Salahkah Mencintai Psikopat

Salahkah Mencintai Psikopat
Bab 30 Rumah


__ADS_3

Anika terbangun dari tidurnya.


Dia bermimpi Kairi datang menjemputnya dan mendekapnya dengan erat. Sudah lama dia tidak bisa tidur senyenyak ini tanpa mimpi buruk.


Ketika Anika perlahan mengangkat tubuhnya, dia sadar dia tidak berada di kamarnya sendiri. Kamar ini terlihat lebih luas. Ranjangnya pun lebih besar. Dia menolehkan wajahnya ke samping tapi tak menemukan Yaslan.


Mata Anika mengernyit melihat sosok pria lain yang sedang terbaring membelakangi dirinya.


Siapa?!


Karena ketakutan Anika mundur yang malah membuatnya terjatuh ke belakang dari ranjang yang cukup tinggi. Dia segera bangkit menuju pintu yang ternyata terkunci.


Anika mulai panik. Dengan nafas tersengal-sengal, dia berlari menuju jendela dan berusaha membukanya.


Namun ketika dia berhasil membuka jendelanya, seseorang menariknya dan mengangkatnya masuk.


"Selamat pagi Anika sayang."


Anika baru sadar pria yang tidur bersamanya di ranjang yang sama tadi adalah Kairi. Pria itu sekarang menggendongnya ala pengantin, membawanya kembali ke kamar.


Apa semalam bukan mimpi? Kenapa Kairi bisa datang dan menculikku lagi?


"Lepas! Jangan sentuh aku!"


Kairi membaringkannya di atas kasur dan sesuai perintah Anika tidak menyentuhnya.


"Kenapa kamu menculikku lagi? Apa yang kamu inginkan dariku?!"


Kairi tersenyum dan duduk di sampingnya.


"Aku hanya datang untuk menyelamatkanmu, Sayang."


Anika tidak paham apa maksud dari 'menyelamatkanmu'. Jelas-jelas dia di rumah dalam keadaan baik-baik saja.


"Tolong kembalikan aku ke Yaslan!" pinta Anika.


Senyum Kairi hilang mendengar nama pria lain disebut. "Dia nggak bisa menolongmu. Dia nggak berguna."


Sesaat Anika teringat kembali atas apa yang telah terjadi. Dia mulai mengingat masa lalu yang berusaha dia lupakan dan memegang perutnya.


"Traumaku ... hikshiks .... Kenapa belum hilang?!" Anika mulai menangis. "Padahal sudah bertahun-tahun yang lalu... huhuhu ...."


Kairi hanya diam menatap wanita di hadapannya. Dia ingin memeluknya, tapi menahan diri karena tadi dilarang oleh Anika.


"Kamu aman sekarang." Kairi berusaha menghiburnya. "Kamu nggak usah berpura-pura lagi di sini."

__ADS_1


Kata-kata itu, kata-kata yang selama ini ingin Anika dengar. Dirinya yang rusak mau diterima apa adanya, dirinya yang tak perlu berbohong lagi untuk menutupi aib keluarganya.


Kenapa kalau dengannya aku merasa tenang? tanyanya dalam hati mulai mendekati Kairi. Kenapa harus orang ini?


Dia takut disentuh lawan jenis, tapi dia tidak takut menyentuh Kairi.


Anika menangis dalam dekapannya. Kairi mulai mengelus-elus kepalanya, berusaha menenangkannya. Memang hanya Kairi yang bisa menolongnya.


Ternyata selama ini Anika membutuhkannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat ini mereka sedang duduk di meja makan untuk sarapan. Ini pertama kalinya Kairi sarapan di ruang makan sejak pertama kali dia menginjakkan kakinya di rumah ini.


Kairi masih belum menyentuh makanannya sedikit pun. Dari tadi dia sibuk memandangi Anika dengan senyuman di wajah yang dia topang dengan tangannya.


Anika sedikit malu diperhatikan oleh Kairi. Tapi sebenarnya dia lebih risih dengan para pelayan yang berpakaian sexy sedang mengelilingi mereka.


"Ternyata kamu punya harem ya," tuduhnya sedikit kecewa pada Kairi.


Kairi tak peduli sekitar dan terus memandang Anika. Saat melihat ada sedikit sisa roti di sekitar bibir wanita itu, dia mengulurkan tangannya dan membersihkannya dengan tisu.


"Setelah bebas dari tahanan kamu ngapain aja?!" Anika sedikit penasaran dengan kehidupan Kairi. Dulu dia telah memperkosa dan membunuh orang. Lalu dia ditahan dan dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Apa yang terjadi setelah dia bebas?


"Menjaga 'istriku'."


Kairi menjawab santai, "Pamanku."


Anika teringat dengan cerita Kairi yang pernah disodomi pamannya sendiri dan mulai khawatir. "Apa kamu tidak apa-apa?"


"Tenang saja, dia mewariskan rumah ini padaku. Kamu nggak usah khawatir, Sayang."


Anika bernafas lega. Mungkin pamannya telah berubah, pikirnya. Dia masih belum tahu kenyataan sebenarnya yang dilakukan oleh Kairi pada pamannya.


"Maaf tuan muda, apakah makan siang juga dihidangkan disini?" tanya Ann mendekati Kairi.


Tubuhnya yang molek dan pakaiannya yang menggoda membuat Anika sedikit membulatkan matanya. Dibanding jijik atau curiga, Anika justru merasa cewek itu percaya diri sekali berpakaian terbuka seperti itu. Apa dia tak merasa sesak?


Dia masih belum tahu semesum apa rumah maksiat ini sebenarnya.


"Kamu mau makan di mana, Sayang?" tanya Kairi pada Anika tanpa sedikitpun melirik pelayan sexy di sebelahnya.


"Memang ada tempat makan lain selain di sini?"


Kairi mengajak Anika ke rooftop, balkon di atap rumah yang terlihat sangat nyaman dengan gazebo dan sofa empuknya. Bahkan ada sauna dan pemandian air panas.

__ADS_1


Ini rumah atau villa?!


"Bisa juga makan di teras belakang rumah, atau di kamarku biar bisa lebih intim."


Anika mengacuhkan kata terakhir karena malu. Dia memandang sekitar dan mengagumi pemandangan dari atas yang sangat indah. Namun dia curiga pada galian dan gundukan yang ada di halaman belakang rumah.


"Itu galian apaan ya?" tanyanya mulai curiga.


Kairi memandang galiannya, kemudian menjawab dengan santai, "Hobi baruku, berkebun."


Kecurigaannya hilang dan Anika berpikir Kairi telah berubah setelah berobat di rumah sakit jiwa. Syukurlah dia menjadi lebih normal, batinnya bernafas lega.


Dia masih belum tahu apa yang sebenarnya dikubur oleh Kairi.


Banyak sekali yang belum diketahui oleh Anika. Tapi untuk saat ini, dia berpikir untuk menenangkan dirinya di rumah ini dulu sebelum kembali ke suaminya. Kakinya tak dirantai, dia pun tak disekap, Anika merasa lebih aman hidup bersama Kairi yang dia pikir sudah kembali normal.


Padahal Anika masih belum tahu apapun tentang sejarah kelam dan sadis di rumah ini.


Ann sedikit cemburu pada majikannya yang membawa wanita lain. Apalagi ternyata wanita itu obsesi majikannya selama ini. Walau kecantikan dan kemolekannya tidak seberapa dibanding dirinya, sudah pasti dia kalah saingan.


Dia mencari cara untuk bisa menyingkirkan Anika agar perhatian Kairi terpusat padanya. Tapi mata Kairi yang selalu tertuju pada Anika membuatnya sulit untuk beraksi.


"Aku ingin mandi," pinta Anika kepada Kairi. Dia tadi menghabiskan waktunya dengan membaca majalah kesukaannya yang sudah disiapkan Kairi sebelumnya.


Kairi menjadi bersemangat, "Ayo mandi sama aku Sayang ...."


"Aku ingin mandi sendiri!" Walau dulu mereka selalu mandi bersama, tapi sekarang dia sudah menjadi istri sah Yaslan. Anika ingin menghargai suaminya itu.


Kairi sedikit kecewa. "Aku boleh ngintip sedikit?"


"Awas kamu dekat-dekat kamar mandi! Aku pasti tahu!" ancamnya dan pergi menuju kamar mandi.


Ann pikir ini kesempatan emasnya. "Biar saya antar, Nyonya Muda."


Anika pun mengikutinya tanpa curiga sedikit pun.


Di kamar mandi, Anika merenungkan kehidupannya. Sebelumnya dia merasa sangat tertekan. Tapi di rumah ini bersama Kairi, dia bisa menjadi dirinya sendiri dan tidak lagi berhalusinasi. Dia juga tidak capek untuk menutupi masa lalu kelamnya, dia merasa nyaman.


Apa sebaiknya aku tinggal di sini saja ya...


Kehidupan nyatanya adalah bersama Yaslan. Kalau tinggal disini Anika seolah melarikan diri dari masalah.


Karena tak ingin terlalu banyak berpikir, Anika keluar dari bak mandi namun dikejutkan oleh seseorang yang membungkam dirinya dari belakang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Hai gimana nih kesannya setelah Anika tinggal bersama Kairi lagi?


__ADS_2