi di luar dugaan Kairi justru kelihatan sangat antusias. Tiap pagi dia menyapa janin di kandungannya dan selalu rajin membawa istrinya mengontrol di rumah sakit bersalin di kota. Dia telah menyiapkan kamar khusus untuk menyambut anak mereka, mengecat dan membuat perabotan sendiri. Semua dia lakukan sendiri karena tak percaya pada orang lain demi keamanan calon bayinya.
Walau tekesan ekstrim, Anika menghargai usaha suaminya itu dan berusaha menerima semuanya tanpa mengeluh. Dia belum pernah melihat Kairi bisa seserius ini karena lebih sering melihat sisi mesumnya. Kairi mengaku karena tak pernah merasakan memiliki keluarga membuatnya ingin memiliki keluarga sendiri.
"Baiklah, saya tunggu sebelum berangkat kerja," pamit Yuri memakai topi polisinya dan melangkah keluar rumah yang telah bersalju. "Sampai besok.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah mengantar istrinya, Kairi berangkat kerja ke toko sendirian. Untungnya toko dan rumah Yuri jaraknya tak jauh sehingga membuatnya merasa lebih tenang meninggalkan istri dan calon bayinya.
"Kalau ada apa-apa hubungi saya kapan saja," seru Yuri sebelum masuk ke mobilnya. Dia memandang istrinya lama dan mencium putrinya sebelum berangkat kerja.
Setelah capek bermain, Irina tertidur di sofa. Anika mengangkatnya dan menaruhnya di box bayi. Jane juga telah tertidur di atas sofa.
Daripada Yuri, Anika lebih sering melihat kejanggalan pada Jane. Dia sering mendapatinya tiba-tiba tertidur dan mengalami demensia atau kepikunan. Padahal setahu Anika, Jane lebih muda darinya.
"Baiklah, aku masak dulu ya!" serunya pada diri sendiri mulai mencari bahan makanan di kulkas.
Selama ini dia hanya menemukan sayur dan ikan di kulkas rumah Yuri karena dia seorang vegetarian, tapi kali ini ada daging di freezer yang membuatnya ingin mencoba memasak menu dengan bahan daging untuk Jane dan anaknya yang sudah berusia dua tahun.
Tapi betapa terkejutnya Anika menemukan potongan-potongan kaki manusia yang masih utuh dan organ-organ yang belum pernah dia jumpai pada hewan ternak sebelumnya.
Dia langsung menjauhi benda itu dan muntah di atas wastafel dapur.
Kenapa ada potongan tubuh manusia?! Bukannya Yuri sudah nggak makan daging?!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Hai pembaca setiaku!
Kali ini kaki milik siapa ya yang akan dimakan?